Birendra

Birendra
Extra part (Kisah Baru) 51


__ADS_3

Camelia nampak termenung sendiri di kamar nya, dia menahan tangisnya agar tak terdengar siapapun, Bahkan dia tak mengijinkan air mata nya jatuh, karena,jika dia menangis, orang tua nya akan tau, karena pasti akan meninggalkan bekas bengkak di matanya. Camelia berulang kali mengigit bibir nya sendiri, berusaha menahan kesedihannya sendiri.Sejujurnya, dia bahagia di besarkan di keluarga yang terlihat harmonis,dan sangat kaya, hingga apapun yang di inginkan akan di kabulkan. Apalagi dia mempunyai dua orang Kakak lelaki yang perhatian dan sayang padanya. Camelia membaringkan dirinya, dia menerawang memandang langit-langit kamar mewah milik nya.


Benarkah ini semua adalah miliknya? Pertanyaan itu yang sedari tadi ada di benaknya.Camelia hanya mendesah pelan. Dia teringat beberapa tahun silam, bagaimana dia bisa menjadi seperti sekarang ini.


Flash back Camelia


"Tidaaaaaaak!!!!"


Teriak seorang wanita sambil memeluk seorang gadis kecil yang tengah berlumuran darah, Dia histeris melihat anak tersebut lemas tak bergerak sama sekali, sang suami sudah mencoba menenangkan wanita tersebut, Namun usahanya gagal, melihat bagaimana anaknya berlumuran darah, membuat Herlina histeris, dia mencoba membangunkan sang anak, Namun tetap tak berhasil, karena sang anak memang sudah tak bernyawa.

__ADS_1


"Camelia.....ini Mama sayang!! bangun!!!" teriak nya


Pada akhirnya, dengan terpaksa seorang dokter keluarga yang sejak tadi kebetulan berada di sana, menyuntikan obat penenang, Setelah menguburkan jenazah anaknya yang mengalami cidera akibat kelalaian baby sitter nya beberapa hari lalu,dan di langsung kan secara tertutup. Kini Hadi, tengah menemani sang istri, Herlina mengalami depresi, Namun karena menyangkut nama baik keluarga besarnya. Sang mertua tidak membiarkan Herlina di rawat di rumah sakit, Mereka menyewa seorang dokter jiwa untuk Herlina.


Di ruang tamu sedang berkumpul beberapa orang dan seorang wanita bersimpuh di lantai, di temani suaminya. Dia adalah baby sitter yang di nyatakan lalai dalam menjaga cucu perempuan satu-satunya keluarga ningrat tersebut. Sang Baby sitter sudah gemetaran tidak karuan, dia takut keluarga tersebut akan mengirim nya ke penjara, atau akan menyakiti keluarga kecilnya.Seorang gadis kecil berusia 6 tahun ikut berdiri di samping sang ibu, dia memegang erat baju sang ibu, memandang takut ke arah beberapa penghuni rumah yang terlihat menyidang mereka.


"Siapa nama anak mu?" tanya sang Tuan besar, Kakek dari Camelia.


"Mohon maafkan saya Tuan besar, ampuni saya Tuan besar " ucap baby sitter tersebut, Sambil bersujud di depan Tuan besar nya, entah mengapa dia begitu takut,ketika tuan besar menanyakan nama anaknya.

__ADS_1


"Maaf mu aku terima, tapi dengan syarat!!" kata sang Tuan besar.


"Iya Tuan" jawab nya


"Tinggal kan anakmu! lupakan anakmu!! anggap anak mu sudah mati!!" kata si Tuan besar dengan penuh keyakinan dan tanpa belas kasihan.


Sang Baby sitter menangis meraung, dia tak mau kehilangan anaknya, Namun tekanan demi tekanan terus di lancarkan oleh tuan besar keluarga tersebut, dan ternyata sang cucu yang telah meninggal pun di kebumikan dengan nama orang lain, ternyata semuanya telah di rencanakan sedemikian rupa, ketika mengetahui kematian sang cucu. Liandra kecil yang tak tega melihat kedua orangtuanya, perlahan mendekati Tuan besar dan memilih untuk menyelamatkan kedua orangtuanya,dengan cara menyerahkan dirinya dan berusaha tegar di depan kedua orangtuanya.


Flash back off

__ADS_1


Air mata yang sedari tadi dia tahan, akhirnya jatuh juga, Samar-samar ingatannya tertuju pada Baby sitter dan suaminya, yang tak lain adalah orang tua kandungnya, dan sekarang pun dia tak pernah tau kemana mereka. Walaupun dia pada akhirnya menjadi anak perempuan satu-satunya yang di sayangi keluarga ningrat tersebut, Namun Camelia tak pernah menjadi diri nya sendiri, dia harus berperan menjadi orang lain, dan harus selalu terlihat sempurna. Sang Mama yang kadang terlihat temperamen,menjadi alasan tersendiri untuk dirinya, Herlina memang sangat menyayangi nya, tak beda jauh dengan Hadi,sang Papa dan kedua kakaknya, Namun dia juga harus berperan bagus sebagai anak mereka, tak ada kata penolakan dan bahkan tak ada sesuatu yang bisa dia kerjakan,jika itu adalah keinginan pribadi nya sendiri.


bersambung


__ADS_2