
"Terimakasih sudah mengantarku pulang''
ucap Celia dengan sopan di depan pintu rumah kosnya, Eno hanya diam saja sambil tersenyum tipis, dia memarkirkan mobilnya di depan gang, dan berjalan bersama Celia masuk ke dalam gang di mana Celia ngekost.Eno terus memandangi gadis itu seakan tak akan pernah bertemu lagi dengan Celia, Eno hanya belum puas bisa sedekat itu dengan gadis pujaan hatinya.Setelah memastikan Celia masuk, Eno berjalan pelan keluar dari gang tersebut, dia mengingat dirinya dan Celia beberapa menit yang lalu saat berada di teras belakang rumahnya.
"Manis!" gumam Eno sambil melajukan mobilnya, dan tangannya tak lepas dari bibirnya, mengelus bibir yang beberapa menit lalu mencium Celia.Dia ingat betul apa yang terjadi di antara mereka tadi.
"Menikahlah denganku Celia!" pinta Eno setelah melepaskan ciumaaannya.
"Maafkan aku" ucap Celia sambil menggelengkan kepalanya, kemudian menunduk menghindari pandangan mata Eno.
Eno merasa itu bukan jawaban dari hati Celia, dia kembali meluuumat bibir Celia, Celia yang ingin menghindar tak sanggup lagi, karena Eno memegang tengkuk belakang Celia sambil merapatkan tubuhnya pada Celia.
"Aku akan memintamu berulangkali! bahkan kalau perlu beratus-ratus kali,sampai kamu mengatakan 'Yes I Will!!', dan aku anggap jawaban mu saat ini, tidak terdengar!" kata Eno sambil memeluk Celia, entahlah Celia tak sanggup menghindari Eno.
Meninggalkan Eno yang masih tersenyum di dalam mobilnya, Celia menjatuhkan dirinya di atas ranjang kecil miliknya, dia memandang ke arah seluruh kamar nya, kecil dan sempit! Setidaknya bila di bandingkan dengan rumah megah milik keluarga Eno,hanya sebuah kamar kost yang hanya berukuran 4 X 5 meter saja dengan kamar mandi di dalam nya. Celia bingung dengan perasaannya, Eno berjanji akan berjuang demi menyakinkan dirinya, meyakinkan Celia bahwa Eno tak main-main dengan hubungan mereka, namun Celia yang terus merasa tak pantas untuk Eno, selalu punya seribu cara untuk menghindari Eno, namun setelah kejadian beberapa waktu lalu di teras belakang rumah tersebut, Celia merasa mulai memberi celah untuk Eno, Namun rasa takut akan kecewa tetap saja ada di hatinya.
drt.....drt....drt....
Sebuah panggilan telepon dari nomor sang adik nampak terlihat di ponsel Celia.
"Hallo kak"
"Ya, ada apa Cindy?" tanya Celia pada adik tirinya, Cindy gadis yang saat ini berusia 13 tahun.
"Ehhmmm kak.....ini....Ibu mau bicara" kata Cindy sedikit gugup.
"Hallo Cel, ini ibu...."
"Ya Bu...ada apa?" tanya Celia, mereka memang jarang bertemu, bahkan Celia hanya kadang pulang setahun sekali.
"Maaf ibu menganggu kamu, tapi..ayah sakit Cel" kata si ibu
"Sakit apa Bu?" tanya Celia kaget.
"Ada penyumbatan di ususnya, entahlah ibu lupa nama penyakitnya, besok jadwal ayah operasi, semua serba dadakan Cel, bisa tidak kalau kamu datang? setidaknya, biarkan ayahmu melihat mu datang" kata ibu Mala, ibu tiri Celia.
"Apa biayanya sudah ada Bu?" tanya Celia hati-hati.
__ADS_1
"Sudah, jangan pikirkan, kami masih ada tabungan!" kata Bu Mala menenangkan anak nya.
"Kalau begitu,di rumah sakit mana Bu, besok pagi aku akan ijin Bos ku dan langsung ke sana!" kata Celia.
Setelah memberikan alamat nya, Celia menutup sambungan teleponnya dan bergegas untuk tidur, rencananya dia akan ke kantor sebentar untuk menyerahkan berkas kerjasama dan ijin cuti pada bos Rendra.
Pagi menjelang, Celia membawa beberapa baju miliknya, dia berencana cuti 4 hari terhitung hari ini. Setelah mengunci pintu kamar kostnya, dia bergegas pergi ke kantor.
"Pagi Celia" sapa Johar, si anak pemilik kost.
"Eh pagi mas Johar, mau berangkat?" tanya Celia ramah seperti biasa.
rumah Johar memang tidak menghadap ke jalanan di depan kost Celia, namun rumahnya tepat berada di belakang kost Celia dan menghadap ke jalanan yang lebih besar dan bahkan bisa di lewati dua mobil, namun ada jalan kecil tembus ke gang kost Celia.
"Ini, semalam kamu gak ada, di rumah ada syukuran dan semua anak kost dapat, kamu aja yang gak ada semalam" kata Johar
"Iya mas, saya pulang agak malam, eh makasih ya mas, syukuran apa ini?" tanya Celia.
"Heheheheh kenaikan pangkat aku'" kata Johar.
Mereka tak pernah tau bahwa Eno dan Tristan,si mata-mata Eno sedang memperhatikan interaksi mereka berdua.
"Tuh kan kak! bang Johar itu suka sama kak Celia!" bisik Tristan pada Eno seakan mengompori kompor yang sedari tadi sudah panas.
"Tampan juga nggak!!" ucap Eno ketus tapi pelan.
"Ya iyalah!! tampanan kakak bule!!" kata Tristan mencoba menjilat! dan benar saja satu lembar yang sudah di pastikan uang berwarna merah mendarat mulus di tangan Tristan.
"Mau bareng berangkat kerja?" tanya Johar.
"Eh gak usah, soalnya kan jalan kita berlawanan!" tolak Celia sopan.
"Gak papa..... sekali-kali" saut Johar.
"Ehemmm.... ehemm..... Cel sudah siap?" tanya Eno yang tiba-tiba mendekati, dia tak mau perjuangan nya yang baru di mulai sudah terancam gagal.
"Hah??'" Celia kaget ada Eno yang berdiri di sampingnya.
__ADS_1
"Oh kamu di jemput Cel?" tanya Johar menatap ke arah Eno.
"Eh ...!" jawab Celia karena merasa masih kaget.
"Ya udah lain kali aja, aku berangkat dulu ya" kata Johar pergi dari sana bahkan tanpa memandang ke arah Eno.
"Gak akan ada lain kali!" gumam Eno yang masih terdengar jelas di telinga Celia.
" ngapain kamu di sini?" tanya Celia bingung.
"Jemput calon istri!" kata Eno yang masih di bakar api cemburu, dia menggandeng tangan Celia, namun dia menyadari sesuatu yang di bawa Celia.
"Kok bawa koper?" tanya Eno yang mengambil alih koper dari tangan Celia.
"Aku mau ke rumah ayah, ayahku sakit!" kata Celia.
"Apa? camer ku sakit??" pekik Eno kaget.
"Iih gak usah segitunya kali!! Camer- Camer!!" gerutu Celia,
Celia masuk ke dalam mobil Eno, kali ini ternyata Eno membawa asisten nya.Setelah sampai perusahaan Rendra, Eno bukannya pergi ke kantor,dia malah mengikuti Celia, setelah berbicara sesuatu pada assisten nya.
"Kok gak ngantor kamu?" tanya Celia yang di ikuti Eno, setelah mendapat ijin dari Rendra.
"Gak! aku pengen ikut sama kamu!" ucap Eno dan seketika Celia berhenti.
"GAK!!" pekik Celia, bisa-bisa nya Eno ikut dengannya dan bertemu keluarga Celia.
"Bodoh amat! yang penting aku mau nempelin kamu terus!" ucap Eno tanpa rasa bersalah!
"Emang kamu hantu!! nempel Mulu ke aku!!??" ucap Celia tak suka.
"Ya...Celia sayang..... aku hantu yang akan terus menghantuimu!" ucap Eno sambil menarik pinggang Celia dan mereka berjalan bersama ke parkiran mobil di mana asisten Eno menunggu, Celia berusaha sekuat tenaga melepaskan tangan Eno dari pinggang nya.
Perjuangan Eno akan di awali dengan perkenalan nya dengan orang tua Celia, begitu lah pikir Eno.
bersambung
__ADS_1