
Arnes mengerjapkan mata. Tangisnya sudah akan pecah kembali saat melihat Bang Zaldi menggenggam tangannya.
"Akhirnya sadar juga kamu dek. Abang cemas sekali sama kamu" kata Bang Zaldi.
Sesenggukan Arnes mulai terdengar lagi. Tangisnya terdengar begitu sedih.
"Ryan nggak salah Bang. Kenapa Abang tega..????"
"Uusshh.. sudah nangisnya. Tarik nafas..!!!! Ayo istighfar dulu. Nyebut dek..!! Di ingat lagi..!! pelan-pelan. Bagaimana cara kita mendapatkan Ryan.. hmm??" ucapnya pelan sambil mengusap perut buncit sang istri. Rasanya hati Bang Zaldi tak tega harus kembali mengingatkan kisah lama yang pernah terjadi di antara mereka, tapi semua ini harus ia lakukan karena kondisi Arnes saat ini sangat tidak stabil, butuh dukungan lebih dari pihak keluarga terutama dirinya.
Arnes menarik nafas panjang lalu membuangnya seperti saran Bang Zaldi.
"Astagfirullah hal adzim.. Abaaang..!! Ada darah, sedih, Bang Guntur, Abang membunuhnya, Abang masuk penjara, aku kehilangan anakku, tangis itu, Ibraa, istri Bang Guntur kecelakaan, anak itu lahir.. Ryaaan..!!!!!!" sekelebat rasa takut bercampur mengelilingi pikirannya.
"Abaaaanngg.. Arnes takuut.." dada Arnes langsung berdebar kencang terasa sesak.
"Abang disini sayang. Lihat Abang..!!" Bang Zaldi mengarahkan Arnes agar menatap matanya.
"Kamu sudah ingat? Siapa Ryan sebenarnya?"
"Abaang.. kenapa hati Arnes sakit sekali. Ryan anaknya Arnes khan Bang? Arnes sudah ikhlas menyayanginya. Kenapa dia tidak lahir dari rahimku Bang?????" Arnes kembali terguncang mengingat kembali siapa Ryan yang begitu ia sayangi itu.
"Seorang anak tetaplah anak, jika kamu sangat menyayanginya.. mau dia terlahir dari rahim mu atau tidak, dia akan tetap menjadi putramu, putra kebanggaanmu, kesayanganmu, kesayangan mama Arnes" kata Bang Zaldi kemudian memeluknya.
"Arnes mencintainya Bang. Putra kecilku"
"Jangan pikir Abang macam-macam di belakangmu ya sayang..!! Abang nggak akan melakukannya. Cinta Abang hanya utuh untuk kamu dan anak-anak kita.. Ibra, Ryan sama si poni.
...
Bang Zaldi menggendong Ryan dan mengusap punggung pria kecil itu sambil bersholawat sampai putranya tidak lagi merintih kesakitan.
"Ayo Bang..!! Abang harus kuat. Putra Kapten Erzaldi nggak boleh lemah..!!" ucapnya pada baby Ryan.
"Papaa.." baby Ryan terdengar masih merintih memanggil papanya dan sesekali berusaha mencium pipi papanya.
"Papa disini sama Bang Ryan. Bobok ya nak..!!" dengan sabar Bang Zaldi menidurkan putranya. Duduk tak jauh darinya ada Arnes yang masih syok dan menangisi kenyataan pahit tentang putranya.
"Sini Papa gantikan Zal" Papa Rinto akan mengambil alih Ryna tapi Bang Zaldi menolaknya.
"Biar sama saya pa. Biar Ryan merasakan kalau papanya juga menyayanginya" tolak Bang Zaldi secara halus tapi semua yang mendengar tak bisa di bohongi. Ada rasa sakit yang di tahan kuat oleh Zaldi.
Dalam hati para keluarga menjadi trenyuh dan terbuka. Bermain api bersama wanita lain sangatlah berbahaya. Seperti apa yang terjadi pada Ryan. Orang tuanya yang bermain api tapi Ryan yang harus menanggungnya. Pantas keluarganya tidak ingin menanggung aib lebih jauh lagi.
"Papa akan menyembuhkanmu dan mendidikmu sekuat tenaga Papa meskipun papa bukan pria yang baik tapi untuk kamu dan semua saudaramu.. pasti akan papa berikan yang terbaik" Bang Zaldi menciumi wajah sang Putra.
"Maafkan Papa nak, mungkin apapun yang papa lakukan untukmu tak akan bisa menghapus dosa papa. Tapi percayalah.. cinta papa tidak kalah besar untukmu"
__ADS_1
Opa Rama, Papa Rinto, Bang Seno dan Bang Bayu memeluk Bang Zaldi menguatkan pria yang akan menjadi bapak lagi itu.
"Kami dukung kamu dan akan selalu berada di pihak mu" kata Papa Rinto.
***
Mata Bang Zaldi berkunang-kunang. Entah berapa lama ia melupakan dirinya sendiri. Hari menjelang subuh di hari yang telah berganti. Badannya terasa bergetar, sakit luar biasa. Tangannya meraba saku, tak ada lagi penawar disana. Di pandangnya wajah Arnes yang tidur sembari memposisikan kaki di pahanya.
Aku harus kuat..!!! Nggak boleh begini terus. Kasihan anak istriku.
Opa Rama msuk ke dalam ruangan dan melihat keadaan Bang Zaldi yang tidak seperti biasanya, yang sekuat tenaga menahan rasa sakit tak terkira. Opa Rama mengambil ponsel di sakunya.
...
"Sadaar Zal..!!!" Papa Rinto menepuk pipi Bang Zaldi.
Bang Zaldi kembali mual dan mengerang kesakitan.
"Bunuh saya saja pa..!!!!! Saya nggak kuat sakitnyaaaa" teriak Bang Zaldi.
Opa begitu prihatin melihat keadaan cucu menantunya dimana Zaldi harus menahan sakit karena obat dan juga sakit karena 'bawaan bayi'.
"Siram saja sampai kepalanya dingin..!!!" perintah Opa Rama.
Bang Bima dan Bang Seno menyiram berember-ember air dingin di kepala Bang Zaldi.
"Apa perasaanmu le?" Opa Rama mengusap wajah Bang Zaldi yang basah.
"Satu-satunya wanita sangat aku cintai hanya Arnesia. Aku sangat mencintainya. Jika aku bisa mengulang kembali hidupku, tidak pernah aku ingin melihat tangis sedih istriku, tidak ingin semua ini terjadi" ucapnya kemudian tidak ingat apapun lagi.
Keempat pria di sana membantu Bang Zaldi mengeringkan badannya lalu mengganti pakaiannya. Ada banyak bercak tanda peperangan di dada Bang Zaldi. Tak ada yang berkomentar macam-macam karena itu hal privasi dalam rumah tangga Kapten Erzaldi, hanya saja mereka jadi tidak sengaja membayangkan bagaimana 'nakalnya' bumil ataupun Bang Zaldi karena mereka pun tak sengaja melihat hal yang sama pada Arnes.
"Cepat ganti pakaiannya..!! Kalau Zaldi sudah baikan baru kita kembali ke rumah sakit..!! Nggak usah mikir macam-macam. Kita semua pernah merasakannya..!!!" pinta Papa Rinto.
"Iya Pa" jawab Bang Bima tapi pikirannya langsung tertuju pada Puri yang sedang menunggunya di rumah.
-_-_-_-_-
Si kecil Ryan menangis. Ia tak mau lepas dari gendongan Arnes walaupun hanya sebentar. Oma Dinda dan Mama Anye pun sampai kewalahan tak bisa menggantikannya. Saat ini yang di cemaskan para Oma adalah kandungan Arnes yang semakin membesar tapi harus menggendong Ryan kesana kemari sambil menunggu para bapak-bapak terutama Bang Zaldi untuk datang menggantikan Arnes.
"Assalamualaikum.." sapa Bang Zaldi dan yang lain. Bang Zaldi membawakan makanan untuk Mama Anye dan Oma Dinda juga beberapa orang anggota yang berjaga di luar ruangan.
"Wa'alaikumsalam" jawab Arnes.
Tanpa banyak kata Bang Zaldi langsung mengambil Ryan dan menggendongnya.
"Duduk dan istirahat dulu sebentar, setelah itu cepat makan"
__ADS_1
"Abang darimana?" tanya Arnes.
"Biasa dek. Di kompi banyak pekerjaan. Maaf ya Abang tinggal. Capek sekali ya?" Bang Zaldi kesulitan menggendong Ryan menggunakan kain sampai Mama Anye membantunya.
Pakaian loreng lengkap itu memang tidak sempat di ganti karena Pak DanSat sudah begitu mencemaskan anak dan istrinya.
"Uusshh.. sayangnya papa. Anak jantan nggak boleh cengeng ya nak..!! Jagoan papa hebat" tangis Ryan langsung terhenti seolah mengerti ucapan papanya.
"Ayoo cepat sembuh..!! Kasihan Mama nak..!!!" bujuk Bang Zaldi.
//
Baru saja Bang Zaldi menidurkan Ryan di ranjang. Ia melihat Arnes yang duduk dengan gelisah. Posisi apapun seakan tidak benar bagi bumilnya.
"Kenapa dek??" tanya Bang Zaldi.
"Perutnya pengen di elus Abang" jawabnya dengan nada khas milik Arnes.
Bang Zaldi segera duduk dan mengelus perut Arnes.
"Bang.. pengen jus nanas..!!"
"Weehh.. nggak boleh dek. Meskipun si dedek sudah besar tapi ya harus hati-hati" kata Bang Zaldi cemas.
"Abang ganti jus alpukat saja ya, lebih sehat"
"Abang nih.. kalau Arnes minta ini itu nggak di turuti"
"Kapan Abang nggak turuti maumu?" protes Bang Zaldi.
"Ini nggak boleh, itu nggak boleh" jawab Arnes.
"Ya kalau ngidamnya wajar pasti Abang turuti. Apa Abang ini sinting biarkan kamu makan aneh-aneh begitu. Di sayang kok angel tenan"
"Tuh khan, belum juga di turuti Abang sudah marah-marah" wajah Arnes memerah hitam tanda mendung mulai menerjang.
"Astagfirullah hal adzim.. Lailaha Illallah.. gustii sabar-sabarno iku ati mung siji" gumam Bang Zaldi.
"Wes.. sekarang maunya apa? Abang turuti, tapi kalau sampai Neng Popon ada apa-apa.. siap-siap saja kamu Abang jungkir balik" ancam Bang Zaldi tak main-main.
.
.
.
.
__ADS_1