
Kebijakan dalam membaca. Nara mencoba mengambil cerita di kehidupan nyata sehari-hari. Tidak suka skip. Tidak di perkenankan menghujat di wall. Terima kasih βΊοΈππ
πΉπΉπΉ
"Rintoooo.. main yuukk..!!!!" suara teriakan yang khas dari luar.
"Apalagi ini Ya Allah..!!!!!" Bang Rinto kesal sekali mendengar suara itu pasalnya ia sudah menempelkan kertas bertuliskan DON'T DISTURB di depan pintu rumahnya.
Bang Satriyo tertawa saat melihat tulisan di depan pintu rumah Rinto.
"Apeeeeelll...!!!!!!!!" teriaknya lagi sambil berlalu pergi.
"Sumpah kamu ini horor sekali jadi laki-laki" Bang Satriyo menggeleng karena tau sifat Rinto.
//
"Abang nggak keluar. Ada Bang Satriyo tuh??" tanya Anye karena takut ada sesuatu yang penting di luar.
"Nggak.. tanggung dek..!!! Bisa mati Abang kalau cut sekarang. Kebiasaan lah Bang Sat itu..!!!" jawab Bang Rinto yang sudah setengah jalan mendekap Anye.
#
Bang Rinto sungguh memanjakan Anye hingga istrinya itu terlelap nyenyak dalam tidur siangnya. Tangan Bang Rinto mengusap punggung Anye yang tidur memeluk pinggangnya. Nampak bekas jejak kenakalannya barusan.
"Kamu lelah sekali ya dek? Maaf ya..!!" ucap Bang Rinto tak hentinya mengusap Anye disana sini.
"Nakal juga kamu ndhuk.. sudah berani godain Om Rinto rupanya. Semoga terus hanya sama Abang yang kamu seperti tadi" gumamnya kemudian mendekap Anye dalam dadanya.
Teringat tadi saat mereka sedang berdua. Anye merengek manja padanya dan tidak ingin di tinggalkan. Istri Rinto itu sudah kembali menjadi Anye yang dulu. Seketika Rinto yakin bahwa sudah tidak ada Brian lagi di hati Anye.
***
"Jangan lagi Bang..!! Tadi khan sudah. Sebentar lagi mama sama Ayah pulang antar anak-anak" kata Anye yang cemas Bang Rinto mulai menginginkannya lagi.
"Abang janji nggak lama..!!" Bang Rinto memaksa Anye lagi dan akhirnya Anye menurut ajakan Bang Rinto.
"Pintunya Bang..!!" kata Anye.
"Nggak akan ada yang datang" Bang Rinto tidak peduli lagi dengan sekitar, desiran di dalam dadanya sudah begitu bergejolak.
...
"Kemana Anye sama Rinto. Pintu tidak di kunci" Ayah Rama masuk ke dalam rumah lebih dulu karena ia sedang membawa pakaian cucu-cucunya. Seno, Bima, Righan dan Amy sedang ikut dengan Om Gathan.
"Astagfirullah hal adzim" Ayah Rama berbalik badan dan mengusap dadanya saat tidak sengaja melihat Rinto sedang 'mengerjai' Anye.
"Kampret.. punya menantu laki satu ini bengal sekali. Bisa-bisanya tidak tutup pintu"
"Kenapa Bang??" tanya Mama Dinda tiba-tiba muncul di belakang Ayah Rama.
"Allahu Akbar.. ini lagi..!!! Bikin kaget aja" Ayah Rama mendorong pelan bahu Mama Dinda agar segera menjauh dari sekitar kamar Anye dan Rinto.
"Huusstt.. pelankan suaramu dek..!! Menantumu itu sungguh kurang ajar"
"Ada apa sih Bang?" Mama Dinda masih belum paham.
__ADS_1
"Sudahlah ayo pergi. Belum kalis mereka bikin adonan" kata Ayah Rama.
"Ya ampuun.. ayo keluar pelan-pelan" Mama Dinda menjadi panik dan mengikuti Ayah Rama keluar dari rumah Rinto.
...
"Kalian tadi darimana? Ayah panggil nggak menyahut?" Ayah Rama masih kesal dengan kecerobohan Rinto. Jika saja tadi anak-anak entahlah apa yang akan terjadi.
"Tidur yah" jawab Bang Rinto berusaha sesantai mungkin menjawab pertanyaan ayah Rama.
"Oohh tidur?? Untung anak-anak nggak masuk. Ayah tadi dengar ada suara kucing kejepit nggak mau di lepas" tegur Ayah Rama lembut sekalian menyindir.
Bang Rinto refleks menundukkan kepala merasa malu karena sadar pasti Ayah Rama menyindir dirinya juga.
"Dimana?? Anye nggak dengar. Ayah datang jam berapa?" Anye masih kurang paham maksud ayahnya.
Bang Rinto menyenggol kaki Anye sambil mengalihkan pandangan agar istrinya itu diam.
"Lain kali hati-hati jaga istri. Jangan asal Rin" tegur Ayah Rama terang-terangan.
"Iya yah. Maaf.." ucap sesal Bang Rinto.
Wajah Anye biasa saja sambil terus makan oleh-oleh yang di bawa ayahnya.
***
"Papa berangkat sekolah dulu ya, paling lama tiga bulan lagi kita jumpa. Tapi kalau ada libur, papa usahakan pasti pulang secepatnya. Baik-baik sama mama di rumah" kata Bang Rinto sambil menggendong kedua putranya, setelah puas menciumi kedua anaknya, tak lupa Bang Rinto mengambil Righan dari gendongan Anye.
"Anak bontot papa. Jangan rewel ya nak. Kasihan mama" Bang Rinto terlihat sayang sekali dengan Righan walaupun Righan bukan darah dagingnya. Tulus ikhlas Bang Rinto menyayangi Righan. Segala kebutuhan Righan juga selalu ia penuhi bahkan Bang Rinto bisa sangat marah kalau Anye lalai menjaga anak-anaknya.
"Papa yang mana?" bisik Bang Rinto tak kalah nakal. Tangannya mencolek pinggang bawah Anye.
"Papa Rinto kata Righan bilang. Kalau untuk Anye.. Om Rinto yang nakal" jawab Anye.
"Begini ini Abang jadi berat ninggalin kamu. Selama Abang pergi.. kamu di larang pergi kemana-mana tanpa pengawalan Gathan. Minimal Alex dan Jeri. Kalau Abang sudah nggak ada tugas.. Abang cek kamu terus" ucap Bang Rinto dengan sedikit mengancam.
"Abang mulai waswas nih kamu begini" Bang Rinto cemas sekali harus meninggalkan Anye yang kini sudah sangat pandai membuat hatinya jauh lebih nyaman. Beban yang selama ini Anye rasakan juga sudah hilang.
"Anye pasti tunggu Abang pulang.. Nggak akan kemana-mana dan melanggar seperti yang Abang minta" jawab Anye meyakinkan.
"Alhamdulillah.." kini hati Bang Rinto sudah jauh lebih lega.
***
Hari berganti hari, pendidikan terakhir di pusatkan untuk fokus dan para siswa perwira lanjutan tidak diijinkan IB atau mencuri waktu untuk kembali pulang
"Ikhlas atau tidak???" tanya Dan Rivaldi pada seluruh siswa.
"Siap ikhlas..!!" jawab seluruh siswa dengan tegar kecuali Rinto yang menjawab lirih dan setengah hati.
"Saya tau rasanya rindu. Saya juga pernah mengalaminya. Tapi kita di didik untuk jadi seorang pemimpin. Tahan rindu itu sebentar..!! Negara butuh tenagamu" ucap tegas Dan Rivaldi.
"Ada pertanyaan??"
"Ijin bertanya Dan.. apa tidak ada ijin khusus??" tanya Brian pada papanya itu secara formal.
__ADS_1
"Apa contohnya??"
"Ijin.. Istri melahirkan atau orang tua sakit dan keadaan gawat lainnya. Ijin arahan Dan..!!" jawab Brian.
Dan Rivaldi tentu tau perasaan putranya yang begitu ingin menemani Ariani pada persalinan pertama istrinya itu. Apalagi setelah banyaknya tragedi belakangan ini.
"Jika ada bukti yang valid. Semua bisa menjadi periksa"
"Siap.. terima kasih" kata Brian.
"Hanya tinggal sebentar, satu bulan lagi. Saya harap kalian mampu menahan sedikit rasa rindu pada keluarga. Kecakapan kalian sebagai pemimpin, menentukan keamanan bangsa dan negara. Mengerti??" ucap tegas Dan Rivaldi.
"Siap.. mengerti..!!!!"
***
Rinto melipat sajadahnya usai sholat lalu bergegas untuk persiapan apel pagi. Ia merokok sebentar di depan kamarnya dan sekilas melirik Brian yang sedang berkemas, bersiap untuk pergi.
"Ambil ijin??" tanya Rinto menegur Brian.
"Iya.. Riani sudah kontraksi" jawab Brian.
"Mudah-mudahan persalinannya lancar, tidak ada kendala apapun.. sehat ibu dan bayinya. Semangat Brooo..!!!!" Rinto memberi semangat pada Brian.
"Terima kasih banyak" jawab Brian dengan wajah cemasnya.
"Sama-sama Bri..."
-_-_-_-
Pagi ini Rinto tidak fokus mendengarkan arahan pelatih. Kepalanya terasa berat. Badannya demam. Yang diingat hanya Anye, entah kenapa rindunya tidak bisa ia tahan. Di usapnya dadanya pelan-pelan berharap pikirannya ringan dan perasaannya sedikit tenang. Rasa rindu membuatnya gelisah.
Abang kangen banget dek. Masih satu bulan lagi kita ketemu. Sabar disana ya ndhuk..!! Yang anteng. Om Rintomu nggak akan nakal. Kamu juga jangan macam-macam ya. Abang sayang kamu dek.
"Tolong fokus..!! Kalau sedang di medan tugas.. tamatlah riwayatmu Kapten Rinto..!!" bisik Dan Arshen menegur Rinto dan itu berhasil membuyarkan lamunan Rinto.
"Siap salah" jawab Rinto.
" Push up dulu biar pikiranmu fresh ..!!!" perintah Dan Arshen sebagai pelatih perwira senior di sana.
"Siap laksanakan..!!!!"
Rinto berdiri dan mengambil posisi bersiap untuk push up. Baru beberapa hitungan.. Rinto sudah ambruk tanpa daya.
"Heehh Rinto.. kenapa kamu??" tanya Dan Arshen dengan panik.
"Bantu angkat..!!!!"
Rekan Rinto pun akhirnya mengangkat Rinto ke ruang kesehatan.
.
.
.
__ADS_1