
Faash berlarian di pematang sawah, dia benar-benar sudah seperti seorang petani yang terlihat terbiasa berada di area persawahan, sedangkan Kian sedang berjalan pelan-pelan karena takut terjatuh di sawah,namun dia tetap mengikuti Faash dan kakeknya ke sawah dengan tujuan mencari kodok.Apalagi sekarang sedang musim tanam, semua sawah hampir terlihat siap tanam. Arvan berbeda dengan Faash dan juga Kian, dia sebenarnya enggan ikut mereka,namun bila berdiam diri di rumah, dia tak akan punya teman dan bukan liburan namanya kalau Hanya berdiam diri dirumah dengan game di tangannya.
akhirnya Arvan mengikuti kepergian kakek dan juga kedua sepupunya serta Budi yang mengikuti mereka karena perintah dari Tarjo, mengitari pedesaan dan masuk ke area pematang osawah merupakan uji nyali untuk Arvan, dia bener-bener tak pernah berada di situasi seperti ini, ini kali pertama dirinya hidup langsung bersentuhan dengan alam.Kian yang sering datang ke desa itu, nampak biasa saja.
"Waaaahhhhhh Kiaaaaan.... tangkap itu!!!" teriak Faash senang ketika melihat seekor kodok kecil melompat-lompat di tengah sawah.
"Kok kian? .....kamu sendiri aja Ash!" saut Kian yang tak mau menuruti keinginan Faash.
"payah kamu Kian!!....Om Budi.....bantu Faash!" Teriak Faash memanggil asisten, Budi.
Budi hanya menghela nafasnya pelan, dia benar-benar tak menyangka, bahwa Faash tak jauh beda dengan anak-anak yang ada di perkampungan di mana dia tinggal, Faash tak seperti anak orang kaya yang lainnya, yang hanya diam di rumah dan bermain dengan anak orang-orang kaya pada umumnya, Faash paling berbeda menurut Budi, Dan di antara mereka bertiga, tentu saja orang anak yang terlihat seperti anak orang kaya itu adalah Arvan, Arvan benar-benar hidup selayaknya Rendra di waktu kecil, sedangkan Faash, dia lebih menuruni sifat dan kelakuan sang Papanya yaitu Bram.
"Ayo Om!" seru Faash.
__ADS_1
Arvan hanya memandang kelakuan Faash yang berlarian di tengah sawah, bahkan Kian sudah ikut terjun dan mencari kodok di sawah.Kakek menemani Arvan duduk di sebuah gubuk di tengah sawah.
"Gak ikut terjun sana?" tanya Kakek Sakti.
"Gak kek,Nanti saja"
kata Arvan yang masih mengamati kedua sepupunya beserta Budi, salah satu asisten Faash.
Arvan sengaja tak membawa asisten, karena menurutnya terlalu banyak orang ikut akan membuat Kakek dan nenek Kian kerepotan.
"Hehehehe gak lah kek! Mami pernah cerita dulu hidup Mami juga sangat sederhana,Apalagi setelah sepeninggalan Oma, Mami dan Opa hidup sedikit kesusahan, namun Mami tidak membiarkan Arvan untuk hidup susah kek! jadi Arvan mungkin belum terbiasa saja di sini,lagian kan kita baru datang, Jangan takut kek, Arvan betah kok tinggal di sini, mungkin saja dua atau tiga hari lagi Arvan malah akan menyusahkan kakek!!"
kata Arvan yang tak mau di anggap jijik turun ke sawah. Karena sebenarnya, Arvan hanya merasa belum terbiasa dengan semuanya,semua yang ada di kampung Kakek Sakti.
__ADS_1
"Hahahahahaha..... baiklah, Kakek tunggu kamu nyusahin Kakek" kata Kakek Sakti.
"Kek....ada sungai di sini?" tanya Arvan
"Kenapa?" tanya Kakek Sakti dengan wajah herannya dan mengerutkan keningnya.
"Berenang asyik kayak nya kek!" seru Arvan terlihat senang, mendengar ada sungai di daerah itu.
"Baiklah!! cari ikan juga enak kayaknya Van!" saut si kakek.
"Siap Kakek!!" saut Arvan.
Arvan sudah tidak sabar menunggu besok, dia tak bisa membayangkan bagaimana bahagia nya dia karena akan menanggap ikan.
__ADS_1
bersambung