
"Abang pergi saja kesana. Abang khan semangat sekali mau kesana" ejek Arnes.
"Ya ampun.. dia pakai acara marah segala" gumam Bang Zaldi.
"Gara-gara wadhon nih... selalu ada masalah kalau urusannya sama perempuan. Apa pula jadinya kalau Arnes tau si Nuning itu adiknya Aning. Aku saja syok dengarnya"
Belum selesai Bang Zaldi berpikir, pintu kamarnya sudah terbuka.
"Lho dek.. mau kemana kamu??" Bang Zaldi mulai resah.
"Mau pergi.. biar Abang bebas kenalan sama perempuan itu" kata Arnes.
Bang Zaldi menarik nafas panjang, tapi sebagai imam keluarga.. ia harus selangkah lebih pintar dari istrinya.
"Kalau kamu pergi, kamu akan lebih memberi kesempatan pada si Nuning untuk dekati Abang. Dia itu adiknya Aning" Jawab Bang Zaldi terpaksa jujur.
"Aning????" Arnes hampir tak percaya pendengarannya.
"Siapa yang mau pergi.. Arnes mau cuci baju ke sungai" ucap Arnes yang kembali masuk dan mengeluarkan semua pakaian kotor milik Bang Zaldi.
"Nggak usah di cuci. Nanti Abang bawa sekalian ke rumah Nuning.. Abang titip cucian kotor kesana" jawab Bang Zaldi.
Mata Arnes memerah menatap Bang Zaldi.
"Sejak kapan Abang tau kalau Nuning adalah adiknya Aning?"
"Sejak berangkat tugas kesini. Anak-anak yang bilang" Bang Zaldi memasang wajah tanpa dosa.
"Baguslah Abang buat begitu. Kenapa nggak sekalian minta Nuning urus semua kebutuhan Abang..!!!!!" Arnes membawa pakaian Bang Zaldi ke sungai.
"Kalau di bawa ke sungai sekarang pasti sudah banyak orang dek..!!" tanya Bang Zaldi.
"Siapa yang mau bawa baju Abang ini ke sungai. Semuanya mau Arnes buang..!!!" ucapnya lantang.
Para anggota lari tunggang langgang memberi muka pada Komandan mereka.
Bang Zaldi kaget bukan main melihat Arnes terus berjalan membawa pakaian dan juga seragamnya.
"Jangan di buang donk sayang. Kalau di buang Abang kerja pakai baju apa??"
"Pakai sarung aja"
"Enak di kamu lah asal intip" jawab Bang Zaldi asal.
"Maaf ya Bang. Arnes ini nggak akan terpengaruh pesona belut listrik punya Abang" teriak Arnes.
Secepatnya Bang Zaldi membekap mulut Arnes.
"Marah ya marah.. tapi jangan bahas si jago Abang disini donk dek. Pakai bilang belut listrik lagi. Kalau sudah kena sengat bakalan ngebyaaarr pikiranmu dek. Kamu jangan nantangin..!!!"
"Abang yang cari perkara, Abang juga yang mau marah??? Masalah yang nggak bisa Arnes toleransi, yang paling utama masalah wanita dan Arnes nggak main-main Bang"
__ADS_1
"Astagfirullah.. kejauhan mikirmu. Memangnya Abang buat salah apa???" Bang Zaldi ikut terpancing emosi Arnes.
"Pertama, Abang tau Nuning itu saudara Aning tapi Abang nggak pernah bilang sama Arnes. Kedua malah Abang titip cucian sama Nuning sampai dia berharap banyak sama Abang persis seperti kakaknya, Ketiga kenapa Abang nggak bilang kalau Abang sudah menikah. Abang mau terlihat bujangan disini????? Yang keempat.. dia datangin Abang untuk obatin Abang disini????? Nggak ada orang lain selain dia Bang??????"
"Ya Allah.. kenapa jadi rumit begini?" Bang Zaldi memijat pelipisnya.
"Abang jelaskan dek"
"Aaaahh.. kelamaan..!!" Arnes berjalan cepat membawa baju milik Bang Zaldi. Melihat Bang Zaldi semakin mengejarnya, semakin membuat Arnes kesal, sekuat tenaga, dari jauh.. Arnes melemparnya ke sungai.
"Ya Tuhankuuu.. Arneeeeesss..!!!!!!" Bang Zaldi segera berlari mengambil kantong berisi bajunya yang sudah setengah hanyut. Untung saja ada Righan di sana dan segera mengambil baju itu.
//
Bang Zaldi membanting kantong plastik di tangannya dengan kasar.
"Kamu boleh lakukan apapun sama Abang tapi kamu nggak boleh buang seragam yang masih melekat erat nama, pangkat dan kesatuan Abang. Itu identitas dan nyawa Abang. Kamu mau suamimu mati di bunuh pemberontak??" Bang Zaldi sedikit menaikan volume suaranya agar Arnes mengerti ada batasan yang tidak boleh dilakukan oleh istri sekalipun.
"Sekarang ikut Abang..!! Mau laki atau perempuan, mencampuri urusan dinas harus di beri pelajaran..!!" Bang Zaldi menarik tangan Arnes dan membawanya ke sekitar barak satu.
"Cabut rumputnya.. sampai habis...!!"
//
Arnes memang mempunyai sifat manja seperti wanita pada umumnya, bahkan mungkin manjanya sudah tak terkira. Tapi kalau soal pekerjaan rumah dan pekerjaan wanita lainnya tentu sudah sangat biasa baginya. Mama Anye membekali dirinya dengan banyak hal. Kini hasilnya pun bisa ia petik rapi. Hanya satu saja kelemahannya.. menggoreng ikan.
"Cepat.. Kamu cabut rumput apa cabut uban dek?? Lama sekali..!!" suara tinggi masih terdengar sejak tadi.
"Saya kasih syok terapi sedikit. Kamu tenang saja" jawab Bang Zaldi.
"Awas saja Abang. Sudah buat Arnes jadi begini, jangan harap bisa dekat Arnes lagi" gumamnya pelan, melirik Bang Zaldi penuh ancaman tapi suara berisik itu terdengar jelas sampai telinga Bang Zaldi.
"Menggerutu lagi.. lanjut ke barak dua..!!" Bang Zaldi tak kalah tajam mengancam.
"Mau sampai barak tiga juga Arnes selesaikan" ucap kesal Arnes sambil membawa peralatan kurve.
Bang Zaldi menepuk dahinya menghadapi istrinya yang keras kepala.
"Sudah..!!! Hari mulai terik. Udara disini memang dingin tapi tetap cuaca di atas kepala panas.
"Apa peduli Abang?? Pergilah ke tempat yang bisa mengurusi Abang. Abang bukannya memberi penjelasan, sekarang malah hukum Arnes seperti ini. Abang mau bela dia khan???" pekik Arnes.
"Gusti Allah.. ini apalagi sih?? Kenapa pikiranmu jadi kemana-mana???" tegur Bang Zaldi.
Arnes berjalan lagi ke barak dua. Baru beberapa meter, langkahnya terhenti.. Arnes pingsan di rerumputan yang baru saja adadi tumpuknya.
"Arneees..!!" Bang Zaldi langsung menghambur memeluk Arnes.
"Apa kubilang Bang. Arnes ini nggak tahan panas"
Bang Zaldi merasa sangat bersalah. Ia pun segera membawa Arnes ke kamarnya.
__ADS_1
//
"Abang nggak masalah kamu cemburu. Abang pahami bawaan orok dek. Tapi yang masuk akal lah sayang. Masa marah sampai seperti ini"
"Arnes terlihat cemburu???? Kalau Abang lihat ada pria yang memperhatikan, memberi perhatian dan menyelimuti badan Arnes. Kira-kira Abang ijinkan apa tidak??" tanya Arnes.
"Enak saja..!! Sini hadapi dulu suaminya, Abang sleding sampai berantakan moncongnya yang sok ganteng itu" jawab Bang Zaldi yang tiba-tiba merasa panas.
"Abang jelaskan sama kamu dan dengarkan soal pertanyaanmu tadi..!! Pertama.. Abang nggak cerita tentang Nuning dan Aning karena mereka berdua tidak ada pentingnya untuk Abang pikir atau Abang ceritakan. Kedua.. Abang terpaksa titip cucian karena Abang sakit, hanya selama Abang sakit.. Abang minta tolong, Abang bayar, nggak gratis. Abang juga pisahkan mana yang pantas di cucikan dan mana yang tidak. Ketiga.. Abang bukannya mau sengaja tidak bilang kalau kita sudah menikah, hanya belum ada kesempatan untuk bilang. Keempat.. Saat Abang sakit, yang direkomendasikan warga setempat hanya ibunya Nuning. Jadi Abang mana tau, yang Abang tau.. dia pembuat obat tradisional" Bang Zaldi sudah menjawab hal yang paling jujur.
"Bisa nggak sih Abang dan Arnes nggak ribut lagi. Saya kesal dengarnya" ucap Bang Righan menengahi mereka.
"Permisi..!!!" ada seorang wanita menyapa mereka.
Arnes, Bang Zaldi dan Bang Righan menoleh ke arah sumber suara.
"Pak Zaldi nggak ke rumah? Nggak ada cucian kotor??" ternyata Nuning kembali lagi ke kamar Bang Zaldi.
Arnes tak bisa menahan rasa kesalnya. Wanita itu langsung menghampiri Bang Zaldi ke dalam kamar.
Kamu dan Aning sama saja. Bang Zaldi juga lambat sekali usir dia.
"Astagaaa.. Kenapa kamu kembali lagi kesini.. silakan tinggalkan tempat ini..!!" Tak disangka Bang Zaldi langsung tegas. Ia sudah pusing menghadapi Arnes. Tapi istrinya juga tidak salah.
"Hhkkk.." Arnes mual dan meraih tangan Bang Zaldi.
"Cepat bawa dia keluar Bang. Kalau hamil muda Arnes mual. Sepertinya anak Abang rewel deh kalau nggak suka sama sesuatu"
"Hamiill??" Bang Zaldi masih terpaku di tempatnya, baru sesaat kemudian ia sadar dan senyumnya ia simpan dalam hati.
"Maaf ya Ning.. istri saya sedang hamil muda. Bawaannya rewel terus. Maklum anak pertama, mungkin minta sama papanya terus" kata Bang Zaldi berusaha lembut tapi menusuk.
"Jadi Pak Zaldi sudah menikah?????"
"Sudah Ning. Ini juga lagi hamil"
Nuning pun tiba-tiba berlari pulang dan tanpa di sadari menyisakan rasa geram di hati Bang Righan.
"Jadi Abang buru-buru menikahi Arnes karena Abang sudah terlanjur melakukannya???" tanya Bang Righan.
Bang Zaldi masih bingung dengan ucapan Righan.
"Jangan-jangan waktu Arnes mabuk, Abang menghamilinya" tegur Bang Righan terbawa suasana.
"Jabaaang bayiiii... Jangan asal tuduh ya Rig. Nyolek adikmu aja.............." ucapan Bang Zaldi terhenti. Tidak mungkin juga ia katakan masalah pribadi empat kali empat pada adiknya.
.
.
.
__ADS_1