
"Righan.. bawa Arnes ke rumah sakit sekarang..!!" perintahnya dari dalam truk. Ia berteriak dan cemas sampai tidak bisa duduk dengan tenang.
"Iya Bang. Sabar.. ini masih berusaha di sadarkan petugas kesehatan lapangan" kata Bang Righan.
"Ya Allah dek, kenapa kamu tahan kalau kamu sesedih ini. Wajar saja kalau kamu kaget. Ini pengalaman pertamamu Abang tinggal dinas luar" gumam Bang Zaldi lirih. Tangannya mematikan panggilan telepon.
"Yang tenang pot. Istrimu pasti kuat. Mungkin hanya bawaan bayi saja istrimu jadi begini" kata Bang Irfan.
"Iya.. sejak hamil memang dia sering pusing. Makannya aku cemas sekali. Dia pasti paham lah resikonya menikahi magazen. Papanya saja abdi negara"
***
Setiap jam Bang Zaldi menghubungi Arnes bagaimanapun caranya. Ia sampai mengancam jika tidak boleh menghubungi sang istri maka ia akan kabur. Hal ini sudah sampai ke telinga panglima. Namun akhirnya kebijakan panglima, seluruh anggota dipersilahkan menghubungi keluarga dan mencatat nama siapa saja yang sedang dalam keadaan 'urgent' agar di teruskan pada kesatuan masing-masing untuk mendapatkan 'penjagaan' khusus selama kepala keluarga sedang bertugas.
"Dek.. dimana kamu??" tanya Bang Zaldi dalam panggilan video call.
"Arnes mau tidur Bang. Kenapa Abang telepon lagi??" Arnes balik bertanya. Ia yang baru saja akan menuju alam mimpi tapi harus terputus karena kecemasan sang suami.
"Di rumah ada siapa?? Ada Righan nggak??" Bang Zaldi takut terjadi sesuatu jika Arnes berada di rumah sendirian.
"Nanti Bang Righan kesini setelah apel malam" jawab Arnes sudah mengantuk.
"Gimana kondisimu disana?? Masih mual nggak??"
"Arnes baik-baik saja Bang. Abang nyanyi Gundhul pacul..!!" pinta Arnes.
:
Wakul nggimpang segone dadi sak latar.
Mata Arnes semakin sayu dan perlahan tertidur. Bang Zaldi tidak mematikan panggilan video call sampai Righan datang.
Tak lama Bang Righan datang membawakan sate ayam untuk adiknya itu.
"Laahh.. tidur. Katanya tadi mau sate" gumam Bang Righan. Bang Righan mengintip ponsel Arnes dan terlihat Bang Zaldi sedang membersihkan sepatu.
"Enak Bang jadi bujang lokal?" sapa Bang Righan setengah meledek.
"Enak dari mananya Rig?? Makan sendiri, tidur sendiri, kalau kangen cuma video call, nggak bisa peluk mamanya si kuncung" kata Bang Zaldi.
"Kalau si kuncung Bang??"
__ADS_1
"Yo jelaas.. kangen Mama kuncung ya pasti sampai kuncungnya juga" senyum Bang Zaldi menyimpan beribu kerinduan.
"Cepat bangunkan Mama kuncung. Suruh makan dulu. Jangan sampai mabuk lagi..!!"
***
"Dek.. maafin Abang.. Hari ini Abang nggak bisa pulang. Abang lolos ke Sudan. Ada waktu pulang tapi hanya dua hari. Jadi maaf juga Abang nggak bisa pulang" ucap Bang Zaldi penuh penyesalan.
Usut punya usut Bang Zaldi membuat hasil test nya sangat buruk karena tidak ingin lolos penugasan ke Sudan. Tapi secara logika dari team panitia.. tidak mungkin seorang Erzaldi yang merupakan lulusan terbaik bisa mendapatkan nilai begitu buruk. Lari dua belas putaran hanya bisa di lalui tiga putaran, sit up delapan, push up hanya sepuluh bahkan yang paling parah pull up hanya mendapat dua saja
Alasan sedang tidak fit semakin tidak mendukung alasan Lettu Erzaldi.
"Ya sudah Nggak apa-apa. Mau bagaimana lagi Bang. Itu sudah menjadi perintah dan tanggung jawab Abang yang harus Abang laksanakan sebaik mungkin" kata Arnes.
"Ada kabar baik dan buruknya"
"Apa Bang?"
"Kabar baiknya Abang masih bisa pulang menemuimu di antara waktu satu tahun disana, Nanti Abang Ambil waktu pulang menjelang HPL persalinanmu ya" Bang Zaldi menunduk tidak sanggup menatap wajah Arnes.
"Kabar buruknya..Abang tidak bisa menemani hari-harimu, tidak ada yang memijat punggungmu dan tidak ada yang menemani masa mengidammu. Abang takut terlewatkan saat kelahiran anak kita"
"Banyak mengalami hal seperti itu Bang. Abang doakan Arnes saja ya. Mudah-mudahan anak Abang ini sehat juga nggak rewel. Adek pasti tau ayahnya sedang berusaha keras membahagiakan dia" ucap Arnes membesarkan hati suaminya.
***
Hari ini Bang Seno menikah dengan Mbak Brina. Arnes pulang lebih cepat karena bertepatan dengan seratus hari meninggalnya sang ibu mertua. Dengan di temani Bang Righan. Arnes meminta ijin Danyon untuk menggelar doa bersama di Batalyon. Usia kandungan Arnes sudah tiga belas minggu dan perutnya sudah terlihat. Rasa lelahnya pun semakin terasa.
"Duduk Nes. Biar Abang yang atur meja untuk tamu dan nasi kotak sama snacknya. Ada Andika dan yang lainnya juga kok yang bantu Abang. Kamu tinggal arahkan saja" kata Bang Righan, tangan Abangnya itu mengusap perut Arnes dengan gemas.
Arnes pun duduk lalu mengambil ponselnya. Mata Arnes melotot.. Ada seratus dua puluh panggilan telepon dan delapan puluh panggilan video call dari Bang Zaldi yang tidak terjawab. Tak lama ada nama panggilan video call lagi dari Abang Jago. Arnes segera mengangkatnya.
"Assalamualaikum Bang"
"Wa'alaikumsalam.. Darimana kamu?????" nada keras dan jengkel Bang Zaldi mulai terdengar.
"Tadi khan ada akad nikah Bang Seno"
"Acara gedung hanya dua jam Arnes..!!! Kamu kemana???" bentak Bang Zaldi dengan wajah murkanya.
"Arnes di luar Bang. Jangan marah-marah. Arnes capek sekali" ucap jujur Arnes. Ia mulai mual. Rasa mual itu sesekali masih ada tapi sudah tidak separah awal kehamilan dulu. Dia pun juga sudah jarang pingsan dan hanya satu atau dua kali merasakan pusing dan berkunang-kunang jika merasa lelah seperti ini.
__ADS_1
"Baaanngg..!!" Bang Righan mencoba menetralkan suasana.
"Pulang kamu..!! Jam berapa ini masih kelayapan??" tegur Bang Zaldi mengabaikan teguran Bang Righan.
Bang Righan mendengar dan ingin menjawab ucapan Bang Zaldi yang terkesan menuduh. Tapi Arnes menarik tangannya dan mengalihkan perhatiannya.
"Abang.. tolong pijat punggung Arnes. Sakit sekali" ucapnya lirih pada Bang Righan tapi sempat terdengar oleh Bang Zaldi.
"Kamu kenapa dek???" Bang Zaldi mulai cemas.
"Ijin Bu Zaldi, apa acara doa bersamanya mau di mulai sekarang saja??" tanya Pratu Andika.
"Iya om. Tolong disampaikan saja pada ustadz nya ya. Maaf saya nggak bisa ikut, saya mual sekali, nggak kuat berlama-lama disana" kata Arnes.
"Heehh Andika.. ada apa disana??" Bang Zaldi bertanya pada Andika karena Arnes dan Righan tak kunjung menjawabnya.
Andika menoleh kesana kemari mencari sumber suara sampai akhirnya menyadari Ibu PasiIntel sedang melakukan panggilan video call.
"Ijin Dan.. Ibu sedang mengadakan acara seratus hari berpulangnya mendiang Ibu Rahmi" ucapnya kemudian mohon undur diri.
"Ya Allah.. Astagfirullah hal adzim." Bang Zaldi sampai tidak sanggup berkata-kata karena Arnes masih sempat membuat acara seperti ini untuk mendoakan almarhum ibunya. Hati Bang Zaldi trenyuh teriris perih mengapa tadi membentak Arnes dan tidak bertanya baik-baik.
"Abang.. Arnes pengen muntah" Arnes mencengkeram kuat lengan Bang Righan.
Perlahan Bang Righan memapah Arnes ke toilet yang berada di dekat lapangan. Dengan sabar Bang Righan memijat tengkuk Arnes, hal kecil yang tidak bisa Bang Zaldi berikan saat ini.
"Awas Rig.. sudah nggak kuat berdiri itu..!!!!" belum sempat Bang Zaldi menutup mulutnya.. Arnes sudah ambruk.
"Ya Allah Righan.. tidurkan dulu..!!" Bang Zaldi sampai berdiri dari duduknya, ia cemas bukan main tak bisa menemani Arnes disaat istrinya itu sangat butuh perhatiannya.
//
"Nah gitu.. pijat terus telapak tangannya Rig..!!!! Itu bantalnya terlalu miring" Bang Zaldi terus ribut membuat Bang Righan jengah.
"Gusti pangeran.. Abaang..!! Abang nggak capek daritadi ngomel terus???"
"Righaaaaaann.. kamu nggak paham gimana rasanya punya istri hamil. Jangan ikut ngomel kamu ya????" Bang Zaldi berteriak seperti orang kebakaran jenggot.
.
.
__ADS_1
.