
Assalamualaikum.. Ijin Bang Zaldi.. Bisa saya minta tolong??" tanya Bang Seno saat meminta tolong pada seniornya.
"Wa'alaikumsalam.. Opo Sen??"
"Ijin Abang.. Bisa minta tolong jemput adik saya di terminal? Abang lagi cek armada kesana khan?"
"Oke. Adikmu naik bus dari arah mana?" tanya Bang Zaldi.
"Cirebon Bang. Pulang KKN, saya takut dia di palak preman. Saya khan lagi dinas luar, besok sore saya baru pulang" kata Bang Seno.
"Laki atau perempuan? Namanya siapa??"
"Ehmmm.. Laki Bang. Arnes namanya" jawab Bang Seno.
"Laki kok takut preman. Yo wes..!! Assalamualaikum.." Bang Zaldi mematikan panggilan telepon.
ting..
Seno mengirim nomer ponsel dan foto Arnes ke nomer ponsel Bang Zaldi. Pria berusia dua puluh tujuh tahun itu melihat foto yang baru saja di download nya.
"Waahh.. laki apa laki nih?? Di fotonya bening amat" gumam Bang Zaldi sambil berjalan menuju kantornya. Bang Zaldi memang punya usaha sampingan kepemilikan armada bus dan ia memiliki kurang lebih tiga puluh bus saat ini, itupun salah satu usaha sampingan di luar pekerjaannya sebagai seorang tentara.
//
Bang Zaldi sedang meneliti laporan keuangan di sambil sesekali menyeruput kopinya. Tak lama ada bus dari armadanya masuk dari arah Cirebon. Dari tempatnya ia melihat seorang pria sama seperti yang Seno kirimkan padanya. Ia menyudahi pekerjaannya.
"Datanya di kirim ke saya besok ya..!! Saya pulang dulu" pamit Bang Zaldi pada anak buahnya di terminal.
"Iya pak" jawab seorang anak buahnya.
#
Pantas Seno minta tolong. Badannya saja terlihat lembek, tipis, tidak kekar. Aku saja sebagai laki-laki geli lihat bentuk badannya.
"Kamu Arnes??" sapa Bang Zaldi menghampiri Arnes.
Arnes melihat perawakan pria di hadapannya. Pria itu setinggi Abangnya, mungkin lebih tinggi sedikit.. sekitar 178 cm. Usianya pun terlihat lebih tua dari Bang Seno. Pria itu memakai celana pendek taktikal dan kaos oblong biasa.
"Om Zaldi??" tanya Arnes yang tau namanya dari Bang Seno.
"Om??? Apa saya ini tua sekali??" tanya Bang Zaldi sedikit kesal.
"Panggil Abang saja. Telinga saya gatal di panggil om-om sama sesama jenis"
Arnes sampai melongo mendengarnya. Ia hanya bisa menatap pria di hadapannya tanpa bisa banyak bicara. Ia tidak tau bagaimana harus memulai bicara dengan pria kaku seperti Om Zaldi.
"Ayo jalan..!!" kenapa lihat saya terus" kata Bang Zaldi sambil berjalan cepat mendahului Arnes.
Saat akan berjalan, ada preman yang menghadang langkah Arnes. Tiga preman itu mengepung Arnes. Adik Seno itu ingin berteriak tapi seorang preman mengeluarkan pisau lipat dan menodongkan di perut Arnes.
Sadar Arnes tak ada bersamanya, Bang Zaldi kembali lagi untuk mencari Arnes.
//
"Jangan ganggu dia..!!" Bang Zaldi menemukan Arnes di seret ke sebuah gang kecil.
Ketiga preman itu menoleh dan melihat Zaldi. Mereka mengenali Bang Zaldi sebagai 'mafia' dunia preman disana.
"Ampun Bang. Kami nggak bermaksud ganggu dia" jawab si preman.
"Kalian sudah saya suruh angkat kaki dari sini tapi ternyata kalian masih kembali lagi" seringai Bang Zaldi membuat bulu kuduk merinding.
Tak menunggu waktu lama. Bang Zaldi langsung menghajar para preman itu sampai babak belur.
#
"Kamu ini laki-laki tapi penakut sekali. Apa gunanya kamu jadi laki-laki" Bang Zaldi menghantam lengan kanan Arnes. Tidak kencang tapi bagi Arnes merasakan sakit hingga menangis.
__ADS_1
"Aawwhh.. sakit"
"Haaahh.. Kau ini laki-laki macam apa??" ledek Bang Zaldi.
"Besok kamu ikut saya latihan fisik.. biar Badanmu jadi. Laki-laki kok lembek"
"Nggak usah lah Om. Eehh.. Bang. Begini saja cukup" tolak Arnes.
"Ini demi dirimu sendiri. Kalau kamu nggak bisa beladiri, itu akan menyusahkan dirimu sendiri" kata Bang Zaldi.
"Nggak mau"
"Saya jemput besok di kost mu"
Arnes cemberut karena usahanya untuk melarikan diri gagal total.
Bagaimana ini?? Om-om satu ini pantang menyerah. Mana wajahnya garang.
Bang Zaldi sedikit risih ada pria yang terus saja menatapnya sejak tadi.
Apa sih yang dia lihat?? Adik Seno ini normal atau tidak?? Jangan bilang dia ACDC.
#
Bang Zaldi melihat kost Arnes adalah campuran kost pria dan wanita.
"Kamu nyaman tinggal disini??" tanya Bang Zaldi sambil mengamati keadaan sekitar.
"Nyaman kok. Temannya baik" jawab Arnes tak bisa meninggalkan sifat polos feminimnya.
deg..
Astagfirullah.. kenapa dengar suaranya saja hatiku jadi deg-degan. Jangan sampai aku belok arah karena nggak pernah berurusan sama perempuan.
"Arnes turun dulu ya Bang..!!" Arnes tanpa sadar meraih tangan Bang Zaldi dan menunduk mencium punggung tangannya.
Punggung Arnes sudah tak terlihat lagi. Bang Zaldi langsung menyandarkan punggungnya dengan benar di sandaran mobilnya.
"Lailaha ilallah.. Kenapa aku tegang banget lihat Arnes. Sepertinya aku memang terlalu lelah bekerja sampai pikiranku jadi nggak normal" Bang Zaldi mengurut keningnya.
"Ada baiknya besok pagi aku pergi ke dokter kejiwaan"
***
"Dari pernyataanmu ini, nggak mungkin lah ada laki-laki seperti yang kamu jabarkan. Punya pinggul, pantat yang padat, mata lentik, kulit bersih, bibir tipis warna pink, type suara seperti wanita. Tapi kamu belum sebutkan.. apa dia punya dada??" tanya James.
"Naahh.. Kalau itu aku nggak tau Bro. Belum ku raba" jawab Bang Zaldi.
"Eehh.. jangan lancang lu. Kalau dia perempuan.. habis lu kena pasal pelecehan" kata James.
"Terus bagaimana?? Aku jadi penasaran Bro. Untuk ukuran laki.. dia cantik lho. Gue cemas nih.. jangan-jangan gue belok" ucap Bang Zaldi cemas.
"Bagaimana perasaanmu saat melihatnya??" tanya dokter James lagi.
"Tegang, berdebar, teringat sama dia terus" Jawab Bang Zaldi.
"Mana fotonya..!!" James meminta foto Arnes pada Bang Zaldi dan Bang Zaldi pun menyerahkan ponselnya.
Mata James memicing memikirkan sesuatu. Seorang dokter sedikit banyak pasti memahami tentang struktur tubuh.
"Yaelaah.. ini mah cewek tulen. Pubermu telat Bro"
"Sialan" Bang Zaldi menendang tulang kering James dengan kesal sampai dokter itu memercing kesakitan.
"Eehh.. tapi kamu yakin??"
"Kamu meragukan gelar dokterku???"
__ADS_1
-_-_-_-_-
Arnes mondar mandir kesana kemari sesekali menggigit ujung kukunya yang lentik. Ia melihat jam dinding dengan gelisah takut Bang Zaldi akan menjemputnya untuk latihan fisik di GOR tempat Abangnya bekerja. Arnes mengambil ponselnya lalu mengirim pesan pada seseorang.
#
"Lama sekali. Kamu pakai lulur??" tegur Bang Zaldi sengaja menguji Arnes.
Arnes memakai training olahraga yang cukup besar membuat bentuk tubuhnya tidak terlihat dan itu semakin menyulitkan Bang Zaldi yang penasaran dengan sosok Arnes.
"Nggak Bang" jawab Arnes singkat, tapi ia selalu lupa kalau dirinya sedang menjadi seorang pria. Penampilannya memang tomboy.
#
"Lariiiii..!!!!" Bang Zaldi membunyikan peluit agar Arnes segera berlari sepanjang seratus meter bolak balik dua kali
:
"Push up..!!!!"
:
"Kakinya salah posisi..!!"
:
"Ulangi..!!"
:
"Sit up..!!!!"
bruugghh...
"Abang.. nggak kuat..!!" rengek Arnes sampai menangis.
"Saya bukan mau nyiksa kamu. Jangan sampai kamu jadi banci kaleng" bentak Bang Zaldi.
"Bangun..!!!"
Sekuatnya Arnes mencoba berdiri, tapi....
"Arneees..!!!!" Bang Zaldi menangkap tubuh Arnes yang baginya terasa ringan. Bang Zaldi segera memindahkan Arnes ke sisi taman yang lebih teduh.
Tanpa pikir panjang Bang Zaldi segera menekan dada Arnes berniat memberi pertolongan.
"Astagfirullah hal adzim" Bang Zaldi seketika mengangkat kedua tangannya, jantungnya seakan mau melompat menebak rasa penasarannya.
"Arnes.. Bangun nes. Cepat sadar..!!!" Bang Zaldi menepuk pipi Arnes. Ia masih gemetar tak percaya dengan apa yang di sentuhnya tadi, tapi ini keadaan darurat. Bang Zaldi membuka jaket Arnes karena makhluk di hadapannya ini sangat membutuhkan nafas yang lega.
"Ya Tuhanku.. wedhok joooo. Asem tenan si Seno" Bang Zaldi panik dan memutuskan membawa Arnes ke mobil.
#
"Minum dulu..!!" ucap Bang Zaldi sambil menutup dada Arnes yang hanya memakai dalaman olahraga menunjukan perutnya yang putih mulus.
"Terima kasih Bang" Arnes melepas wig pendeknya mengurai rambut panjang berwarna coklat gelombang yang seksi.
"Gusti nyuwun ngapunten.." Bang Zaldi merem melek tau dirinya sudah tidak dapat mengendalikan diri apalagi saat ini dirinya melihat dengan mata kepalanya sendiri kalau Arnes adalah seorang wanita.
"Kenapa Bang"
"Tutup aurat mu dek..!! Kalau ada setan lewat.. ambyar kita berdua" jawab Bang Zaldi berusaha menjauh dari Arnes.
.
.
__ADS_1
.