
Ada hal sensitif. Tidak di perkenankan menghujat. Jika tidak suka skip tanpa komentar . Budayakan menghargai karya 🙏🙏🙏.
🌹🌹🌹
Pagi hari Bang Zaldi bangun pagi sekali dan sudah siap dengan seragamnya. Ia mengecup Arnes. Sungguh tidak tega harus keningmeninggalkan istrinya.
"Abang berangkat ya sayang" bisiknya menahan rasa sedihnya. Bang Zaldi segera menarik diri.
Arnes menggeliat merasa ada yang mengecup keningnya.
"Abaaaaaang.. Abang mau berangkat ya? Kenapa nggak bangunkan Arnes. Arnes khan bisa buat sarapan dulu" wajah Arnes sudah nampak sedih sekali tapi ia berusaha menyembunyikan perasaannya.
Bang Zaldi pun bersikap datar dan dingin seperti biasanya seolah tidak ada apapun yang terjadi padanya.
"Gampang nanti sarapan sama anggota yang lain. Sudah.. tidur lagi. Abang pergi hanya sebentar"
Arnes mengangguk mengijinkan meskipun hatinya masih terasa berat.
"Siap tidak siap.. Abang harus berangkat. Nanti kamu pasti akan terbiasa. Sambil belajar ya dek" Bang Zaldi mengacak rambut Arnes.
Semakin lama Bang Zaldi menatap wajah Arnes, hatinya semakin tidak tahan, ia pun sedikit menyesap bibir Arnes. Ini pertama kalinya ia merasakan bibir wanita.. lembut, lentur dan manis.
Arnes mendorong dada Bang Zaldi lalu melipat bibirnya kedalam.
"Kenapa??" tanya Bang Zaldi sedikit kecewa.
"Arnes baru bangun tidur, kenapa Abang main nyosor aja, bentuk Arnes masih begini" protes Arnes.
Bang Zaldi tertawa mendengarnya.
"Mau kamu bentuk lonjong, kotak, trapesium, bau tape singkong juga Abang mau" jawab Bang Zaldi datar saja tak ambil pusing dengan ucapan Arnes.
"Ya sudah Abang berangkat saja daripada hati dan mata Abang ternodai"
Arnes meraih tangan Bang Zaldi dan mencium punggung tangan suaminya.
"Mas bojo hati-hati ya. Arnes tunggu" ucapnya.
"Iya.. pasti. Assalamu'alaikum"
"Wa'alaikumsalam" jawab Arnes. Ia ikut bangun dan mengantar Bang Zaldi sampai depan pintu.
Punggung Bang Zaldi sudah tidak terlihat lagi dalam gelapnya kabut pagi.
"Arnes kangen Abang" ucapnya sesenggukan tapi gengsi mengatakannya pada Bang Zaldi.
***
Orang tua Bryna melihat Bang Seno sebagai pribadi yang santun dan gentle. Tapi perbedaan keyakinan yang membuat mereka berjarak. Selama Bang Seno pergi memang Bryna dan Seno menjalin hubungan lebih serius dan kini Bang Seno sudah memantapkan hati untuk mencoba meminang Bryna. Mama Bryna hanya bisa menangis pasrah.
"Tapi kami ingin memiliki menantu yang satu keyakinan dengan kami" kata Papa Bryna.
"Kalau kamu memaksa menikahi Bryna. Kami tetap merestui, tapi dengan berat kami terpaksa mencoret Bryna dari keluarga kami. Sekarang putuskan..!!"
Bang Seno menatap wajah sendu Bryna. Ia sungguh tidak tega jika Bryna harus terpisah dengan keluarganya.
"Itu artinya saat pernikahan, tidak akan ada kami dan tidak akan ada acara resmi lainnya" Papa Bryna menambahi ketegasannya.
__ADS_1
"Baiklah kalau Papa bilang begitu, jujur selama ini Bryna tertarik mempelajari kepercayaan Abang dan tanpa mengurangi rasa hormat serta kasih sayang orang tua. Bryna menerima lamaran Abang" jawab Bryna tak kalah tegas.
"Tapi dek.."
"Bryna yakin menyerahkan hidup Bryna sama Abang dan akan setia mendampingi Abang" ucap Bryna.
Papa Bryna berdiri dan mempersilakan Bryna mengemasi semua barangnya. Ada sedikit kecewa dari kedua orang tua Bryna karena Bryna ternyata sudah menyiapkan berkas untuk pernikahannya dengan Bang Seno tapi Bang Seno pun juga tidak pernah tau jika selama ini Bryna mengajukan penggantian identitas diri untuk bisa menikah dengannya. Sungguh pengorbanan seorang Bryna untuk Bang Seno.
Bryna segera mengambil segala yang ia butuhkan. Setelah lima belas menit, Bryna keluar dengan membawa tiga koper besar miliknya.
"Papa akan menanda tangani semua berkasmu, tapi Papa dan Mama tidak akan hadir dalam acara pernikahanmu. Papa harap kamu mengerti Bryna. Ini prinsip yang Papa pegang teguh"
"Bryna ngerti pa"
Papa dan Mama memeluk Bryna dan mengecup putrinya dengan sayang.
"Pergilah.. sebelum Papa berubah pikiran" kata Papa.
"Baik-baik jaga putri saya ya Seno"
"Kamu tetap anak Mama" tangis Mama pecah tapi Bryna tetap tegar dan teguh bersama pilihannya.
"Baik pa. Akan saya jaga putri papa seperti saya melindungi diri saya sendiri"
-_-_-_-_-
Bryna baru bisa menangis di dalam mobil bersama Bang Seno. Bang Seno pun menghapus air mata Bryna.
"Kamu ikhlas?" tanya Bang Seno.
"Oya Bang. Bryna ingin mengganti nama untuk identitas Bryna. Abang ada usul?"
"Abang tidak pernah memaksakan apapun tentang kamu. Abang hanya butuh dirimu saja. Tidak penting sebuah nama" jawab Bang Seno.
"Bryna hanya ingin meninggalkan segala cerita lama. Bryna ingin semuanya di mulai dari awal"
"Hmm.. apa ya dek" Bang Seno berpikir sejenak kiranya apa nama yang cocok untuk Bryna.
"Kalau Bryna Eleanor menjadi Sabrina Rahsheda.. wanita yang teguh pada pendirian. Apa kamu suka?"
"Suka Bang" Mata Brina berkaca-kaca. Ribuan kata tak mampu mengungkapkan segala rasa.
"Jadi namamu tetaplah Brina" jawab Bang Seno.
Mulai detik ini. Brina akan ikut dengannya. Ia akan membawa Sabrina hidup di Sulawesi sampai nanti pengajuan nikah itu selesai agar Bang Seno segera menghalalkan Brina.
***
Bang Righan sudah datang dari Jawa dan langsung menuju kontrakan Bang Seno sesuai perintah Bang Zaldi.
"Waahh.. Nyonya besar enak sekali. Siang bolong makan buah. Di sajeni apa kamu sama Abang?" ledek Bang Righan.
"Abang isi kulkasnya sampai penuh" jawab Arnes.
"Merdeka lahir batin ya Nes" Bang Righan langsung menuju kulkas dan mengambil apel merah di sana.
//
__ADS_1
"Menurut Abang apa Bang Zaldi itu tipe pria pengkhianat?" tanya Arnes sambil membaca sebuah artikel tentang kehamilan.
Righan berpikir sejenak. Kemarin saat Arnes mabuk, Bang Zaldi begitu marah. Adik iparnya itu sampai menangisi Arnes karena merasa lalai menjaga Arnes. Tapi ia tidak ingin membicarakan hal ini dengan Arnes agar Arnes bisa memahami karakter dan sifat suaminya sendiri.
"Abang Zaldi jauh dari kata selingkuh. Abang juga laki, paham lah Abang. Kalau hanya sekedar lirik sih wajar. Kita laki Nes, tapi untuk macam-macam.. Abang yakin nggak"
"Bang.. Apa pria akan selalu minta cepat punya momongan kalau sudah menikah??" tanya Arnes lagi.
Bang Righan melirik ponsel di tangan Arnes, ia melihat Arnes membaca artikel tentang kehamilan tapi dari nada suaranya, jelas sekali terdengar kalau Arnes seperti tidak siap memiliki anak sedangkan Bang Zaldi memang sudah dalam usia sangat siap memiliki momongan. Wajar saja kalau Bang Zaldi ingin segera memiliki momongan.
"Kalau Abang sih iya dek. Banyak hal yang bisa kita ambil hikmahnya dengan hadirnya buah hati. Pertama, jika orang waras.. bisa menghindarkan kita dari perselingkuhan. Kedua.. mendekatkan diri kita sebagai suami istri. Ketiga.. menurut Abang, anak itu adalah bukti cinta" jawab Bang Righan sekenanya.
Arnes menghela nafasnya. Ia mencoba membolak balikan perasaan mencari keputusan yang terbaik untuk dirinya dan Bang Zaldi kedepannya.
***
Dua belas hari berlalu.
"Mbak Brina mau pengajuan nikah hari ini??" tanya Arnes.
"Iya Nes, doakan lancar ya" kata Mbak Brina.
"Arnes bisa ajari bacaan ini nggak?"
Arnes tersenyum saat Mbak Brina memintanya untuk mengajarinya membaca sebuah ayat.
"Sini mbak.. kita baca sama-sama"
***
Bang Zaldi menurunkan kayu yang akan di pergunakan untuk membangun rumah warga, disana jarang ada bahan material dan kalaupun ada semuanya harus melewati sungai dan ijin masuk yang ketat.
"Ijin Dan.. makan siang dulu" ajak seorang anggota Bang Zaldi. Serma Abdullah.
"Bapak makan saja dulu bersama yang lain. Saya belum lapar" jawab Bang Zaldi.
"Mohon maaf Pak Zaldi.. Sepertinya Pak Zaldi sedang merindukan keluarga. Tempat kita ini memang terkendala sinyal. Sulit untuk kita mengabari mereka. Kebetulan saat Pak Zaldi yang membawahi, sinyal kita sedang kabur. Alat radar pun sedang perbaikan." kata Pak Abdullah.
"Astagfirullah hal adzim.." Bang Zaldi begitu cemas hingga raut wajahnya pucat.
"Sebenarnya saya baru saja menikah pak, tapi saya belum sempat lapor Komandan. Jadi saya kepikiran istri saya, apa dia baik-baik di sana. Cuaca sedang tidak baik" jawab Bang Zaldi.
Sudah tiga hari ini Bang Zaldi tidak bisa makan. Ia begitu cemas memikirkan Arnes meskipun Arnes aman bersama dua Abangnya.
"Lebih baik bapak makan dulu, biar bapak juga tidak drop. Sabar pak, delapan hari lagi kita aplos anggota"
Bang Zaldi pun berhenti menurunkan kayu. Langkahnya pelan meninggalkan tempat.
"Aarrgghh.. kenapa perutku sakit sekali" gumam Bang Zaldi meremas perutnya yang terasa sakit. Ia berpegangan pada sebatang pohon.
"Ijin Dan.. Komandan baik-baik saja??" tanya anak buah Bang Zaldi panik saat melihat Komandannya lunglai di daerah tugas.
.
.
.
__ADS_1