Di Ujung Peluru 2 & 3 (Hati Sang Prajurit)

Di Ujung Peluru 2 & 3 (Hati Sang Prajurit)
153. Abang akan menjagamu.


__ADS_3

"Kalau Mawar tidak boleh tinggal disini. Lebih baik saya pulang ke Jawa Pak" kata Bi Dijah lembut tapi seolah terdengar mengancam.


"Silakan bi..!! Saya tidak mau memaksa siapapun yang tidak ingin dengar apa kata saya" jawab Bang Rinto kemudian berlalu pergi.


"Saya mohon pak. Saya butuh pekerjaan. Saya terlihat sehat tapi saya sakit komplikasi dan butuh banyak biaya"


Bang Rinto menghentikan langkahnya.


"Pertama bibi membohongi saya dengan mengatakan bibi sehat. saiya tidak ingin mengeksploitasi seseorang yang sedang tidak sehat. Kedua.. bibi memaksa saya untuk menerima anak bibi di rumah ini. Rumah saya bukan panti untuk menampung banyak orang dan tanggung jawab terbesar saya adalah menyamankan istri saya.. bukan bibi..!!!!" ucap Bang Rinto kemudian berjalan menemui anaknya yang sedang bermain di belakang rumah.


Bibi sangat sedih tapi ia juga takut dengan ketegasan Pak Rinto.


"Bi.. suami saya tidak bermaksud buruk. Saya harap bibi tidak salah paham" kata Anye.


"Saya hanya rindu Mawar anak saya. Dia gadis yang baik dan lugu"


Samar Bang Rinto mendengar ucapan bibi dan itu semakin membuatnya muak dan jengkel. Bang Rinto mengambil ponsel dan menghubungi ayah Rama.


***


Anye duduk di ruang kerja Bang Rinto dan memeriksa laporan keuangan disana sedangkan Bang Rinto masih mengadakan briefing mengarahkan pegawainya untuk kelangsungan cafe miliknya yang semakin berjaya.


Membaca semua laporan disana, Anye curiga hanya cafe itu saja yang terjadi peningkatan pesat selama sekitar satu tahun ini. Cafe mereka memang di buka sampai 24 jam setiap harinya.


"Permisi Bu Anye, ada polisi yang mencari ibu selaku pemilik cafe" laporan seorang karyawan pada Anye.


Anye mengerutkan keningnya.


"Polisi??? ada apa ya???"


Perlahan Anye berdiri dari duduknya membawa perutnya yang sudah terlihat kehamilan usia empat bulan beberapa hari lagi.


#


"Anda di tahan karena terlibat kasus prostitusi dan mempekerjakan wanita sebagai PSK" kata seorang polisi menjelaskan.


"Saya tidak mempekerjakan mereka seperti itu pak. Tempat ini murni hanya cafe untuk nongkrong kawula muda" jawab Anye.


"Nanti bisa ibu jelaskan di kantor polisi. Kami hanya menjalankan tugas sesuai laporan seseorang" kata polisi tersebut.


"Laporan apa???" Bang Rinto masuk ke ruang yang lebih luas untuk menerima tamu.


"Laporan bahwa suami pelapor suka ke cafe ini dan menemui seorang wanita malam"


"Maaf pak. Nama yang tertera dalam kepemilikan cafe memang nama istri saya Anyelir tapi segala proses yang ada, saya yang menangani. Istri saya hanya bagian keuangan saja" kata Bang Rinto menahan emosi.


"Pak Rinto bisa di mintai keterangan tentang laporan tersebut. Besok pagi pelapor akan datang ke kantor polisi" ucap polisi.


"Dengan kata lain malam ini istri saya di tahan????" tanya Bang Rinto.

__ADS_1


"Maaf pak. Ini prosedurnya"


"Nggak bisa.. istri saya sedang hamil dan saya nggak mungkin membiarkan istri saya menunggu di jeruji besi" tolak Bang Rinto.


"Biar saya yang gantikan karena saya pemilik resminya.


"Tidak bisa pak. Kami hanya membawa yang tertera dalam surat kepemilikan ini" kata pak polisi yang kemudian akan membawa Anye.


Bang Rinto menarik tangan Anye agar berdiri di belakang punggungnya.


"Mau hukum itu berlaku atau tidak, sebaiknya kalian melihat dari sisi kemanusiaan dan pakai akal pikiran kalian. Darimana kalian dapatkan surat kepemilikan cafe ini????" Bang Rinto mulai emosi apalagi Anye sudah gemetar dan memeluk punggungnya.


"Kami tidak tau pak"


"Bawa Komandanmu kesini. Kalau tidak.. akan saya obrak abrik kantor mu lalu saya mortir hingga rata dengan tanah..!!!!!" gertak Bang Rinto yang sebenarnya sangat membahayakan dirinya sendiri.


...


"Tolong di kaji kembali semua kasus ini mas" pinta Bang Rinto lebih kekeluargaan pada komandan polisi.


"Jangan mengambil mentah-mentah setiap kasus yang ada" Bang Rinto melirik Anye yang sedang berada di ruang sebelah dan hanya berbatas kaca dan tirai. Anye terus saja mual, mungkin karena terlalu panik dengan masalah ini dan akhirnya Gathan ikut mendampingi Anye disana.


"Baik mas, saya akan kaji ulang berdasarkan keterangan mas barusan"


#


"Abang khan sudah bilang berat badanmu harus naik. Abang batalkan janji Abang nih ya" ancam Bang Rinto karena Anye mulai tidak bisa menelan apapun saat ini, jangankan makanan.. air mineral saja di muntahannya.


"Perut Anye nggak enak Bang"


"Kamu mikir apa? Semua sudah Abang selesaikan. Tuduhan tanpa bukti bisa jadi pencemaran nama baik" kata Bang Rinto.


tok.. tok.. tok...


"Masuk..!!!"


Pintu terbuka dan di sana terlihat ada bang Ezhar membuka pintu ruangan Anye.


"Abaaaang.." Anye menghambur memeluk kakaknya itu.


"Cengeng sekali adik Abang. Yang kuat donk dek. Masa di kerjain orang bisa kalah?? Nggak ada cerita anak black mamba lemah, apalagi kamu istri si herder. " bujuk Bang Ezhar.


"Anye takut Bang..!! Anye juga nggak pernah buat ulah selama Bang Rinto pendidikan" kata Anye.


"Iya.. Abang percaya. Sudah jangan nangis lagi. Kasihan keponakan Abang sesak kamu ajak nangis" Bang Ezhar mengajak Anye untuk duduk kembali.


Bang Gathan yang tidak bersuara sejak tadi saking geramnya dengan masalah yang menghampiri Anye.. mulai angkat bicara.


"Kenapa Abang bisa kecolongan masalah seperti ini???" tanya Gathan.

__ADS_1


"Dimana Abang simpan dokumen kepemilikan cafe ini dan siapa saja yang tau tentang pengalihan nama kepemilikan cafe?????" tanya Bang Gathan.


"Sekertarisku, Andri" jawab Bang Rinto dan Bang Rinto mulai sadar dengan pertanyaan Gathan setelah ia dipusingkan dengan kekhawatiran nya pada Anye.


"Panggil dia Bang.. aku mau ambil keterangan" pinta Ezhar.


"Ada baiknya kamu tanya managerku juga karena dia yang mengelola selama aku pergi"


Akhirnya Gathan ikut merasa bersalah karena sempat menolak tawaran Bang Rinto untuk menjaga cafenya dan kini masalah besar sudah terjadi. Anye terkena imbas dari masalah yang ia pun tak tau ujung pangkalnya.


...


Andri dan Pak Odi duduk gemetar memainkan jemarinya karena mata Pak Rinto, Pak Gathan dan Pak Ezhar menatapnya dengan tajam. Sengaja Anye tidak dilibatkan karena Bang Rinto yakin Anye tidak akan kuat menghadapi kejutan ini.


"Apa yang terjadi selama saya tidak di tempat sembilan bulan ini?? Saya bukannya tidak senang dengan peningkatan keuntungan kita selama satu tahun ini, tapi ini janggal karena cafe saya yang lain hanya ada peningkatan tiga puluh sampai enam puluh persen, itupun naik turun. Tapi cafe ini meningkat hingga sembilan puluh persen" teguran keras Bang Rinto mengagetkan seisi ruangan.


"Katakan ada apa??????"


"Maa_maaf pak. Saya ingin jujur tapi saya tidak mau bapak penjarakan..!!" kata Andri.


"Tergantung apa kesalahanmu. Tapi segala hal yang menyangkut istri saya, tidak akan bisa saya maafkan dengan mudah" ucap tegas Bang Rinto.


Wajah Pak Odi seketika pucat pasi, duduk pun tak jenak, resah sesekali melirik Andri dan Bang Rinto mulai paham ada yang tidak beres disana


"Setelah lepas pukul tujuh, saya, Pak Odi dan Mawar mempekerjakan beberapa wanita sebagai wanita malam dan memakai nama kepemilikan cafe yang baru sebagai perlindungan kami. Karena Bu Anye adalah istri anggota, kami lebih aman bergerak"


"Astagfirullah hal adzim.. kalian mencelakakan istri saya..!!!!! Apalagi yang kalian buat?????"


Bang Rinto menampari pipi Andri dan Pak Odi. Hampir saja tendangannya melayang jika Gathan dan Ezhar tidak mencegahnya.


Komandan markas pun tanpa di duga hadir di sana.


"Apa yang terjadi Rin. Saya harus meminta keterangan dari istrimu atau darimu??? Kasusmu terdengar sampai ke pusat. Pak Rama Satria tidak bisa menangani kasusmu karena beliau orang tua Anye.. dan itu dianggap kerjasama. Maka Pak Ardian Putranto yang akan menangani kasusmu " ucap Bang Satriyo.


Kaki Bang Rinto rasanya lemas.


"Tolong beri saya sedikit waktu. Saya masih mencari keterangan Bang. Tanyakan pada saya saja..!! Saya akan kooperatif tapi tolong jangan ganggu istri saya dulu. Saya sedang berusaha menjaga keduanya" pinta Bang Rinto penuh permohonan.


"Kamu jangan cemas. Kita akan selesaikan bersama" kata Bang Satriyo.


"Siap Abang..!! Terima kasih"


Bang Satriyo menepuk bahu Rinto sebagai tanda persahabatan yang dalam.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2