
Seperti halnya hidup ini, mungkin kenyataan tak sesuai keinginan.. tapi cerita harus terus berjalan.
🌹🌹🌹
"Arnes takut hamil lagi. Bolehkah kita tidak menambah momongan lagi?" tanya Arnes hati-hati.
Berat sekali rasa hati Bang Zaldi harus memenuhi permintaan sang istri. Tapi ia membolak-balik hati dan perasaannya. Istrinya sedang terguncang, tak mungkin baginya untuk menolak meskipun sebenarnya hatinya ingin menolak.
"Iya" akhirnya kata itu yang terlontar.
"Nanti kita pakai pengaman. Mudah-mudahan Abang bisa hati-hati" ucapnya meskipun tidak yakin pada diri sendiri.
"Kalau sudah begini apa Abang masih mencintai Arnes?"
"Selalu.. selalu dan tak akan pernah berkurang" jawabnya sambil mendaratkan kecupan sayang penuh cinta.
...
Seorang pria menarik tangan Puri lalu menampar keras pipi wanita itu. Bang Bima yang sedang berada disana langsung menendang pria itu dan langsung menarik Puri di belakang punggungnya. Ia baru saja menemui g***o yang sudah mempekerjakan Puri disana.
Tapi saat kedua pria itu berhadapan, kedua pasang mata itu tak bisa menghindar dari rasa keterkejutan.
"Aswin.. mau apa kamu disini?" tanya Bang Bima.
"Dua tahun aku mencari adikku. Aku benar-benar kehilangan jejaknya dan setelah aku tau, dia malah menjadi seorang p*****r." jawab Bang Aswin dengan lantang. Bagai tersambar petir hati Bang Bima mendapati kenyataan bahwa Puri adalah adik Aswin.
"Orang tua kita meminta Abang menjagamu bukan untuk menjadi wanita seperti ini. Untuk apa semua ibadahmu kalau kamu terus menerus melakukan hal ini??" bentak Aswin sudah melayangkan tangannya lagi.
"Mana orang yang sudah mempekerjakan kamu, biar Abang menebusmu..!!!!"
"Jangan tampar lagi Win.. menyakitinya tidak akan menyelesaikan masalah" cegah Bang Bima.
Bang Aswin baru menyadari kehadiran Bang Bima disana.
"Ngomong-ngomong untuk apa kamu disini?? Menemui siapa?" ucapnya sengit.
"Beginikah pelampiasan sedihmu baru di tinggal istri? Ngel***e??"
Bang Bima sampai tidak bisa menjawab apapun. Bibirnya kelu, wanita yang selama ini menjadi teman pelampiasan hasrattnya ternyata adalah adik kandung dari littingnya yang selama ini pun jarang berkomunikasi dengannya. ( Maaf kalau ada kesalahan nanti Nara revisi ulang ).
//
"Thanks bro.. nanti kuganti" kata Bang Aswin saat tau Bang Bima yang sudah membebaskan adiknya dari jerat dunia hitam.
"Tapi.. bagaimana bisa kamu bertemu adikku?"
"Grace atau Puri ini saksi kunci tentang Bang Guntur dan sudah menyelamatkan Arnes. Jadi uang segitu tidak ada apa-apanya. Itu juga untuk menyelamatkan adikku" jawab Bang Bima berdalih.
"Jadi, wanita yang ada di club malam yang aku jaga itu adalah Grace? Puriii???" Bang Aswin melotot karena tak percaya.
"Iya.." jawabnya sambil melirik Puri yang terus bersembunyi di balik punggung Abangnya.
"Lantas kapan kamu kembali ke Jawa?" tanya Bang Bima.
"Lho.. kamu nggak baca surat kepindahan? Aku minta pindah kesini karena tau adikku disini" jawab Bang Aswin.
gleekk..
__ADS_1
Bang Bima menelan ludah dengan susah payah.
Apa iya aku harus mati di tangan litting ku sendiri. Aarrgghh.. bagaimana ini?.
...
"Aku melakukannya dengan Puri secara sadar. Tapi saat itu aku membayarnya. Aahh nggak.. Astaga Tuhan, aku pusing setengah mati" Bang Bima gelisah di atas ranjang. Pikirannya berantakan memikirkan banyak hal yang berseliweran dalam hidupnya"
***
Satu setengah bulan telah berlalu.
Perlahan tawa Arnes mulai bisa merekah bermain bersama putranya di mini zoo. Tawa itu yang Bang Zaldi harapkan selama ini. Bang Zaldi menyudahi acara sit up nya, mata itu terus terfokus pada satu objek.. Arnes.
Arnes sedikit mengangkat phasminanya lalu menghapus lelehan keringat dari balik kerudung. Di dalam dada Bang Zaldi berdesir tidak karuan. Tubuhnya menegang sempurna tanpa perintah. Maklum sudah lama ia tidak memeluk istri tercinta. Ia menerawang menghitung tanggal, beberapa saat kemudian senyum nakalnya mengembang.
Amankah untuk hari ini? Di kuat-kuatin lama-lama nggak kuat juga nih. Semoga saja Arnes mengerti aku malam ini. Jangan ditawar lagi ya dek. Abang sudah angkat tangan.
"Sikaaatt..!!!! Liat Arnes sampai segitunya Bang??" tegur Bang Bima.
Bang Zaldi menyambar handuk dan menutupi pahanya yang hanya memakai celana pendek.
"Anak buah ngambek Bang? Sudah puyeng tuh" ledek Bang Bima.
"Bukan puyeng lagi. Wes nggak sanggup Bim, bojo sliweran tapi ra iso di jawil." jawab Bang Zaldi dengan wajah pasrah.
"Tabrak lah Bang. Masa nggak berani?" tanya Bang Bima penuh tantangan.
"Bukan masalah nggak berani, Saya khan suaminya. Adikmu nggak berani hamil lagi, masa saya paksa? Biar dulu sampai hatinya benar-benar siap. Satu setengah bulan ini saya terus berusaha mengembalikan diri Arnes menjadi dirinya yang dulu dan itu tidak mudah Bim" jawab Bang Zaldi.
...
"Jadi anak sholeh ya nak..!! Sayang anak Tante sudah nggak ada, coba masih ada. Pasti bisa main sama kamu nantinya" kata Arnes mengundang hati lembut ibu-ibu yang lain.
"Ibu, mudah-mudahan Allah segera menghadirkan kembali rejeki di perut ibu" kata Bu Sanusi.
"Saya nggak berani Bu, takut gagal lagi sebagai seorang ibu. Saya sedih karena tidak bisa menjaga anak Abang Bu" jawab jujur Arnes.
"Saya juga takut mengidam lagi dan menyusahkan semua orang. Saya tidak ingin membuat repotnya orang di sekitar saya."
Jadi sebegitu traumanya kamu soal kepergian Livi sampai hal ini melekat kuat dalam hatimu dek. Ucapan Abangmu begitu menakutkan bagimu.
Tadinya Bang Zaldi ingin memberikan tambahan hadiah untuk ibu-ibu kompi yang baru saja melahirkan, tapi ternyata ia malah mendengar sendiri isi hati istrinya sendiri.
"Mohon ijin ibu, kalau saya boleh memberi saran.. jangan semua hal ibu masukan ke dalam hati. Saat itu Pak Bima baru kehilangan istri dan perasaannya masih terombang-ambing sedangkan ibu dalam kondisi hamil, psikis ibu saat itu juga tidak sebaik biasanya karena masalah yang ibu alami belakangan ini" kata Bu Samsudin.
"Maaf jika saya ikut campur. Apakah bapak benar-benar menyetujuinya? Beliau sangat menyayangi anak-anak. Kodrat utama kita sebagai wanita adalah untuk mengandung dan melahirkan. Semoga ibu cepat pulih"
Bang Zaldi memutuskan untuk pulang ke rumah.
...
Arnes membereskan meja makan kemudian mencuci tangan. Tiba tiba Bang Zaldi memeluknya dari belakang.
"Kamu nggak kangen sama Abang?" tanya Bang Zaldi.
"Kita khan satu rumah Bang" jawab Arnes polos.
__ADS_1
"Malam ini boleh nggak Abang minta jatah?" Bang Zaldi semakin memepet Arnes.
"Abang, jangan nakal..!! Kalau bibi lihat bagaimana" tanya Arnes yang sebenarnya masih sedikit takut. Tapi benar apa yang dikatakan Bu Samsudin. Mengandung dan melahirkan adalah kodratnya sebagai wanita.
"Kalau nggak mau semua bangun, cepat jinakin ini aligatormu..!! Gimana? Boleh nggak? Abang janji selesaikan 'di luar' " ucapnya sudah mulai menggigit gemas telinga Arnes.
Melihat wajah Bang Zaldi yang sudah tidak bisa menahan lagi, rasanya ia pun menjadi tidak tega.
"Gendong sampai kamar..!!" pinta Arnes.
Tanpa banyak bicara Bang Zaldi segera menggendong Arnes lalu mengunci pintu. Ibra sudah tidur nyenyak dan tidak tahu apapun disana, sama seperti Ryan yang pulas dalam box bayinya.
:
Arnes melihat Bang Zaldi berusaha keras untuk menahan diri agar tidak berlebihan pasca 'kelahiran' putranya.
"Bang, kalau Abang mau lepas nggak apa-apa kok" ucap Arnes tak tega melihat suaminya.
"Kamu masih luka, Abang masih bisa sabar dek. Biar kamu pulih dulu, Abang nggak mau semakin memperparah keadaan" Jawab Bang Zaldi.
"Arnes serius Bang"
"Nanti.. kalau ladangnya nggak banyak pupuk. Kalau sekarang Abang nggak berani" kata Bang Zaldi jujur.
Beberapa saat kemudian Bang Zaldi menarik diri. Sekuatnya ia lakukan meskipun hatinya terasa berat. Kerinduannya kini bebas lepas. Nafasnya tersengal.
"Terima kasih sayang".
Lho.. kata Abang...............
Arnes tak berani menggeser Bang Zaldi. Ia pun menunggu beberapa saat sampai suaminya itu bangun kembali.
***
"Aku juga om..!!" kata anak-anak yang berkerumun mengitari Bang Zaldi yang sedang menggendong Ryan kecil.
"Ambil.. bilang om yang suruh" kata anak-anak saat ada pedagang es cream keliling.
"Nanti di total ya pak..!!" kata Bang Zaldi pada pedagang ice cream.
"Ya ampun Abang.. anaknya kok di suapin es krim sih" Arnes meraih Ryan dari gendongan Bang Zaldi lalu mengusap wajahnya yang kotor.
Bang Zaldi sekarang beralih menggendong Ibra.
"Kasihan ma. Abang Ryan juga pengen makan es"
"Aaaahh Abang, nanti kalau sudah batuk pilek aja Abang bingung" omel Arnes yang seakan hanya bagai radio rusak untuk Bang Zaldi.
Arnes menyuapi Ryan. Putranya itu senang sekali masakan buatan mamanya. Tak pernah sekalipun buatan Arnes tak habis di tangannya.
Sedang asyiknya bercengkerama dengan anak-anak. Sebuah mobil melaju dan berhenti di hadapan Bang Zaldi.
.
.
.
__ADS_1
.