Di Ujung Peluru 2 & 3 (Hati Sang Prajurit)

Di Ujung Peluru 2 & 3 (Hati Sang Prajurit)
DUP 3. 62. Bukan rayuan gombal.


__ADS_3

"Papaaa.. Abang kumat Pa, kejang di kamar" kata Bang Righan mengagetkan seisi ruangan Arnes setelah mencari dokter untuk menangani adik iparnya.


"Masa Rig.." Papa Rinto yang sedang mengopi pagi pun di buat kelabakan.


"Arnes ikut pa..!!" pinta Arnes.


"Kamu disini saja sama Mama. Biar papa yang lihat kondisi Zaldi" Papa Rinto mencegah Arnes karena ingin agar putrinya tidak banyak bergerak demi cucu kesayangan.


//


Papa Rinto, Bang Righan dan Bang Putra melihat Bang Zaldi yang sedang di tangani pihak tenaga medis.


"Bagaimana, apa parah?" tanya Papa Rinto.


"Ijin Dan.. Parah sekali" jawab litting Bang Zaldi itu dengan tatapan penuh arti.


Papa Rinto akhirnya menghela nafas panjang. Sebagai pria yang sudah banyak menelan asam garam pastilah Papa Rinto paham maksud menantunya itu.


"Biar Papa yang temani Rinto. Kalian kembalilah ke ruangan Arnes" perintah Papa Rinto pada kedua putranya.


"Dokter, terima kasih banyak sudah merawat menantu saya yang sakit parah ini" kata Papa Rinto.


:


"Bangun, jangan akting di depan Papa..!!" ucap Papa Rinto yang sudah tau 'kebusukan' menantunya.


Bang Zaldi pun membuka mata dan nyengir kuda dalam keadaannya yang sebenarnya belum sehat, wajahnya saja masih pucat hanya saja tidak belaga separah aktingnya.


"Arnesku bagaimana pa? Sehat?" tanya Bang Zaldi.


"Sehat, tapi kalau lihat wajahmu.. traumanya langsung muncul. Buktinya dia tidak mencarimu" jawab Papa Rinto membual. Padahal Arnes selalu mencari Bang Zaldi meskipun putrinya itu jengkel setengah mati.


"Saya minta maaf pa. Saya benar-benar menyesal sudah mengucapkan semua kata itu"


Meskipun Papa Rinto tau menantunya sungguh menyesal, tapi sedikit pelajaran harus Zaldi dapatkan. Karena emosional, rasa tidak percaya dan terlalu cemburu dapat menghancurkan sebuah rumah tangga.


"Papa bisa apa kalau istrimu sudah sangat sakit hati. Di dalam tubuhnya ada bayimu, darah dagingmu. Papa juga tidak bisa terima kamu berucap kata-kata itu Zal. Permintaan maafmu tak lantas menyurutkan amarah Arnes. Dia sedang marah"


Bang Zaldi terhenyak, ia memalingkan wajahnya. Gengsi pada sang ayah mertuanya untuk menunjukan bagaimana hancurnya perasaannya saat ini.


"Ya sudah, sekarang apa maumu? Papa bantu kamu baikan sama Arnes. Tiket ini berlaku satu kali, kalau kamu tidak menggunakan hal ini sebaik mungkin.. papa anggap hangus"


"Baiklah pa, saya minta tolong............"


...


"Nes, kamu mau lihat suamimu atau tidak?" tatap wajah Papa Rinto seketika menyentak perasaan Arnes, ia takut dan cemas jika terjadi sesuatu pada sang suami.


"Abang kenapa pa?"


"Suamimu sedang dalam fase paling buruk Nes" kata Papa Rinto.


"Astagfirullah hal adzim.. Abaaang" Bang Righan berlari terbawa suasana padahal sasaran Papa Rinto yang sebenarnya adalah Arnes.


"Papa.. Arnes mau lihat Abang" Arnes bangkit perlahan dan akhirnya Bang Putra membantu Arnes menuju ruang rawat Bang Zaldi juga.


//


"Abang kenapa dok? Sakit jantung, paru-paru, atau stroke?" tanya Bang Righan cemas.


Bang Zaldi masih memejamkan matanya mendengarkan Bang Righan yang terlalu cerewet memekakkan telinga. Ada saja yang di tanyakan dan itu semua hampir keluar dari jalur yang terencana.


Busyet.. kakak ipar durhaka nyumpahin aku macam begitu.


Dua litting Bang Zaldi yang berada di sana menahan tawanya mendengar celoteh Bang Righan.

__ADS_1


"Sakit kutu air" jawab Kapten Aryo.


Bang Righan dan yang lain tidak merespon jawaban dokter Aryo saking cemasnya dengan keadaan Bang Zaldi.


"Zaldi hanya minta di maafkan oleh istrinya" sambung dokter Aryo.


"Nggak.. Ngaaakk.. Abang nggak boleh mati" teriak Arnes histeris.


Suasana menjadi menegang. Segala yang ada di luar jalur ekspektasi. Bang Zaldi hanya menginginkan Arnes memaafkan dan prihatin dengan kondisinya, bukan untuk salah paham seperti ini.


Bang Zaldi harap-harap cemas menunggu anak buahnya datang membawakan pesanannya.


"Sabar Nes, doakan yang terbaik untuk suamimu" kata Papa Rinto mencoba menetralkan.


Dada Arnes terasa sesak. Ia hampir saja tumbang kalau Bang Zaldi tidak refleks menahannya.


"Pras.. cek istriku dulu. Gimana nih??" seketika Bang Zaldi turun dari ranjang dan membaringkan Arnes di ranjangnya.


"Biar saya saja yang periksa kondisi Bu Arnes. Hari ini beliau akan ada tindakan" entah sejak kapan dokter Inka ada disana.


Dengan keras Bang Zaldi mencekal dan memutar pergelangan tangan dokter Inka.


"Jangan sentuh istri dan anak saya sedikitpun"


"Aawwhh.. sakit Bang..!! Tapi istrimu harus segera di beri tindakan Bang. Nyawa istrimu dalam bahaya..!!!!" pekik Inka karena merasakan perih di pergelangan tangannya, Bang Zaldi terlalu kuat memegangnya.


"Kau mau nyawamu yang sedang dalam bahaya?? Saya tidak menyetujui tindakan itu Inka" bentak Bang Zaldi.


"Lepas Zal.. dia perempuan" tegur Papa Rinto.


"Dia wanita yang ingin merusak rumah tangga kita. Dia juga mau menghilangkan anak Abang. Kalau Abang ingin Arnes maafkan, Arnes mau Abang membalasnya. Arnes sakit hati sekali Bang" pinta Arnes dalam setengah kesadarannya.


Bang Zaldi segera menyeret dokter Inka keluar dari kamar.


"Stop Pa. Biarkan Bang Zaldi selesaikan semuanya. Bang Zaldi tidak akan gegabah lagi setelah kejadian hari ini" kata Arnes.


"Dokter Pras.. tolong bantu Bang Zaldi"


:


Suasana hening seketika sampai tiba-tiba pintu terbuka. Satu persatu om-om berbaju loreng membawa karton bertuliskan kata-kata. Lembar demi lembar Arnes baca.


❤️Untuk Arnes istriku.❤️


❤️Abang minta maaf.❤️


❤️Untuk segala kebodohan.❤️


❤️Yang menyakitimu.❤️


Om Aswin pun masuk ke dalam ruang rawat Arnes lalu memberikan seekor merpati putih. Tak lama seekor merpati putih membawa sepucuk surat dalam kertas berwarna pink yang wangi untuk Arnes.


Istri Kapten Zaldi pun mengambil dan membacanya.


( Lembar pertama )


🌷Teruntuk belahan jiwa hingga ajalku. Ijinkan Abang menebus janji akad yang sudah Abang nodai. Maafkan Abang bila telah banyak mengukir luka di hatimu, maaf pula bila Abang telah banyak membuatmu meneteskan air mata dari bingkai indahmu itu. Yang Abang lakukan hanya bisa meminta maaf bila Abang tidak bisa memahamimu, memenuhi keinginanmu. Tapi yang perlu kamu tahu, bahwa Abang benar-benar menyayangimu. Penyesalan memang tidak ada gunanya, tapi itulah yang Abang rasakan saat ini. Abang bukanlah pria yang sempurna. Segala kekurangan itu jelas kamu lihat adanya. Adek jantung hati Abang, Abang mohon jangan tinggalkan Abang. Maaf.. maaf.. maaf.. Abang menyakiti hatimu. Tolong beri Abang satu kesempatan untuk berjuang demi hubungan ini, demi memperbaiki kelalaian Abang.🌷


( Lembar Kedua )


🌷Dan teruntuk kamu bidadari surgaku.. Janganlah kamu mengira hati Abang tidak menangis saat kamu menangis. Beban terasa berat saat melihat ibu dari anak ku merasa sakit karena sikapku. Biar kata sederhana menghantarkan maaf dari ucap yang salah, dan mungkin janji yang terlupakan.🌷


💐Papa Ibra minta maaf. Sungguh minta maaf.💐


Arnes terisak-isak membacanya. Ia memang masih marah, tapi kata demi kata dari sang suami sungguh membuat hatinya tersentuh.

__ADS_1


"Ya Tuhaaann.. kenapa datang sekarang???" tegur Bang Zaldi pada para anggotanya.


"Ijin Dan, katanya langsung masuk saja ke kamar Danki"


Baru saja mulut Bang Zaldi menjawabnya, Arnes sudah turun dari ranjang dan berlari memeluk suaminya.


"Arnes maafin Abang" ucapnya masih dengan isak tangisnya.


Bang Zaldi masih terpaku pada posisinya, kemudian senyum tampannya pun mengembang.


"Kowe tak sayang-sayang. Maaf........"


Arnes mengerutkan keningnya lalu menatap Bang Zaldi dari atas sampai bawah.


"Eehh.. Abang nggak sakit??" tanya Arnes baru menyadari kejadian ini.


"Aahh.. Aarrgghh.. Iya dek.. Sakit sekali, Abang sakit" ucapnya sedikit menunduk, memercing dan mulai bertingkah.


"Kalau Abang coba bohong.. Si dedek ngambek, lho..!!" Ancam Arnes.


"Eeeehh.. Jangan ngambek donk. Abang beneran sakit kok, cuma yaa.. banyak bohongnya" Jawab Bang Zaldi lirih sambil mengusap tengkuknya karena kamar itu penuh dengan anggotanya. Ia pun tak berani menatap langsung wajah sang istri.


"Mana hadiah buat Bu Danki.. Bawa kesini" pinta Bang Zaldi pada para anggotanya untuk menutup suasana horor ini.


Seperti biasa satu bucket bunga andalan datang untuk membujuk istri tercinta.


"Waaahh.. ini untuk Arnes Bang??" tanya Arnes dengan mata berbinar.


"Iyalah, masa mau buat Inka" jawab Bang Zaldi asal.


Lirikan tajam Arnes mengarah tajam pada Bang Zaldi. Seisi ruangan kembali panik di buatnya. Takut Bu Danki kesal lagi. Para anggota sudah tau ada tragedi tentang dokter Inka.


"Eeehh.. hitung dulu uangnya. Jangan-jangan terlepas satu" Bang Zaldi seketika mengalihkan perhatian Arnes. Arnes pun mulai menghitung uangnya kembali.


"Gara-gara Inka, nyaris saja" Bang Zaldi menepuk dahinya.


Arnes membuang bucket bunganya ke atas ranjang.


"Terus saja Abang menyebut nama Inka. Arnes nggak suka..."


Secepatnya Bang Zaldi memeluk untuk menenangkan istrinya. Ia sungguh takut kalau Arnes marah. Para anggota dan keluarga meninggalkan Danki dan Arnes. Bang Zaldi mengeluarkan uang lima ratus ribu rupiah.


"Sudah jangan marah lagi, ini Abang tambahi uangnya" ucapnya sambil menggenggamkan uang itu di tangan Arnes.


"Memangnya segampang itu Arnes di luluhkan dengan uang???" nada suara Arnes semakin meninggi.


"Sepurane to ma.. Tenan papa kapok..!!" bisiknya. Sebelah tangan Bang Zaldi kelabakan membuka seluruh isi dompetnya.


"Ini bawa semua, Abang nggak akan macam-macam. Mana sempat Abang mikir mendua. Mikir kamu aja bisa buat badan Abang terbelah dua"


"Ya sudah.. kalau gitu nanti kita bicarakan lagi" tangan Arnes menyambar dompet Bang Zaldi.


Nafas lega terbuang dari hidung Bang Zaldi.


"Oohh Tuhan.. ada satu lagi makhluk di rumah macam ini, remuk sudah semuanya" gumam Bang Zaldi liriiihh sekali.


"Abang nggak ikhlas"


"Yo ikhlas to. Ora ikhlas yo morat marit deekk..!!!"


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2