
Anye memalingkan wajahnya dengan pipi memerah. Bang Rinto pun merasakan hal sama tapi mungkin karena ia adalah seorang pria.. Bang Rinto lebih bisa menutupi perasaannya yang jelas menggebu.
Sudah cukup lama sejak kejadian Anye di rawat di rumah sakit, Bang Rinto belum menyentuh istrinya lagi. Bang Rinto ingin menjaga Anye dan bayi yang masih ada dalam kandungan istrinya.
"Mau masuk apa mau disini dulu?" tanya Bang Rinto.
"Mau disini dulu. Anye jarang lihat suasana malam seperti ini" jawab Anye.
"Ya sudah.. sini..!!" Bang Rinto menarik Anye agar bersandar pada dada bidangnya. Anye pun langsung bersandar nyaman di dalam dekapan Bang Rinto. Untuk sesaat mereka terdiam.
"Anye nggak pernah menyangka di usia yang belum genap sembilan belas tahun sudah akan menjadi seorang ibu" ucap Anye membuka percakapan mereka.
"Kamu takut??" tanya Bang Rinto sambil mengusap badan Anye agar Istrinya tidak kedinginan.
Anye mengangguk. Ia memang sangat takut menghadapi kehamilannya ini.
"Takut apa?"
"Anye takut tidak bisa menjadi orang tua yang baik untuk anak Abang karena Anye menghadapi kehamilan di usia muda, takut ketidak kedewasaan Anye mempengaruhi cara Anye dalam mendidik anak. Membesarkan anak juga perlu di bekali banyak ilmu. Apalah Anye yang belum banyak menelan asam garam kehidupan. Tapi yang paling Anye takutkan adalah saat persalinan, kalau Anye mati lebih dulu. Entah bagaimana anak kita nanti Bang" jawab Anye.
Secepatnya tangan Bang Rinto menutup bibir Anye.
"Jangan bicara macam-macam lagi. Kamu pasti kuat, pasti bisa. Dari setiap ucapanmu, Abang sudah tau bagaimana istri Abang yang sebenarnya" suara itu menjadi sendu.
"Lain kali jangan bicara tentang hidup dan mati. Itu semua bukan milikmu..!!" Dekapan Bang Rinto semakin erat.
"Abang nangis?" tanya Anye.
"Abang nggak cengeng seperti kamu" jawab Bang Rinto tapi mata itu terpejam menahan perasaan sedihnya saat mengingat mendiang Vilia. Bukan karena rasa rindu dan cinta yang kembali muncul. Tapi semua tentang rasa bersalah yang tidak pernah bisa ia tepis karena tidak bisa menjaga istrinya dengan baik.
"Abang kangen Mbak Vi??" tanya Anye.
"Nggak usah mengada-ada" jawab Rinto tak ingin berdebat karena memang bukan itu yang menjadi sumber masalahnya.
"Dan kamu nggak perlu cemburu ya..!!" tegas Bang Rinto.
Anye tak ingin bicara lagi meskipun di bibirnya kadang ingin berucap juga. Anye hanya bisa mendongak menatap mata Bang Rinto.
"Karena kamu sudah segalanya. Abang nggak tau bagaimana caranya jujur dan buat kamu percaya. Kamu satu-satunya di hati Abang" ucap Bang Rinto dengan tatapan mata mengisyaratkan seluruh kejujuran yang ia punya.
"Apa kamu percaya?"
"Anye percaya Bang" jawab Anye.
Perlahan Bang Rinto mengecup bibir Anye. Ada keraguan dan rasa takut untuk mendekati istrinya, tapi ada gejolak yang tidak bisa ia lawan hadirnya. Rasa rindu yang memuncak di dalam dada seakan terus menuntutnya untuk meminta segera di selesaikan, takut semakin terlupa.. Bang Rinto menariknya kembali.
"Kenapa?" tanya Anye dengan kecewa. Sebenarnya Bang Rinto juga merasakan hal yang sama.
"Abang takut kamu Kenapa-napa lagi. Kamu juga tau khan bagaimana Abang" ucap Bang Rinto sembari membelai rambut Anye.
"Ya sudah begini saja.." Anye berpindah posisi dan duduk di pangkuan Bang Rinto. Mendapat tingkah seperti ini jelas saja membuat Bang Rinto salah tingkah dan kelabakan. Ia bingung bagaimana harus menempatkan diri. Posisinya sudah terkunci.
__ADS_1
"Anye rindu..!!" ucapnya lalu mengecup Bang Rinto.
"Jangan nakal..!!" kata Bang Rinto mengingatkan.
"Anye cuma mau sayang Abang sedikit saja" kata Anye.
"Sedikitmu itu banyak di Abang dek..!!" Bang Rinto sudah ingin mendekati bibir Bang Rinto tapi istri kecilnya itu malah menghindar.
Bang Rinto mencobanya sekali lagi tapi Anye semakin mundur dan semakin menguji benteng pertahanan Bang Rinto.
"Waahh.. uji nyali kamu ya..!!!!" ucap Bang Rinto terdengar jengkel. Alisnya terangkat licik.
***
Bang Rinto keluar dari koperasi setelah membayar harga minumannya. Ia menghabiskan minuman bersoda nya setelah berlari sejauh sepuluh kilometer bersama dengan anggota yang lain.
Tangannya melempar botol soda itu ke bak sampah dan langsung duduk dengan kasar di kursi panjang depan koperasi. Badannya terasa remuk tak karuan setelah menghabiskan malam bersama istri tercinta.
"Loyo banget Rin??" sapa Brian yang juga baru saja menghabiskan minumannya.
"Iya nih. Badan pada sakit semua. Tolong tekan punggung donk BRI.." kata Rinto memercing kurang nyaman.
"Sini..!!!!!"
Tanpa banyak pilih, Rinto segera mengambil tempat, dan tertelungkup di dekat kursi panjang. Brian pun segera menekan punggung Rinto hingga bunyi berkali-kali.
"Uughh.. leganya Bri.. Thanks ya..!!"
"Mas.." sapa seorang wanita berdiri di hadapan Brian dan Rinto.
Kedua pria itu langsung menoleh ke arah suara.
"Sheila..??????" Brian menatap Sheila mulai ujung rambut hingga ujung kaki. Wanita itu kini jauh dari kesan anggun seperti dulu. Terlihat biasa saja meskipun masih ada paras cantik disana.
"Iya Mas Bri. Ini aku" Sheila rata-rata masih mengingat siapa saja teman Bang Rinto.
"Mau apa kamu kesini??" tanya Bang Rinto.
"Aku mau minta maaf mas, aku salah" jawab Sheila.
"Sudah ku maafkan" ucap Bang Rinto.
"Apa kita bisa kembali seperti dulu..??" tanya Sheila penuh harap.
Bang Rinto tertawa sinis mendengar permintaan Sheila. "Saya sudah menikah"
"Nggak mungkin mas. Bukannya mas sangat mencintaiku lebih dari apapun dulu" kata Sheila tidak percaya.
"Kamu benar. Itu dulu dan berbeda dengan sekarang. Kamu hanya mimpi buruk saya" Bang Rinto pergi meninggalkan Sheila, tapi Sheila mengejar Bang Rinto dan memeluknya dari belakang.
Bang Rinto segera menepis dekapan tangan Sheila dengan kasar.
__ADS_1
"Apa karena sekarang aku sudah nggak cantik lagi? Jangan membohongiku seperti ini. Aku tau dia hanya Mas anggap adik saja. Apa mungkin kamu mau dengan wanita yang usianya jauh di bawahmu mas???" tanya Sheila.
"Itu bukan urusanmu.. Saya bahagia dengan Anye. Kita sudah selesai, saya punya kehidupan sendiri" jawab Bang Rinto dengan tegas.
"Sheila, sebaiknya kamu pulang. Rinto memang sudah menikah" kata Brian menengahi keributan.
"Mana buktinya. Kami banyak melewati hari bersama dan itu bukan hubungan yang biasa" pekik Sheila.
"Oke, jadi kamu mau tetap bersamaku??" tanya Bang Rinto.
"Iya.." jawab Sheila tegas.
"Gaji saya hanya satu juta lima ratus ribu setiap bulan karena saya punya banyak cicilan. Semua uang, saya yang pegang. Tidak boleh dugem, tidak boleh mabuk, tidak boleh merokok. Setiap pagi harus buat sarapan untuk saya, menyetrika, cuci baju, mengepel, bersihkan rumah. Nantinya harus mengurus anak. Kamu sanggup??" tanya Bang Rinto.
"Akuuuu...."
"Nggak perlu di jawab. Saya tau siapa kamu. Kamu nggak akan sanggup hidup sederhana seperti yang saya sebutkan tadi" kata Bang Rinto.
"Abang?? Abang disini?" tanya Anye. Anye lumayan terkejut saat tau ternyata Sheila yang sedang berbicara dengan suaminya tadi dan ia pun sudah mendengar dengan jelas semua percakapan itu saat menguping di samping tembok koperasi.
"Iya, kamu cari apa ke koperasi?" tanya Bang Rinto yang sebenarnya cemas Anye akan salah paham melihatnya bersama Sheila.
"Cari Abang.. tadi Abang nggak ada di ruangan" jawab Anye dengan rengekan manja.
"Abang habis olahraga. Mau apa cari Abang di ruangan" Bang Rinto bingung karena tidak biasanya Anye mencarinya sampai ke ruangannya.
"Si dedek kangen papanya, minta di sayang dulu"
Bang Rinto baru menyadari kalau sudah seperti ini berarti Anye sudah sangat jengkel jika ada wanita lain yang mendekatinya dan itu berarti ia harus bisa mengimbangi rengekan istrinya.
"Masa sih, manja ya anak papa"
"Iya donk. Makanya kita pulang aja yuk Bang" jawab Anye.
Eehh.. tunggu Bang..!! Bukannya ini wanita yang kita lihat di jalanan waktu itu ya, yang mau minta-minta itu?" kata Anye dengan wajah polosnya.
"Kamu ingat dek??"
"Ingat donk.. Abang kasih aja lah satu kali gaji Abang yang satu setengah juta itu. Nggak apa-apa deh kalau uang yang berkurang sedikit hari ini. Hitung-hitung buang sial. Yang penting nggak minta nimba air aja dari Abang"
"Haaahh" Bang Rinto sampai melotot mendengar celotehan Anye.
"Abang khan tau, punya Anye ya punya Anye.. nggak mau berbagi atau di bagi" ucap Anye meniru kalimat Bang Rinto.
Secepatnya Bang Rinto mengeluarkan uang dari dompetnya agar masalah dengan Sheila cepat selesai daripada Anye semakin murka di tempat.
.
.
.
__ADS_1