
"Kenapa Abang suka sekali bentak Arnes??? Adek kesel nih sama papanya" ucap Arnes sudah kembali berlinangan air mata.
"Bentak apa sih sayangku?? Ya sudah, Abang minta maaf ya. Nggak sengaja..!! Papa minta maaf ya dedek..!!" ucapnya sambil membungkuk mencium perut datar Arnes.
"Beli es krim yuk ke koperasi..!!" ajak Bang Zaldi membujuk istrinya.
"Memangnya Arnes anak kecil, Abang sogok es krim???" tanyanya.
"Ya sudah.. Ayo.. terpaksa nih" ucapnya membuat Bang Zaldi melipat senyumnya dan sedikit menunduk agar tak terlihat oleh sang istri.
Bang Zaldi mengulurkan tangannya.
"Ajudan siap mengantar..!!"
...
Sudah empat bungkus es krim dihabiskan istri PasiIntel itu tapi nampaknya belum ada keinginan untuk sang istri berhenti menyantap kudapan dingin tersebut.
"Bang, cari mie ayam yuk..!!" ajak Arnes.
"Siaap..!!" Bang Zaldi siap siaga menuruti ajakan sang istri. Apapun yang membuat istrinya itu kenyang pasti di turuti daripada Arnes tidak mau makan seperti kemarin.
//
Bang Zaldi sudah kenyang dengan semangkok bakso tapi tidak dengan Arnes di mangkok keduanya.
Ponsel Bang Zaldi berdering dan ia pun segera menjawab panggilan telepon itu.
"Selamat sore, Ijin Dan" sapa Rafli di seberang sana.
"Ada apa Raf..!!"
"Ijin.. ini Bu Iman sedang marah dan mengambil beberapa pipa yang sudah di kumpulkan anggota" laporan Rafli pada Bab Zaldi.
"Ayo ibu-ibu.. kita butuh air. Jangan sampai kita kasih hati junior pelit macam istri si Zaldi itu" terdengar teriakan Bu Iman mengompori sesama perwira karena di Flat A hanya deret perwira saja.
Bang Zaldi bisa memastikan tak ada yang menanggapi ucapan istri Kapten Iman itu.
"Aktifkan speaker mu..!!" perintah Bang Zaldi pada Rafli.
Rafli pun mengikuti perintah Lettu Zaldi.
"Masih kau berani injak pekarangan rumah saya untuk mengambil pipa milik. Sesampainya saya kembali nanti, saya pastikan rumahmu itu bagai gubug derita" Bang Zaldi memberikan ancaman pada Bu Iman.
Terdengar teriakan khas ibu-ibu yang panik tak terkecuali Bu Iman yang tingkah gilanya sudah sampai ke telinga Bang Zaldi. Suami Arnes itu kemudian memutuskan panggilan telepon itu sepihak.
"Abang.. kenapa begitu lagi???" tanya Arnes.
Bang Zaldi merangkul bahu Arnes lalu memegangnya dengan erat.
__ADS_1
"Kamu bisa diam nggak" ucap Bang Zaldi datar namun cukup memberi penekanan.
"Abang sudah bilang, ada hal yang bisa kamu larang.. ada yang tidak. Jangan marah sebelum kamu benar-benar paham dengan orang di sekelilingmu"
Arnes cukup takut dengan peringatan Bang Zaldi, namun tidak menunjukkan langsung di hadapan suaminya itu.
"Itu sebabnya Abang jadi Intel??" tanya Arnes.
"Abang mungkin bisa melihat situasi dan karakter untuk melindungi mu dari kisruhnya sifat orang lain, tapi Abang sulit menerka istri Abang sendiri. Kenapa kamu buat Abang kelimpungan?? Abang jaga kamu mati-matian dek. Biar Abang melindungimu dengan cara Abang sendiri" jawab Bang Zaldi.
Arnes menunduk sampai tidak selera makan lagi. Tau istrinya sudah berubah, Bang Zaldi mengecup kening Arnes.
"Apa Abang harus minta maaf lagi??" tanya Bang Zaldi sambil menyuapi Arnes.
"Nggak mau..!!" tolaknya.
"Dek.. Mama marah nih sama Papa. Bantuin papa donk biar Mama nggak marah sama Papa" bujuk Bang Zaldi, tangannya mengusap perut Arnes.. mengadu pada calon bayinya.
"Apaa?? Mama minta martabak??" tanya Bang Zaldi menjawab pertanyaannya sendiri.
"Mama mau martabak??" mata Bang Zaldi menatap Arnes yang berwajah innocent.
"Memangnya mau ma??" Bang Zaldi mengangkat dagu Arnes agar menatapnya.
"Mauuu" jawabnya pelan sekali.
"Siaapp.. Abang bayar dulu baksonya ya.. tapi habiskan dulu baksonya" kata Bang Zaldi.
"Ya..ya..ya..!!"
-_-_-_-_-
Sekembalinya Bang Zaldi dari luar, kamar mandinya pun sudah jadi. Bang Righan menghandle semua atas permintaan Bang Zaldi. Beberapa orang tukang bangunan sudah selesai mengerjakan tugasnya. Bang Zaldi membantu Arnes turun perlahan dari mobilnya.
"Kami sudah selesai pak" kata seorang tukang bangunan.
"Oohh iya pak" Bang Zaldi masuk ke dalam rumah untuk melihat hasil pekerjaan para tukang. Diam-diam ia meminta tukang dan bagian interior untuk membuat Arnes senyaman mungkin di dalam rumah sekaligus membuat kamarnya menjadi cantik menuruti selera istrinya. Berwarna pink. Setelah hasilnya sesuai dengan keinginannya, ia kembali ke luar.
"Rafli.. tolong ambilkan beberapa kantong untuk pak tukang." Bang Zaldi pun membayar hasil kerja mereka.
"Tapi pak, kami sudah dapat snack, makan siang, rokok, ini apalagi pak??" tanya seorang tukang lagi.
"Ini rejeki untuk keluarga bapak. Ya mumpung saya lagi ada rejeki sedikit, apa salahnya saya berbagi" kata Bang Zaldi.
"Terima kasih banyak ya Pak. Semoga Allah membalas segala kebaikan bapak"
"Aamiin.. terima kasih banyak pak" jawab Bang Zaldi tulus.
Setelah para tukang meninggalkan tempat, Bang Zaldi tetap tidak melupakan anggotanya yang sejak tadi membantu tapi ia meminta Arnes untuk masuk ke dalam rumah karena di luar sana hanya ada kaum 'penyamun' saja.
__ADS_1
"Tolong keluarkan bagian rekan saya. Hitung-hitung syukuran datangnya si kuncung" ucap Bang Zaldi.
"Siapa pir??" tanya Bang Irfan.
"Arnes.. lagi isi" jawab Bang Zaldi.
"Aahh.. gimana sih lu, kemarin bilang nggak, sekarang iya. Mana yang benar??" Bang Irfan bingung mendengar kata Bang Zaldi yang terkesan tidak konsisten.
"Mana kutahu kalau dia mau datang sekarang" Bang Zaldi cuek saja saat teman-teman menerka apa yang sedang terjadi tapi tetap saja ada batasan untuk tidak ikut campur dalam urusan rumah tangga Arnes dan Zaldi.
"Eehh vampir.. kamu beli makanan banyak sekali" tegur senior sekaligus tetangga kirinya yang berjarak sepuluh meter masing-masing rumah untuk tiap perwira.
"Minta doanya saja Bang untuk istri saya. Setiap hari dia mabuk parah. Saya jadi nggak tenang, kerja pun kepikiran..!!"
"Sabaarr.. mau bagaimana lagi"
"Iyalah Bang. Kita saja jadi laki yang berusaha waras menghadapi istri yang kadang bisa bad mood. Ini mungkin belum seberapa. Belum nanti kalau sudah hamil besar. Malah nggak tau lagi apa yang bakal di buat sama bojo karena bawaan bayi" jawab Bang Zaldi.
//
Arnes masih kegirangan melihat corak kamarnya yang sudah sangat cantik. Bang Zaldi rela mengubah kamar menjadi warna pink, ungu dan merah padahal Bang Zaldi hanya menyukai warna hitam dan abu-abu. Kamar itu pun wangi aromaterapi yasmine favoritnya.
"Arnes sayang bangeeett sama Abang" ucapnya sambil memeluk boneka yang baru Bang Zaldi belikan juga untuknya.
"Waahh uang.. Abang kasih Arnes uang nih??" tangan lincah itu menghitung lembar demi lembar kertas merah dan biru yang Bang Zaldi letakan di atas bantal belum lagi ada bucket snack kesukaannya.
Bang Zaldi tersenyum geli melihat Arnes sedang menghitung uang. Wajahnya segar, tidak ada tanda mabuk sama sekali.
"Waduuhh.. Obatnya Bu Zaldi mahal sekali. Kira-kira suamimu ini kuat nggak 'bandain' maunya istri?? tegur Bang Zaldi.
Arnes tanpa sadar berjingkrak kegirangan membuat Bang Zaldi terbelalak kaget.
"Kalem to cah ayuuu" punya Bang Zaldi.
"Semoga rejeki Abang terus mengalir lancar, halal dan berkah untuk keluarga. Sehat terus ya Bang..!!" do'a Arnes begitu tulus untuk Bang Zaldi. Tak lupa ia mengecup sayang bibir indah Bang Zaldi, tangannya mengalung manja di belakang leher sang suami.
"Tumben. Ada apa nih tiba-tiba mepet Abang begini??" wajah Bang Zaldi langsung berubah sumringah.
"Arnes mau roti bakar pakai selai strawberry sama keju buatan Abang"
"Huuuuuhh.. Abang kira mau ngajakin panjat pinang" Bang Zaldi langsung menjawab lemas, raut kecewa seketika membayang di wajahnya. Ia pun melepas rangkulan tangan sang istri.
"Sebentar saja Bang. Anak Abang nih mulai lapar lagi. Setelah itu.. baru Abang boleh main sama si kuncung" ucap Arnes malu-malu.
"Laksanakan..!!!" Bang Zaldi membopong Arnes ke atas ranjang agar istrinya bisa 'bermain' dulu dengan para pasukan lembar merah kesayangan istrinya.
"Tunggu Abang disini. Nggak usah ikut ke dapur..!!" pesan Bang Zaldi.
.
__ADS_1
.
.