Birendra

Birendra
Seperti kucing dan anjing


__ADS_3

Rendra sudah kembali ke kotanya setelah melakukan video call dengan Ayah Bram, Acca bahkan tak pernah tau bahwa lelaki bengis itu masih punya Ayah,dan yang lebih membuat Acca kaget adalah sikap Bram pada sang Ayah, terlihat sopan dan ramah.Acca sempat berpikir apa Bram benar-benar membenci dirinya,hingga Bram terlihat tak mau tersenyum ataupun tersentuh dirinya.Bram memutuskan untuk memejamkan matanya ketika video call berakhir dan Rendra memutuskan untuk pulang.


Bram bahkan beberapa kali membujuk Acca untuk pulang bersama dengan Rendra, dia menyakinkan Acca kalau masih ada Roy yang akan merawatnya, namun Acca bersikeras tak mau meninggalkan Bram, alasan nya cukup masuk akal, karena Bram sudah menjadi tameng untuk dirinya, jadi dia harus bertanggung jawab atas kesembuhan Bram. Walaupun berulang kali Bram bilang,dia melakukan nya karena tugas utamanya memang melindungi Acca atas perintah Rendra.


"Nona, apa Anda tidak ingin makan? saya lihat Anda belum makan sama sekali!" kata Roy mencairkan keheningan di antara mereka.


mendengar Acca belum makan, Bram membuka matanya, kemudian mulai bersuara.


"Nona sebaiknya anda pergi ke kantin rumah sakit untuk makan" pinta Bram

__ADS_1


"Tidak, aku sudah biasa telat makan, dan aku tak papa...kalian santai saja!" kata Acca sambil membuat desain di kertas yang dia bawa.


"Makanlah Nona, jangan membuat repot kami!" ucap Bram terdengar sinis.


"Diamlah Bram! bukankah kau sakit? kenapa kau jadi sangat cerewet? mana Bram yang dingin dan cuek itu? seperti nya dadamu yang tertembak! bukan otakmu!! jadi kenapa kamu bersikap seakan baru mengalami gegar otak!!"


kata Acca tak suka, Bram masih saja bersikap sinis padanya.


"Makan Sekarang!! atau aku suruh Roy melempar mu kembali ke rumah!!" ancam Bram, jujur saja Bram hanya tak mau Acca sakit.

__ADS_1


"Dasar lelaki dingin! kanebo karatan!! Menyesal aku tidak ikut pulang Re!!"


pekik Acca dan menutup kertas-kertas desain nya dengan kasar, dia berlalu begitu saja dari sana, seorang bodyguard dengan otomatis mengikuti kemana Acca pergi.


"Hahahahahaha Bos, mau sampai kapan Bos bersabar dengan gadis seperti dia!" tawa Roy meledak ketika melihat Acca nampak kesal dan Bram memijat pelipisnya pelan.


"Kau tau kan Roy, dia anak kesayangan tuan Ferdi, perintah pengawasan nya di cabut ketika dia sudah menikah nanti!" kata Bram


"Memang Bos rela Nona menikah?" goda Roy

__ADS_1


"Bangsaaat loe!! diam!!" kata Bram sambil melempar sesuatu ke arah Roy,namun beberapa saat kemudian dia nampak meringis kesakitan karena memang lukanya belum benar-benar kering.Dengan sigap Roy berlari ke arah Bram dan coba melihat apa yang terjadi, namun Bram menyakinkan dia baik-baik saja.Beberapa saat kemudian dokter datang berkunjung.Dokter mengatakan luka Bram bisa sampai satu mingguan atau bahkan lebih untuk bisa melakukan perjalanan kembali ke kotanya, Karena jujur Bram ingin kembali ke kotanya karena tidak mau meninggalkan ayahnya terlalu lama, walaupun dia sudah menyewa seseorang untuk merawat dan menjaga ayahnya, dia juga takut sang Ayah banyak memikirkan dirinya karena terlalu khawatir, terlihat jelas di wajah sang Ayah ketika melakukan video call beberapa waktu lalu.


bersambung


__ADS_2