Di Ujung Peluru 2 & 3 (Hati Sang Prajurit)

Di Ujung Peluru 2 & 3 (Hati Sang Prajurit)
DUP 3. 70. Hampir selesai.


__ADS_3

Arnes menyangga tubuhnya berpegangan pada sisi meja. Tubuhnya mendadak demam. Istri mana yang tidak cemas memikirkan suaminya yang sedang menghadapi masalah sebesar ini. Hari ini Bang Zaldi sedang menjalani test psikologi dan test ini nantinya akan menentukan bagaimana nasib suaminya ke depan.


"Nes, kamu kenapa??" Bang Bima mengajak adiknya duduk saat tau Arnes sedang tidak sehat.


"Arnes pusing Bang" jawabnya.


"Mau Abang antar ke dokter?? Abang sekalian test pengajuan nikah sama Livi" kata Bang Bima.


"Nggak Bang. Arnes nggak apa-apa. Pengen hari ini tidur saja di rumah. Biar Ibra sama si mbok sebentar" tolak Arnes.


"Ya sudah, kalau ada apa-apa cepat hubungi Abang"


***


Dan Arben sangat puas melihat semua hasil test Bang Zaldi. Kejiwaannya normal. IQ di atas rata-rata. Teknik taktik tak meleset.


"Inilah sebabnya saya katakan Kapten Zaldi tidak bisa begitu saja 'di buang' dari militer. Dia terlalu banyak tau rahasia tentara, apalagi kemampuannya itu sangat di butuhkan dalam badan militer. Saya tau dia melakukan kesalahan fatal. Tapi semua kesalahannya itu tentu ada sebabnya. Kapten Zaldi membela istrinya dan semua ada buktinya. Bukti yang selalu di mentahkan, dan saya sendiri yang akan mencari keadilan untuk Kapten Erzaldi" ucap Dan Rinto lantang. Dan Rinto menatap seseorang yang selalu mementahkan bukti akurat yang mereka miliki.


***


Sesuai permintaan Bang Zaldi, tanggal sidang pertama ini sengaja di rahasiakan agar Arnes tidak datang. Bang Zaldi tidak mau mental Arnes down karena ulah keluarga almarhum Guntur.


Sebisanya Bang Zaldi mengupayakan segala bukti terkait kelakuan Guntur yang akan di buka kembali, maka dari itu Bang Zaldi tidak mau Arnes mendengarnya, segala ucapan yang tidak enak akan sangat menyakitkan hati Arnes. Bang Zaldi takut Arnes tidak kuat.


Reaksi tajam dan keras benar-benar suami Arnes itu terima. Ibu almarhum Guntur melempar sepatunya hingga melukai pelipis Bang Zaldi.


"Nggak mungkin anak ku berbuat seperti itu. Itu fitnah, editan agar nama baik anak ku jelek. Anak ku nggak mungkin menyiksa Arnes. Ini pasti akal-akalan si Zaldi ini." teriak Ibu Guntur.


"Ibu harap tenang, jika tidak bisa mengontrol diri, kami mohon keluarga keluar dari ruang sidang"


Arnes menghentikan langkahnya, tidak ada yang tau sebenarnya dirinya sudah tau tentang jadwal sidang Bang Zaldi. Perasaannya tidak kuat saat mengingat perlakuan Bang Guntur padanya.


"Iya, Guntur memberikan psikotropika pada adik saya dan pernah melecehkan adik kandung saya yang saat itu belum menjadi istri Kapten Erzaldi" jawab Bang Seno saat bersaksi. Dia jauh datang dari Sulawesi khusus untuk Arnes.


"Apakah terjadi perkosaan?"


Bang Seno diam saja saat para aparat hukum menanyainya hal seperti ini. Dia tidak tau apakah Arnes mengalami tindak perkosaan atau tidak sebab Arnes bungkam seribu bahasa tentang hal ini. Bang Seno sedikit melirik pada Bang Zaldi.

__ADS_1


"Anda tidak tau Lettu Seno?"


"Mohon ijin.. saya keberatan hal ini di tanyakan. Itu terlalu privasi untuk di tanyakan di muka umum dan sifatnya rahasia, yang hanya saya dan istri saya yang boleh tau" kata Bang Zaldi menyahut.


"Pertanyaan ini untuk menyelamatkan harga diri korban. Dari pihak keluarga meyakini bahwa almarhum ini anti perempuan. Kami butuh keringanan dan nama baik"


"Keberatan di tolak"


Tangan Bang Zaldi mengepal kuat.


"Istri saya masih suci" jawab jujur Bang Zaldi.


Keluarga besar Guntur sangat bangga pada almarhum Guntur. Mereka kembali memaki Bang Zaldi.


Arnes membuka pintu aula ruang sidang.


"Dia memang tidak memperkosa karena aku menghajarnya sekuat tenaga tapi Guntur menjamahku. Dia kurang ajaarr"


"Arnes..!!!" Bang Bima segera memeluk dan menenangkan adiknya itu.


Perasaan Bang Zaldi begitu nyeri tidak bisa berbuat apapun untuk istrinya.


Keluarga Guntur sudah mencibir dan berbisik-bisik apalagi istri Guntur berteriak histeris. Ia sungguh tidak suka melihat Arnes. Istri Guntur berlari menerjang Arnes. Bang Bima memasang badan melindungi Arnes. Tak di sangka Bang Zaldi menghadang langkah istri Guntur hingga para anggota mengikuti langkah Bang Zaldi.


"Saya tidak akan melepaskan keluarga Guntur. Termasuk kamu. Jangan sentuh istri saya sedikitpun..!!!" ucap Bang Zaldi tidak main-main. Istri Guntur itu mundur teratur sedangkan Bang Seno membantu para anggota menenangkan Bang Zaldi agar duduk kembali.


//


Dengan semua bukti yang ada, sidang akan lanjut pada tanggal yang telah di tentukan. Sedikit angin segar. Satu persatu keburukan Guntur terbuka apalagi ucapannya yang begitu melecehkan Arnes membuat keluarga tak lagi membuka suara keras.


Langkah Arnes begitu lemas, ia memeluk Bang Zaldi dengan erat dan enggan berpisah dari suaminya itu. Bang Seno dan Bang Bima sampai kewalahan membujuk Arnes.


"Abang pulaaang..!! Arnes mau sama Abang"


"Sabar sedikit lagi sayang. Abang pasti pulang dek"


Tak sanggup lagi merasakan sedihnya, Arnes sampai pingsan dalam pelukan Bang Zaldi.

__ADS_1


//


Setelah mendapatkan perawatan, Arnes mulai sadar, ia kembali memeluk Bang Zaldi dengan manja. Bang Zaldi pun membuang nafas kelegaan.


"Abang jangan nikah sama istri Guntur ya..!!" pinta Arnes dengan suara melemah.


"Ngomong apa kamu ini dek. Ya nggak lah. Itu hanya sebuah gertakan. Mana ada tuntutan ngawur seperti itu. Kamu dengar sendiri semua tuntutan itu di patahkan oleh hukum. Majelis hakim pun tidak sembarangan dek. Kamu khan istri sah Abang. Kamu tidak mengijinkan, mana mungkin Abang nikahi dia.. apalagi semua orang tau masalah ini" jawab Bang Zaldi menenangkan Arnes.


"Arnes takut Bang. Takut sekali"


"Di kasih gratis pun Abang nggak akan mau sama wanita macam istri Guntur itu. Abang sudah punya istri yang bisa memberikan segalanya. Untuk apa Abang membuang batu safhir demi memungut batu kali" ucap Bang Zaldi sambil mengoles minyak angin di badan Arnes.


"Kamu jangan banyak pikiran lagi. Abang nggak akan berbuat gila seperti itu. Kamu jaga diri baik-baik, tunggu Abang pulang. Tinggal sebentar lagi sayang. Sabar..!!" pinta Bang Zaldi.


Arnes mengangguk, agaknya sekarang hatinya sudah sedikit lebih tenang.


"Bang.. pijat punggung Arnes donk"


Bang Zaldi menoleh menatap Papa Rinto, Mama Anye juga Abang Arnes. Rasanya tak sanggup melihat Arnes yang kemungkinan besar mengalami tekanan batin yang begitu kuat. Hatinya pun ikut terasa sakit.


"Ijin Dan, bisakah saya minta waktu berdua dengan istri saya sebentar saja. Kamu punya satu putra baru lima belas bulan usianya. Saya hanya mempertimbangkan mental anak kami yang kemungkinan besar akan menjadi buruk kalau mental ibunya tidak stabil"


"Baiklah Pak Zaldi. Kami mengerti kondisinya"


Papa Rinto tersenyum haru merasakan pengorbanan dan usaha menantunya.


"Kamu selesaikan dulu masalahmu dengan Arnes. Papa tunggu Arnes di luar" kata Papa Rinto yang hanya di jawab dengan anggukan kecil Kapten Zaldi.


:


Bang Zaldi mengunci ruang kecil. Ia menatap bola mata Arnes yang terlihat begitu membutuhkan dirinya. Tangan itu mengusap pipi Arnes dengan punggung jari yang jauh dari kata lembut. Sesekali jempolnya menyentuh bibir Arnes yang selalu membuatnya rindu. Bang Zaldi sedikit membungkuk. Di kecupnya kening Arnes dengan sayang, ciuman itu bergeser di bibir manis yang membuatnya tidak tahan. Tangan kanan Bang Zaldi menaikan sedikit dagu Arnes, desiran rasa semakin memuncak saat mereka berdua saling membelit lidahh. ******* keduanya terdengar saling membutuhkan dan itu teramat menyiksa Bang Zaldi.


Sadar akan terjadi hal yang paling ia takutkan, sebelah tangannya segera mengendalikan si Usrok agar tidak lancang di saat yang tidak tepat. Bang Zaldi menyudahi acara patrolinya karena ia sadar diri tidak akan mampu mengendalikan diri jika hal ini semakin di lanjutkan. Kedua pasang bola mata itu saling menatap.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2