Di Ujung Peluru 2 & 3 (Hati Sang Prajurit)

Di Ujung Peluru 2 & 3 (Hati Sang Prajurit)
DUP 3. 102. Pecahan kaca.


__ADS_3

Papa Rinto bisa sedikit lebih tenang. Kini hanya tinggal pemulihan anak dan menantunya saja.


"Ini peringatan terakhir untuk kamu Bima. Jangan gegabah mengambil tindakan apapun. Pikirkan dampak kandungan Arnes" kata Papa Rinto mengingatkan Bang Bima dengan tegas.


...


"Pulang dek, jangan disini..!!" pinta Bang Zaldi. Ia sudah duduk meringkuk memeluk lututnya. Badannya bergetar dan menggigil.


"Pergiii..!!!!! Abang sudah nggak kuat ini dek...!!!"


"Jangan Abang tahan, teriaklah kalau Abang nggak kuat merasakan sakitnya" Arnes menyandarkan kepala Bang Zaldi di dadanya lalu mengusap pipinya sampai Bang Zaldi tenang.


"Aaaahh.. B*****t. Kenapa tidak buat aku mati saja..!!!" Bang Zaldi mengumpat kesal, tapi Arnes masih sabar disana.


"Jangan bilang begitu Bang, ayo nyebut..!! sama siapa lagi Abang berserah kalau nggak sama Allah"


"Astagfirullah.. sakit dek.. sakiit, Abang nggak tahan. Aaarrrrgggghh" Bang Zaldi mengungkapkan rasa sakit yang ia terima.


"Nggak apa-apa Bang. Terus sampai Abang lega"


"Abang harus kuat. Ibra dan Ryan sudah rindu papanya. Ini si dedek juga rindu sekali sama papanya" bujuk Arnes mengarahkan tangan Bang Zaldi agar mengusap perutnya.


Tatapan mata Bang Zaldi hampir kosong, tapi kata anak begitu melekat kuat dalam batinnya.


"Apa mereka tidak malu punya papa seperti ini?" setiap kali pertanyaan itu begitu menghantui pikiran dan perasaannya.


"Apa Arnes perlu mengulang lagi? Mereka pasti sangat bangga punya papa yang hebat dan tangguh. Negara saja sangat mencintai papa. Anak-anak Abang pasti sayang sekali sama papanya" tak butuh waktu lama, Arnes mengalihkan perhatian Bang Zaldi. Ia mengarahkan wajah Bang Zaldi agar menatapnya juga.


"Kamu mau apa? Dengarkan Abang dek" Bang Zaldi sedikit menghindari Arnes. Ia juga gelisah dan takut dengan hasratnya yang mulai memanas merangkak naik.


Tak ada jawaban dari bibir berwarna pink itu tapi raut wajahnya yang lugu sudah sangat mengganggu Bang Zaldi. Bang Zaldi terus mengejar kemanapun wajah Arnes berpaling.


"Arnes hanya pengen dekat sama Abang" gumamnya polos.


"Pengenmu itu tumpukan ujian buat Abang" ucap jujur Bang Zaldi.


"Aar_nes kangen Abang" katanya sambil menatap takut. Ia masih teringat perlakuan Bang Zaldi tempo hari dan itu meninggalkan rasa trauma untuk Arnes.


Bang Zaldi menyadari sikap Arnes yang menghindarinya dan dirinya tidak ingin memaksa Arnes jika memang istrinya itu masih takut, tapi tentu saja ada rasa di balik rasa. Ia ingin mengecap manisnya madu yang ia rindukan.


"Abang tidak minta macam-macam sayang. Abang juga hanya minta kamu sayang sedikit saja" ucapnya sembari menahan rasa tidak karuan.


Suami Arnes itu menerjangnya di lantai dengan sedikit kasar namun ia masih berusaha mengumpulkan kesadaran bahwa yang sedang ia peluk adalah istrinya sendiri.


"Abang kedinginan dek. Tolong..!!" pintanya.


Arnes pun bingung karena ia masih merasa takut, lebih panik lagi saat Bang Zaldi mulai melucuti pakaiannya sendiri dan tidak sesuai dengan apa yang di janjikan tadi.


"Jangan Bang. Abang nggak kasihan baby angel?"

__ADS_1


"Baaang.." ucapnya sekali lagi karena Bang Zaldi gak kunjung menjawabnya.


"Abang dengar sayang, diamlah dan jangan ganggu Abang. Abang nggak mau lepas kendali" jawab Bang Zaldi.


"Tapi Bang....."


"Abang paham..!!" Bang Zaldi segera mengunci bibir Arnes.


:


"Jangan Bang..!!" Bang Bima mencegah Bang Seno untuk membuka pintu.


"Kenapa? Sudah lama khan mereka di dalam?" tanya Bang Seno.


"Kita ngopi saja Bang. Mereka sedang olah kebatinan" kata Bang Bima sambil menarik tangan Bang Seno.


"Haaahh, aman apa nggak itu Bim??"


"Aman Bang.."


...


Bang Zaldi membelai rambut panjang Arnes. Ia hanya bisa menunduk lemah, tenaganya terkuras habis.


"Arnes tidur pulas banget Bang" tanya Bang Seno yang lebih mengarah pada ledekan.


"Iya, bawa keponakanmu ini lebih cepat capek" jawab Bang Zaldi sambil mendongak menanggapi Bang Seno.


Bang Zaldi hanya tersenyum menanggapi kakak iparnya.


Bang Seno melihat raut wajah Bang Zaldi, ia menyiapkan obat untuk Bang Zaldi.


"Bisa kamu kurangi drastis dosisnya? Aku sudah muak" tanya Bang Zaldi.


"Nggak bisa Bang. Perkiraan saat Abang mabuk itu, Abang sudah mendapat suntikan dosis besar, setelah keluar dari kandang macan itu, Abang mendapatkan satu suntikan jenis double dalam dosis besar lagi. Jadi ini obat sudah di takar sampai nanti akhirnya Abang kuat untuk lepas sendiri" jawab Bang Seno.


"Tapi yang saya heran, kenapa Abang nggak mangkat?"


"Kamu nyumpahin saya mati?? Sudah kuat mentalmu lihat adikmu ini nangis kejer??" balas Bang Zaldi.


"Ngomong ora di ayak. Ngawur ra karuan"


"Sudah dua hari ini saya nggak minum obat. Mereka hanya menyiram saya dengan air es. Ini saya bisa sadar Sen"


"Abang jangan coba menyangkal. Abang khan sudah paham resikonya. Semakin Abang tidak minum penawarnya, lama-lama Abang bisa gila, hilang ingatan karena obat setan itu akan merusak tubuh dan syaraf Abang" kata Bang Seno.


"Diam Seno.. pelankan suaramu..!!" Tegur Bang Zaldi.


"Sebenarnya siapa yang ingin mental Arnes drop. Saya atau Abang? Bagaimana kalau sampai Arnes memilih bunuh diri? Sudah terbayang dalam benak Abang?" tanya Bang Seno.

__ADS_1


"Dia kesayanganku Seno, Dia wanita yang amat sangat saya cintai. Biarkan saya sembuh dengan cara saya sendiri. Lebih baik saya tidak mengingatnya sesaat saja daripada harus meminum obat yang belum tentu bisa menyembuhkan. Biar sakit ini saya tanggung asalkan saya tetap bisa menemani dia hingga Tuhan menarik nafasku"


"Abang pun bisa mati kalau tidak sanggup menahannya. Jangan bodoh Bang..!!"


"Asal kamu tidak menusuk saya, saya akan tetap hidup. Jadi.. jangan pernah kalian diam-diam mencampur obat ke dalam makanan dan minuman saya lagi"


Bang Seno tercengang mendengar jawaban Bang Zaldi. Memang pantas seniornya itu menjadi seorang Intel. Hal sekecil apapun yg ak pernah lolos dari ketajaman nalurinya meskipun petugas dapur sudah sebisa mungkin menyamarkan rasa makanan itu.


"Siap Abang. Maaf..!!"


-_-_-_-_-


Si kecil Ibra bermain dan berlari di teras depan rumah. Bang Zaldi bahagia sekali melihat putranya yang kian lincah. Ia berlari menyambut mamanya tapi tidak sedikitpun melihat ke arah papanya.


"Ibra Salim sama papa..!!" kata Arnes mengajari putranya.


Ibra masih diam saja tak menyahut perkataan Arnes.


"Ibra.. ini papa pulang. Ayo cepat salim"


"Papa push up..!!" perintah si kecil Ibra pada papanya.


Arnes dan Bang Zaldi saling berpandangan, tak paham mengapa putranya meminta papanya push up.


"Kenapa?" tanya Mama pada Ibra.


"Papa jahat sama mama. Jadi harus di hukum..!!" ucap batita yang belum mencapai dua tahun. Ibra memang pintar hanya saja di waktu yang lalu dirinya terlambat berjalan.


Bang Zaldi segera mengambil tempat untuk push up dan menjalani hukuman seperti permintaan Ibra.


"Jangan buat mama nangis. Papa jahat" ucapnya sambil melipat kedua tangan di depan dada.


"Papa harus minta maaf..!!"


"Papa push up sekarang. Maaf ya Mama..!! Papa nggak akan jahat lagi" kata Bang Zaldi yang mengantar Arnes pulang ke rumah.


:


Bang Zaldi tak ingin mengambil hati ucapan putranya tapi semua perkataan itu begitu menusuk batinnya apalagi benar adanya dirinya sudah menyakiti mama Ibra.


Berkali-kali Bang Zaldi mencoba mendekati Ibra tapi putranya itu sungguh tidak ingin dekat dengannya.


"Ibra mau papa belikan mainan? Atau kita beli jajan?" tanya Bang Zaldi.


"Nggak mau" jawab Ibra sambil berlalu meninggalkan Bang Zaldi.


Hati mana yang tidak hancur saat darah dagingnya menolak dirinya. Jika sudah dewasa maka bisa di ungkapkan dari hati ke hati tapi bagaimana dengan situasi ini?.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2