Di Ujung Peluru 2 & 3 (Hati Sang Prajurit)

Di Ujung Peluru 2 & 3 (Hati Sang Prajurit)
92. Sedikit lagi.


__ADS_3

"Candra.. Ini teguran terakhir kali buatmu ada atau tidak ada niat dalam hatimu."


"Saat itu saya refleks Bang. Rinto sedang bertanya dan saya menjawab asal saat Nissa mendekati Rinto. Untuk itu saya mohon maaf..!!"


"Saya harap lain kali kamu tidak mengatakan hal yang bersifat sensitif di keluarga saya atau kamu kembali saya tugaskan di pelosok" ancam Rama.


"Siap Bang. Maaf..!!"


***


Dalam perjalanan, Rinto sudah memposisikan letak yang akan menjadi target pencarian.


"Batas waktu kita paling lama hanya dua setengah bulan saja untuk menyisir lokasi tersebut"


"Siap Dan..!!"


"Kali ini harus hati-hati, bisa saja wilayah tersebut masih terkepung musuh" kata Rinto mengingatkan.


Rinto mulai mengingat saat buruk itu terjadi.


flashback on..


"Merunduk...!!"


Boooommm....


"Ezhar, awas..!!!!!!" Bang Rinto menarik lengan Ezhar dari hujan peluru. Musuh mulai menembak.


Rinto mulai memberondong musuh yang sudah menembak beberapa anggotanya.


"Pergi dari sini Ezhar..!!!!!!" perintah Rinto.


"Nggak Bang, Anye sedang hamil, dia butuh Abang" kata Ezhar.


"Anyeku pasti mengerti keadaan ini, cepat pergi..!!!"


Tembakan terus mengarah pada para pasukan. Posisi Rinto dan Ezhar begitu sulit hingga mereka tiba di tepi sungai berarus deras.


Dua helikopter sudah membidik hingga sisa para pemberontak itu lari tunggang langgang. Tali sudah menjulur agar Ezhar bisa naik.


"Naik lebih dulu, Cepat Ezhar.. waktu kita tidak banyak. Abang naik kalau seluruh pasukan sudah terangkat.." ucap Rinto sambil menunggu anggotanya naik. Ia berjaga disana memasang mata dan telinga.


Tali berayun kuat, Ezhar naik perlahan.


dooorr.. doooooorr...


Dua tembakan menembus sisi kiri dada Rinto. Darah menyembur dan mengucur meskipun mungkin tidak dalam. Sebuah lemparan batu menghantam helm baja sang Danki.


"Abaaang..!!!!!!!" Ezhar kaget melihat Abangnya tumbang. Tengkuknya terhantam keras namun ia masih sadar.


Ezhar melompat dari atas dan berlari menolong Abangnya. Dalam keadaan lemah Rinto memberi kode agar pasukan jangan turun kembali.


"Pulanglah.. Istrimu menunggu..!!" ucap Bang Rinto lirih di sela kesadarannya.


"Abang jangan bodoh.. Anye kurus sekali, dia tersiksa sekali menunggu Abang. Aku lebih baik mati daripada melihat Anye menangisimu Bang" pekik Ezhar.


"Kamu bukan bujangan lagi. Kamu juga punya keluarga.." ucap Rinto.


"Eegghh.." Rinto menahan kuat sakitnya.


Ezhar mengambil tali di sekitarnya lalu melilitkan pada pinggang Rinto.


"Jaga Anye Bang.. Sesekali tolong perhatikan Nissa untukku" pinta Ezhar lalu melompat ke ngarai yang lumayan curam lalu hilang bersama derasnya air terjun.


"Ezhaaaaar..Bodoh..!!" umpat Rinto namun semakin ia berteriak, kekuatannya semakin melemah, ia tidak sadar dengan sempurna dan para anggota menarik Rinto hingga ke atas helikopter.


Flashback off..


Kesesakan itu kembali muncul. "Kenapa kamu bisa sebodoh itu Ezhar? Andai tanganku sanggup menggapaimu saat itu, pasti tidak akan begini jadinya" sesal Rinto.


"Optimis Dan.. sesuai kata hati" ucap Alex menyemangati Dankinya.


***

__ADS_1


Entah sudah berapa lama Rinto pergi. Pakaian basah dan kering di badan.


"Hhkk.. Alex tolong, saya butuh sekali air panas" pinta Rinto. Ia terus saja muntah mulai pagi hingga hari menjelang malam. Tubuhnya lemas sekali, badannya juga demam.


"Baik Dan..!!" Alex segera merebus air bersih kebetulan air disana juga masih alami dan segar.


"Buka baju, sini aku kerokin.. Kamu pasti masuk angin" kata Brian yang akhirnya masuk dalam misi kali ini.


...


"Kamu tinggal saja aku disini..!! Rutenya ke arah barat daya di titik ini..!!" tunjuk Rinto di atas kertas sebagai petunjuk.


"Kau sudah gila ya??? Kita gendong kamu bergantian juga bisa. Nggak ada main tinggal begitu..!!" kata Brian.


"Dua hari ini aku begini Bri.. Lemas sekali rasanya. Memegang senjata saja aku sudah nggak sanggup" ucap Rinto sudah seperti orang mau mati.


"Lu nggak cepat pulang, banyak laki lain yang nyamber istrimu. Mauuuu????" tanya Brian seolah menjadi ancaman.


"B*****n, Anye itu milikku sendiri"


Brian tersenyum karena sempat-sempatnya Rinto mengumpat tajam kalau sudah menyangkut istrinya.


***


Anye menata tumpukan berkas sambil sesekali mengajak Seno bercanda setelah menyuapinya makan. Ia rindu sekali sekali dengan suaminya. Satu setengah bulan ini terpisah dari sang suami. Tiba-tiba di laptop Bang Rinto berbunyi sesuatu. Ada notifikasi masuk. Anye duduk di kursi milik Danki A dan membuka notifikasi tersebut.


Disana muncul lagu indah yang liriknya..


Engkau adalah penuntun hatiku


Engkau adalah pengukir jiwaku


Yang memberi kedamaian


Dan tak bisa kuungkapkan kepadamu


Kutemukan sepercik keteduhan jiwa


Menyentuh sekujur tubuhku yang lemah


Aku tahu yang kurasakan


Semoga aku masih bisa


Melewatkan masa separuh putaran bumi


Jalanku tak panjang


Mungkin untuk bisa menuai waktu


Bersama dirimu


Engkau adalah pelumpuh cintaku


Engkau adalah pelipur tangisku


Yang memberi kekuatan 'tuk menapak


Lebih jauh harapanku


Bersamaan dengan munculnya video kebersamaan Anye dengan Bang Rinto hingga lahirlah baby Seno ke dunia. Ada rangkaian tulisan indah di dalamnya.


"*Dari atas awan...


Kuperlihatkan siluetnya melayang-layang


Di atas layang layang


Ada nama dia disana sedang melayang


Dari atas air.


Kulihat wajahnya dalam pantulan

__ADS_1


Di atas perahu kertas


Ada nama dia disana bergerak searah gelombang.


Dari atas bumi..


kulihat dirinya semanis..secantik bunga Anyelir.


Di atas bumi ini saksi kupetik bunga Anyelir..


Ada nama dia disana bergerak menembus ruang hati.


Wanginya, wujud nya.. seindah namanya.. Anyelir..


Happy Anniversary ke dua tahun


dari Abang Rinto untuk Diajeng Anyelir Senja Timur*"


Air mata Anye menetes, ia sangat merindukan suami tercintanya. Tangis itu terhenti saat ia mengingat sesuatu.


"Kapan aku terakhir......?????"


Anye melirik kalender kecil di meja Bang Rinto.


***


Alex mendapatkan air kelapa muda dan segera meminumkan sedikit demi sedikit air kelapa muda itu ke bibir Rinto meskipun sedikit memaksa.


"Minumkan terus..!!" kata Brian sambil menggosok tangan Rinto agar segera sadar.


Brian mengamati gambar yang di jelaskan Rinto. Ada satu jalan yang ia tidak tahu kemana arahnya dan itu adalah lokasi mereka saat ini. Hanya Rinto saja yang bisa membuka jalan itu tapi kini pria itu sedang berjuang keras melawan 'sakitnya'.


"Istighfar Rin.. Ingat anak istrimu? Kamu harus berusaha makan, tenagamu habis.. kamu kurang cairan" Brian ikut menangis melihat kondisi Rinto. Bukan hanya Brian, tapi rekan lainnya pun juga tak kalah sedih melihat kondisi Rinto.


Rinto mendengar suara rekannya tapi sungguh sulit sekali ia berusaha untuk bangun. Perlahan ia mencoba membuka matanya.


"Bri... di atasmu ada ular..!!" ucap lirih Rinto pertama kali.


Brian mendongak, benar saja ada seekor ular menjuntai hampir menjatuhi dirinya. Brian langsung menangkap kepala ular tersebut.


"Rasanya aku mau makan kalau ular itu kamu yang masak" kata Rinto.


"Gila.. yang bener Rin bisa makan ular ini, hampir satu minggu perutmu kosong. Ini sulit di cerna"


"Aku mau yang itu" Pinta Rinto.


Para anggota saling pandang.


"Saya ada akal... Ayo gerak..!!!!" kata Brian.


...


Para anggota mulai bergerak, ada yang mengambil talas hutan, daun pakis dan tentu saja ular tersebut.


Brian memasaknya hingga menjadi bubur, ia mencoba segala hal agar Rinto bisa makan.


...


"Makan ini, kamu coba dulu..!!" Brian menyuapi Rinto yang masih lemas bersandar pada sebatang pohon.


"Alhamdulillah... akhirnya mau makan juga Rin. Sudah seperti punya bini muda aja nih gue momong bujang lokal macam begini" ucap Brian setengah menggerutu.


"Bawel banget sih Bri.. Ikhlas nggak??"


"Iyeeee.. ikhlas..!!" jawab Brian menahan tawanya.


Ada sedikit kelegaan di hati para anggota tim.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2