Di Ujung Peluru 2 & 3 (Hati Sang Prajurit)

Di Ujung Peluru 2 & 3 (Hati Sang Prajurit)
DUP 3. 74. Jalan pindah tugas.


__ADS_3

"Arneess.. kenapa pakai baju seperti saringan tahu begitu?? Nanti masuk angin" Bang Zaldi menegur Arnes yang memakai baju umpan mengganggu matanya. Ia melirik Ibra di dalam box kemudian beralih pada Ryan yang tidur tanpa hambatan.


Arnes sengaja menggoyangkan kaki menggoda Bang Zaldi yang masih terlihat murung. Sejak kehadiran Ryan.. memang senyum suaminya itu belum terlihat tulus dan lepas. Arnes tau Bang Zaldi masih menyimpan beban begitu berat di pundaknya.


"Abang bilang masuk angin" Bang Zaldi membuka selimut dan menutup tubuh istrinya.


"Abang kenapa? marah ya sama Arnes? Arnes nggak cantik ya" tanya Arnes memasang wajah sedihnya.


"Bukan begitu dek. Terus terang Abang merasa mimpi mengalami semua ini............"


Arnes menarik tangan Bang Zaldi.


"Abang siniii..!! Lupakan semua itu. Anak Abang yang ini juga pengen di perhatikan papanya"


Bang Zaldi sampai ternganga mendapat sikap manja dari Arnes tapi sungguh, ingin melawan pun tak bisa, tangannya seakan tak ada daya upaya untuk menolak, lidahnya kaku kelu.


"Pintar sekali kamu merayu Abang. Jangan sampai kamu bersikap seperti ini di hadapan pria lain. Abang cemburu" Bang Zaldi menyerusuk di sela leher Arnes.


"Kamu memang obat Abang yang paling manjur" Bang Zaldi mengangkat Arnes menuju ranjang, di rebahkannya perlahan istri cantiknya itu. Senyum Bang Zaldi mengembang tampan.


"Sini Abang amankan si dedek"


***


Hari ini Bang Zaldi mendengarkan keputusan dari kedinasan. Nafasnya terasa berat, jantungnya berdegup bertalu-talu. Tangannya mengepal dan menutup dengan cemas. Di temani Papa Rinto, Dan Arben dan beberapa anggota lain.. Bang Zaldi menguatkan hati untuk mendengarkan keputusan tersebut.


"Maka telah di putuskan.. Pertama.. Kapten Erzaldi tidak akan menerima tunjangan kinerja selama dua belas bulan lamanya terhitung dari bulan selanjutnya sejak keputusan ini di tetapkan. Kedua.. Yang bersangkutan akan tertunda kepangkatan selama dua periode. Ketiga.. Yang bersangkutan akan bergabung dalam kesatuan "Kompi Batalyon terpisah" pertahanan di wilayah Barat dengan jabatan....."


Telinga Bang Zaldi rasanya berdengung mendengar semua keputusan itu. Tapi bagaimanapun perasaannya saat ini, ia harus tegar dan kuat.


...


"Gimana perasaanmu Zal? Masih berat??" tanya Papa Rinto.


Dan Arben mengambilkan segelas es sirup untuk Bang Zaldi.


"Sudah lebih baik pa" jawabnya ringan.


"Jangan di pikir berat Zal. Saya dan papamu juga mengalaminya. Kamu pasti sudah dengar lah" kata Dan Arben.


"Bukan itu masalahnya pa, saya hanya takut Arnes akan malu dengan apa yang sudah saya perbuat" jawab Bang Zaldi.


"Eehh.. vampir.. papa itu mendidik putri papa satu-satunya dengan hati-hati. Nggak mungkin lah Arnes berpikir seperti itu. Lapangkan dadamu, luaskan hatimu. Arnes putri kebanggaan papa" sergah Papa Rinto.


"Saya paham pa, saya juga bangga sekali memiliki istri seperti Arnes"


dddrrtt .. ddrrrttt .. ddrrrtt ..


"Assalamualaikum dek" Bang Zaldi langsung menerima panggilan telepon dari Arnes.


"Wa'alaikumsalam Bang. Gimana??" tanya Arnes.

__ADS_1


"Nanti saja di rumah. Bagaimana kamu sama anak-anak hari ini?" Bang Zaldi sangat cemas padahal baru saja tadi pagi mereka bertemu bahkan sarapan bersama.


"Arnes nggak apa-apa Bang. Anak-anak juga sehat. Abang cepat pulang donk. Arnes pengen bobok siang sama Abang" jawab Arnes.


Bang Zaldi memijat pelipisnya, tugasnya masih banyak dan harus diselesaikan dengan segera tapi sang istri begitu rewel sulit untuk berpisah darinya, berbeda dengan kehamilan Ibra yang seolah tanpa hambatan.


"Di temani Mama sama bibi dulu ya. Abang masih ada kerjaan. Baru bisa pulang malam dek"


Arnes terdiam sejenak.


"Ya sudah.. Arnes tunggu Abang pulang"


"Nggak apa-apa ya.. Abang usahakan cepat pulang"


...


Hingga malam hari Bang Zaldi masih menyelesaikan seluruh berkas kepindahannya dan pencabutan seluruh kasusnya. Sambil mengunyah sepotong roti, ia tetep bekerja. Fokusnya hanya untuk pekerjaannya agar segera selesai.


//


"Ya Tuhan, lelah sekali aku hari ini" Bang Zaldi membanting dirinya bersandar di kursi. Ia melonggarkan ikat pinggangnya agar nafasnya sedikit lega. Ia melihat jam tangannya sudah menunjukan pukul sembilan malam.


"Aduuuh.. Arnes pasti nunggu nih"


Bang Zaldi segera membereskan berkasnya lalu segera mengambil kunci motornya.


...


Saat sampai di rumah, keadaannya sudah sepi, hanya lampu ruang tamu saja yang menyala redup.


"Kenapa tidur disini?" bisik Bang Zaldi lalu mengecup kening istrinya.


"Bang.. lapar" ucap Arnes saat baru membuka matanya.


Arnes menggeleng lemas.


"Ya Allah dek, jam berapa ini sayang. Kenapa harus menyiksa diri. Kasihan si kecil Abang" Bang Zaldi segera pergi ke dapur dan mengambil makan malam untuk Arnes.


//


"Abang sudah makan?"


"Sudah, kalau Abang nggak makan bisa merepotkan semua orang karena tumbang" jawab Bang Zaldi. Ia terus menyuapi Arnes.


"Ryan rewel nggak hari ini?"


"Rewel Bang"


"Pantas, mamanya saja rewel" celetuk Bang Zaldi.


"Oya dek, satu minggu lagi Abang berangkat ke wilayah Barat. Orientasi wilayah. Kamu tunggu disini sampai rumah siap ya..!!"

__ADS_1


"Arnes ikut Abang"


"Kamu mau tinggal dimana? Orientasi saja Abang tinggal di mess. Kalau Sertijab baru Abang masuk rumah. Kemungkinan satu bulan saja dek"


"Dimana saja. Yang penting Arnes ikut" wajah Arnes sudah merah mendung.


"Gusti Allah, tobat tenan duwe bojo rewel. Iya dek.. nanti ikut Abang, tapi nggak boleh mengeluh ya, disana nanti hidup apa adanya, jauh dari kota seperti di Sulawesi dulu"


***


"Ijin, saya langsung bawa keluarga. Istri hamil muda Bang, nggak mau di tinggal. Apa disana ada rumah kontrakan? Ijin arahan Abang"


"Bawa saja Zal..!! disini nggak ada kontrakan. Tapi ada dua kamar perwira kosong. Kalau kamu bawa istrimu nanti biar Adi sama perwiranya sementara satu kamar berdua. Kasihan bumil sama anakmu" kata senior Bang Zaldi.


"Siap Bang.. terima kasih"


Astaga.. jadi aku sama Adi bakal bertemu lagi di sana???.


Bang Zaldi menarik nafasnya, membolak balikan pikirnya.


"Adi nggak akan mungkin berpikiran macam-macam sama istriku. Lebih baik aku belajar mengontrol emosi, kasihan Arnes Kalau harus mendapat rasa cemburu dariku terus" gumamnya.


***


Setelah memeriksa keadaan Arnes dan kedua anaknya, Bang Zaldi memutuskan untuk berangkat lebih awal memakai jalur laut dan meminta ruang khusus karena memikirkan kedua putranya.


Bibi lebih fokus menjaga Ryan karena Bang Zaldi sudah harus menjaga Arnes dan Ibra.


Bang Bima mengikuti jejak Bang Zaldi sedangkan Bang Righan masuk Batalyon yang berbeda sesuai arahan surat keputusan.


"Ibra sama Om Bima aja deh" Bang Bima menggendong Ibra dan mengajaknya bermain.


"Bagaimana acara pernikahanmu sama si Livi itu?" tanya Bang Zaldi.


"Setelah orientasi nanti saya ijin pulang nikah lah Bang. Abang khan komandannya" jawab Bang Bima.


"Bim.. Livi sudah kalem khan? Saya nggak mau ya ribut sama Arnes gara-gara istrimu"


"Santai lah Abang. Saya nggak kurang kasih sayang untuk istri. Dia nggak akan macam-macam. Saya yang tanggung jawab Bang. Lagipula saya juga nggak akan biarkan Arnes nangis karena masalah ini" jawab Bang Bima.


"Eehh.. ngomong-ngomong kemana Righan??" tanya Bang Zaldi.


"Aaaahh.. Abaaaanngg... toloooong" teriakan Arnes mengagetkan Bang Bima dan Bang Zaldi.


Bang Zaldi dan Bang Bima saling menatap kemudian berlari ke arah sumber suara.


"Lailaha Illallah.. Arneeess" pekik Bang Zaldi melompat dengan cepat.


"Righaaaaaann.. dungu amat sih lu jadi Abang...!!!!!!!" bentak Bang Bima.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2