
Remaja berusia 9 tahun itu nampak duduk bersila di depan Faash, dia tak pernah menyangka bahwa adik sepupunya itu se bar-bar itu. Mungkin bagi Faash apa yang di lakukan sudah biasa di kalangan pertemanan nya karena memang Faash banyak bergaul dengan teman-teman nya yang bukan dari kalangan elite saja, kenakalan anak-anak kadang di anggap biasa bagi mereka dan banyak orang-orang di sekitarnya, namun tentu saja kenakalan yang masih bisa di toleransi, seperti yang di lakukan oleh Faash, mencuri mangga tetangga.
"Apa kau benar-benar tidak merasa bersalah?" tanya Arvan,
wajah mereka terlihat hampir sama, mungkin karena orang tua mereka adalah saudara kembar, sedang kan Arvan wajahnya lebih ke Rendra dan Faash lebih ke Acca dari pada Bram suaminya Acca.
"Tentu saja aku merasa bersalah, tapi....emmmm hanya 30% saja, selebihnya aku biasa saja! aku malah merasa tertantang Van!!" kata Faash pada Arvan
"Apa kau mau ikut lain kali? ada pohon buah sawo di ujung komplek, si gembul tidak bisa di andalkan!" bisik Faash karena takut Opa atau Oma nya lewat
pletaakk!!!
"Awwooow... Arvan!! sakit tau!" gerutu Faash ketika mendapatkan jitakan di kepalanya.
"Kenapa otak mu selalu berpikir seperti itu? Percuma jenius kalau di pakai buat maling" kata Arvan
"Ckc.....ini kan cuma kesenangan saja, lagian Van sehabis maling aku selalu datang memberi uang dan meminta maaf" kata Faash tanpa rasa bersalah.
memang benar apa yang dikatakan fast dia dan teman-temannya kadang sering melakukan kenakalan seperti itu Namun siapa yang menyangka bahwa Faash akan datang bersama Tarjo untuk membayar apa yang dicurinya dan juga minta maaf, tentu saja tanpa sepengetahuan teman-temannya karena bagi Faash itu tidak terlalu merugikannya, dia hanya perlu tantangan dan di anggap si pemberani,dan begitu lah anak-anak.
"Memangnya asyik?" tanya Arvan sambil berbisik
"Asyik dong...... kita seperti bermain petak umpet, bayangkan! kalau petak umpet dan kita tidak ketahuan bukankah itu menyenangkan?" kata Faash yang mulai menebar racun pada Arvan.
__ADS_1
"Boleh deh coba kapan-kapan'" kata Arvan
Pletaakk!!!
"Awwooow siapa yang berani menjitak aku??!!"
teriak Arvan sambil membalikkan badannya karena merasa jitakan berasal dari belakang tubuh nya.
"Hah?? hehheheheheeh Papi" kata Arvan
"Kapan mau di coba ikut Faash?" tanya Rendra pada sang anak
"Mana ada Arvan gitu pi! Papi kali yang gitu" elak Arvan
"Dasar resek!! Papi dengar apa yang kamu katakan!! bukannya mencontohkan yang baik malah mau ikutan!" kata Rendra sambil menjewer telinga Arvan
"Pi....pi......ada. berita baik dari Mami buat Papi!!" kata Arvan mencoba mempengaruhi Rendra, dia tau betul bahwa kelemahan sang Papi adalah Mami nya.
"Jangan bohong!" kata Rendra melepaskan tangannya dari telinga Arvan
"Beneran pi!"
"Emang ada berita apa dari Mamimu?" tanya Rendra yang mulai terpancing
__ADS_1
"Sebenarnya Pi,Mami lagi ngerjain Papi, kemarin Arvan denger kalau Mami lagi menghukum Papi" kata Arvan yang merangkai kata cukup indah .
"Benaran Om!" celetuk Faash.
"Jangan ikut campur!!" ucap Arvan dan Rendra serempak membuat Faash manyun seketika.
"Anak dan bapak sama saja!" gumam Faash pelan.
"Apa katakan!" kata Rendra menunggu sang anak buka Suara.
"Mami bilang sama Oma, kalau sebenarnya bendera merah nya gak lagi berkibar, udah bisa di turunkan! tapi Mami memberi pelajaran pada Papi aja bilang masih merah!" kata Arvan,
Padahal Arvan kemarin tak mengerti akan arah pembicaraan Mami dan Oma nya, namun karena berhubungan dengan Papi nya, maka si resek itu menggunakan nya sebagai alat untuk lepas dari hukuman sang Papi.
"Benar Mami kamu ngomong gitu?" tanya Rendra
"Benar! emang bendera apa pi? perasaan bendera negara kita kan bukan merah deh warnanya!" kata Arvan
namun Rendra tak menanggapi sang anak, dia lebih memilih dengan cepat berlari ke atas sambil memanggil nama istrinya.
"Maafkan Arvan Mami sayang..... hihihihihi!" kata Arvan sambil cekikikan, dia sungguh tak tau bahwa apa yang di katakan Arvan telah membuat Mama nya kesulitan saat ini.
"Arvaaaaaaannn!!!"
__ADS_1
teriakan Arsy terdengar nyaring dari atas, namun suara itu seketika hilang ketika terdengar suara pintu ditutup keras.Dan yang terjadi selanjutnya hanya desaahan dan erangan si singa kelaparan Rendra, walaupun suaranya terhalang kamar yang kedap suara.
bersambung