Di Ujung Peluru 2 & 3 (Hati Sang Prajurit)

Di Ujung Peluru 2 & 3 (Hati Sang Prajurit)
DUP 3. 111. Ribut di rumah.


__ADS_3

"Untukmu Arnesia istri kesayanganku.. Abang sangat mencintaimu" ucap Bang Zaldi tak hentinya bergumam kata sakti itu bahkan di depan kesatrian pun Bang Zaldi masih mengucapkannya.


"Untukmu Arnesia istri kesayanganku.. Abang sangat mencintaimu"


"Siap..!!!" Jawab anggota jaga kesatrian.


"Deeeehh, lambeku ndoweh" gumamnya.


"Apa Bang??" tanya Arnes.


"Ora.. cintakuuu" jawab Bang Zaldi. Kemudian melanjutkan kata-kata saktinya.


:


Bang Zaldi langsung menggendong Ibra dan Ryan yang menyambutnya di depan rumah. Si kecil Ryan sudah bisa merangkak dan memanggil 'papa'.


Si kecil Ryan demam dan memeluk papanya dengan erat.


"Ryan panas ya Opa?" Tanya Bang Zaldi pada Opa Rama.


"Iya Zal, mungkin mau tumbuh gigi"


"Ini giginya ada empat Opa, atas dan bawah" kata Bang Zaldi tidak paham.


"Gigi geraham kali Zal. Makanya jangan tau buatnya doank. Gigi yang mana yang tumbuh pun kamu nggak tau" ledek Papa Rinto.


Bang Zaldi menggaruk kepalanya yang tidak gatal karena sejak tadi terus mendapatkan ledekan dari keluarga Arnes yang super usil.


"Cayan_Papa" ucap si kecil Ryan di pelukan Bang Zaldi. Pria kecil itu bergumam kecil di bibirnya yang baru bisa bersuara satu dua patah kata. Bang Zaldi mengusap punggung kecil itu. Putra yang ia dapatkan karena sebuah kesalahan tapi perlahan hatinya mulai menyayangi jagoannya itu. Tidak seperti Arnes yang langsung berusaha belajar mencintai Ryan mengingat bayi itu tidak berdosa. Ia lebih butuh banyak waktu untuk menata hati dan pikirannya.


"Papa juga sayang Ryan. Abang Ryan mau mam apa? Mam sama Papa ya..!!" bujuk Bang Zaldi.


Ryan mengangguk lemas. Tak di sangka Ibra melihat semua itu dan ia merasa tidak diperhatikan sang papa khas anak kecil yang sedang merajuk.


"Abang Ibra sama Mama ya..!!" Tanpa pikir panjang Arnes menggendong Ibra melupakan perutnya yang mulai membesar.


"Aawhh.." pekiknya. Belum sampai Ibra terangkat, Arnes sudah merosot di lantai ruang tamu.


"Dek.. Ya Allah"


"Tolong gendong Sen..!!" Bang Zaldi langsung menyerahkan Ryan pada Seno dan membawa Arnes ke kamar.


"Tante Mey mana????????" Bang Zaldi sudah cemas bukan main melihat Arnes tiba-tiba pingsan.


...


"Seperti biasa Bang. Terlalu lelah. Tau sendiri khan Arnes nggak bisa capek" kata Tante Mey.


Bang Zaldi duduk di samping Arnes.


"Pengen opo ndhuk, papa carikan" bisiknya di perut Arnes.


"Abang harus gimana? Maunya apa dek?" tanya Bang Zaldi sambil merapikan rambut Arnes.


"Arnes mauu....................."


...


Bang Seno bersiul nakal saat Tante Mey melintas di hadapannya.


"Lama nggak ketemu makin mekar aja nih Tante. Di kasih apa sama Bang Bayu" ledek Bang Seno sambil mendekap istrinya.

__ADS_1


Wajah Mey langsung berubah muram. Ia sangat kesal dan langsung memekik. Suaranya melengking membuat Bang Seno kaget.


Bang Bayu yang mendengar suara istrinya berteriak langsung berlari cepat menghampiri sumber suara.


"Kenapa dek???"


"Seno nih Bang..!!" Mey menangis sambil memeluk Bang Bayu. Ia terisak sedih.


"Kamu apakan Sen??? Jangan buat ulah. Bisa nggak sih kita nggak bermasalah sehari saja" tegur keras Bang Bayu.


"Hajar Bang..!!!!" pinta Mey.


"Eeehh.. tante-tante. Jangan ngadu yang nggak-nggak ya. Fitnah itu kejam" kata Bang Seno.


"Kenapa dek? Bilang sama Abang. Nggak usah takut..!!" Bang Bayu berusaha menenangkan istrinya.


"Seno bilang adek mekar. Berarti adek gendut donk" Tante Mey mulai mengadu.


"Gendut nggak apa-apa kok. Abang tetap suka"


Mey melepaskan pelukan Bang Bayu. Tatapannya kini berubah tajam.


"Berarti Abang dukung Seno kalau adek memang gendut?"


"loh.. eehh nggak sayang. Maksud Abang bukan begitu" Bang Bayu kelabakan karena bingung dengan jawabannya sendiri.


"Aarrgghh.. kamu ini Sen. Bibirmu ini memang pengen di tabrak helikopter. Ada aja sih mulutmu. Kalau bumil ngambek susah nih warasnya" protes Bang Bayu sambil melempar bungkus rokok ke jidat Bang Seno.


"Lagian kenapa sih Abang bahas gendut segala. Jangan-jangan aku gendut nih?"


"Abang sayang kok" jawab Bang Seno tanpa sadar.


//


"Dengar ya Brewok.. kalau nggak karena istri saya ngidam pengen kamu masakin lele goreng. Sampai kapanpun saya satu-satunya pria yang menentang istri di masakin pria lain" ucap Bang Zaldi lantang karena jengkel sudah sampai di ubun-ubun kepala.


Bang Zaldi terus mengomel sambil melihat Om Adi menangani lele yang akan menjadi tumbal untuk ibu DanSat.


"Kenapa lama sekali??"


"Ijin Bang, saya takut di patil lele" jawab jujur Om Adi.


"Yaaa.. Astaga.. nggak cocok banget sama kumismu itu" ejek Bang Zaldi.


"Waahh..waahh.. ada bapak-bapak teraniaya nih" entah kenapa belakangan ini Bang Seno suka sekali meledek, bahkan ledekannya setingkat dengan ibu-ibu asrama.


"Yaelah.. sama lele aja nggak berani. Kasih Bang Zaldi tuh pakarnya dunia perpatilan"


"Diam..!!! lambemu tak taplok jenggel lho Sen..!!!" pekik Bang Zaldi sambil berkacak pinggang.


"Hwaa.. Abaaang..!! Nggak berani saya Bang" teriak Om Adi loncat kesana kemari.


Bang Seno tertawa terbahak, tak sengaja seekor cicak jatuh di atas dahinya. Bang Seno berteriak tidak karuan sampai tak sengaja menginjak kaki Bang Zaldi dan tak sengaja pula tangan Bang Zaldi berpegangan pada lengan Om Adi. Kini jadilah mereka bertiga terjungkal di kubangan bebek milik Bang Zaldi.


...


"Kalian ini apa-apaan?? Urus lele beberapa ekor saja masa sampai harus terjungkal di kubangan bebek" kata Papa Rinto sambil menyiram tubuh ketiga pria itu.


"Hwaaaaa.. Ya Allah.. Tolong...!!!!!!" Bang Zaldi berteriak dan berguling tidak tentu arah membuat Papa Rinto cemas. Papa Rinto mengira Zaldi sedang kambuh sakaunya. Papa Rinto sudah akan berlari mengambil tali dan lainnya tapi ia menyadari menantu laki-lakinya itu mengibaskan kakinya dengan panik.


"Allahu Akbar.. Zaldiiii..!!!! Kamu nggak akan mati kalau ketempelan begituan..!!!!" kata Papa Rinto kemudian menyergap menenangkan Bang Zaldi kemudian mengambil lintah di betis menantunya.

__ADS_1


:


Bang Zaldi sudah mulai tenang. Oma Dinda juga sudah memberinya minum. Wajah suami Arnes itu masih pucat. Kini seluruh keluarga baru mengetahui satu-satunya binatang yang menjadi kelemahan seorang aligator.


"Darahku habis nggak pa??" tanya Bang Zaldi dengan cemas.


"Walah Bang, hanya tinggal tersisa satu cangkir ini Bang" jawab Bang Seno yang usil.


"Bimaaa... minta anak-anak pangkas semua rumput..!! Jangan ada rumput yang tingginya melebihi mata kaki..!!!" perintah Bang Zaldi.


"Kuras kubangan di luar tembok rumah saya..!!!"


"Seno.. tolong carikan saya darah di PMI" tak hentinya Bang Zaldi ketakutan.


"Zal, pangkas rumput sih boleh. Tapi nggak usah pakai cari darah ke PMI segala. Percaya sama Opa, jangankan darah.. ingus saja tidak akan pergi dari tubuhmu tanpa seijinmu" kata Opa Rama.


"Arnes dimana Opa? Jangan biarkan dia kemana-mana. Di luar bahaya sekali"


Semuanya menggeleng kepala kalau sudah berurusan dengan kecemasan Pak DanSat


:


Bang Bima dan Bang Seno memapah Bang Zaldi. Bang Zaldi yang masih lemas langsung membanting diri duduk di sofa.


"Aaaaaahh.. Opo iki??????" Baru meletakan pantat, Bang Zaldi langsung berjingkat. Tangannya meraba bagian bawah.


"Kenapa Bang?? Betisnya sakit lagi???" tanya Bang Seno.


Mata Bang Zaldi langsung melotot.


"Dek..!!!! Allahu Akbar" Bang Zaldi memercing sambil memegang sesuatu.


"Apa sih Bang??" dengan malas Arnes berjalan pelan saat Bang Zaldi memanggilnya.


"Kamu taruh sepuluh jarum pentul di sofa.. bisa pecah semua barang keramat Abang" Bang Zaldi protes karena dirinya tertusuk jarum pentul Arnes.


"Bener-bener ya perempuan. Taruh jarum pentul sembarangan aja, di lengan baju Abang, di peci.. ini sekarang ada di sofa. Apa nggak ada tempat lain untuk taruh jarum pentul????"


"Kalau Abang tau barang milik Arnes nggak boleh di taruh sembarangan, seharusnya Abang juga tau kalau 'barang' Arnes nggak boleh mampir kemana-mana meskipun cuma tangan" jawab Arnes lalu berjalan kembali masuk ke kamar.


"Hmm.. itu masih peringatan. Barang keramat Abang yang pecah, sekali lagi Abang begitu.. belati kebanggaan Abang beset semua"


"Aduuuhh Tuhan.. mati m****s kalau istri sudah cemburu" Bang Zaldi memijat pelipisnya, rasanya ia sudah mati akal menghadapi bumil yang sedang membawa Neng Poponnya.


Opa Rama mencolek lengan Bang Zaldi.


"Masa Zaall.. Nggak bisa ngatasi bini lagi rewel. Laki bukan???"


"Rugi bandar broo kalau nggak bisa. Tunjukan jiwa buayamu..!!!!!" bisik Opa Rama.


Mendengar ucapan Opa Rama tentu Bang Zaldi merasa tertantang.


"Tenang Opa.. buaya yang ini terlatih"


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2