
"waaahhhhhhh sawaaaahhhh...!!"
"Waahhhh udaranya segar dan sejuk!!"
"Waaahh lihat....banyak pohon mangga!!!"
Teriakan-teriakan Faash begitu sangat memusingkan kepala Arvan, Arvan yang sedang sibuk dengan permainan game nya membuatnya tak bisa konsentrasi karena jeritan dan teriakan dari mulut Faash yang begitu senang sudah memasuki kawasan pedesaan di mana kakek dan neneknya Kian tinggal.
"Faash!! bisa duduk dan diam saja??!"
kata Arvan karena. melihat Faash membuka jendela mobilnya dan menjulurkan kepalanya keluar. Bagaimana dengan Kian? dia cuek saja, dia sedang aksi dengan camilan keripik kentang kesukaannya, sedangkan Tarjo sedang asyik tertidur, karena dia sadar betul bahwa saat inilah,saat yang paling tepat dia untuk beristirahat sebelum sampai ke pedesaan dan mengurus tiga anak ajaib yang di titip kan pada nya. Dan Tarjo yang tak mau cakep selama dua minggu ini lebih memilih Budi sebagai asisten nya.
''Waaahhhh lapangan bola berrumput!!" pekik Faash.
"Yang namanya lapangan bola ya berrumput Ash!!" saut Kian, sebenarnya dia juga sama terganggu nya dengan Arvan, Faash dari tadi begitu mengganggu menurut nya.
"'Ckc..... maksud aku, lapangan nya tuh rumput nya masih asli! masih alami, kalian emang gak tau yang namanya kesenangan hidup!"
kata Faash sambil mendaratkan bokongnya di kursi dan menutup kaca mobil tersebut.Tak berselang lama, mereka sampai di perkampungan di mana kakek dan neneknya Kian tinggal.Sebuah rumah yang cukup besar namun tanpa pagar tinggi menjulang seperti rumah mereka di kota, hanya sebuah pagar sebatas dada orang dewasa,dan di bagian perkarangan nya sangat luas,di samping rumah nampak beberapa tanaman sayur yang tertanam sangat rapi dan lebat.Serta rumah yang berada di tengah-tengah tanah luas itu, nambah besar namun dengan desain rumah kuno.Kakek dan neneknya Kian yang sudah tau akan kedatangan cucunya, terlihat sangat antusias.
__ADS_1
"Kiaaann" teriak sang nenek yang begitu senang melihat Kian yang turun dari mobilnya.
"Nenek....!" saut Kian yang berjalan cepat menuju ke arah sang nenek, kakek nya nampak mengikuti langkah istrinya dan menyambut tamu mereka.
"Selamat sore Tuan Sakti" sapa Tarjo di ikuti Budi
"Sore Kakek Sakti" sapa Arvan juga.
"Apa??? Kakek orang Sakti? waaaahhh Faash bisa belajar dari kakek nih!!" ucap Faash yang memang tak pernah bertemu dengan Kakek nya Kian.Arvan nampak membuang nafasnya kasar.
"Bukan Kakek yang sakti!! tapi nama kakek itu Kakek Sakti!!!! S-A- K-T-I?!!" ucap Arvan dengan kesal.
"Waahh antik namanya!" saut Faash.
Kakek Sakti tertawa terbahak melihat tingkah mereka, apalagi Kian yang masih berada di pelukan nya istrinya mencoba memberontak ingin keluar dari pelukan sang nenek.
"Nenek! sesek! Kian bisa kurus kalau di tekan seperti ini" rengek Kian yang minta di lepaskan.
"Uuuuhhhh cucu embul nenek!...nenek kangen tauuuuu" kata nenek Mira yang tak mau melepaskan cucunya.
__ADS_1
"Udah Ma.... kasihan nanti kalau Kian kurus" kata Kakek Sakti.
Akhirnya mereka mempersilahkan Tarjo, Budi dan ketiga bocil itu masuk, di meja sudah tersedia berbagai makanan ringan buang sengaja di sediakan untuk mengisi perut mereka sebelum memasuki jam makan malam.
"Ini bakso kesukaan Kian....sengaja nenek bikinin buat cucu nenek yang embul ini" kata nenek Mira
"Kalian juga ya....mau nenek ambilkan?" lanjut nenek Mira yang menawarkan bakso pada Arvan dan Faash.
"boleh nek!" saut mereka bertiga.
"Nek Faash boleh main di sawah gak?" tanya Faash dengan penuh harap.
"Boleh! besok kakek temeni.....kita bisa cari kodok!" saut si Kakek.
"Kodoknya kayak Kian gak kek?" tanya Arvan
'" maksudnya?" tanya Kakek heran
"Gembul!!" jawab Arvan sambil cengengesan
__ADS_1
Kakek melongo mendengar perkataan Arvan, sedangkan Kian sudah memanyunkan bibirnya 10 cm di ikuti gelak tawa Faash yang mendominasi di ruang makan tersebut.Arvan benar-benar lupa pesan yang Papi agar jangan menjahili Kian
bersambung...