
Kebijakan dalam membaca.
🌹🌹🌹
Brian menemani Rinto hingga sahabatnya itu sadar.
"Kamu kenapa sih Rin??"
"Nggak apa-apa" jawab Rinto datar.
"Pulanglah.. Anye sendirian..!!"
"Ada Ariani di rumah" kata Brian.
"Ada Riani saja kau masih bisa macam-macam apalagi tidak ada Riani" tegur Rinto.
"Apa maksudmu??" tanya Brian tidak paham dengan perkataan Rinto.
"Kau pikir saja sendiri...!!!!"
#
Anye menata makanan yang baru ia masak di atas meja makan Bang Rinto. Setelah selesai ia menjenguk Bang Rinto di dalam kamar.
"Abang mau makan sekarang?" tanya Anye.
"Nanti saja dek. Abang belum lapar" jawab Bang Rinto masih merasa bersalah.
"Abang belum makan dari pulang tadi. Masa belum lapar??"
"Nanti Abang ambil sendiri. Abang benar masih belum lapar" kata Bang Rinto terlihat sekali sedang memaksakan senyumnya.
"Abang ijin satu hari?"
"Iya dek"
"Kalau belum sehat, Abang minta ijin lagi" Anye cemas sekali melihat keadaan Bang Rinto.
"Satu hari saja sudah lebih dari cukup" jawab Bang Rinto.
"Baiklah Bang. Anye keluar dulu ya? Righan rewel terus"
"Iya.. sana cepat urus anak-anak" kata Bang Rinto.
Selesai Anye pergi, wajah Bang Rinto kembali pias meratapi perbuatannya semalam.
"Maaf.. maaf sayang..!!" kata itu selalu terlontar dari bibir Bang Rinto. Setiap kali mengingatnya, hatinya terasa sangat sakit.
Aku harus temui Mawar, aku harus memastikan sendiri.. wanita macam apa dia. Meskipun kecil sekali kemungkinan Mawar bertemu Anye, tapi perasaanku tidak enak memikirkan kejadian semalam. Aku tetap harus berjaga-jaga demi keutuhan keluargaku nanti.
-_-_-_-_-
__ADS_1
Sore itu Bang Rinto sudah tiba di club malam tempat Mawar bekerja, tapi saat disana Bang Rinto belum bisa menemui Mawar karena wanita itu sedang melayani tamunya.
Bang Rinto duduk menghisap rokoknya. Sudah ada setengah bungkus rokok di hisapnya untuk menghalau rasa jenuh.
"Kamu disini?" tanya Mawar saat tau ternyata pria yang mencarinya adalah 'Toriq'.
"Iya, saya mau bicara"
Mawar tersenyum pada tamu yang sudah selesai dengannya dan langsung meninggalkannya.
"Ayo ke kamarku..!!" ajak Mawar pada Bang Rinto.
...
"Bicara apa?" tanya Mawar.
"Jika suatu saat kamu melihat saya jalan dengan keluarga saya. Saya mohon kamu merahasiakan pertemuan kita semalam" pinta Bang Rinto.
"Kalau kamu takut dengan istrimu, kenapa kamu berani kesini dan menemui wanita malam sepertiku?"
"Tidak ada yang aku takuti di dunia ini kecuali Tuhanku" jawab Bang Rinto
Seketika Mawar tertawa terbahak karena kelakuan pria di hadapannya berbanding terbalik dengan kejadian semalam.
"Tunjukan foto istrimu padaku..!!!" kata Mawar.
Bang Rinto langsung mengambil ponselnya dan menunjukan foto Anye pada Mawar.
"Waahh.. ternyata masih anak-anak dan kamu takut dengan anak bau kencur ini?" tanya Mawar.
"Dia istri saya. Umurnya memang jauh di bawah saya tapi saya sangat mencintainya. Apa perlu banyak alasan untuk mencintai seseorang?"
Mawar tersenyum getir.
"Seumur hidup, baru kali ini aku melihat pria sepertimu. Andai dunia ini di penuhi wanita sepertimu.. mungkin aku tidak akan pernah menjadi seorang pelacur"
"Jika kau ingin lepas dari lembah hitam, keluarlah..!!" kata Bang Rinto.
"Aku tidak bisa, aku bisa di pukuli mami. Belum lagi biaya keluar dari sini sangat mahal" Mawar kembali tersenyum getir.
"Maaf.. boleh tau berapa?" tanya Bang Rinto.
"Minimal lima puluh juta" jawab Mawar.
"Tapi tarif untuk ku sekitar enam puluh juta"
Bang Rinto tertegun, memang Mawar yang ia lihat sangat cantik. Tapi paras ayu Anyelir tidak lantas di kalahkan oleh kecantikan Mawar yang hanya polesan make up semata.
"Apa kau begitu hebat hingga tarifmu mahal?" tanya Bang Rinto yang sebenarnya hanya tidak habis pikir dengan pekerjaan wanita yang jauh dari kata terhormat itu.
"Apa kamu mau coba??" Mawar memberikan sinyal mesra pada Bang Rinto.
__ADS_1
Bang Rinto menepis tangan Mawar yang nakal memegang pahanya.
"Nggak..!!!" mulut memang bisa berucap, tapi dalam hati jelas Bang Rinto tergoda. Hampir dua tahun dalam kesendirian jelas terasa sangat berat untuknya. Ingin sekali melepas rasa rindu itu hingga tuntas, tapi ia masih mengingat Anye yang sedang mengandung 'anaknya' di rumah.
"Kurasa kamu begitu kesepian. Kalau kamu mau, aku akan menemanimu. Aku tidak akan memasang harga denganmu" bujuk Mawar. Ia kembali menggoda Bang Rinto.
Bang Rinto memejamkan mata beristighfar dalam hati. Sungguh saat ini godaan dalam hatinya begitu berat, tapi daripada memikirkan nafsu belaka.. ia lebih memilih menjaga dirinya untuk Anye.
Aku punya tiga anak laki-laki. Jika aku ceroboh, bagaimana aku bisa mendidik anak-anakku?
Bang Rinto membuka matanya, dengan tegas ia kuat berhadapan dengan Mawar yang terus menggodanya.
"Sepintar itukah kamu? Seliarnya kamu, istri saya yang jinak merpati jauh lebih membuat saya tergoda. Parasmu saja masih kalah jauh dengan istri saya. Dua hal yang membuat dia istimewa dan membuat saya sangat mencintainya. Saya yang pertama kali menyentuhnya dan dia sudah dua kali melahirkan anak saya dan sekarang dia sedang mengandung anak ketiga saya. Saya mampu jika hanya sekedar menyelesaikannya denganmu, dan jangan ragukan saya dalam hal itu. Tapi saya tidak sanggup menyakiti hati ibu dari anak-anak saya. Saya kesini saja sudah sangat menyakitkan, saya tidak ingin berbuat lebih jauh dari ini dengan mendekati wanita lain" jawab Bang Rinto.
Mawar mundur menjauhi Bang Rinto. Hatinya terketuk saat tau masih ada pria seperti Bang Rinto.
"Saya tidak akan menghakimi kamu karena kamu memilih pekerjaan ini. Saya hanya menyayangkan wanita cantik sepertimu tidak memilih pekerjaan lain walaupun mungkin gajinya tidak sesuai dengan tenagamu"
"Saya tidak punya pilihan lain. Ibu saya sakit, bapak saya banyak hutang. Saya lari ke luar Jawa agar bisa membayar hutang dan menyembuhkan ibu" kata Mawar berkata jujur.
"Kalau saya menolongmu untuk bisa keluar dari sini apa kamu mau?" tanya Bang Rinto.
"Tapi pak.. biaya keluar dari sini sangat mahal" Mawar cemas sekali mendengar tawaran Bang Rinto. Mawar menyapa Bang Rinto dengan lebih sopan.
"Kamu tenang saja. Saya akan mengurusnya.. bahkan mungkin tanpa biaya. Uang sebanyak itu jatah istri saya, bukan jatahmu. Tapi ingat.. kamu harus menurut apa kata saya" ucap Bang Rinto tegas.
"Baiklah pak. Asal saya bisa keluar dari sini. Apapun akan saya lakukan.. atau mungkin jika bapak ingin saya menjadi simpanan bapak, saya bersedia" jawab Mawar.
"Saya sudah bilang.. saya nggak mau kamu. Saya sangat mencintai istri saya" nada keras Bang Rinto terdengar seperti peringatan yang sama sekali tidak boleh di langgar oleh Mawar.
"Maaf pak"
"Saya mau keluar temui mami. Kamu tunggu disini dan jangan layani pelanggan lagi"
"Iya pak" jawab Mawar.
Bang Rinto melangkah keluar menemui mami pemilik kupu malam di club malam itu.
...
"Berani sekali kau. Siapkan enam puluh juta kalau ingin mengambilnya" kata mami mucikari.
"Saya hanya minta satu kupu-kupu milikmu. Apa kamu mau rahasia perusahaanmu ini terbongkar??" Bang Rinto mulai mengancam.
"Apa yang kamu tau?????" mami mucikari mulai bernada sinis.
.
.
.
__ADS_1