Di Ujung Peluru 2 & 3 (Hati Sang Prajurit)

Di Ujung Peluru 2 & 3 (Hati Sang Prajurit)
43. Menggenggam tanganmu


__ADS_3

Rasanya siang ini dahaga terbayar lunas karena pak Danki memborong es dawet ayu dan gorengan di sekitar Batalyon.


"Sudah selesai hausnya? Mau apalagi?" tanya Bang Rinto.


"Nggak ada Bang" jawab Anye, refleks Anye langsung bersandar di dada bidang Bang Rinto, manja sekali. Bang Rinto tidak menolak, menghindar pun tidak.


"Kenapa tanganmu lecet??" Bang Rinto mengambil dan melihat tangan Anye yang tergores dan sedikit berdarah.


"Nggak ada apa-apa Bang. Namanya juga kurve. Wajarlah kalau sedikit lecet" kata Anye.


"Bukannya kamu punya sarung tangan? Seperti angkat berat aja kamu" tegur Bang Rinto.


"Disini banyak om-om yang bisa di mintai bantuan. Abang juga bisa bantu. Kasar sekali tanganmu ini" Bang Rinto sungguh tidak suka melihat tangan istrinya yang berubah menjadi kasar. Itulah sebabnya Bang Rinto mengijinkan Anye pertukaran mahasiswa agar ilmunya bisa di gunakan untuk teori tapi memahami prakteknya daripada harus praktek dan membuat tangan lecet tak karuan.


Semua orang yang berada tidak ada yang berani bicara tanpa arahan Bu Danki. Mereka paham bagaimana tegasnya Rinto jika sudah menyangkut tentang istrinya.


***


"Aduuhh.. yang begitu itu pasti istri anggota di bawah suamiku. Cantik sih.. tapi pangkat suamiku jauh lebih tinggi" gumam Bu Bowo.


"Kenapa dek??" tanya Bowo saat mendengar istrinya bergumam sendiri.


"Itu lho mas. Ada istri anggota baru..songong banget. Masa kerja ini itu nggak bisa. Kelihatan masih muda mas. Angkat pot aja nggak kuat" kata Nova.


"Pot??? Pot dimana?" tanya Bowo.


"Di ruang para pengurus cabang" kata Nova dengan santai.


Bowo menepis ingatannya soal Anye tadi siang pasalnya wanita yang disebut sang istri adalah bawahannya sedangkan Anye adalah istri atasannya.


"Arahkan baik-baik lah dek"


"Beres lah kalau sama aku mas"


***


Anye menggigit bibirnya seperti menahan sakit saat Bang Rinto mendekapnya erat. Tapi ia sama sekali tidak berani mengatakannya pada Bang Rinto. Belakangan ia merasakan nyalinya seakan hilang, lebih kalem, mudah sedih dan tidak ingin cari ribut.


Bang Rinto bernafas lega setelah selesai bersama Anye.


"Kenapa sayang? Abang kasar ya?" tanya Bang Rinto yang belakangan juga heran dengan perubahan sikap istrinya yang lebih kalem dan manis.


"Nggak.." jawabnya sambil sesenggukan.


Bang Rinto menghapus air mata yang meleleh di pipi Anye.


"Bilang dek. Abang khan jadi nggak tau salahnya Abang kalau kamu cuma nangis"


"Nggak ada apa-apa kok Bang"


Mendengar itu Rinto pun lega. Merasa masih nyaman dengan posisinya, Sisa surga dunianya juga belum hilang.. Bang Rinto melanjutkan lagi kegiatannya.


***


Panggung mulai di buat untuk acara dekorasi. Anye mengarahkan para istri anggota untuk membantunya menata setting untuk rencana tempat perjamuan menjadi perjamuan outdoor.


"Ya ampun.. apa kamu nggak ada kerjaan selain melihat saja orang yang susah payah bekerja??" tegur Bu Bowo.


Dari jauh para anggota melihat Bu Bowo sedang menegur istri Danki.


"Saya harus apa ya ibu?" tanya Anye. Kepalanya sudah berkunang-kunang tak jelas melihat segala apa yang ada di hadapannya.

__ADS_1


"Bawa pot ini naik ke panggung"


"Maaf ya Bu, kalau pot ini di bawa naik takutnya akan tertendang dan mengenai orang kalau mungkin ada anggota yang sedang menikmati panggung prajurit" tolak Anye.


"Bu Danki meminta saya mengarahkan seperti itu" kata Bu Bowo.


"Bu Bowo... maaf ya....." tegur seorang om-om remaja.


"Sudah om. Apa om mau melanggar perintah Bu Danki. Biar Bu Rinto saja yang lakukan" perintah Bu Bowo.


Om tersebut sampai ternganga mendengar celotehan istri seorang Sertu Bowo.


"Sudah om..!! Biar saja.. tidak usah banyak ribut" ucap Anye karena sebenarnya ia sudah merasa tidak kuat merasakan tubuhnya.


"Om minggir saja, ini urusan perempuan"


...


"Siapa yang letakan buah jeruk itu disana???" teriak Rinto membuat para anggotanya menoleh ke arah Danki.


"Saya Danki.." jawab seorang anggota remaja.


"Letakan jauh dari sini.. Mual saya lihatnya. Baunya ya ampuun" gerutu Rinto. Brian sampai bengong melihat Rinto yang dari tadi menyingkirkan sesuatu yang berbau tajam.


Dari tempatnya Rinto melihat Anye sedang menaikan pot. Rinto pun berjalan mendekat ke arah istrinya.


Hwaaaaa....


bruugghh...


"Ya Allah dek..!!!!!" Bang Rinto segera berlari saat melihat Anye terjatuh dari atas panggung.


"Kenapa naik tinggi sekali. Ini panggung belum ada tangganya" kata Rinto saat melihat Anye terjatuh dari atas panggung.


Bowo pun ikut mendekati sekitar panggung karena mendengar ucapan keras Dankinya.


"Maaf ya, itulah kalau kerja nggak hati-hati" ucap Bu Bowo.


"Apa sih kamu dek??" Bowo menarik lengan Nova.


"Ini lho Bang istri anggota Abang yang aku ceritakan kemarin" kata Nova dengan sombongnya.


"Astaga.. kamu mau buat Abang mati di jungkir Danki dek?????????" pekik Bowo.


"Aarrgghh... Sakiiit..!!!" Anye memeluk sampai mencengkeram kaos Bang Rinto.


"Saya tunggu penjelasan kamu di ruangan saya..!!!" tatapan mata tajam Rinto pada Bowo tidak terelakan lagi.


Rinto segera membawa Anye keruangannya.


...


"Bagian mana yang paling sakit?" tanya Bang Rinto.


"Sini..!!!" Anye meremas perut bawahnya.


Tanpa meminta persetujuan Anye, Bang Rinto 'membongkar' istrinya dengan paksa.


"Baaaanngg..!!!" pekik Anye.


"Hhsstt.. Jangan berisik..!! Malu kedengaran orang" tegur Bang Rinto.

__ADS_1


...


Abang Rinto mengusap wajahnya dengan gusar. Jantungnya hampir berhenti berdetak. "Abang panggilkan dokter Wira ya..??" Bang Rinto berucap sendu.


"Apa saja..!!!" teriak Anye sudah tidak tahan lagi karena merasa semakin kesakitan.


...


"Besok ke tempat praktek saya ya..!! Kalau seperti ini kemungkinan besar istrimu hamil Rin" kata dokter Wira.


Rinto mengusap kening istrinya, ada rasa bahagia di balik tatapannya yang begitu sendu. Rasa sakit Anye sudah berkurang saat dokter Wira memberinya obat.


"Baik dok..!!"


...


Nova menunduk saat melihat nama dada Danki mereka.. Rinto Dirgantara.


"Jadi Danki mana yang perintahkan istri saya memanjat panggung tanpa tangga????" tanya Rinto dengan nada keras.


"Jawaaabb...!!!" gemuruh emosi di dada Rinto rasanya hampir meledak.


"Saya tidak tahu kalau beliau adalah istri bapak" jawab Nova dengan terbata.


"Mohon ijin Danki, saya yang salah..!! Biar saya saja yang menerima sanksinya" ucap Bowo tetap tidak tega meskipun istrinya itu sudah sangat mempermalukannya.


"Istri saya sedang hamil muda"


"Apa istrimu saja yang sedang hamil muda????" bentak Rinto tidak terima istrinya di perlakukan seperti itu.


"Ini bukan masalah jabatan. Tapi ini masalah etika. Sok senior, sok tahu, sok mengatas namakan pimpinan"


"Nggak bisa begitu pak. Ini hanya salah paham" ucap Nova.


"Tidak ada alasan. Kamu pikir kamu itu siapa berani mengatur saya. Akan saya pindahkan suamimu ke ujung timur kalau sampai ada apa-apa dengan anak dan istri saya..!!!"


"Siap salah Dan"


Rinto menekan emosinya takut Anye akan terbangun dari tidurnya.


...


Anye menangis di ranjang kecil di dalam ruang kerja Bang Rinto.


"Sudah donk sayang nangisnya.. Abang minta maaf" kata Bang Rinto membujuk Anye.


"Anye masih takut Bang" Anye sesenggukan, ia tak menyangka ulah Bang Rinto selama ini.


"Yang dulu jangan diingat. Kita hadapi sama-sama. Tapi ingat.. jangan pernah sembunyikan hal sekecil apapun dari Abang" pinta Bang Rinto.


Anye mengangguk tidak pasti. Rinto paham istrinya mungkin belum benar-benar siap, tapi ia pasti akan mengusahakan segala yang terbaik.


"Abang sudah ingin di panggil papa. Maaf kalau cara Abang membuat kamu nggak nyaman. Pahami sedikit lah sayang.. umur Abang sudah berapa. Abang juga pengen gendong anak. Masa gendong mamanya doank"


"Apa sich Abaang..!!!!" Anye tersipu malu bersembunyi di dada Bang Rinto.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2