Birendra

Birendra
Extra part (Kisah Baru) 50


__ADS_3

"Emang kencan ada rasa apa aja??"


Faash nampak malu-malu ketika mengingat apa yang di tanya kan pada Arga,dan Arga hanya bisa menepuk jidatnya sendiri, mungkin Arga lupa,big Bos nya ini tidak pernah berkencan dengan gadis manapun, yang dia kencani hanya teman-teman premannya. dan beberapa saat yang lalu, mereka menertawakan Faash, saat mendengar pertanyaan itu dari mulut Faash.


"Bos.... pacaran itu...sedap-sedap nikmat!!"


"Bos..... pacaran itu, kesempatan untuk mengenali pasangan"


"Dan pacaran itu, bisa sedikit mesum-mesum lah"


"Incip-incip juga bisa Bos!!"


Kata-kata tak berakhlak dari teman-teman tongkrongan nya, membuat Faash traveling kemana-mana, Camelia gadis yang cantik, lemah lembut dan penurut, Tapi entah tipe gadis seperti apa yang di inginkan oleh Faash. Saat ini dia sedang menatap laptop miliknya yang menampilkan sederet pekerjaan nya, Namun pikiran nya tertuju pada obrolannya dengan teman-temannya kemarin, sampai-sampai, dia tidak menyadari keberadaan sang Papa. Bram nampak heran, Faash tak biasanya melamun, sampai Bram duduk di sofa pun, Faash belum menyadari nya.


"Apa perlu Papa bicara dengan Mama soal perjodohan mu?" tanya Bram tiba-tiba.


"Papa? sejak Kapan Papa di sana?" tanya Faash kaget melihat sang Papa sudah duduk di sofa di ruangan milik nya.


"sejak tadi Papa sudah ada di sini, Apa yang kamu pikirkan, Apa kamu memikirkan tentang perjodohan itu?" tanya Bram, dia merasa kasihan kalau membiarkan anaknya terpaksa menikah dengan gadis yang tidak di cintai nya.

__ADS_1


"Bagaimana Papa bisa mencintai Mama?" tanya Faash setelah duduk di depan sang Papa.


"Kebiasaan!! Papa jadi bodyguard Mama mu dulu, tapi kamu tau kan, bagaimana kehidupan Papa " kata Bram.


"Papa bukan siapa-siapa! bersanding dengan seorang gadis kaya, bukanlah cita-cita Papa " lanjutnya.


"Lalu? bagaimanapun akhirnya Papa memilih Mama?" tanya Faash lagi.


"Setelah insiden penyerahan yang di layangkan untuk Mama mu, Dia merawat Papa dengan baik, dan semakin hari Papa menyadari bahwa Papa tak bisa kehilangan dia" jawab Bram.


"Dan Papa menikahi nya" kata Faash sambil menyandarkan punggungnya di sofa tersebut.


"Papa akan membantumu sebisa mungkin" lanjut Bram.


"Keluarga nya yang membuat aku bingung pa, Papa tau kan, aku suka kebebasan, aku tidak mau ikut aturan keluarga ningrat itu, pasti akan sangat membosankan" ucap Faash.


"Bagaimana dengan Camelia? apa gadis itu tidak bisa masuk ke dalam hati mu?" tanya Bram.


"Entahlah pa!"

__ADS_1


Bram hanya menghela nafasnya saja melihat kegalauan di wajah sang anak, tiba-tiba dia mengambil ponselnya dan mengetik pesan untuk seseorang, sesekali dia memandang ke arah wajah Faash yang terlihat masih sangat bingung.


Bram akhirnya memutuskan untuk keluar dari ruangan sang anak, padahal hari ini dia ingin membicarakan soal kerja sama yang di kirimkan oleh perusahaan Papa Camelia, namun melihat sang anak yang terlihat terlalu banyak beban, Bram akhirnya mengurungkan niatnya.


Di sisi lain, Camelia sedang termenung sendiri, dia benar-benar tak tau harus bagaimana lagi, dia pun tak mau terjebak dalam situasi yang tak nyaman bersama Faash, sang Mama yang menyadari semua sikap Camelia akhir-akhir ini, mencoba mendekatinya.


"Camelia" panggil nya sambil membawakan segelas jus buah.


"Ya ma.." jawab Camelia sambil memperlihatkan senyum manis nya.


"Apa yang kamu pikirkan?" tanya sang Mama yang sudah berdiri di samping nya, mereka sama-sama memandang taman di balik jendela kaca kamar Camelia.


"Ma ....ini soal Faash"


Belum juga Camelia mengutamakan pendapat nya,sang Mama sudah menatap nya tajam, Lia seketika menunduk takut, Lia memang di besarkan bak boneka porselen, sangat hati-hati dan di penuhi dengan kasih sayang.Namun tak banyak yang tau, apa yang sebenarnya terjadi pada diri gadis tersebut, hingga dia menjadi sosok yang sangat penurut.


"Tugasmu hanya melakukan apa yang Papa mu perintah kan!?" ucap sang Mama dengan dingin.


bersambung

__ADS_1


__ADS_2