Di Ujung Peluru 2 & 3 (Hati Sang Prajurit)

Di Ujung Peluru 2 & 3 (Hati Sang Prajurit)
DUP 3. 43. Mengendalikan emosi.


__ADS_3

Api berkobar hebat, panasnya sampai bisa di rasakan meskipun jarak jauh.


"Arnes..!!!!!!" Bang Zaldi ingin mendekat pada rumahnya yang hanya berjarak beberapa meter saja tapi para anggota menghalanginya.


"Jangan Dan..!! Api terlalu besar. Bahaya..!!" cegah Rafli bersama beberapa orang anggota lain.


"Istri saya sedang dalam bahaya Rafli..!!!!!" Bang Zaldi kalap dan meronta hingga terlepas dari kekangan para rekan. Bang Zaldi berlari di susul para rekan di belakangnya.


"Deekk..!!!!!!" Bang Zaldi mendobrak pintu rumahnya dengan kencang hingga pintunya terlepas, ia masuk dan mencari keberadaan Arnes.


Bang Zaldi tidak melihat Arnes di dalam rumah, ia pun kelabakan mencari Arnes dan kembali keluar rumah, berteriak seperti orang gila.. Bang Zaldi hanya melihat barang yang ia bawa dari Jawa dan seluruh dokumen penting sudah ada di halaman rumah.


"Dek.. Arneessss..!!!!!!!!" teriaknya sekencangnya. Matanya menyisir ke segala arah.


Tak lama ada semburan air yang lumayan besar perlahan memadamkan kobaran api.


"Abang.. tolong Arnes..!! Capek..!!!" suara lirih itu memanggil Bang Zaldi.


Pendengaran tajam Bang Zaldi mengarahkan matanya pada satu titik.. bawah tandon Flat A tempatnya tinggal. Tandon yang baru saja di buat atas usulan Bang Zaldi agar tidak merepotkan para istri agar tidak kesulitan untuk menimba atau memompa air untuk kegiatan sehari hari.


"Astagfirullah hal adzim.." Bang Zaldi berlari dan segera menyangga tubuh Arnes yang terguyur di bawah tandon penampungan air. Entah ada kekuatan darimana istri Lettu Zaldi itu sanggup memadamkan api yang begitu besar seorang diri.


"Sayang.. apa yang sakit??" suara Bang Zaldi tercekat mengusap di sana sini. Bang Zaldi pun ikut terguyur air dan ikut basah kuyup.


Bang Zaldi pun mengangkat Arnes masuk ke dalam rumah. Dinding berbahan kayu membuat rumah itu terasa panas karena paling dekat dengan titik api.


"Rafli.. tolong panggil dokter. Siapapun team medis. Bawa kesini..!!!!" perintah Bang Zaldi.


//


"Kalau sakit bilang sama Abang dek..!! Jangan ditahan..!!!" Bang Zaldi cemas karena Arnes seolah menahan rasa sakitnya.


"Perut Arnes sakit Bang. Seperti di remas" jawabnya jujur di pelukan Bang Zaldi. Merasa begitu nyaman.. Arnes yang lelah jadi tertidur.


Dokter pun memeriksa sesuai keterangan Arnes dan mengecek kondisi istri Lettu Erzaldi.


"Bagaimana dok??" Bang Zaldi membantu dokter wanita merapikan pakaian Arnes lagi.

__ADS_1


"Ada sedikit bercak karena tekanan dan kegiatan yang terlalu kuat. Usia kandungan trimester pertama memang rawan ya pak" kata dokter menjelaskan.


"Tapi Alhamdulillah masih aman. Hanya ibunya saja yang terlalu lelah"


Bang Zaldi duduk dengan kasar, ia baru bisa bernafas lega meskipun masih menyisakan rasa cemas dalam hati.


"Alhamdulillah.." ucapnya penuh syukur. Mata dan wajahnya memerah menahan lelehan dari pelupuk mata. Bang Zaldi ambruk dan lemas di sisi ranjang.


"Pak Zaldi..!! Bapak bisa dengar suara saya??" dokter berusaha menyadarkan Bang Zaldi.


-_-_-_-_-


"Untuk apa di buat tandon kalau akhirnya harus di bocorkan juga..!!" ucap istri senior Bang Zaldi yang tidak terima karena Arnes membocorkan pipa untuk memadamkan lumbung.


"Sekarang akhirnya kita jadi kerepotan lagi. Suaminya yang punya usul, tandon sudah berdiri, baru beberapa hari beroperasi.. eehh istrinya yang membocorkan. Niat punya usulan nggak sih???"


Bang Zaldi merasa geram karena istri seniornya itu melaporkan kesulitannya mendapatkan air akibat tandon yang sudah di bocorkan istri Lettu Erzaldi. Arnes duduk diam disana tanpa bicara, ia lebih memilih untuk menghemat tenaganya daripada berdebat.


"Ma.. sudah..!! Jangan cari ribut" tegur Bang Iman.


"Papa mau tangan mama pegal lagi karena banyak nimba air. Harusnya papa bela mama, bukan junior Papa ini" kata istri Om Iman dengan ketus.


"Aahh sudahlah.. Papa mana tau urusan perempuan. Papa hanya tau makan, minum dan tidur. Yang repot di rumah itu mama"


Bang Acep ingin menengahi karena melihat wajah Bang Zaldi sudah tidak bersahabat untuk di pandang


"Bisa diam atau tidak???" akhirnya Bang Zaldi buka suara.


"Apaa?? Mau pembelaan untuk istri?? Merasa tidak salah?? Istri tidak berpikir panjang begini kok di bela"


Sekencangnya Bang Zaldi menggebrak meja hingga membuat istri Bang Iman terdiam.


"Sekalipun istri saya mau menghancurkan tandon itu.. tidak masalah bagi saya. Apa urusanmu???" bentak Bang Zaldi tak bisa berbaik hati lagi menghadapi istri senior yang maha cerewet dan sok tahu.


"Maa.. tandon itu Om Zaldi yang buat. Bukan biaya Batalyon atau urunan perorangan" kata Bang Iman. Bu Iman ternganga bingung bagaimana caranya membela diri.


"Kalau tandon air itu di bocorkan, api itu juga bisa menyambar rumahmu. Rumah dinas kita unsur kayu. Tidak bisakah mulutmu itu di kontrol sedikit???? Tingkah istri aparat yang tidak bisa di contoh" tegur Bang Zaldi.

__ADS_1


"Zaldi.. atas nama pribadi terutama istri saya.. Saya memohon maaf yang sebesar besarnya, Saya yang tidak bisa mendidik istri saya" kata Bang Iman berbesar hati menanggung ulah istrinya.


"Abang posisikan saja diri Abang seperti yang saya rasakan. Istri saya menyelamatkan Flat A dari amukan si jago merah. Hanya masalah kecil, tandon bocor. Benda bisa di beli Bang.. kalau nyawa.. Abang mau cari dimana??? Asal Abang tau ya. Istri saya ini sedang membawa titipan dari saya dan masih bisa menyelamatkan satu Flat. Kalau tau mulut istrimu ini ember bocor.. menyesal sekali saya membiarkan rumah Abang tidak terbakar" ucap Bang Zaldi meradang.


"Oke Zal.. saya sudah tau duduk masalahnya. Iman sudah mengakui salahnya dan istri Iman pun sudah paham salahnya dari kesalah pahaman....." Bang Acep berusaha bersikap netral.


"Halaah.. sudah lah Bang.. saya malas. Saya mau membawa beberapa anggota untuk memutus saluran air ke tiap rumah. Nggak ada lagi fasilitas seperti itu. Mulai detik ini.. fasilitas itu hanya untuk Ibu PasiIntel saja. Saya mohon ijin pamit mendahului Bang, saya tidak mengijinkan istri saya terlalu lama dekat bakteri dan virus. Dampaknya tidak baik untuk bayi saya. Selamat siang" Bang Zaldi menegakan badannya memberi hormat lalu menggandeng tangan Arnes keluar ruangan.


"Selamat siang" jawab Bang Acep pasrah. Ia tidak ingin mencari ribut dengan PasiIntel itu, sebab jika Lettu Erzaldi sudah berada pada posisi yang benar, meskipun ada badai menerjang.. suami Arnes itu tidak akan pernah mundur.


-_-_-_-_-_-


Bang Zaldi meminta beberapa orang anggotanya melepas pipa air. Ia sudah benar-benar murka ada orang yang menyinggung Arnes.


"Bang.. jangan begitu lah. Satu orang yang ribut masa semua kena imbasnya. Kasihan yang lagi punya bayi Bang" bujuk Arnes sambil mengusap dada Bang Zaldi agar suaminya itu tidak terus memasang wajah siap bertarung.


Para tetangga ada yang mengintip cara Arnes membujuk sang suami yang begitu kaku kalau sudah kesal menanggapi hal yang menyangkut keluarga.


"Kamu nggak usah ikut campur cara Abang. Kalau nggak suka kamu masuk saja..!!" nada keras Bang Zaldi tanpa sadar sudah menyinggung perasaan Arnes yang sedang sensitif.


Arnes melepas pelukannya dari Bang Zaldi kemudian berlari masuk ke dalam rumah.


"Astagfirullah hal adzim" Bang Zaldi mengusap wajahnya menyadari sudah berucap kasar pada sang istri. Ia pun segera berjalan menyusul Arnes yang setengah berlari.


"Dek, jalan aja..!!" ucapnya merendahkan suara.


"Abang nggak usah ikut campur. Kalau Abang nggak suka, Abang keluar saja" ucapnya mengulang perkataan Bang Zaldi.


Bang Zaldi menyentuh dadanya yang seketika merasa tertegur.


Imam pun harus berucap yang baik agar makmum bisa mengikuti dengan baik. Apa yang kuajarkan pada Arnes akan menjadi penentu surga atau nerakaku nanti.


"Abang minta maaf ya. Abang nggak bermaksud kasar sama kamu. Abang hanya ingin memberi syok terapi pada mereka.. biar mereka junior atau senior, hendaknya menjaga sikap dan etika saat berbicara. Ini adalah bagian dari sebuah konsekuensi. Jaman sekarang mulut dan jari adalah penentu hidupmu. Bicaralah dengan bukti.. dari mulut juga tersimpan arti sebuah harga diri"


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2