Di Ujung Peluru 2 & 3 (Hati Sang Prajurit)

Di Ujung Peluru 2 & 3 (Hati Sang Prajurit)
165. Fatal.


__ADS_3

"Terima kasih mbak..!!" Bang Rinto mengulas senyumnya meskipun ia ragu dengan kebaikan seorang warga disana.


"Di minum pak, mumpung masih panas" pinta seorang wanita berusia kurang lebih dua puluh delapan tahun itu.


Mau tidak mau, Bang Rinto pun menyeruput kopi pemberian warga. Ada rasa pahit, getir dan tentunya sangat panas di rongga mulut. Begitu melihat Bang Rinto sudah meminumnya, wanita itu pergi meninggalkan Bang Rinto dengan senyumnya yang terlihat di sengaja.


Bang Rinto pun berbalik dan membuang kopi yang masih bersembunyi di rongga mulutnya. Rasa panas di dada langsung terasa padahal ia yakin tidak ada kopi yang tertelan di kerongkongan nya.


"Pak Rinto baik-baik saja?" tanya Jeri dengan panik kemudian disusul dengan beberapa anggota lain yang baru saja selesai makan.


"Jangan menimbulkan situasi..!! Bersikaplah biasa saja seolah tidak terjadi apapun" kata Bang Rinto menarik nafas dan membuangnya pelan. Wajahnya pun perlahan pucat


"Tolong carikan saya air kelapa hijau atau susu murni. Senyap pergerakan ya Jer...!!!"


"Siap Dan"


-_-_-_-_-


Bang Rinto duduk sambil menghisap rokoknya, tenang.. seolah tidak terjadi apapun padahal ia sedang menahan rasa sakit teramat dalam di tubuhnya


"Masih sakit Rin??" Bisik Bang Brian.


"Sakit sekali Bri.. aku mulai sesak nafas. Mataku mulai berkunang-kunang" jawab Bang Rinto.


"Kalau tidak tahan, lebih baik kamu istirahat saja di mobil..!!"


"Anak buahku dalam bahaya, mana bisa aku enak-enakan tidur tinggalkan mereka" kata Bang Rinto.


"Ini beda urusan Rin. Kamu sakit, jangan bodoh ambil tindakan..!!" Bang Brian mengingatkan.


"Brian.. badanku menggigil. Anye mana Bri..??" Bang Rinto mulai berhalusinasi membayangkan Anye.


"Pindah ke mobil Rin..!!"


Perlahan Rinto berjalan mengikuti langkah kaki Brian meskipun harus susah payah menguatkan diri agar tetap sadar dan tidak berhalusinasi.


Aku harus kuat..!! ada Anye yang menungguku, ada anak yang butuh pelukanku.


Rinto berjalan ke arah samping mobil, tak terlihat siapapun karena tempat itu berhadapan langsung dengan sungai yang lumayan dalam dan deras. Disana Rinto memuntahkan segala isi perutnya hingga tenaganya terkuras habis. Brian yang berada disana tentu saja tidak tega melihat keadaan Rinto.


"Kalau kamu menolak ke rumah sakit, kamu bisa mati Rin. Kamu keracunan" kata Brian.


"Aku sudah bilang jangan menimbulkan situasi..!!"


Rinto mulai terhuyung lagi, Brian celingukan mencari Jeri dan Alex yang di perintahkan mencari kelapa hijau dan susu murni.


Dari jauh terlihat Jeri dan Alex menaiki motor menghampiri Rinto dan Brian.


"Lama sekali kalian..!!!!" tegur Brian pada Alex dan Jeri.


"Kalian lihat, Dankimu sekarat..!!!!!"


"Siap salah Dan..!!"


Brian menerima kelapa hijau dan susu murni dari kedua ajudan tersebut.


"Duuhh.. panas..!!" Brian mengibaskan tangannya karena memegang susu panas di tangannya. Baru saja ia menyiapkan air kelapa hijau.. Rinto kembali muntah, parahnya kali ini sampai mengeluarkan darah.


"Astagfirullah Rin..!!" pekik Brian terkejut melihat Rinto menekuk lututnya dan berpegangan pada sebatang pohon.


Jeri dan Alex segera memapah dan menyangga badan Rinto agar tidak tumbang.


#

__ADS_1


Jeri dan Alex melonggarkan ikat pinggang Rinto agar jalan nafas Dankinya itu tidak terhambat. Dengan telaten Brian menyuapi sedikit demi sedikit air kelapa sambil menunggu dokter yang ia minta datang diam-diam. Ia pun sedikit menyesali mengapa harus menuruti perkataan Rinto padahal situasinya sudah sangat genting.


"Ayo minum lagi Rin. Jangan kalah sama racun yang nggak ada apa-apanya..!!" Brian cemas sekali setiap melihat mata Rinto hampir tertutup.


Tak lama dokter datang dan langsung masuk ke dalam mobil lalu segera menyuntikan sesuatu di tubuh Rinto.


"Dek.. adek..!! eegghhhh.." bibir Rinto terus bergumam. Entah siapa yang rindukannya saat ini.


"Keluar dari mobil..!!" Beberapa orang menggoyang mobil dinas yang masih berisi Rinto dan rekan.


Mata Rinto terbuka. Perlahan, ia mencoba duduk. Terlihat beberapa orang sudah membawa balok kayu.


"Jangan nekat Rin.. Biar aku yang nego" kata Brian.


Bang Rinto hanya menepuk bahu Brian agar sahabatnya itu tidak mengkhawatirkannya.


-_-_-_-_-


pyaaarr..


"Papaaaaaaa...." Seno menangis kencang menjatuhkan piring bergambar wajah papanya.


Mendengar suara benda jatuh, Anye segera menghampiri putranya.


"Kenapa Bang?? Papa belum pulang nak..!!" Anye menenangkan putranya itu.


"Papaaaaaa....." teriak Seno.


tok..tok..tok..


Mendengar suara ketukan pintu, Anye segera ke depan rumah untuk membuka pintu.


"Selamat siang.. ijin Bu Rinto"


"Ibu diminta komandan ke rumah sakit sekarang juga"


#


"Abaaaang..!!!!!" Anye berlari dan berteriak histeris melihat tubuh Bang Rinto terbaring lemah di dalam ruang penanganan dengan banyak alat menempel di dada dan terpasang selang oksigen di hidungnya.


"Ya Allah.. jangan lari dek, Abang bisa di cekik Rinto kalau kamu sama anakmu ada apa-apa" pekik Brian. Tepat saat itu Gathan melihat Anye berlari dan langsung menyergapnya dari belakang.


"Tenang dulu dek.." Bang Gathan sampai kewalahan menenangkan bumil yang sedang histeris.


"Anye mau lihat Abang..!!" teriak Anye sambil menjambak dan menendang Gathan. Brian yang bingung segera membantu Gathan yang kewalahan.


"Abang jangan tinggalin Anye" teriaknya histeris hingga semakin sesak.


"Abaaaang..!!!!!!!!!!!"


"Dengar Abang dulu. Jangan teriak di rumah sakit..!!!!" tegur Bang Gathan berusaha keras membuat Anye tenang.


"Lailaha Illallah.. apa sih dek?? Kenapa ribut??" suara Bang Rinto seketika membuat Anye terdiam.


Anye melepas dekapan Bang Gathan dan langsung berlari masuk ke ruangan Bang Rinto kemudian memeluknya erat.


"Jangan lari..!!!!" Bang Rinto sedikit memberikan peringatan keras pada istrinya.


"Abang nggak apa-apa dek, Abang sehat" ucapnya membujuk Anye.


"Abang jangan bohong.. Kenapa Abang selalu pura-pura seakan semuanya baik-baik saja?? Apa semua akan bicara jujur kalau suami Anye sudah tinggal nama??????" teriak Anye begitu marah.


"Nanti Abang cerita semua. Sekarang Abang pengen lihat kamu. Abang kangen" ucap Bang Rinto tak bisa menyembunyikan rasa rindu untuk sang istri. Bang Rinto berusaha meraih tangan Anye yang terus menghindarinya.

__ADS_1


"Sini peluk Abang dulu. Abang sakit nih dek, pengen disayang"


Seketika hati Anye luluh. Anye membungkuk mengecup kening Bang Rinto lalu memeluknya.


"Jangan terus menakuti Anye. Anye nggak mau Abang tinggal lagi" pinta Anye penuh permohonan.


"Yang mau ninggalin kamu itu siapa dek? Abang hanya terkena kecelakaan kerja sedikit" jawab Bang Rinto.


Beberapa saat kemudian ada seorang Komandan Markas pusat datang.


"Kenapa hasil eksekusi rumah dinas itu berantakan??? Siapa penanggung jawabnya?????" bentak komandan itu di luar ruangan penanganan Bang Rinto.


"Ijin Dan.. kami sudah berusaha maksimal. Hanya dua rumah yang masih ada kendala dan penanggung jawab kami.. Kapten Rinto Dirgantara sedang mendapatkan perawatan karena di keroyok warga dan lempar batu. Lebih parahnya lagi.. Kapten Rinto tidak sengaja meminum racun tikus" kata Gathan menjelaskan pada Komandan.


"Itu resiko dia sebagai tentara..!! Mana ada tentara sedungu itu, apa dia tidak bisa membedakan sesuatu yang bahaya atau tidak?? Matipun Rinto tidak ada gunanya"


"Begitu cara pikir anda komandan yang terhormat?????" Bang Brian meradang mendengar jawaban Komandan yang sama sekali tidak peduli dengan nasib anggotanya yang mati-matian menjalankan perintah.


"Kalian yang tidak bisa mengontrol keadaan. Awas saja kalau kalian menyebut nama instansi dan atasan, saya jungkir kalian di lapangan" ancam Komandan.


Bang Brian sudah berontak tidak terima dengan ucapan Komandan. Hatinya sedang kacau melihat keadaan Rinto apalagi nyawa sahabatnya itu hampir melayang karena berusaha keras untuk membujuk para purnawirawan. Gathan dan para anggota lain sudah memegangi lengan Bang Brian.


Komandan sampai mundur karena terlalu kaget melihat reaksi Brian dan rekan tentang keributan di komplek perumahan purnawirawan.


"Dek.. Anye.. Kamu mau kemana sayang???" Bang Rinto panik saat Anye meninggalkan ruangan dan menuju teras depan ruangan. Bang Rinto yang cemas sampai melepas semua alatnya dengan paksa melihat raut wajah Anye yang sangat marah.


"Botak kurang ajaaaarr..!!!!" Anye berdiri di hadapan Komandan lalu melepas sepatu wedges tiga centi nya. Sekuat tenaga Anye menampar dan memukul kepala botak Komandan yang menurutnya sangat menyebalkan.


"Ya Tuhan.. Jangan dek..!!" pekik Bang Rinto langsung mendekap erat tubuh Anye.


"Anye jengkel sekali sama omongan perosotan nyamuk ini Bang..!! Bisa-bisanya dia asal bicara dan tidak menghargai orang lain. Masih untung Anye pukul pakai sepatu. Apa mau Anye hantam pakai batu juga?????" ucap geram istri Kapten Rinto itu.


"Kurang ajar.. Apa kamu tidak pernah mendidik istrimu etika kesopanan??????" Komandan Markas besar membentak Bang Rinto dengan keras.


Bang Rinto hendak menjawabnya tapi Anye sudah berbalik badan dan terlanjur menarik kerah seragam Komandan hingga badan komandan sedikit terangkat.


"Heehh lampu taman.. Jangan merasa hebat. Sekarang anda saja yang coba turun ke lapangan dan tangani semuanya sendiri. Lihat.. apa yang bisa anda lakukan"


Anye mengambil ponselnya hingga terhubung dengan seseorang di seberang sana.


"Selamat siang.. Pak Rama Satria dan Pak Ardian Putranto bisa terbang ke wilayah timur sekarang..!!"


"Tunggu ndhuk.. ada apa?? tanya ayah Rama bingung.


"Ada anak buah ayah yang cari perkara sama suami Anye. Abang hampir mati di buatnya..!!"


Bang Rinto segera memeluk Anye lebih erat dan merebut ponsel istrinya lalu mematikan sambungan telepon nya.


"Sudah dek.. jangan mengadu lagi. Bukan begini cara penyelesaiannya..!!" tegur Bang Rinto tanpa suara keras.


"Ayo masuk ke dalam kamar dulu. Kita bicara..!!"


Anye masih bersikeras tidak mau beranjak sampai Bang Rinto memintanya kembali.


"Ayo sayang.. Abang sudah kesakitan..!!" ucapnya masih merasakan sakit.


Wajah komandan sudah cemas bukan main karena Anye menghubungkan Pak Rama Satria. Senior.. sekaligus atasannya itu.


"Sini aku bantu. Lihatlah penampilanmu itu. Seperti orang mau daftar calon anggota" tegur Bang Brian karena Bang Rinto hanya mengenakan celana pendek dan bertelanjang dada.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2