Di Ujung Peluru 2 & 3 (Hati Sang Prajurit)

Di Ujung Peluru 2 & 3 (Hati Sang Prajurit)
DUP 3. 27. Menanti rasa.


__ADS_3

Perut Bang Zaldi sedang di kompres dengan air hangat. Seorang anggota menyuapinya makan karena Komandan muda itu sudah benar-benar lemas.


Bagaimana keadaanmu dek. Apa kamu baik-baik saja? Makan apa kamu disana? Bisa tidur apa tidak??


Pikiran Bang Zaldi terus menerus memikirkan Arnes sampai tidur tak nyenyak, makan pun tak terasa enak. Badan yang letih terus ia pergunakan bekerja agar pikirannya teralihkan, di tambah lupa makan hingga akhirnya drop seperti sekarang ini.


"Tolong suruh wanita itu pulang. Sampaikan terima kasih saya. Selanjutnya kalau kalian sudah paham cara buat obatnya, saya minta kalian saja yang buat" pinta Dan Zaldi.


"Siap Dan"


Tak lama sinyal mulai timbul melalui radar.. Sayangnya baterai ponsel Bang Zaldi habis. Ia terus mengotak atik ponsel sampai lupa mengisi daya baterai.


***


"Masukan lagi cabainya mbak..!!" Arnes dan Brina memasak bubur Manado tak lupa sambalnya.


"Jangan pedas buatnya. Perutmu nggak bisa pedas" kata Bang Seno yang baru saja sholat ashar.


"Kalau nggak pedas nggak enak Bang" jawab Arnes.


"Mulutmu kuat, perutmu nggak biasa" kata Bang Seno sambil melihat info group. Baru membaca beberapa, Ada Righan meneruskan info dari group nya di jalur pribadi Bang Seno.


"Ya sudah jangan banyak-banyak ya Nes. Nanti Abangmu marah" kata Mbak Brina.


Bang Seno membaca kabar kalau Dan Zaldi sedang sakit karena terlalu lelah dan sekarang sedang mendapatkan perawatan di camp satgas.


"Ada apa Bang?" tanya Arnes saat melihat wajah Bang Seno tegang.


"Bang Zaldi sakit Nes. Sekarang sedang mendapatkan perawatan" jawab Bang Seno.


Arnes mulai cemas mendengarnya. Ia takut ada penyakit berbahaya di daerah itu.


"Sepertinya Abang terlalu mencemaskan kamu. Ini ada info dari Righan. Righan mendapatkan info ini dari anggotanya"


"Bang.. Arnes bisa kesana nggak??" pinta Arnes.


"Satgas itu nggak ada yang bawa istri Nes. Disana laki-laki semua. Mau apa kamu disana. Para anggota sedang kerja. Bukan mau holiday" jawab Bang Seno.


"Sabar lah, delapan atau sembilan hari lagi Abang sudah pulang"


Arnes menangis tapi tidak ada yang bisa ia lakukan. Ia cemas hanya bisa menunggu kabar dari Bang Zaldi.


"Kamu disini tertawa, makan tapi yang disana cemas setengah mati sampai sakit Nes"


***


Pagi hari setelahnya Bang Zaldi sudah bisa menghubungi Arnes, rasa lelah dan sakitnya sudah mulai berkurang.


"Gimana kabarmu disana? Lima hari nggak ada kabar. Disini mati sinyal dek" kata Bang Zaldi.


"Baik Bang. Abang gimana disana" tanya Arnes.


"Alhamdulillah sehat donk. Jauh sama istri bisa cuci mata" jawabnya dengan sengaja.


Arnes sedih sekali karena Bang Zaldi tidak pernah sekalipun menyinggung kalau dirinya sedang sakit.

__ADS_1


"Apa cantiknya melebihi Arnes??" tanya Arnes.


"Yang bilang kamu cantik itu siapa?" jawab Bang Zaldi.


"Nggak cantik begini juga pilihan Abang" Arnes pun tak mau kalah.


Kali ini Bang Zaldi tidak mau melakukan panggilan video call dengan Arnes. Ia tidak mau Arnes tau bahwa dirinya belum sehat sepenuhnya.


***


"Ijin Dan.. ada seorang wanita yang mau bertemu dengan Komandan" laporan seorang anak buah Bang Zaldi.


"Haduuhh.. suruh pulang saja. Apa kebaikan harus berlebihan seperti ini??" jawab Bang Zaldi.


"Wanita mana yang suka datang kesini???" tegur Arnes saat masuk sebuah ruangan kecil mirip kamar milik Dan Zaldi. Ruangan seadanya lebih mirip tenda darurat tapi khusus untuk Komandan.


"Dek..!! Kamu kenapa bisa disini??" Bang Zaldi bangun dan sekilas masih memercing.


"Arnes mau tau bagaimana kerja Abang disini" kata Arnes dengan cemberut.


"Jangan disitu. Cewek Abang mau lahiran. Galak dia" kata Bang Zaldi. Arnes masih terpaku tidak paham dengan maksud Bang Zaldi.


"Awas, itu di sebelahmu ular cobra nya Abang mau beranak" kata Bang Righan yang ternyata biang keladi sampai Arnes bisa ada di tempat tugas Bang Zaldi.


"Aaaaaaarrrhhhhhhh...!!!" suara Arnes membuat tawa para anggota pecah seketika.


"Righan.. jauhkan cewekku dari Wanitaku" kata Bang Zaldi memberi perintah.


...


Dadakan para anggota membuatkan dipan untuk Arnes dari bahan seadanya karena Bang Zaldi tidak mengijinkan Arnes tidur di Velbed. Ia tau istrinya itu tidak terbiasa.


"Arnes antar obat Abang" jawab Arnes terdengar lugu.


"Obat apa?? Mana Abang lihat" jawabnya dingin karena pikirannya masih terfokus pada rasa jengkelnya.


"Nanti lah Bang. Banyak orang"


Melihat gelagat Arnes, pikiran Bang Zaldi langsung menangkap sinyal kuat. Ia pun tersipu malu menggaruk kepalanya.


"Cepat selesaikan dipannya" kata Bang Zaldi meminta anak buahnya bergerak cepat.


"Berhubung sebentar lagi kita purna tugas, nanti kalian beli makanan dan silakan santai di barak enam" perintah Bang Zaldi mengarahkan anggotanya sedikit lebih jauh dari lokasinya.


"Siap...!!" jawab para anggota yang paham maksud Komandan tanpa bantahan. Hanya Bang Righan tersenyum penuh arti.


...


Bang Zaldi mengendap mengambil telur ayam kampung saat si empunya sedang di usir Bang Zaldi tadi. Ia pun lanjut berjalan dan bersiul menuju dapur umum.


"Mana tau istri mau antar obat, terlanjur pil sakti di tinggal di rumah. Ambil saja apa yang ada, buat bahan tukar obat" gumamnya sambil mencari sesuatu di dapur.


//


Bang Zaldi mengusap dadanya yang terasa memanas. Dirinya gugup luar biasa. Angin berhembus dingin. Sunyi, sepi, hanya samar suara petikan gitar dari para anggotanya.

__ADS_1


Setelah menarik nafas membuang rasa gugupnya, Bang Zaldi masuk ke dalam kamarnya.


"Abang darimana? Lama sekali" tanya Arnes yang sedang menyisir rambutnya. Gerai rambut indah itu membuat Bang Zaldi terpesona. Wangi tubuh Arnes membuat pikirannya melayang terbang, menerbangkan angan.


"Dari dapur" jawab Bang Zaldi sambil menutup rapat kamarnya dengan penjepit kawat.


Saat ini Arnes pun bingung menata perasaan, entah kenapa hari ini Bang Zaldi terlihat begitu lebih tampan, gagah, dan berwibawa. Ada rasa yang berdesir dalam dada tapi ia tidak tau rasa apa.


"Disayang Abang mau ya..??" tanya Bang Zaldi saat sudah berhadapan dengan Arnes.


Tubuh Arnes gemetar ketakutan. Bang Zaldi memegang kedua bahu Arnes kemudian menariknya perlahan lalu di kecupnya kening itu dengan penuh kasih.


"Abang suamimu, jangan takut..!!"


Arnes menunduk, air matanya sudah bercucuran.


"Tidak seharusnya Abang mengajakmu tidur di tempat seperti ini, tapi mau bagaimana lagi dek, kamu sendiri yang datang membawa obatnya saat Abang sudah di titik akhir pertahanan. Abang nggak punya persiapan untuk menghadang dia yang ingin bermain di perut ibunya. Jangan marah ya?"


Perlahan tapi pasti Bang Zaldi memaggut bibir istri tercintanya. Hangat, penuh rasa membawa mereka hingga ke dipan dadakan. Bang Zaldi sedikit mengangkat rumbai panjang dreess Arnes. Ia pun segera melonggarkan anak buah agar bisa bernafas menuntaskan rasa penasaran diiringi dengan sesappan hangat yang Bang Zaldi berikan. Ada rintihan kecil yang membuat Bang Zaldi semakin tidak tahan.


Arnes menutup wajahnya, air matanya belum berhenti menetes.


"Abaaaaaang.." rintihnya saat Bang Zaldi memulai.


"Uusshh.. iya.. maaf ya, Abang hati-hati" bujuk Bang Zaldi, Jantung Bang Zaldi penasaran.. ia memang belum pernah melakukannya tapi ada sensasi yang ia rasakan.


Nafas Bang Zaldi memburu, pikiran melayang terbang.. tiba-tiba.....


kreeeeekkk.. braaaaakkkkk...


"B******n.. Haaaaarrrgggghhhh!!" Bang Zaldi mengumpat kencang saking sudah terlalu frustasi jengkel. Ia terpaksa menarik diri dan melindungi Arnes hingga perut bang Zaldi terhantam penyangga dipan.


Beberapa anggota yang mendengarnya segera menyapa.


"Ijin Dan.. ada yang bisa di bantu??"


"Aseeemm.. siapa yang tadi yang lupa mengikat simpul di sambungan papan dipan??" tegur Bang Zaldi tak main-main karena dipan itu ambruk.


"Siap salah..!!"


"Sabar Bang.. sudah.. nggak baik mengumpat begitu" kata Arnes membujuk, menenangkan Bang Zaldi.


"Abang kurang sabar apa sih dek..!!" jawab Bang Zaldi sambil menata nafasnya.


"Huustt.. jangan marah terus. Om Zaldi galak sekali" Arnes langsung membungkam bibir Bang Zaldi meskipun ia pun belum pandai. Bang Zaldi sampai merem melek di buatnya.


Setelah amarah nya sedikit memudar.


"Kalian kembalilah ke barak enam. Saya baik-baik saja" ucap Bang Zaldi pada anggotanya.


"Om Zaldimu nggak galak cantiikk.. Kamu sudah berhasil menjinakkan king aligator" Bang Zaldi melanjutkan tugasnya mengenalkan diri dalam kesederhanaan, temaram, dingin namun penuh cinta kasih yang hangat di bawah serpihan ambruknya dipan yang berbahaya.


"Abang hanya penasaran. Nggak mungkin mengajakmu di tempat seperti ini.. tapi........."


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2