
"Heh.. salah satu anggotamu sudah menghajar sahabat kita. Dia pacaran sama ceweknya ketua genk kami"
"Masalah perempuan saja bikin kalian jadi bodoh...!!" bentak Rinto tak bisa mengendalikan amarahnya.
Meskipun pria itu nampak berani, tapi ia lumayan ngeri juga melihat Rinto mengalungkan peluru di sepanjang bahu dan lehernya.
"Katakan pada mereka agar segera bubar. Kalau sampai kalian onar lagi.. saya akan hancurkan markas kalian yang ada di bawah jembatan itu..!! Dan itu artinya, selain kalian berurusan dengan kami, kalian akan berurusan juga dengan polisi. Keluargamu saya pastikan akan terseret juga dalam masalah ini. Kamu mengancam tentara dengan akalmu yang cetek" ancam Rinto dengan gigi bergemeretak saking jengkelnya.
-_-_-_-
Baru saja pria itu akan keluar melewati pintu kesatrian, segerombolan genk motor itu sudah akan melancarkan aksinya lagi.
Dari jauh Rinto sudah menodongkan senjatanya.
"Tahan Rinto.. Kita tentara tidak boleh sembarang mengacungkan senjata pada warga sipil" tegur Bang Satriyo.
"Abang jangan urus cara saya menangani mereka" kata Rinto.
"Apa katamu??? Saya tau pikiranmu sedang blank tapi pakai akal sehatmu juga Rin?? Jangan pakai emosi.
"Abang pergi saja. Biar saya yang tangani..!!" bentak Rinto yang sudah pusing berdebat.
"Rintoo..!!!!!!!!"
"Berapa lama Abang jadi pasukan? Dia hanya anak-anak. Nyalinya kecil, mereka hanya berani jika berkelompok saja.. selebihnya omong besar" ucap Rinto kemudian berjalan ke arah kesatrian dengan nekat.
"Kalian lempar petasan dari arah samping. Mereka pasti kocar-kacir. Setelah mereka lari.. segera ambil yang tersisa untuk buat perjanjian dan berikan pada pihak yang berwajib sekarang juga" perintah Rinto.
Benar saja setelah petasan di lempar, mereka melarikan diri membawa motornya seperti anak ayam lepas saling bertabrakan dan saling menyalahkan.
...
plaaaaakk....
"Siapa nama ketua genkmu?" tanya Rinto.
"Jawab..!!!!!!!"
"Ampuun pak..!!"
Rinto sudah mengangkat tangan mengayunkan cambuknya.
"Namanya.........."
#
"Terima kasih Batalyon sudah mau membantu kami menangkap target" kata seorang polisi yang akhirnya bisa menangkap anak genk motor dengan bantuan lanjutan dari anggota Batalyon.
"Sama-sama pak" Bang Satriyo menyambutnya sambil melirik Rinto yang sedang merokok dengan wajah datar.
...
"Abang minta maaf.. pulanglah..!!" kata Bang Satriyo.
"Nggak apa-apa Bang. Ini bagian dari pekerjaan" jawab Rinto yang menghisap rokoknya lagi lalu menghembuskannya ke segala arah.
"Abang tau rasanya nggak enak. Sudah sana selesaikan masalahmu dengan istrimu. Kasihan Anye menunggu" kata Bang Satriyo.
Rinto tersenyum datar.
__ADS_1
"Nanti setelah subuh saja Bang. Tanggung jam segini bangunkan Anye tidur.. kasihan..!!"
"Yang kasihan itu kamu. Sudahlah.. ini di bilang sepele ya sepele. Tapi kalau konsentrasi sampai hilang semua pekerjaan bisa hancur berantakan" nasihat Bang Satriyo karena melihat wajah Rinto begitu letih dan lesu karena pikiran.
"Abang kasih dispensasi hari ini masuk sampai masuk apel siang untuk kamu menenangkan diri. Laki-laki butuh energi ekstra" ucapnya sambil memainkan alis.
-_-_-_-
"Sudah selesai Bang?" tanya Anye saat Bang Rinto pulang selepas subuh membawa wajah lesu meskipun suaminya itu tidak pernah lupa untuk mencium kening dan bibirnya.
"Sudah.. cepat tidur lagi" ucapnya berlalu sambil melepas kancing bajunya.
Anye menarik lengan Bang Rinto lalu membantu melepas kancing baju seragamnya. "Apa kalau sudah cemberut begini kelihatan keren??" tanya Anye.
"Apa sih dek?"
"Kalau masih pengen berduaan itu bilang.. bukan cemberut" tegur Anye.
"Sudah cukup dek, cepat kembali tidur..!!" jawab Bang Rinto datar.
"Siapa tadi yang bilang 'nanti lagi ya'..!! Anye tau Abang masih belum tuntas"
"Sudah sayang. Abang sudah selesai.. kasihan si baby. Hidup berumah tangga nggak melulu soal hubungan suami istri sayang" ucap Bang Rinto menghindar.
"Anye tau Bang hal itu bukan hal yang utama. Ya sudah kalau Abang merasa sudah cukup. Anye hanya merasa Abang belum sesantai itu" Anye beranjak meninggalkan Bang Rinto.
Kini setelah Anye pergi, Bang Rinto meraih tangan Anye dan mendekap Anye dengan erat.
"Istri Abang pintar sekali, belajar dimana peka keadaan suami??"
"Berapa tahun kita menikah, masa Anye nggak paham juga maunya Abang?"
"Lanjut???"
Anye mengangguk pasrah. Mata Anye dan Bang Rinto saling menatap.
***
Rinto datang ke Batalyon sesuai arahan Bang Satriyo saat apel siang. Wajah itu sudah berbeda seperti saat malam kemarin yang hanya menyimpan wajah uring-uringan saja.
"Sudah rileks aja nih sepertinya??" ledek Brian.
"Jelas donk.. sudah ngopi broo" jawab Rinto.
"Dasar mesum" tawa Brian terdengar nyaring.
"Apa bedanya aku sama kamu? Sama aja parahnya"
Keduanya pun tertawa khas pria membawa pikiran fantasi liar masing-masing.
"Eehh besok kita PAM gabungan tiga hari. Anye mudik tahun baru nggak?" tanya Brian.
"Oohh.. aku belum lihat info" jawab Rinto.
"Lagipula mau mudik kemana dia, rumah orang tuanya tinggal lompat pagar"
"Shisi minta mudik naik bus kota. Nggak mau di antar, katanya seumur-umur dia pengen mudik beneran" ucapnya sambil tertawa.
"Perempuan mah ada-ada aja maunya. Ada yang mudah juga di buat sulit. Dia kira mudik tuh nggak ribet apa? Angkat barang banyak" kata Rinto.
__ADS_1
"Biarlah, nanti kalau sudah tau rasanya kerepotan pasti nggak mau lagi. Ujung-ujungnya minta jemput" jawab Brian.
"Lanjut Bri.. istri memang tiada duanya"
Dari jauh terlihat Bang Satriyo dan Bang Topan datang menghampiri mereka.
"Heeii kalian sudah update info hari ini?" tanya Bang Satriyo.
"Siap sudah Bang..!!" jawab Brian dan Rinto.
"Jangan tidak update ya. Semua pengamanan mau besar atau kecil tergantung kewaspadaan kita" kata Bang Satriyo mengingatkan.
***
"Barang sudah semua dek?" tanya Brian pada Shisi.
"Sudah Bang. Abang nggak apa-apa khan Shisi tinggal??"
"Nggak apa-apa sayang. Tapi jangan lama-lama ya. Nggak kuat nih nganggur lama. Ini saja sudah kangen lagi" bisik Brian di telinga Shisi.
"Iya Bang. Ya ampun Abang..!! tadi pagi Khan sudah" kata Shisi.
"Iya.. iya.. Ya sudah ayo Abang antar ke terminal" ajak Brian.
Brian tersenyum menatap wajah sang istri. Perlakuan Shisi pagi ini masih berdesir di dadanya hingga saat ini.
-_-_-_-
"Shisi berangkat ya Bang..!!" ucapnya sedikit sendu.
"Iya sayang"
"Papaa..Adik sama kakak mau ke rumah Opa dan Oma dulu ya" pamit anak kedua Brian.
"Iya sayangnya Papa. Jangan nakal ya di rumah Oma Opa. Nanti papa jemput kalau papa sudah ambil cuti" kata Brian.
"Iya pa. Adik sayang Papa"
"Papa sayang adik sama kakak juga donk" Bang Brian pun menggendong kedua anaknya di lengan kanan dan kiri lalu mencium pipi kedua anaknya hingga puas.
"Ayo kak.. dek.. bus nya sudah mau berangkat" ajak Shisi.
Brian pun menurunkan kedua buah hatinya.
"Sini mamanya di peluk papa dulu" Brian merentangkan kedua tangannya. Shisi langsung membalas pelukan suaminya. Matanya berkaca-kaca.
"Kenapa Abang jadi melow sih?"
"Nggak apa-apa, hanya takut disiksa rindu" jawab Bang Brian sambil sesekali mengecup bibir Shisi.
"Papa sayang kamu ma. Hati-hati ya di jalan. Cepat kabari papa"
"Iya papa sayang" Shisi tersenyum manis. Cantik sekali membuat Bang Bri semakin rindu.
.
.
.
__ADS_1