
Arvan berlari dari ruangan sang Papi, Thisa dan Arsy yang masih ada di ruang keluarga kaget melihat Arvan yang sedang terburu-buru,Arvan yang tadinya ingin mengambil jaketnya, di urungkan, dia segera berlari ke garasi mobil dan mengambil mobilnya.Hatinya saat ini merasa cemas, setelah mendapatkan cerita dari sang Papi, Arvan takut dia akan mengalami hal yang sama dengan Rendra, Papi nya. Rasanya dia tak siap jika harus kehilangan Aluna.
Tak banyak yang tau bagaimana Arvan mendapatkan Aluna, pernikahan nya dengan Aluna bukan hanya sekedar keinginan Arsy,mami nya semata. Sekitar tiga tahun sebelumnya pernikahan nya, lebih tepatnya saat pertama kali dia harus melanjutkan pendidikan nya di luar negeri, Arvan mengenal Aluna, walaupun hanya mengamati gerak-gerik gadis tersebut, kadangkala Arvan akan berjalan mengikuti Aluna pulang ke rumah nya. Namun kala itu, Arvan belum berani mengungkapkan perasaan nya,atau bahkan berkenalan dengan Aluna.Tanggung jawab yang dia pikul sebagai penerus perusahaan besar sang Papi,membuat Arvan lebih memilih pendidikan nya.
Entah takdir semacam apa, hingga beberapa waktu kemudian, Arsy berkenalan dengan Aluna.Mengetahui Arsy yang mengenali Aluna, dengan berbagai cara, Arvan meminta sang Mami untuk mengikat Aluna, Arsy yang pada dasarnya memang menyukai Aluna,merasa tak keberatan dengan permintaan sang anak, dengan catatan, Arvan harus menyelesaikan pendidikan nya di luar negri. Setelah berhasil menikahi Aluna pun, Arvan masih dengan dramanya, yaitu berpura-pura tak mengenal dan mencintai Aluna, dia begitu bersemangat ketika menjahili sang istri.
"Apa?? jadi ALuna pulang dari sore?" tanya Arvan ketika sampai di toko besar Mami nya yang di kelola Aluna .
"Iya mas Arvan" kata salah satu pegawai di sana.
__ADS_1
Arvan bergegas melajukan mobilnya menuju ke rumah mereka, rumah sederhana yang mereka tempati setelah menikah, Arvan yakin Aluna berada di sana. Dengan jantung yang sudah berdetak lebih kencang, Arvan terlihat tergesa-gesa membawa mobilnya.Sesampainya di komplek perumahan tersebut, Arvan di hadang oleh bapak-bapak yang sedang giliran ronda, karena tidak pernah sekalipun ada mobil mewah masuk ke perumahan tersebut.Jadi Mereka mungkin juga harus waspada.
"Selamat malam...bisa buka kaca mobilnya?" tanya salah satu bapak di sana, dan Arvan tau betul siapa orang tersebut.
"Malam mas Hari" sapa Arvan ketika sudah menurunkan kaca mobilnya.
"Wiiihhh mas Arvan!! tumben-tumbenan nih pulang kesini?'' tanya Hari, yang ternyata tetangga sebelah rumah.
"Wokey mas!!"
__ADS_1
Tak lupa Arvan juga menyapa semua yang ada di sana, mereka banyak berbincang, tentang mobil yang di kendarai Arvan, dari dulu mereka memang sudah menduga, Arvan dan Aluna pasti dari kalangan mampu. Arvan yang sudah sampai di depan rumah nya, buru-buru mengunci mobil dan berlari ke arah pintu rumah, dan betapa terkejutnya Arvan, mendapati pintu yang tak terkunci di jam 10 malam.Arvan bergegas masuk dan langsung mengecek kamar tidur mereka, ketika melihat seseorang tengah terlelap di sana, Arvan berhenti di ambang pintu, Aluna tidur dengan baju yang dia pakai tadi pagi, tidur dengan kaki yang masih menjulang di lantai, bahkan alas kaki yang dia pakai masih menempel di kakinya, walau hanya satu saja, karena yang satunya sudah terlepas dari kakinya.
Greppp...
Arvan memeluk tubuh mungil istri nya, membawanya naik dengan sempurna di atas ranjang, menjadi lengannya sebagai sandaran kepala sang istri, nampaknya Aluna terlalu lelap, dekapan erat Arvan, nyatanya tak bisa membangunkan nya.
"Maafkan aku......"
cup....cup.....cup....banyak sekali kecupan yang dia layangkan di wajah sang istri.
__ADS_1
"Maaf, karena aku tidak peka dengan ketidaknyamanan mu di tengah keluarga ku"
bersambung