
Malam hari Brian dan Rinto berjaga di pos PAM yang berbeda. Tidak ada ketentuan bagi seorang perwira berlama-lama di pos pantau tapi karena mereka merasa sebagai seorang prajurit yang harus menjalankan tugas. Maka tanpa beban Brian dan Rinto berjaga dengan yang lain.
HT Bang Rinto berbunyi nyaring.. ada kecelakaan bus masuk jurang di sekitar tempatnya bertugas kurang lebih sepuluh kilometer.
"Saya cek lokasi. Kalian pantau pos dan laporkan kalau terjadi sesuatu..!!" perintah Rinto.
"Siap..!!"
-_-_-_-
Sudah ada beberapa anggota yang turun untuk membantu jalannya evakuasi.
"Ijin Pak.. terlihat yang bisa evakuasi lebih dulu adalah seorang ibu yang memeluk dua balitanya. Tapi medannya sangat sulit" lapor seorang anggota.
"Ayo turun sama saya..!!" kata Rinto
#
Brian tiba-tiba terhuyung karena merasa nafasnya tertekan, dadanya terasa sakit. Sekelebat bayangan Shisi mengitari kepalanya.
ddrrrtttt.. ddrrttt..ddrrtt...
Ada panggilan telepon dari Rinto. Brian segera mengangkat panggilan telepon itu.
"Bri... bisa kamu ke lokasi........"
...
"Shisiiiiiiiiiiiii..!!!!!" Brian menangis meraung tak terkendali saat melihat Shisi tertimpa kursi bus sambil memeluk kedua anaknya.
Beberapa saat kemudian dengan susah payah Shisi dan kedua anak Brian bisa dikeluarkan setelah membutuhkan waktu yang cukup lama.
"Ya Allah, kenapa aku bodoh mengijinkan anak istriku pergi sendiri??" sesal Brian dalam derai tangisnya.
"Briaann..!!!" Bang Arben langsung menepuk pipi Brian agar adiknya itu sedikit lebih tegas meskipun saat ini usaha itu akan berjalan sia-sia.
Brian ambruk memeluk Shisi dan kedua buah hatinya dengan pilu.
***
Pagi hari asrama begitu kelam menyambut jenazah almarhumah istri DankiBan. Brian berkali-kali pingsan tak sanggup melihat ketiga jenazah berjajar di ruang tamu rumahnya. Apalagi saat di rumah sakit tadi dokter Wira mengatakan ada kemungkinan Shisi memang sedang mengandung anak ke tiga dan itu membuat Brian semakin stress. Rival dan Gandhi sudah datang.
Rival langsung memeluk putranya yang hanya bisa meratapi kepergian Shisi.
"Mana pistol papa???? Bunuh aku saja pa. Aku nggak kuat Shisi pergi meninggalkanku" ucapnya tak memiliki tenaga. Papa Ghandi menenangkan istrinya yang menangis memeluk jenazah putri dan kedua cucunya.
"Brian..!! Hidup mati di tangan Allah, ikhlaskan ya le..!!" bujuk Papa Rival.
"Kembalikan Shisi padaku pa. Aku sangat mencintai dia" ucap Brian menguatkan diri untuk bicara.
"Bang Ben.. mana sangkurmu??? Aku mau menyusul Shisi" teriaknya dengan kalap.
"Brian.. Mungkin Allah lebih sayang istri dan anakmu" kata Bang Arben.
"Abang mau pisah sama Dira???"
"Aku nggak mau Shisi kemana-mana. Aku mau Sishi pulang..!!!"
Tak ada yang sanggup menjawab pertanyaan Brian. Percuma saja membujuk Brian saat ini. Hati dan pikirannya sedang buntu.
...
"Sudah ikhlas pak??" tanya seorang ustadzah pada Brian.
Brian masih belum menjawab saat ustadzah akan menutup kain kafan Shisi dan kedua buah hatinya.
"Ibu cantik sekali. Pasti mengandung anak sholehah untuk pak Brian" ucap ustadzah kemudian menutup wajah almarhumah Shisi dengan sempurna.
Brian bersandar lemas di dada Bang Arben. Betapa hancur lebur hatinya saat ini.
-_-_-_-
Ini di liang lahat kedua Brian menidurkan buah hatinya, di peluk dan di ciumnya putri kecil yang baru bisa mengenali dirinya saat Brian menggendongnya. Di timangnya sebentar sebelum ia benar-benar menidurkan buah hatinya bersama Shisi.
"Baik-baik sama mama ya cantik. Adek, kakak dan Mama tunggu Papa ya..!!" tangis Brian mulai tak terbendung lagi. Ia pun segera menidurkan buah hatinya lalu mengumandangkan adzan.
#
Brian di tarik Arben dan beberapa anggota lain dari liang lahat Shisi karena Brian sudah tidak punya tenaga lagi.
...
"Shisiiiiiiiiiiiii... tega sekali kamu sama Abang. Sakit hati Abang kamu tinggal begini" ucapnya meratap di atas tanah berhias indahnya bunga yang menyakitkan.
"Bagaimana Abang bisa lalui hari tanpamu?? Abang nggak sanggup hidup tanpa kamu"
Brian memercing meremas dadanya yang tiba-tiba terasa sakit seketika membuatnya tidak bisa bernafas dengan benar. Brian mengejang sesaat kemudian terkapar tanpa daya.
"Bantu saya angkat Brian..!!" pinta Pak Arben.
Anye memeluk Bang Rinto dengan erat, ia masih tak percaya Shisi yang selama ini menjadi sahabatnya pergi begitu cepat membawa kedua buah hati dan calon anak Bang Brian. Karena terlalu berpikir keras, Anye lemas memeluk Bang Rinto.
"Thomas.. kamu kembali ke asrama sama saya., kemudikan mobilnya. Istri saya pingsan..!!" perintah Rinto pada Thomas.
...
"Abaaaang.." Anye menggigau sejak tadi. Rinto tau istrinya terlalu terbawa perasaan.
"Ini Abang dek..!!" Bang Rinto mengusap tangan Anye agar istrinya segera membuka matanya.
Perlahan Anye membuka mata dan melihat Bang Rinto sedang menggenggam tangannya.
"Kamu ini kenapa? Culun sekali. Harusnya kamu berdoa agar rumah tangga kita selalu dalam lindungan Allah. Bukan berkhayal yang tidak-tidak" tegur Bang Rinto.
"Anye kepikiran Bang Brian yang begitu sedih" kata Anye.
"Abang cemburu lho dek. Bisa-bisanya kamu memikirkan pria lain selain Abang" ucap Bang Rinto mengalihkan pikiran Anye. Sebenarnya ia pun terbawa suasana dan mentalnya down seketika saat melihat Brian yang begitu menyedihkan. Batinnya ikut tercabik merasakan penderitaan sahabatnya.
"Bukan Bang.. Anye hanya tak sanggup membayangkan rasa kehilangan" jawab Anye.
"Abang ngerti sayangku. Maaf Abang hanya ingin kamu tidak berpikir macam-macam"
***
__ADS_1
Dira menghidangkan minuman untuk keluarga. Acara tiga hari meninggalnya Shisi dan anaknya baru saja usai. Istri Arben juga jadi tidak tega melihat Brian hanya diam dan merokok kehilangan semangat hidup.
Tak ada sepatah kata pun yang di ucapkan suami almarhumah Rashi Inugara.
"Bang, temani Bang Brian dulu. Sejak kepergian Shisi, Bang Brian tidak makan" kata Dira.
"Abang kesana dulu ya dek..!!"
Dira mengangguk dan duduk menunggu bersama Papa, Rival dan Mama Shila. Anak-anak sedang bermain bersama Om Gata dan Tante Lilan.
"Bri.. Makan dulu. Abang ambilkan makan ya..!!" bujuk Arben.
"Aku nggak lapar Bang" jawab Brian.
"Jangan menyiksa diri. Semua sudah suratan takdir" kata Bang Arben.
"Berat sekali rasanya Bang. Aku ingin menyusul Shisi. Aku rindu dia.. rindu anak-anakku" suara berat terdengar dari duda baru itu.
Menahan tangisnya bukan perkara mudah hingga sakitnya meremukan seluruh hati.
Rinto yang kebetulan menjadi pengawas jalannya acara kemudian ikut duduk di samping Brian bersama Bang Arben.
"Lepas tangismu. Selesaikan sekarang juga..!!"
Brian menatap mata sahabatnya itu. Tak lama tangis Brian benar-benar pecah. Brian benar-benar hancur menangis berguling-guling masih belum sanggup menerima kepergian Shisi.
"Istighfar Bri..!!" Rinto mendekap dan mengusap dada Brian dan memijat kening sahabatnya itu hingga tenang. Papa Rival terpejam tak sanggup berkomentar apapun.
"Astagfirullah hal adzim.." ucapnya lirih sekali sampai nafasnya melemah.
"Mulai lagi Bang. Kita infus saja di kamar" kata Rinto melihat Brian sudah diam.
"Ayo..!!"
"Gata.. Bantu pindahkan Abangmu ke dalam kamar..!!" perintah Bang Arben.
...
"Ternyata berat sekali jadi duda ya Rin" tanya Brian. Suaranya tercekat, ia kembali menitikan air mata.
"Nikmat sekali. Jangan pernah berburuk sangka pada Tuhanmu. Allah Maha Baik.. Tak ada yang tau rencananya, Allah tidak akan memberi cobaan pada sesuatu yang kamu tidak akan sanggup melaluinya. Bagaimanapun caranya.. bagaimanapun beratnya.. jalani dengan ikhlas.. perih di hati pasti akan sembuh seiring berjalannya waktu" ucap Rinto mencoba memberi semangat baru untuk Brian.
***
"Semoga tempatmu disana nyaman ya ma. Jaga anak kita disana..!! Papa akan selalu mendoakan yang terbaik untukmu supaya lapang jalanmu disana. Berat sekali rasanya satu minggu ini kamu tinggalkan ma" ucap Brian menghapus air matanya.
"Ma.. mengenalmu adalah hadiah terindah seumur hidup papa. Biar kita sudah sampai disini, doa papa akan selalu mengalir untukmu. Papa berusaha untuk kuat meskipun batin ini tidak kuat. Tempatmu akan selalu ada di hati papa"
Bang Brian mencium papan nisan almarhumah Shisi. Air matanya mengalir berjatuhan.
Kamu bukan hilang sayang. Kamu hanya istirahat. Rebahkanlah tubuhmu yang lelah. Terima kasih telah memberi kebahagiaan untuk Abang. Meskipun raga ini tak bisa menyentuhmu lagi, tapi hati ini masih sanggup merasakan hadirmu. Terima kasih pernah membuat Abang merasakan menjadi suami sekaligus ayah walaupun hanya sekejap mata. Biar Allah menghapus seluruh dosamu dan membalas budi baikmu sayang.
.
.
.
Malam hari Brian dan Rinto berjaga di pos PAM yang berbeda. Tidak ada ketentuan bagi seorang perwira berlama-lama di pos pantau tapi karena mereka merasa sebagai seorang prajurit yang harus menjalankan tugas. Maka tanpa beban Brian dan Rinto berjaga dengan yang lain.
HT Bang Rinto berbunyi nyaring.. ada kecelakaan bus masuk jurang di sekitar tempatnya bertugas kurang lebih sepuluh kilometer.
"Saya cek lokasi. Kalian pantau pos dan laporkan kalau terjadi sesuatu..!!" perintah Rinto.
"Siap..!!"
-_-_-_-
Sudah ada beberapa anggota yang turun untuk membantu jalannya evakuasi.
"Ijin Pak.. terlihat yang bisa evakuasi lebih dulu adalah seorang ibu yang memeluk dua balitanya. Tapi medannya sangat sulit" lapor seorang anggota.
"Ayo turun sama saya..!!" kata Rinto
#
Brian tiba-tiba terhuyung karena merasa nafasnya tertekan, dadanya terasa sakit. Sekelebat bayangan Shisi mengitari kepalanya.
ddrrrtttt.. ddrrttt..ddrrtt...
Ada panggilan telepon dari Rinto. Brian segera mengangkat panggilan telepon itu.
"Bri... bisa kamu ke lokasi........"
...
"Shisiiiiiiiiiiiii..!!!!!" Brian menangis meraung tak terkendali saat melihat Shisi tertimpa kursi bus sambil memeluk kedua anaknya.
Beberapa saat kemudian dengan susah payah Shisi dan kedua anak Brian bisa dikeluarkan setelah membutuhkan waktu yang cukup lama.
"Ya Allah, kenapa aku bodoh mengijinkan anak istriku pergi sendiri??" sesal Brian dalam derai tangisnya.
"Briaann..!!!" Bang Arben langsung menepuk pipi Brian agar adiknya itu sedikit lebih tegas meskipun saat ini usaha itu akan berjalan sia-sia.
Brian ambruk memeluk Shisi dan kedua buah hatinya dengan pilu.
***
Pagi hari asrama begitu kelam menyambut jenazah almarhumah istri DankiBan. Brian berkali-kali pingsan tak sanggup melihat ketiga jenazah berjajar di ruang tamu rumahnya. Apalagi saat di rumah sakit tadi dokter Wira mengatakan ada kemungkinan Shisi memang sedang mengandung anak ke tiga dan itu membuat Brian semakin stress. Rival dan Gandhi sudah datang.
Rival langsung memeluk putranya yang hanya bisa meratapi kepergian Shisi.
"Mana pistol papa???? Bunuh aku saja pa. Aku nggak kuat Shisi pergi meninggalkanku" ucapnya tak memiliki tenaga. Papa Ghandi menenangkan istrinya yang menangis memeluk jenazah putri dan kedua cucunya.
"Brian..!! Hidup mati di tangan Allah, ikhlaskan ya le..!!" bujuk Papa Rival.
"Kembalikan Shisi padaku pa. Aku sangat mencintai dia" ucap Brian menguatkan diri untuk bicara.
"Bang Ben.. mana sangkurmu??? Aku mau menyusul Shisi" teriaknya dengan kalap.
"Brian.. Mungkin Allah lebih sayang istri dan anakmu" kata Bang Arben.
"Abang mau pisah sama Dira???"
__ADS_1
"Aku nggak mau Shisi kemana-mana. Aku mau Sishi pulang..!!!"
Tak ada yang sanggup menjawab pertanyaan Brian. Percuma saja membujuk Brian saat ini. Hati dan pikirannya sedang buntu.
...
"Sudah ikhlas pak??" tanya seorang ustadzah pada Brian.
Brian masih belum menjawab saat ustadzah akan menutup kain kafan Shisi dan kedua buah hatinya.
"Ibu cantik sekali. Pasti mengandung anak sholehah untuk pak Brian" ucap ustadzah kemudian menutup wajah almarhumah Shisi dengan sempurna.
Brian bersandar lemas di dada Bang Arben. Betapa hancur lebur hatinya saat ini.
-_-_-_-
Ini di liang lahat kedua Brian menidurkan buah hatinya, di peluk dan di ciumnya putri kecil yang baru bisa mengenali dirinya saat Brian menggendongnya. Di timangnya sebentar sebelum ia benar-benar menidurkan buah hatinya bersama Shisi.
"Baik-baik sama mama ya cantik. Adek, kakak dan Mama tunggu Papa ya..!!" tangis Brian mulai tak terbendung lagi. Ia pun segera menidurkan buah hatinya lalu mengumandangkan adzan.
#
Brian di tarik Arben dan beberapa anggota lain dari liang lahat Shisi karena Brian sudah tidak punya tenaga lagi.
...
"Shisiiiiiiiiiiiii... tega sekali kamu sama Abang. Sakit hati Abang kamu tinggal begini" ucapnya meratap di atas tanah berhias indahnya bunga yang menyakitkan.
"Bagaimana Abang bisa lalui hari tanpamu?? Abang nggak sanggup hidup tanpa kamu"
Brian memercing meremas dadanya yang tiba-tiba terasa sakit seketika membuatnya tidak bisa bernafas dengan benar. Brian mengejang sesaat kemudian terkapar tanpa daya.
"Bantu saya angkat Brian..!!" pinta Pak Arben.
Anye memeluk Bang Rinto dengan erat, ia masih tak percaya Shisi yang selama ini menjadi sahabatnya pergi begitu cepat membawa kedua buah hati dan calon anak Bang Brian. Karena terlalu berpikir keras, Anye lemas memeluk Bang Rinto.
"Thomas.. kamu kembali ke asrama sama saya., kemudikan mobilnya. Istri saya pingsan..!!" perintah Rinto pada Thomas.
...
"Abaaaang.." Anye menggigau sejak tadi. Rinto tau istrinya terlalu terbawa perasaan.
"Ini Abang dek..!!" Bang Rinto mengusap tangan Anye agar istrinya segera membuka matanya.
Perlahan Anye membuka mata dan melihat Bang Rinto sedang menggenggam tangannya.
"Kamu ini kenapa? Culun sekali. Harusnya kamu berdoa agar rumah tangga kita selalu dalam lindungan Allah. Bukan berkhayal yang tidak-tidak" tegur Bang Rinto.
"Anye kepikiran Bang Brian yang begitu sedih" kata Anye.
"Abang cemburu lho dek. Bisa-bisanya kamu memikirkan pria lain selain Abang" ucap Bang Rinto mengalihkan pikiran Anye. Sebenarnya ia pun terbawa suasana dan mentalnya down seketika saat melihat Brian yang begitu menyedihkan. Batinnya ikut tercabik merasakan penderitaan sahabatnya.
"Bukan Bang.. Anye hanya tak sanggup membayangkan rasa kehilangan" jawab Anye.
"Abang ngerti sayangku. Maaf Abang hanya ingin kamu tidak berpikir macam-macam"
***
Dira menghidangkan minuman untuk keluarga. Acara tiga hari meninggalnya Shisi dan anaknya baru saja usai. Istri Arben juga jadi tidak tega melihat Brian hanya diam dan merokok kehilangan semangat hidup.
Tak ada sepatah kata pun yang di ucapkan suami almarhumah Rashi Inugara.
"Bang, temani Bang Brian dulu. Sejak kepergian Shisi, Bang Brian tidak makan" kata Dira.
"Abang kesana dulu ya dek..!!"
Dira mengangguk dan duduk menunggu bersama Papa, Rival dan Mama Shila. Anak-anak sedang bermain bersama Om Gata dan Tante Lilan.
"Bri.. Makan dulu. Abang ambilkan makan ya..!!" bujuk Arben.
"Aku nggak lapar Bang" jawab Brian.
"Jangan menyiksa diri. Semua sudah suratan takdir" kata Bang Arben.
"Berat sekali rasanya Bang. Aku ingin menyusul Shisi. Aku rindu dia.. rindu anak-anakku" suara berat terdengar dari duda baru itu.
Menahan tangisnya bukan perkara mudah hingga sakitnya meremukan seluruh hati.
Rinto yang kebetulan menjadi pengawas jalannya acara kemudian ikut duduk di samping Brian bersama Bang Arben.
"Lepas tangismu. Selesaikan sekarang juga..!!"
Brian menatap mata sahabatnya itu. Tak lama tangis Brian benar-benar pecah. Brian benar-benar hancur menangis berguling-guling masih belum sanggup menerima kepergian Shisi.
"Istighfar Bri..!!" Rinto mendekap dan mengusap dada Brian dan memijat kening sahabatnya itu hingga tenang. Papa Rival terpejam tak sanggup berkomentar apapun.
"Astagfirullah hal adzim.." ucapnya lirih sekali sampai nafasnya melemah.
"Mulai lagi Bang. Kita infus saja di kamar" kata Rinto melihat Brian sudah diam.
"Ayo..!!"
"Gata.. Bantu pindahkan Abangmu ke dalam kamar..!!" perintah Bang Arben.
...
"Ternyata berat sekali jadi duda ya Rin" tanya Brian. Suaranya tercekat, ia kembali menitikan air mata.
"Nikmat sekali. Jangan pernah berburuk sangka pada Tuhanmu. Allah Maha Baik.. Tak ada yang tau rencananya, Allah tidak akan memberi cobaan pada sesuatu yang kamu tidak akan sanggup melaluinya. Bagaimanapun caranya.. bagaimanapun beratnya.. jalani dengan ikhlas.. perih di hati pasti akan sembuh seiring berjalannya waktu" ucap Rinto mencoba memberi semangat baru untuk Brian.
***
"Semoga tempatmu disana nyaman ya ma. Jaga anak kita disana..!! Papa akan selalu mendoakan yang terbaik untukmu supaya lapang jalanmu disana. Berat sekali rasanya satu minggu ini kamu tinggalkan ma" ucap Brian menghapus air matanya.
"Ma.. mengenalmu adalah hadiah terindah seumur hidup papa. Biar kita sudah sampai disini, doa papa akan selalu mengalir untukmu. Papa berusaha untuk kuat meskipun batin ini tidak kuat. Tempatmu akan selalu ada di hati papa"
Bang Brian mencium papan nisan almarhumah Shisi. Air matanya mengalir berjatuhan.
Kamu bukan hilang sayang. Kamu hanya istirahat. Rebahkanlah tubuhmu yang lelah. Terima kasih telah memberi kebahagiaan untuk Abang. Meskipun raga ini tak bisa menyentuhmu lagi, tapi hati ini masih sanggup merasakan hadirmu. Terima kasih pernah membuat Abang merasakan menjadi suami sekaligus ayah walaupun hanya sekejap mata. Biar Allah menghapus seluruh dosamu dan membalas budi baikmu sayang.
.
.
__ADS_1
.