
Arnes mencoba menurunkan kakinya saat mereka sudah tiba di rumah sakit kota. Rasa sakit menjalar dari ujung kaki hingga ke puncak perutnya. Tak ada kata manja dari putri Rinto Dirgantara. Ia tetap berusaha meskipun keringat membasahi wajahnya.
"Abang gendong saja ya dek..??"
"Kalau Abang gendong, Arnes kurang gerak Bang" ucap Arnes sambil memegangi perutnya.
"Aaarrghh..." Arnes begitu kesakitan saat kedua kakinya sudah berpijak di halaman rumah sakit.
Bang Zaldi terus memperhatikan raut wajah Arnes yang mulai memudar.
"Aahh.. kelamaan kamu dek, Anak Abang keburu ngegelinding" suami Arnes itu dengan sigap menggendong masuk ke ruang IGD.
...
"Masih pembukaan dua sempit ya pak" kata seorang dokter kandungan menjelaskan.
"Masih lama ya dok?? Tapi istri saya sudah kesakitan" kata Bang Zaldi sangat tidak tega melihat Arnes berjuang untuk memberi kebahagiaan padanya.
"Kita beri suntikan perangsang ya pak. Biar prosesnya juga tidak terlalu lama untuk ibu" jawab dokter.
//
Arnes berjalan pelan kesana kemari sambil mendorong tiang penyangga infus. Bang Zaldi hanya mengawasi di belakangnya karena Arnes tidak mau di ganggu, hanya sesekali ia membungkuk menarik nafasnya lalu kembali berjalan.
Bang Zaldi menyelipkan kain panjang yang hampir terlepas di pinggang Arnes.
"Aargh.. hhhhh" Arnes mengatur nafasnya. Pandangannya sudah hampir hilang merasakan sakit yang luar biasa.
"Kalau sakit jangan di paksa dek. Kamu sudah nggak kuat" Bang Zaldi cemas bukan main melihat keadaan Arnes. Bang Righan hanya mengintip dari balik pintu sembari mengunyah kacang goreng yang ia bawa karena dirinya terlalu gugup.
"Bapak nggak masuk? Sapa seorang bidan"
"Eehh.. nggak mbak, saya takut lihat yang begituan. Mending saya lihat orang tertembak. Kalau lihat adik sendiri kesakitan rasanya nggak kuat" jawab Bang Righan.
"Sabar pak. Ya sudah kalau gitu saya masuk dulu" kata Bidan tersebut.
//
Sudah sampai pukul sepuluh pagi tapi pembukaan Arnes belum ada peningkatan. Fase pembukaan tiga begitu lambat hingga Arnes tidak sanggup lagi berbicara.
"Bang, rasanya Arnes sudah mau mati. Nggak kuat Bang..!!!!!" Baru beberapa saat Arnes mengejang ia pingsan lagi. Ini sudah kali kedua.
"Bu, bagaimana ini????????"
"Keadaan ibu hamil berbeda-beda"
"Istri saya ini hamil sungsang dok. Apa tidak sebaiknya di beri tindakan operasi saja???" tanya Bang Zaldi.
"Sabar ya pak, kita usahakan dulu.. tidak semua persalinan sungsang harus dengan tindakan operasi" jawab dokter.
Bang Zaldi sudah sangat stress menghadapi situasi seperti ini. Bukan hanya Arnes saja yang rasanya mau mati, tapi ia pun tak kalah merasakan nyerinya.
Mata Arnes kembali tersadar.. ia mengerang kesakitan lagi.
"Abaaaaaang..." pekiknya sampai mencakar pergelangan tangan Bang Zaldi.
"Maaf ya dek.. Abang nggak bisa bantu apa-apa" ucap sesal itu begitu tulus. Rasa sakitnya tak dirasa karena ia tau cakaran itu tak sebanding dengan pengorbanan Arnes.
"Bang, pengen ke toilet" pinta Arnes setengah memekik.
__ADS_1
Bang Zaldi meminta persetujuan bidan dan dokter disana.
"Silakan..!! Masih pembukaan tiga"
//
"Jangan di tekan kuat lho dek" Bang Zaldi cemas sekali sampai harus ikut ke dalam toilet bersama Arnes.
:
Bang Zaldi ragu Arnes kuat untuk berjalan usai dari toilet. Pasalnya langkah sang istri sudah tertatih pelan. Saat Bang Zaldi ingin mengangkatnya, Arnes menolaknya membuat Bang Zaldi semakin frustasi.
"Tolong dek.. Hemat tenagamu. Atau kalau nggak, Abang minta operasi saja ya. Ini lama-lama Abang yang nggak tahan lihat kamu kesakitan"
Arnes pun tak menjawab lagi. Tenaganya sudah semakin melemah, Bang Zaldi pun akhirnya mengangkat Arnes kembali ke ranjang tindakan.
"Aawwwhh.. Abaaaanngg..!!!!!!!" Baru saja Bang Zaldi merebahkan Arnes, istrinya itu mengejang kesakitan bahkan mencengkeram lengan Bang Zaldi dengan kuat.
"Ya Allah kenapa dek??"
Arnes menggigit bibirnya kuat. Dokter dan bidan segera memeriksa kondisi Arnes yang tiba-tiba berubah drastis.
"Aduuuhh.. cepat siapkan peralatan.. ini sudah pembukaan delapan"
Bang Zaldi dan Arnes saling bertatapan. Arnes menitikan air mata.
"Bang.. jujur Arnes nggak kuat. Arnes takut sekali.. Apapun itu, berjanjilah untuk selamatkan anak kita ya Bang..!!" pinta Arnes.
Tak lama air mata seorang Zaldi pun berlinang membasahi pipi.
"Jangan bilang begitu sayang. Dokter pasti mengusahakan yang terbaik"
"Om yang kaku dan galak ini bisa menangis??" tanyanya.
"Arnes rasa, Arnes tau kalau ini akan sia-sia Bang. Arnes sayang Abang" ucapnya lirih hampir tenggelam.
"Kalau sampai ada yang bernasib buruk antara kamu dan anak kita. Atau Abang yang tidak bisa menyelamatkan kalian. Lebih baik Abang mati bunuh diri" ucapnya membungkuk sembari menautkan keningnya pada Anye.
Arnes sedikit mengejan. Bibirnya yang tergigit kecil sampai berdarah. Bang Zaldi beralih mencuci tangan lalu ikut memakai sarung tangan steril.
"Bapak mau apa???"
"Saya mau bantu, apa saya terlihat mau main catur??" jawab Bang Zaldi.
"Nggak bisa pak, ini menyalahi prosedur" kata dokter.
Mata Bang Zaldi sudah menajam penuh ancaman.
"Kalian apa tidak sadar sudah memperlambat segala proses. Kalau tidak sanggup bekerja.. biar saya yang tangani..!!!!!!" bentak Bang Zaldi membuat dokter dan bidan bergidik ngeri.
"Kalau sampai ada apa-apa dengan anak dan istri saya. Kepala kalian taruhannya" ancamnya tak main-main. Ia langsung membuka penutup bawah istrinya. Sekujur tubuhnya merinding, jantungnya bertalu tak menentu.
"Bapak bisa di kenakan pasal karena mengancam tenaga medis" kata dokter.
"Terserah, lakukan setelah persalinan..!!!"
"Righaaaaaann.. masuk..!!!!!" perintahnya berteriak dari dalam ruang bersalin.
Mendengar itu, Bang Righan masuk ke ruang bersalin dengan nyali setengah tiang. Ia langsung memeluk Arnes mengarahkan wajahnya ke tembok saking takutnya.
__ADS_1
"Jambuuu.. Iki opo kriwil-kriwil?????" gumam Bang Zaldi saat memperhatikan sesuatu 'disana'.
"Maaf pak, itu kaki si dedek mari saya bantu" kata Bu bidan.
"Astagfirullah hal adzim.. kaki atlet sumo" Bang Zaldi mengusap wajahnya.
Dokter muda yang tidak peduli itu malah meninggalkan ruangan sambil melepas sarung tangan steril dengan kasar. Bang Zaldi yang meradang tidak mau mengurusi semua itu. Ia hanya ingin anak dan istrinya dalam keadaan baik-baik saja.
"Ibu, tolong bantu saya satu kali ini saja. Mengejan yang kuat..!!" pinta bidan tersebut sambil mengusap paha Arnes.
"Bang.. Abang.. saya nggak kuat Bang..!!" kaki Bang Righan gemetar sampai akhirnya ia ambruk disisi dinding.
"Aahh.. masa bodo lah..!!" Bang Zaldi memeluk Arnes.
"Ayoo.. ayooo dek, kuat..!!!! Istri magazen nggak akan lemah. Tunjukan kamu istri hebatnya Abang..!!!!" ucap Bang Zaldi padahal dalam hatinya sudah merasakan nyaris mati melihat Arnes yang berjuang antara hidup dan mati.
Ditelinga Arnes, Bang Zaldi membacakan doa agar istrinya bisa lebih tenang. Lantunan doa yang membuat air matanya kembali menetes.
"Kamu pasti baik-baik saja" ucap Bang Zaldi setelahnya.
Arnes mengerahkan seluruh sisa tenaganya daaann.... sepasang kaki mungilpenuh perjuangan itu hadir ke dunia.
"Allahu Akbar.." Bang Zaldi langsung bersujud syukur melihat dengan mata kepalanya sendiri, seorang Bayi telah lahir Karena kebesaranNya. Tak lama bayi itu baru menangis.
Bang Zaldi menghambur menciumi wajah Arnes yang terlihat sangat letih. Tangis itu menjadi-jadi. Tangis seorang suami yang merasakan setengah kelegaan melihat istrinya lolos dari maut merasakan perjuangan panjang hampir sepuluh jam lamanya.
"Terima kasih dek. Terima kasih kamu sudah memberikan hadiah paling indah untuk Abang. Kamu ibu dan istri yang terhebat"
"Sama-sama Bang" ucap Arnes lirih.
"4,6 kilogram pak" sela Bidan sejenak mengalihkan pandangan Bang Zaldi.
"Haduuuhh.. Jiiiaann tenan, papa unyek kamu kalau nakal sama mama ya..!!" ancam Bang Zaldi sambil melirik bayi yang memang nyata adalah seorang jagoan. Ia mengusap dadanya menenangkan diri. Kakinya pun terasa ringan, ia duduk tertelungkup di samping ranjang Arnes.
-_-_-_-_-
Papa Rinto berlari di koridor rumah sakit dan mendapati pasien yang sama sekali tidak di harapkan.
"Ini siapa yang melahirkan?? Kenapa kamu yang di suapi???" tegur Papa Rinto pada Bang Righan yang sedang disuapi seorang bidan cantik.
"Tekanan darahku drop pa. Nggak kuat pegang apa-apa" jawab Bang Righan.
"Alasan saja" Papa Rinto membuka tirai dan melihat Bang Zaldi sedang menggendong bayinya sambil mengusap kening Arnes yang sedang tidur.
"Bagaimana Zal?? Semua aman????" tanya Papa Rinto kemudian di susul Mama Anye di belakangnya.
"Alhamdulillah aman pa, sehat semua" Jawab Bang Zaldi.
"Ya Allah, besarnya Zal. Lahir berapa kilo ini???" tanya Mama Anye menyentuh pipi baby Ancala Ibrani Jalak Anom.
"4.6 kilogram normal ma, sungsang lagi" jawab Bang Zaldi tak bisa menyembunyikan rasa haru dan cemasnya. Hatinya masih tak karuan.
Papa Rinto ternganga mendengarnya. Lamunannya pun seketika hilang mendengar tangis cucunya yang menggelegar memecah heningnya suasana kamar.
"Astagfirullah hal adzim.. kelakuanmu banget ini Zal. Dosa apa aku sampai wajah cucuku mirip sekali sama kamu" gumam Papa Rinto.
.
.
__ADS_1
.