
Pelan-pelan Bang Zaldi mengangkat Arnes, tapi istrinya itu berontak.
"Neng Popon nggak mau di bawa ke rumah sakit. Nanti mual katanya" tolak Arnes.
"Oya?? Neng Popon bilang apalagi?" tanya Bang Zaldi tiba-tiba jadi bodoh mendadak jika sudah panik.
"Nggak mau pergi ke rumah sakit. Maunya di manja papanya di rumah" jawabnya manja.
"Ya sudah, di rumah aja ya. Abang hubungi Noe sebentar.."
...
Dokter Immanuel bingung harus menjawab apa. Saat di telepon tadi Bang Zaldi terdengar begitu panik seperti ada bencana gawat darurat. Matanya memandang satu wajah keluarga Ibu DanSat yang menatapnya penuh ancaman tapi tidak dengan Bang Zaldi yang memasang wajah kecemasan.
"Aahh.. ehm.. begini ya. Memang sebaiknya istri Abang di rumah saja. Suasana rumah sakit akan mengganggu ide cemerlang.. eehh maksudnya bayi Abang"
"Begitu ya.. tapi bayiku aman khan?" tanya Bang Zaldi.
"Aman Bang, jangan khawatir" jawab Dokter Immanuel.
Bang Zaldi melirik Arnes sambil membuang nafas lega.
"Mau copot jantung Abang dek. Kalau neng Popon ada apa-apa.. lebih baik Abang minum racun"
"Anaknya doank nih Bang? Mamanya nggak??" celetuk Arnes sengaja memonyongkan bibirnya.
Bang Zaldi berjongkok di samping ranjang Arnes dan memegangi tangan istrinya.
"Jangan begitu sayang..!! Cemas dengan anak sudah pasti cemas sama mamanya juga. Mana ada Abang melewatkan kamu selama ini"
Bang Zaldi merapikan pashmina penutup kepala Arnes karena ada dokter Immanuel disana.
"Dia masih kecil sekali. Percayalah cinta Abang tidak akan terbagi" ucapnya menggoda Arnes.
tok..tok..tok..
"Bang.. ijin..!!"
Bang Zaldi langsung menoleh menatap Om Adi.
"Ada pancaran??"
"Siap ada"
:
"Aduuhh.. duwit lanang Iki, panas..!!" kata Bang Zaldi saat mendapat laporan dari Letda Adi bahwa ada uang sisa operasional yang turun dari pusat.
"Maksudnya Bang?? Istri nggak boleh tau gitu??" tanya Bang Bima.
"Yaa.. iyalah seharusnya. Tau sendiri khan fungsi uang operasional ini untuk apa saja kemarin. Booking perempuan, beli obat, modal penyamaran. Haram ini kalau menurut saya. Ya tapi terserah kalian sih. Saya minta bagian saya di alihkan untuk urusan Kompi seperti ganti lampu rusak, service truk reo" jawab Bang Zaldi.
"Hmm, saya ikutan lah Bang, kepikiran juga nih Puri lagi hamil" kata Bang Bima.
"Waduuhh.. kita beda kesatuan nih. Aku belikan sembako untuk orang-orang saja lah" sela Bang Bayu.
"Lah, saya buat apa donk Bang? Ijin Bang, bagaimana kalau kita 'syukuran' kecil-kecilan. Ijin arahan Abang"
"Yo wes lah ayo budhal..!!" jawab Bang Zaldi merestui.
-_-_-_-_-_-
Hari ini Bang Zaldi melaksanakan kegiatan ringan saja di kantor dan lebih fokus pada mini zoo nya. Ia menyadari tenaganya tidak lagi sesehat dulu. Jika terlalu memaksa melakukan banyak kegiatan, badannya akan terasa remuk tapi jika tidak bergerak.. rasanya pun tidak nyaman karena Bang Zaldi termasuk pria yang aktif dan energik.
Sore hari tiba, para anggota usai melaksanakan apel sore.
"Jam berapa lajur?" tanya Bang Zaldi pada Om Adi.
"Jam delapan saja Bang..!!" ajak Om Adi.
__ADS_1
Bang Zaldi mengerutkan keningnya tapi ia tetap menghargai ajakan juniornya itu.
...
"Iiihh.. nggak mau di tinggal, Arnes ikut Bang" rengek Arnes tidak terima Bang Zaldi berpamitan untuk patroli di sekitar Kompi.
"Oalah, Abang mau kerja lho dek" pamit Bang Zaldi karena tidak biasanya Arnes rewel saat akan di tinggal berangkat kerja.
"Sebentar aja, nggak lama kok"
Arnes memalingkan wajahnya tak ingin mendengar ataupun melihat Bang Zaldi lagi.
"Mau di bawakan apa? Martabak ya?? Atau kwetiau goreng? Nanti Abang minta anak-anak antar kesini" tanya Bang Zaldi.
Arnes tetap diam seribu bahasa.
Mati aku.. aman nggak nih pergi tanpa restu. Bisa mati kena kutuk kalau Arnes tau aku nggak patroli.
"Abang pergi sebentar ya dek..!!"
...
Bang Zaldi tak kalah kagetnya seperti Bang l Brewok..!! Gila ya.. lu mau bikin kita bercerai sama bini?????" tegur Bang Zaldi.
"Maaf Bang. Bujang lagi gabut, nggak punya pacar. Mau kesini sendirian takut kebablasan" ucap jujur Om Adi.
"Lebih baik kita nongkrong di angkringan aja. Aman.. nggak ada perempuan. Kalau Arnes tau, Abang bisa di sangkur..!!" saran Bang Zaldi.
"Tapi saya kesini mau cari pacar Bang"
"Astagfirullah hal adzim.. kamu cari pacar disini??? Anakmu dadi opo brewok?????" Bang Zaldi sungguh tidak paham dengan jalan pikiran Adi.
Tidak ada kata tersinggung dari Bang Bima meskipun ucapan Bang Zaldi bisa saja membuat Bang Bima tersinggung. Bang Bima hanya mengambil sisi positif dari ucapan Bang Zaldi.
"Zaldi benar. Tidak seharusnya kamu cari jodoh di tempat seperti ini. Banyak faktor dan alasan, itu juga tidak bisa di sama ratakan dengan apa yang saya alami" jawab Bang Bima.
"Begini saja.. kita duduk sebentar. Sayang sekali sudah masuk sampai sini. Kita nikmati saja masa 'bujang' yang hanya dua jam ini" kata Bang Bayu yang sebenarnya hanya menghibur keapesan Adi saja.
...
"Nggak.. terima kasih" tolak Bang Zaldi pada seorang wanita yang tiba-tiba duduk bergelayut di lengannya. Bang Zaldi menepis wanita yang kemudian bersandar di bahunya. Wanita yang kesal itu kemudian pergi.
Dentum music yang asyik membuat keempat perwira tersebut bergoyang mengikuti irama.
"Ayo turun sebentar Bang terus ke angkringan" Om Adi mengajak Bang Bayu.
"Ayo..!!!" Bang Bayu melirik dan menarik tangan Bang Bima yang sedang memonitor ponselnya, Bang Bima tak mau salah sendiri, ia menarik yang sedang minum minuman ringan.
Para perwira terbawa suasana dan bergoyang tanpa beban.
"Hhkkk.." Bang Zaldi berlari ke toilet.
"Aduuuhh.. Zaldi mulai drama tuh. Kita keluar aja yuk Bim..!! Bini kita lagi hamil. Saya takut kualat. Jangan sampai penyakit Zaldi menular ke kita juga" kata Bang Bayu.
:
Bang Bima dan Bang Bayu memapah Bang Zaldi yang sudah sulit berjalan. Badannya begitu lemah karena isi perutnya terkuras habis.
"Naahh pas. Brewok..!! Di seberang jalan ada yang jual minuman. Kamu beli ya..!! Zaldi sudah nggak kuat ini. Jangan sampai pulang dengan keadaan begini, kita bisa di hajar rame-rame sama istri" perintah Bang Bayu.
"Siap Bang"
Setelah beberapa menit, Om Adi datang membawa sebuah botol dan memberikan pada Bang Zaldi yang sudah setengah sadar.
"Iki opo??? Aku wes mabuk.. brewookk.. Iki tuak..!!!!" Bang Zaldi geregetan karena juniornya itu tidak tanggap darurat situasi seperti ini.
Bang Bayu sampai menepuk dahinya.
"Saya tunjuk penjual bandrek. Bukan tuak"
__ADS_1
Saat sedang berdebat berdirilah seorang pria di hadapan keempat pria tersebut.
"Opaa???" ekspresi Bang Zaldi dan Bang Bima sangat kaget.
"Ayah..!!" Bang Bayu pun tak bisa menyembunyikan rasa kagetnya.
"Ijin.." Om Adi menegakkan badannya.
Tapi di banding itu semua tatapan mereka tertuju pada Arnes, Puri dan Mey yang berdiri di belakang ex Dan Rama Satria. Jantung mereka seakan berterbangan entah kemana.
"Katanya Abang patroli..!!!!!" kata Arnes.
"Abang bilang rapat di kantor..!!!" tegur Mey.
"Katanya Abang mau ketik proposal?" tanya Puri.
Ketiga pria beristri itu seakan kehabisan kata dan tak punya alasan untuk menjawab pertanyaan ketiga wanita paling berbahaya di dunia.
Bang Zaldi sudah cemas, saking cemasnya ia sampai kembali muntah.
"Kalian ini.. amatiran tapi masih bisa berbuat onar. Push up kalian semua..!!!" perintah Opa Rama.
"Siaaaap..!!!!!" keempat pria itu langsung mengambil tempat tak ingin berdebat dengan sang black mamba.
"King aligator kok mendeman" ledek Opa Rama pada Bang Zaldi.
"Ahggghhhgghh.." Bang Zaldi ambruk, badannya benar-benar lemas.
"Dek.. maaf.. ampun..!! Abang nggak kuat, sesak sekali ini. Sakiiiit...!!" ucap Bang Zaldi pada Arnes.
"Harusnya si dedek juga hukum papanya begitu" kata Mey.
"Nggak.. nggak.. biar Zaldi aja. Abang nggak mau" jawab Bang Bayu.
"Abang kok gitu sih??" Puri menutup wajahnya sambil menangis.
Opa Rama tertawa jahat berhasil mengerjai menantu dan kedua cucunya.
Arnes terdiam melihat Bang Zaldi memohon padanya tapi air matanya sudah berlinang.
"Abang benar-benar nggak bisa di percaya. Arnes salah apa sama Abang sampai Abang harus bohongi Arnes seperti ini??? Abang mau Arnes di tawar om-om" ucapnya begitu kesal dan sedih.
"Ingat anak perempuan Abang masih di perut..!!"
"Abang jelasin dulu perkaranya dek..!!"
"Halaahh.. Arnes sudah malas dengan semua alasan Abang. Selama satu bulan nggak ada jatah pungli"
"Laahh.. Iyo khan..!! Aduuuhh.. malah buyar ra karuan" Bang Zaldi mulai panik.
"Kamu besok terima akibatnya Di.." ancam Bang Zaldi.
"Siap salah Abang"
Sekuatnya Bang Zaldi berdiri. Karena tidak kuat, akhirnya ia memilih untuk duduk di bangku taman depan cafe.
"Maa.. sayangkuu.. cintakuu..!!" Bang Zaldi meraih jemari Arnes.
"Jiiaaahh.. Jangan percaya sama kadal satu ini" kata Opa Rama sengaja menjadi kompor.
"Opa please.. Usrok bisa masuk angin"
Dalam hati.. Opa Rama sudah tertawa terbahak. Begitulah laki-laki. Seperti apapun keadaannya.. 'kebersamaan' itu pasti akan selalu terbayang dalam benak seorang suami apalagi istri sudah menjadi candu meskipun dalam rumah tangga tidak hanya itu saja yang menjadi alasan utama.
.
.
.
__ADS_1