
Yang minta segera tamat.. Nara segera TAMAT in ya. Semoga kedepannya kalau nggak tahan dengan konflik bisa di skip saja 🥰🙏🙏
🌹🌹🌹
Pesawat mendarat mulus di daerah Jawa Barat. Rinto sedikit oleng saat pesawat baru saja berhenti di bandara. Tak seperti biasanya ia tidak tahan dengan aroma pesawat.
Rinto berjalan menepi dan segera berlari mencari toilet. Brian yang melihat Rinto berlari ke toilet segera menyusul littingnya itu.
"Baru injak kaki di tempat yang baru sudah oleng Bro. Kenapa lu?? Anye hamil lagi?" tanya Brian.
"Ngawur aja kalau ngomong. Nggak bakalan Anye hamil lagi. Aku sudah tobat hamilin bini melulu" jawab Bang Rinto.
"Belaga.. Hamilinnya nggak, ngisi nya nggak pernah putus" ledek Brian.
Mereka berdua tertawa mesum khas lelaki.
-_-_-_-
Anye melihat Righan berjalan menghampirinya. Pria kecil itu tersenyum melihat Anye. Wajah Righan sudah semakin mirip sang papa. Gayanya pun mirip Papa Brian tapi anehnya semua rambut anak laki-laki Anye, semua lebih mirip Papa Rinto.
Anye berjongkok memeluk Righan kecil.
"Sekarang kita sama-sama ya nak..!!" jangan jauh dari mama lagi" pinta Anye sambil memeluk Righan.
"Righan mau tinggal sama mama??" tanya Anye.
Righan menggeleng, agaknya ia lebih memilih tinggal bersama papa Brian dan mama Ariani. Anye terlihat sedih sekali.
"Sabar donk sayang, baru juga ketemu. Nanti lama-lama Righan pasti mau sesekali tinggal sama kita. Kalau kamu paksa yang ada dia takut" bujuk Bang Rinto.
"Selamat datang kembali di Jawa" sapa seseorang di belakang Bang Rinto.
"Ayah??????" Anye dan Bang Rinto senang sekaligus terkejut tau ayah dan mama ada disana.
Belum selesai bertegur sapa, terdengar suara ribut di samping teras lobby.
"Mey paling nggak suka lihat laki-laki yang berantakan" tegur Mey pada Seno.
"Ini gaya macho.. baju di keluarkan" jawab Seno kesal karena Tante Mey meledek gayanya.
"Nggak banget deh. Apalagi parfum mu itu wangi melon" ucap Mey lagi.
"Tapi parfum tante bau minyak telon" jawab Seno membuat Tante Mey seketika murka.
"Ayaaaaaaaaahh...!!!!!!!!!!!" teriak Mey membuat seisi bandara mendengar suaranya.
"Astaga.." ayah Rama segera berlari menggendong Mey yang marah-marah.
"Kenapa teriak?? ini di tempat umum" tegur ayah Rama.
"Seno bilang wangiku seperti minyak telon" jawab Mey mengadu.
"Waahh.. mama keterlaluan. Anak gadis di kasih minyak telon" ayah Rama menegur mama Dinda.
"Seharusnya minyak urut ma"
"Ayaaaaaaaaahh..!!!!!!!!" Mey berteriak lagi.
"Aduuuhh Mey. Jangan teriak..!!!" telinga ayah tuli"
***
Sertijab Bang Rinto sudah selesai. Kini Bang Rinto dan Anye menikmati hari yang indah di lokasi barunya di Jawa barat.
"Masak banyak dek? Siapa mau datang?" tanya Bang Rinto sambil mencomot udang goreng yang baru saja matang.
"Mama telepon Anye, datang dari China Bang" jawab Anye.
"Oyaa??? kok Abang nggak tau?" Bang Rinto terus mencomot ini dan itu.
"Abang mau makan donk dek. Habis lari jadi lapar nih"
Anye segera mengambilkan Bang Rinto makan siangnya.
Sedang di tengah acara makan.. ada ketukan kencang di depan pintu rumah Bang Rinto. Anye pun bergegas membuka pintu rumahnya.
"Iya Om.. sebentar" Anye memakai kerudungnya dengan cepat.
"Ijin Bu. Bang Seno sama Bang Bima.........."
#
"Ada-ada saja tingkah kalian..!!" Bang Rinto sampai berteriak di rumah sakit melihat ulah kedua putranya yang baru saja tertimpa sarang tawon yang baru saja di hantam Seno menggunakan batu.
Kini wajah Bang Seno dan Bang Bima jadi bengkak, belum lagi tangan dan kaki ikut bengkak membuat kedua pria kecil itu harus mendapatkan perawatan di rumah sakit.
"Pa.. sudah..!! Anak-anak sudah sakit. Pasti sudah kapok" kata Anye.
"Iya Rin. Anak-anak belum paham namanya bahaya. Kamu saja pernah di tabrak sapi karena penasaran ingin mengambil loncengnya" kata Mama yang baru saja datang tapi akhirnya harus ke rumah sakit dulu karena tragedi sengatan tawon.
Bang Rinto tetap memasang wajah gagahnya meskipun ia menahan malu karena gengsi. Seumur hidup ia selalu berusaha perfect dalam hidup dan tak ingin terlihat cela.
"Mama.. bukan begitu ceritanya" Bang Rinto menghentikan ucapan mamanya dengan gaya cool.
__ADS_1
Tau putranya sudah sebegitu gengsinya.. Mama menghentikan ceritanya dan mengajak Anye makan yang sempat Mama beli dan tak lupa membaginya juga pada anggota Bang Rinto yang sedang standby di rumah sakit.
Bang Rinto tersenyum melihat keakraban mama dan Anye, hal itu mengusik batinnya karena ia tidak pernah tau lagi kabar sang Papa sejak kejadian tahun lalu.
"Ma.. bagaimana Mama dan Papa sekarang?" tanya Bang Rinto.
"Mama dan Papa sudah mengajukan pisah, baik-baik. Untuk itu Mama pulang ke Indonesia" jawab Mama.
Bang Rinto ikut duduk lalu menunduk mencium tangan mamanya.
"Maaf ya ma. Karena Mama Wiza, Mama harus pisah sama Papa. Entah bagaimana caraku membayar semua ini" Bang Rinto merasa sangat bersalah pada Mama.
"Besarkan dan didik anakmu menjadi anak-anak yang berbudi. Tidak mudah terpancing dengan masalah dunia. Buatlah mereka bijak dalam menyikapi masalah. Jaga anak perempuan mu dengan baik. Kalau Anye jantung hatimu, anak perempuan adalah warna jantungmu. Anak-anak hebatmu akan menjadi kebanggaan Mama. Itu yang mama inginkan. Nggak ada yang lain" jawab Mama.
"Pasti ma.. Aku akan berusaha keras untuk itu"
"Paaa.. pipis..!!" teriakan Seno membuyarkan obrolan mereka.
"Bima juga. Bima duluan" teriak Bima tak mau kalah.
"Stop..!!! Dua-duanya Papa gendong" dengan cepat Bang Rinto membawa kedua putranya ke toilet.
***
Dua hari sudah Seno dan Bima di rawat di rumah sakit. Hari ini mereka berdua sudah bisa pulang. Begitu sampai di rumah, Bang Rinto di sambut manisnya si kecil Arnes dengan gaya rambut kuncir dua.
"Papaaaa.." teriaknya sambil berlari meminta gendong papanya. Melihat Arnes berlari, Bang Rinto sangat cemas putri kecilnya akan terjatuh dari anak tangga menuju halaman.
"Diam disitu dek..!! Papa kesana" Bang Rinto berjalan cepat. Arnes pun melompat girang. Saking paniknya, Bang Rinto sampai tidak melihat sikat lantai yang mungkin belum bibi bereskan membuatnya terpeleset.
"Waduuhh.." pekiknya saat merasakan pinggang terkilir.
"Papa.." Anye berlari dan membantu suaminya berdiri.
"Astagfirullah.. anakmu maa..!!!"
...
"Sakiiit ma, pelan sedikit" kata Bang Rinto saat Anye mengurutnya.
"Ini nggak pakai tenaga lho pa" Anye tersenyum licik senang melihat Bang Rinto kesakitan, karena Bang Rinto tidak akan bisa usil padanya.
"Nggak usah pasang tampang begitu ma. Kamu jangan cari gara-gara" kata Bang Rinto mengingatkan.
"Iiihh.. memangnya mama kenapa?" tanya Anye bernada manja.
"Mau rasakan yang namanya tenaga dalam Papa Rinto??"
Anye semakin tersenyum meledek.
Bang Rinto melirik Anye kemudian berbalik badan merasa istrinya terus saja menggodanya.
"Benar-benar minta di uji pakai tenaga dalam" Bang Rinto pun menarik Anye ke dalam pelukannya.
*** LIMA TAHUN KEMUDIAN ***
"Bimaaaa.." Bang Rinto lari mengejar Bima yang hari itu akan di khitan.
"Kemana larinya itu anak???" Bang Rinto mengedarkan pandangan ke segala arah mencari putra keduanya.
"Lari kemana Rin??" Opa Rama ikut kelabakan mencari cucunya.
"Ayah jangan ikut lari, nanti sarung ayah tersangkut malah dikira ayah yang khitan" kata Bang Rinto memicingkan mata melihat kebun belakang rumah tetangga.
"Abang juga jangan pakai sarung" kata Anye.
"Abang sih masih bisa lari kencang" jawab Bang Rinto kemudian berlari lagi mencari Bima di bantu Seno putra pertamanya.
...
"Akhirnya ketemu juga. Kamu sendiri khan yang minta di khitan. Kenapa sekarang lari??" nada tegas Bang Rinto membuat Bima semakin takut.
"Kata Bang Seno sakit sekali. Pakai gunting rumput" teriak Bima.
"Senooo.. lihat ulahmu, bukannya bantu malah bikin kacau seperti ini" tegur Bang Rinto.
"Maaf pa" Seno nyengir kuda karena merasa bersalah.
Bang Rinto segera menyergap Bima dan membawanya pulang.
#
"Nggak mauuuuu" Bima berteriak dan terus ingin kabur membuat pak mantri yang sudah lumayan tua bingung menenangkan Bima.
"Itu upah suamimu ya dulu begitu Nye" kata Mama langsung membuat Bang Rinto melirik kesal karena malu.
"Karma ya ma. Sudah nyusahin orang tua" jawab Anye polos semakin membuat Bang Rinto tidak konsentrasi.
"Terus saja bongkar aib. Ini perjuangan laki-laki sampai begini nih. Lihat baik-baik, Abang dulu juga begini. Sekarang yang senang siapa???" belum sampai Bang Rinto berhenti bicara, satu tendangan kuat tepat sasaran menghantam telak tepat mengenai sensor pusat Bang Rinto.
"Allahu Akbar.. Bimaaaaaa.....!!!!!!!" Bang Rinto sampai merosot merasakan nyeri sampai ujung kepala.
...
__ADS_1
Rekan satu kantor Bang Rinto terbahak melihat Bang Rinto akhirnya harus duduk berdua dengan sang putra. Apalagi Bang Brian dan Bang Arben tertawa paling nyaring.
"Tertawa saja terus. Ada tontonan tragis yang gratis" gerutu Bang Rinto.
"Libur duluuu..!!" ledek Bang Arben membuat Bang Rinto semakin kesal.
"Sudah Bang. Makanya jadi orang jangan emosian. Jadi begini khan hasilnya. Duduk bareng anak" kata Anye mengusap wajah Bang Rinto yang berkeringat.
*** TUJUH TAHUN KEMUDIAN ***
"Baaanngg..!!!!!" teriak Arnes dari kamar mandi.
"Apaa??? Abang lagi makan" jawab Seno.
"Baaanngg... takuuut..!!" teriak Arnes lagi.
"Bimaa.. bantu Arnes dulu tuh"
Bima yang memang penurut segera datang saat Abangnya memanggil.
"Iya Bang.. iyaaaa"
//
Bang Seno menggendong Arnes masuk ke dalam kamar. Ia sudah tidak selera makan lagi karena melihat apa yang tidak sengaja dilihatnya.
Bang Seno menyelimuti adiknya lalu mengambil kunci motor dan bergegas pergi. Bima malah kabur setelah tau adik perempuannya 'sakit'
//
"Cepat pakai..!!" kata Bang Seno dengan wajah datarnya.
"Nggak bisa Bang"
"Kamu baca aturan pakainya donk Nes.. Masa Abang juga yang harus cari caranya. Abang laki Nes..!!" Bang Seno bingung karena di rumah hanya ada mereka bertiga karena papa dan mama sedang kunjungan kerja ke luar kota sedangkan bibi sudah lama pulang kampung karena sudah usia tua.
//
Bang Seno membuatkan Arnes minuman jahe hangat seperti yang sering ia lihat dari papanya kalau mamanya mungkin sedang datang bulan.
"Di minum dulu nih. Terus tidur..!! Jangan lihat ponsel terus. Bisa buram itu mata"
"Iya Bang" Arnes meminum jahe hangat buatan Bang Seno sedikit demi sedikit.
"Besok Abang pengumuman hasil tes. Doakan Abang lulus masuk tentara ya. Biar bisa mengangkat harkat dan martabat orang tua"
Arnes memeluk Abangnya. Arnes terlalu dekat dengan Bang Seno hingga rasanya ia berat jika nanti Abangnya harus pergi menjalani pendidikan selama empat tahun lamanya.
"Nanti Arnes sama siapa kalau Abang pendidikan?" tanya Arnes sudah sesenggukan.
"Sama Bang Bima dulu lah" jawab Bang Seno.
"Ingat kata Abang ya..!! Berteman sama laki-laki boleh.. tapi nggak boleh pacar-pacaran. Kamu masih kecil"
"Iya Abaang"
***
Esok harinya.. Seno gelisah karena waktu pembacaan pengumuman hasil test sudah di mulai. Tapi hanya Bima dan Arnes saja di tempat.
Satu persatu nomer peserta di sebutkan. Belum ada tanda-tanda nomer dadanya disebut.
"Nomer peserta terakhir.. 101"
Seno mengenali suara itu. Suara sang papa yang menyebutkan nomer dadanya.. Seno lulus untuk mengikuti pendidikan selama kurang lebih empat tahun.
Seno berlari memeluk mamanya.
"Selamat ya nak. Ikuti pendidikan dengan sabar" kata Anye.
"Iya ma"
Bang Rinto juga memeluk Seno.
"Yang tabah kamu disana. Sakit hanya sesaat. Hidup hanya sekali. Pergunakan dengan baik"
"Iya pa" Seno menahan air matanya lalu memeluk Bima dan Seno. Bima hanya berpelukan sesaat dan membiarkan Bang Seno memeluk adik perempuan satu-satunya itu.
"Jangan nangis. Abang cuma sebentar. Kalau Abang lulus nanti baru boleh belajar pacaran. Selama Abang pergi. Jangan bertingkah..!!" pesan Seno untuk Arnes.
Waktu berangkat sudah dekat. Saat itu juga Bang Seno menaikan tas rangsel ke punggungnya dan langsung berbalik melangkah pergi tanpa menoleh lagi.
"Pa.." Anye yang masih terasa berat, segera bersandar dan memeluk Bang Rinto dengan erat.
"Jangan di tangisi. Doakan anakmu agar menjadi pria kuat dan tangguh seperti apa yang kamu cita-citakan. Anakku bukan anak yang lemah ma" Bang Rinto mengecuo kening Anye untuk menenangkan.
.
.
.
.
__ADS_1
TAMAT