
"Ya ampuuunn.. masa katanya orang kaya suguhannya begini saja" ucap Bu Iman dengan senyum sinisnya. Para rekan istri anggota dan sesama perwira tidak menanggapi ucapan istri Kapten Iman itu. Mereka sudah tau sifat dan watak Bu Iman yang nyinyir tujuh turunan.
"Ibu-ibu silakan kalau ada yang mau membawa boxnya. Ibu Erzaldi memang sengaja memesan makanan secara lebih karena akan di kirim ke panti asuhan juga" kata pengurus kegiatan yang dimintai tolong Arnes hari itu.
"Tuh khan, astaga. Pemborosan..!! Suami kerja malah istrinya buat pesta" cerocos Bu Iman. Seluruh yang mendengar itu sampai mengelus dada mendengar ocehan tidak penting dari istri Kapten Iman.
"Bu Iman mau bawa nasi kotak nggak?"
"Ya mau lah, mana punyaku..!! Dua kotak..!!" kata Bu Iman dengan tidak tau malunya.
"Ya ampuun.. kasihan sekali Bu Zaldi punya tetangga macam begitu" bisik seorang istri anggota yang lain.
***
Bang Righan menyuapi Arnes. Bukannya sedang sakit, tapi Arnes sedang ingin bermanja-manja. Maklum sang suami sedang jauh dari adik kesayangannya.
Bang Seno dan Mbak Brina akhirnya datang ke rumah adiknya itu usai acara beberapa hari kemudian karena kesibukan yang padat sebagai pengantin baru juga anggota baru di kepengurusan istri anggota.
"Deeeehh.. manjanya adik Abang" tegur Bang Seno.
"Biar saja. Arnes khan istri yang tersia-siakan." jawab Arnes.
"Huusstt.. Kamu ini. Kalau ngomong suka asal. Kalau Bang Zaldi dengar kasihan Nes..!! Kesannya Bang Zaldi seperti nggak memperhatikan kamu" tegur Bang Seno.
"Sudah ini makan. Abang belikan kamu nasi goreng kambing kesukaanmu" kata Bang Seno.
"Iyaaa.. maaf"
"Terima kasih Abangku yang ganteng, mbak ku yang cantik" kata Arnes.
Mbak Brina membelai rambut Arnes, senyumnya begitu tulus menyapa adik iparnya itu.
***
Pagi hari di saat weekend, Arnes berjalan-jalan dengan Bang Righan. Hanya Bang Righan saja yang bisa menemani kesendirian Arnes pasalnya Mbak Brina sedang mabuk berat awal kehamilan. Istri Bang Seno yang kalem itu mendadak sangat pemarah sejak awal kehamilannya.
...
Di tempatnya Bang Zaldi sedang membuat laporan kerja. Hatinya gelisah hingga sulit mengingat apa yang akan ia tulis sebagai bahan laporan.
Lettu Zaldi melihat kalendernya yang sudah mendekati HPL Arnes, dalam dadanya berdetak dan berdenyut kencang. Cemas sekali melihat istrinya. Setiap memperhatikan perut besar yang ia lihat saat panggilan video call, hatinya terasa sakit karena tidak bisa menemani sang istri mulai dari awal kehamilan.
"Minggu depan Abang ambil cuti dek. Abang rindu sekali sama kamu. Sudah seperti apa perutmu Abang tinggal lama sekali" gumamnya sambil mencium foto Arnes di ponselnya.
***
Dinas hanya memberi waktu dua minggu saja untuk libur dan pulang ke tanah air. Arnes bahagia sekali mendengar suaminya akan pulang. Semangat bumil langsung meningkat, porsi makannya juga semakin bertambah.
...
Bang Irfan mendatangi kamar Bang Zaldi dengan ragu. Sampai akhirnya Bang Zaldi menegurnya.
__ADS_1
"Kenapa?? Seperti anak gadis aja takut masuk kamar om-om"
Bang Irfan semakin merasa tidak enak sebab Bang Zaldi sudah packing pakaian dan hadiah ulang tahun untuk Arnes. Rona bahagia terlihat sangat jelas dari wajah calon bapak itu.
"Ehmm.. Sebelumnya aku pribadi mohon maaf yang sebesar-besarnya Zal. Bolehkan aku meminta waktu cutimu?? Ibuku meninggal dunia" kata Bang Irfan sudah menyimpan rasa kesedihan yang mendalam.
Bagai mimpi buruk Bang Zaldi di hadapkan pada hal yang membuatnya dilema. Disisi lain, ini adalah bentuk kemanusiaan karena rekannya, sahabatnya kehilangan orang tua yang tinggal satu-satunya dan ia sudah merasakan sakitnya tapi disisi lain ia harus merelakan sang istri berjuang antara hidup dan mati melahirkan buah cintanya bersama Arnes.
Bang Irfan sampai menunduk karena ia tidak segera mendapat jawaban dari Bang Zaldi.
"Bagaimana Zal? Boleh tidak?? Maaf aku egois. Aku akan membalas budi baikmu seumur hidupku" ucap Bang Irfan sampai berlelehan air mata.
Bang Zaldi mengepal kuat memejamkan matanya. Rasa bersalah, tidak tega, sakit, semua berkumpul menjadi satu mengoyak batinnya. Suami mana yang tega membiarkan istrinya melalui kesakitan yang sangat panjang hanya untuk mengisi tangis kebahagiaan di dalam rumah. Tapi sebagai manusia tentu ada jiwa yang harus bisa bertoleransi bagaimanapun pedihnya hidup.
"Iya pot, pergilah..!! Ambilah waktu cutiku. Antarkan ibumu ke peristirahatan terakhirnya" kata Bang Zaldi berusaha ikhlas.
"Arnes gimana Zal"
"Nggak apa-apa. Biar aku yang membujuknya" senyum itu mengembang meskipun terkesan di paksakan.
Bang Irfan menghapus air matanya lalu memeluk Bang Zaldi dengan erat.
"Terima kasih banyak Zal. Semoga Allah membalas semua kebaikanmu, Aku doakan persalinan istrimu lancar"
"Aamiin Ya Allah" jawab Bang Zaldi.
//
Dengan menarik nafas panjang.. Bang Zaldi menghubungi Arnes.
"Wa'alaikumsalam Bang"
"Lagi apa dek??" tanya Bang Zaldi.
"Lagi masak rendang untuk Abang. Besok Abang sampai khan??"
Rasa sakit dan perasaan bersalah begitu menyiksa diri. Ingin rasanya berlari pulang dan memeluk sang istri mengurai rasa rindu yang ada.
"Dek.. Abang nggak jadi pulang sayang..!!" ucapnya langsung pada poinnya. Semakin cepat ia bicara, semakin cepat pula beban hatinya terasa lebih ringan.
"Abang jangan bercanda, katanya mau pulang" jawab Arnes. Tanpa di duga perut Arnes langsung terasa kram. Semangat itu seketika pudar.
"Tadinya benar mau pulang dek. Tapi ibunya Irfan meninggal dunia, jadi jatah cuti Abang.. Abang kasih ke Irfan" ucap Bang Zaldi dengan perasaan campur aduk.
Arnes langsung menangis terduduk lemas dan menunduk di meja makan. Ia bukan tidak bisa menerima semua itu. Tapi tetap ada hati yang masih berharap sang suami untuk kembali.
"Dek.. percayalah.. Abang bukannya tidak mau pulang. Kehilangan itu menyakitkan dek, tapi Abang akan merasakan bahagia nantinya.. Abang minta kamu sabar sedikit lagi ya.. Abang mohon" Bang Zaldi sungguh tidak ingin menitikan air mata yang melemahkan Arnes.
"Apa Arnes tidak berusaha mengerti Abang?? Kalau ini kesempatan terakhir Arnes untuk melihat Abang.. Apa Abang juga sudah kuat kehilangan Arnes???" pertanyaan Arnes begitu menusuk perasaan Bang Zaldi hingga di tempat yang paling terdalam.
"Arneess.. Bisa nggak kamu bicara yang baik..!!!!!"
__ADS_1
Belum selesai Bang Zaldi bicara. Arnes sudah mematikan panggilan video call itu.
"Deeekk..!!"
Bang Zaldi begitu frustasi, ia mengacak rambutnya dan menangis di lantai kamarnya.
"Ya Allah.. aku juga rindu..!!!!!"
"Arnes.. maafkan Abang dek..!! Abang sudah berusaha menjadi sebaik-baiknya suami untukmu"
tok..tok..tok..
Bang Zaldi menghapus air matanya.
"Masuk..!!'
"Selamat malam Danki.. Ijin.. Komandan memanggil"
...
"Sudah Nes, jangan nangis. Abang yakin Bang Zaldi juga ingin pulang. Pilihan itu juga pasti sangat sulit buat Bang Zaldi" bujuk Bang Righan sambil menghapus air mata Arnes.
"Arnes bukannya nggak mau ngerti Bang. Arnes juga tau mana yang harus di utamakan dulu. Tapi Arnes nggak bisa bohong kalau Arnes masih mengharapkan Abang datang"
Bang Righan memeluk Arnes, sungguh tak tega mendengar tangis sedih adik perempuan satu-satunya. Jelas sekali Arnes langsung down saat itu juga.
"Abang mengerti perasaanmu. Mudah mudahan kesabaranmu membuahkan hasil ya dek" kata Bang Righan sambil melirik pesan singkat di ponselnya. Banyak sekali pesan dari Bang Zaldi hingga ia bingung darimana harus mulai membacanya.
***
Malam hari berikutnya Arnes usai memanasi rendang yang ia masak kemarin setelah sempat ia masukan ke dalam lemari es karena sedih Bang Zaldi tak jadi pulang.
Malam ini, ia juga merasakan sangat lelah. Perutnya sedikit mengencang dan kram. Tak sengaja ia tertidur dan menelungkup di atas meja makan.
"Aduuhh dek, Kenapa tidurmu begitu. Tertekan itu perutnya" tangan kekar itu menggendong si cantik Arnes untuk masuk ke dalam kamar.
:
Arnes bermimpi Bang Zaldi memeluknya dengan hangat. Satu kecupan itu membuatnya melenguh merasakan desiran yang membuatnya semakin merindukan suami tercinta. Kecupan itu turun hingga sampai ke bawah.
"Abang kangen dek.. Nyolek sedikit boleh khan??" tanya Bang Zaldi dalam mimpinya sambil mengalungkan kedua tangan Arnes ke belakang lehernya.
Arnes hanya mengangguk dalam mimpinya. Ia merasa kedua pahanya rileks dan terbuka lebar. Arnes merasa badannya berguncang penuh hentakan tapi ia begitu menikmati mimpinya itu sampai saat terakhir lenguhan panjang penuh kelegaan dari sang suami pun terdengar jelas di telinganya.
"Alhamdulillah.. terima kasih banyak sayang. Sakit nggak?? Maaf ya..!!" ucapan yang ia dengar dalam mimpinya.
.
.
.
__ADS_1