
"Ada apa?" tanya Gathan pada sambungan teleponnya.
"Ijin.. Wanita bernama Sheila itu sepertinya terus berada di sekitar ruangan Danki" jawab Alex.
"Setan.. berani betul dia. Sebenarnya mau apa dia disini..!" ucap kesal Gathan.
"Kirim dua orang untuk berjaga di sekitar kamar Danki. Perketat penjagaan di kamar ini..!!!"
...
"Mau apa kamu kesini cari Bang Rinto lagi??" tanya Gathan.
"Tidak ada urusannya denganmu" jawab Sheila.
"Tentu ini menjadi urusanku karena Anyelir adalah adik kandung saya Dan"
"Oowh.. ternyata gadis kecil itu adikmu?? Mas Rinto itu hanya mencintaiku saja. Pasti Mas Rinto menikahi Anye hanya karena kasihan. Bukan karena cinta" ucap Sheila mencibir Gathan kemudian berlalu pergi, matanya mencari dimana kamar Anye berada.
"Sekali lagi kamu ganggu adik saya, penjara menunggumu..!!" Ancam Gathan sambil menunjukkan kamera cctv di atas sudut lorong menuju kamar Anye.
Sheila yang merasa lumayan takut segera pergi dari ruangan itu.
"Kalian lebih awasi lagi kamar ini...!!" perintah Bang Gathan.
"Besok siang perketat lagi. Ibu Danki pulang"
"Siiapp..!!!!"
Baru saja Gathan memberikan perintah, ia melihat sosok seseorang yang ia kenal berada di sekitar ruang rawat Anye.
***
"Gimana hari ini dek??" tanya Bang Gathan saat Anye sudah bangun pagi.
"Sudah enakan Bang..!!"
"Bang, Anye mimpi di sayang Bang Rinto" jawab Anye mulai mengadu.
"Lagian kenapa sih minta pisah. Bang Rinto sudah menjelaskan masalahnya. Abang tidak membela suamimu tapi juga tidak bisa menyalahkannya begitu saja" ingin rasanya Gathan menyampaikan pada Anye bagaimana sayangnya Bang Rinto pada istrinya itu meskipun dengan cara yang salah. Apalagi Bang Rinto harus selalu bersitegang dengan dokter karena kabur dan melepas jarum infusnya demi menemui Anye.
-_-_-_-
Bang Rinto melihat dari balik kamarnya Anye pulang di jemput Ezhar. Tak lama setelah itu. Ada ayah Rama datang bersama Om Candra. Sungguh hatinya sedih dan kembali sakit menyadari ia tidak bisa menggandeng tangan istrinya.
"Sudah Bang. Jangan di ambil hati. Bang Candra sayang pada Anye hanya sebagai anak saja" kata Gathan mendinginkan suasana hati Bang Rinto.
Ya Allah.. kenapa batinku sama sekali tidak percaya dengan Bang Candra. Di saat aku tidak berdaya.. Bang Candra selalu hadir di tengah kami untuk menghibur Anye.
"Bang..!! Abang nggak apa-apa? Ayo istirahat dulu. Abang harus cepat sehat..!!" ajak Gathan.
"Iya.. Abang harus cepat sehat..."
"Gathan.. Apa Abang bisa minta tolong..!!"
"Mau kamu bantu saya pantau Anye di rumah Ezhar? Perasaan saya nggak enak" pinta Bang Rinto.
__ADS_1
Gathan merasa janggal dengan permintaan Bang Rinto. Ia cemas kalau Bang Rinto akan di butakan rasa cemburu lagi. Tapi perasaan sebagai seorang suami memang terkadang tidak ringan untuk di remehkan.
"Baik Bang. Saya akan awasi Anye terus"
***
Sore hari saat Gathan baru mengantar Sekar pulang ke rumah mamanya. Gathan melihat Pak Candra membawa seikat bunga yang cantik menuju rumah Ezhar juga membawa beraneka macam makanan disana.
"Mau apa Pak Candra ke rumah Bang Ezhar?" Gathan bergumam sendiri.
...
"Makan yang banyak biar bayimu sehat" kata Pak Candra.
"Terima kasih Om. Om nggak perlu repot seperti ini" Anye merasa tidak enak sekaligus tidak nyaman dengan perhatian Om Candra padanya.
"Om senang kalau kamu senang. Om juga sayang sama bayimu" ucap Om Candra.
"Suamimu nggak menjemputmu?" tanya Om Candra.
"Anye masih takut dengan sikap Bang Rinto" jawab jujur Anye.
"Nggak semua pria keras seperti suamimu. Om Candra nggak akan kasar sama kamu" Om Candra duduk mendekat pada Anye dan mengusap punggung Anye. Tatapan matanya pada Anye sarat akan kasih sayang yang penuh tanda tanya.
Gathan sampai melotot melihat mendengar ucapan Pak Candra.
"Mati gue.. harus bilang apa nih sama Abang. Kalau bilang jujur.. Bang Rinto pasti ngamuk lagi. Kalau nggak bilang.. kenapa lama-lama perasaanku ikut nggak enak??" gumam Gathan.
***
Melihat Gathan tak bisa menjawab, Bang Rinto peka sekali ada hal yang tidak beres.
"B******n.. Benar khan ada sesuatu yang janggal dengan Bang Candra?"
"Iya Bang.."
"Apa yang dia lakukan sama Anye???" tanya Bang Rinto.
Gathan menyerahkan ponselnya, ia sempat merekam kejadian di rumah Bang Ezhar tadi.
"Apa-apaan dia ini. Beraninya dekati Anye" Bang Rinto berusaha sekuatnya bangkit dari tidurnya.
"Sabar Bang.. Ingat kesehatan Abang..!!" kata Gathan mengingatkan.
"Abang nggak mau Anye terpengaruh dengan mulut manis Bang Candra. Keadaan Anye sangat labil saat ini. Dia butuh sandaran, tapi Anye bersandar pada orang yang salah. Dia tidak akan peka dengan hal ini" ucap Bang Rinto.
"Aarrgghh.." Bang Rinto kesakitan memegangi dadanya.
"Sabar Bang. Biar saya yang handle "
Bang Rinto frustasi dengan kondisinya sendiri, ia kesal sampai menghantam ranjangnya. Tubuhnya tidak ingin bekerja sama dengan inginnya.
"Jangan di paksa Bang..!!" Gathan mencegah Abangnya untuk meneruskan kenekatannya.
Bang Rinto sementara menurut pada Gathan kalau tidak pasti kakak iparnya itu akan memanggil dokter dan perawat jaga untuk menanganinya.
__ADS_1
Setelah beberapa saat Bang Rinto tenang dan tidur apalagi tidak berulah, Gathan meninggalkannya untuk mencari makan malam.
Bang Rinto membuka matanya, ia dengan cepat mengambil pakaian di lemari lalu mengganti pakaiannya. Bang Rinto menoleh ke dalam lemari lalu mengambil pistolnya.
***
Bang Rinto melompati pagar Batalyon yang tinggi. Ia tidak peduli dengan dirinya lagi dan segera berjalan cepat menuju rumah Ezhar.
...
"Ijin Dan.. tidak tau..!!" jawab Thomas dan Alex.
"Kenapa bisa sampai kecolongan????" tanya Gathan dengan gemas. Gathan mengurut keningnya memikirkan kemana kiranya Danki akan pergi.
-_-_-_-
Disana Bang Rinto mengintip Ezhar sedang berbincang dengan Bang Candra. Hingga lewat jam 11 malam senior jauhnya itu masih berada di rumah Ezhar.
"Sudah malam. Saya pamit dulu" ucapnya pada Ezhar.
"Oohh.. iya Pak..!!"
"Boleh saya temui Anye di kamarnya?" tanya Pak Candra.
Ezhar masih terdiam belum menjawab pertanyaan Pak Candra. Ia pun dilema bagaimana cara yang baik untuk menjawab Pak Candra.
"Perasaan saya tidak lebih" ucap Pak Candra seolah tau isi hati Ezhar.
Ezhar pun merasa tidak enak hati.
"Baiklah pak, Silakan..!!"
...
Bang Rinto melihat Om Candra masuk di kamar Anye tanpa Ezhar karena Ezhar sedang menerima telepon dari Annisa kekasihnya.
Om Candra menutup pintu kamar Anye membuat Bang Rinto semakin geram saja.
"Saya tidak tau kenapa wajahmu itu begitu mirip dengan mendiang istri saya. Jujur itu terkadang membuat Om merasa rindu" Candra mengusap air matanya. Setidaknya iulah yang Bang Rinto dengar dan lihat dengan mata kepalanya sendiri saat ia mengintip di balik jendela.
"Saya minta maaf, kalau ada banyak yang tidak nyaman. Tapi isi hati tidak bisa di bohongi. Biar dosa ini Om tanggung sendiri" gumamnya.
Om Candra mencium pipi Anye tapi bibir Om Candra menyentuh bibir Anye dan itu membuat Bang Rinto sangat murka. Ia mengambil pistol dan mengokangnya lalu bersiap membidik sasaran.
buughh....
Seseorang menghantam sisi leher Bang Rinto hingga pingsan dan lemas tanpa perlawanan apalagi mengingat kondisi Bang Rinto yang jauh dari kata sehat sudah cukup untuk melumpuhkan Danki A yang terkenal sulit ditaklukkan itu.
"Ada kalanya tubuhmu tidak mampu juga. Maaf.. Ini demi kebaikan"
Bang Rinto di seret dan di gotong untuk diamankan di suatu tempat.
.
.
__ADS_1
.