
"Abang.. maaf..!! Abang mau kita sekarang aja?" Anye bangun dan memeluk suaminya.
"Nggak usah memaksa dek. Abang masih waras. Istri sakit nggak mungkin Abang sempat pikir aneh-aneh. Nanti saja kalau kamu sudah sehat. Kamu pasti kecapekan juga setiap hari membagi waktu antara tugas di rumah, kantor, juga mengasuh Seno. Abang minta maaf sudah membebaniku banyak pekerjaan. Buat kamu capek" ucap Bang Rinto.
"Anye ikhlas kerjakan semua Bang. Sudah tugas Anye melayani semua kebutuhan Abang"
"Tapi......"
"Sudah Bang. Jangan bahas ini lagi ya..!" pinta Anye.
Bang Rinto pun merebahkan istrinya perlahan.
"Abang ambilkan obat ya..!!" Bang Rinto mencoba segala hal untuk meringankan demam Anye. Tangannya sibuk mencari obat di lantai.
"Obatnya di ruang tengah Bang" kata Anye.
Bang Rinto segera keluar mencari obat itu. Tak lama Seno terbangun dari tidurnya dan menangis. Saking gugupnya obat yang di pegangnya hingga jatuh tercecer di lantai.
"Sabar dek.." Bang Rinto menggenggam obat lalu masuk ke dalam segera menggendong baby Seno.
"Ini cepat minum obatnya..!!" Bang Rinto buru-buru menyerahkan obat itu pada Anye.
"Ini khan obat maag Bang" kata Anye saat menerima obat dari Bang Rinto.
"Ya Allah, Abang salah ambil obat dek. Sudah panik Seno nangis" Bang Rinto berusaha menenangkan Seno.
...
Sudah beberapa lama, Seno tak kunjung tenang hingga Anye terpaksa harus benar-benar memastikan anaknya nyaman.
"Seno sama mama ya..!! Biar papa makan dulu"
"Jangan dek. Kamu istirahat saja" tolak Bang Rinto.
"Cara Abang gendong kurang lembut, Seno jadi kurang nyaman" kata Anye.
"Masa sama papanya sendiri merasa nggak nyaman?" tanya Bang Rinto.
"Sekarang Abang dekap dia, dan tenangkan seperti Abang mendekapnya sewaktu Seno baru lahir"
Bang Rinto sedih sekali, ia merasa tidak berguna sebagai seorang bapak yang seharusnya sudah pintar mengasuh bayi di usianya.
"Jangan berkecil hati Bang. Sejak lahir Abang hampir nggak pernah menggendong anak kita. Abang bukannya nggak bisa. Hanya masih kaku saja karena Abang baru belajar menggendong anak kita sekarang" kata Anye membesarkan hati Bang Rinto.
"Terima kasih kamu nggak marah sama Abang"
"Kalau Anye belum bisa masak sampai sekarang. Apa Abang akan marah sama Anye?" Anye pun membalikan pertanyaan suaminya.
"Memasak bisa belajar, tetap tidak bisa ya Abang yang akan memasak. Tapi paling tidak, ada satu masakan yang kamu kuasai supaya kalau saat tidak ada Abang di sampingmu.. Kamu tidak seperti orang yang paling menyedihkan" kata Bang Rinto.
"Abang mau kemana?" tanya Anye selalu cemas kalau perkataan suaminya sudah mengarah pada tugas dan perpisahan.
"Kamu ini kenapa sih sensi sekali sekarang. Abang ini laki dek, kepala keluarga.. pasti akan banyak di luar rumah untuk menghidupi keluarga" Bang Rinto heran dengan pertanyaan Anye.
"Iya Bang"
"Ya sudah kamu berbaring lagi. Ini Seno juga sudah tidur lagi"
***
Beberapa hari ini Bang Rinto merasakan kejanggalan dan merasa seperti orang bodoh karena sekarang ia tidak memahami alur keluar masuknya pasukan.
"Ijin bertanya Komandan..!! Apa sekarang saya sedang di kucilkan???" protes Rinto pada Rama di ruangan kerja Komandan yang juga ayah mertuanya.
"Memang ada masalah apa sampai kamu bertanya begitu?" tanya Ayah Rama.
"Tidak ada satupun laporan atau pekerjaan di meja saya. Juga group Torpedo Biru juga tidak ada informasi apapun selain kegiatan apel dan informasi kegiatan harian"
"Kegiatan memang sedang landai. Kamu santai saja dulu. Ini juga saya tidak banyak pekerjaan" jawab Ayah Rama.
"Satu pleton pasukan kita kemana? Tidak ada latihan, tidak sekolah, tidak ada BKO, tidak ada tugas khusus. tapi di televisi ribut sekali masalah gejolak perang. Apa anggota kita pergi dinas khusus kesana?" tanya Bang Rinto.
"Itu Batalyon lain" jawab Rama.
"Baiklah kalau begitu" jawab Rama meskipun masih ada keraguan.
__ADS_1
"Hmm.. satu lagi yah. Anissa sering sekali menangis karena Dan Candra tidak pernah lagi pulang ke rumah. Saya kurang nyaman dengan sikap kaku mereka"
"Maksudmu???" tanya Rama yang belum tau apapun soal pengakuan Candra.
"Bukankah Dan Candra suami Anissa, harusnya lebih sering bisa menemani istri yang sedang hamil" kata Rinto begitu prihatin dengan keadaan Anissa.
"Kalau begitu saya ijin dulu Komandan" pamit Rinto.
Setelah Rinto pergi barulah Rama merenung. Entah apa yang terjadi pada keluarga mereka. Dinda pun belum pulih dari kesedihannya.
...
Karena tidak ada pekerjaan di ruangan Danki A. Rinto mengedit hasil pekerjaan saat bermain layang-layang kemarin. Rinto tersenyum melihat wajah cantik sang istri.
Bang Rinto mengambil gitarnya lalu mulai menyanyikan sebuah lagu.
...
" Ayune tenan sih ndhuk... " ucapnya bagai remaja sedang kasmaran. Rinto mengetik kata2 indah dan memasukan lagu yang ia nyanyikan tadi.
"Oke sudah selesai. Ini untuk kamu dek..!!"
"Aduuhh.. nggak enak banget sih rasanya badanku" ucapnya sejak tadi mengoceh sendiri.
...
Mata Rinto menyisir mencari segala sesuatu yang mungkin ia inginkan.
"Nah.. sepertinya itu enak"
Tanpa pikir lama Rinto segera memanjat pohon asam lalu duduk di atas dahan itu dengan tenang.
Gathan, Brian dan Bang Satriyo lewat di sana dan mulai berbincang. Mereka duduk di bangku taman di bawah pohon asam itu.
"Tukar pasukan harus segera di lakukan, kita tidak bisa kirim satu pasukan dalam waktu yang lama" Bang Satriyo menyingkirkan kulit asam yang sedari tadi jatuh di atas kepalanya.
"Masukan saya Bang..!!" pinta Gathan serius.
"Bukannya nggak mau. Ada beberapa sebab kami nggak memasukan kamu di dalam misi ini" kata Bang Satriyo lagi.
"Sudah Gathan. Biar saya yang berangkat" kata Brian.
"Ini apa sih???? Kulit asam jatuh dari atas??" Bang Satriyo mendongak ke atas.
"Heh Codhot.. Waahh.. ternyata si jabrik nongkrong di sana. Ngajak berantem lu ya..!!!!Push up kamu..!!!!!!!" pekik Bang Satriyo saat melihat ternyata Bang Rinto sedang asyik makan buah asam di atas pohon.
Bang Rinto akhirnya turun. Tapi tangannya menenteng asam di tangannya.
Ketiga pria tersebut heran melihat tingkah Rinto. Ada yang berkacak pinggang, ada yang melipat tangan di depan dada, ada yang menggeleng tak percaya saat melihat saku yang ada di seragam Rinto sudah penuh terisi dengan buah asam.
"Apa sih lu Rin, alih profesi jadi tupai???" ledek Brian saat melihat Rinto mengeluarkan seluruh buah asam yang sudah di kumpulkan Rinto dan meletakan di atas meja taman.
"Nggak ada makanan enak" jawab Rinto sambil membenahi jambulnya.
"Daripada makan asam khan bisa makan di kantin Pakde Karto. Kenapa harus asam Bang?" Gathan memegang bibirnya tak tahan membayangkan rasa asam dari buah asam.
"Ngomong-ngomong kalian tadi berunding apa? Misi apa?" tanya Rinto yang ternyata mendengar hal ini.
Belum sampai terjawab pertanyaan itu, Nissa datang menghampiri keempat perwira. "Bang Rinto.. boleh aku bicara?"
Rinto menoleh pada ketiga rekannya.
"Saya??? Mau bicara apa?" tanya Rinto.
"Bisa kita bicara berdua?"
"Maaf Nissa, apa bisa kita bicara disini saja. Lingkungan ini rata-rata pria. Saya tidak ingin terlihat berdua kalau bukan masalah pekerjaan" tolak Rinto.
"Lagipula saya masih menghormati Bang Candra sebagai suamimu"
"Apa Bang?? Kenapa Abang bilang begitu? Dia bukan suamiku" kata Anissa.
Ucapan itu membuat degub jantung Bang Rinto berdetak kencang.
"Baiklah kalau Abang nggak mau kita bicara berdua" ucap Nissa membuat ketiga rekan Rinto saling pandang.
__ADS_1
"Jujur hari ini aku ingin Bang Ezhar membelai dan memanjakanku"
Seketika ucapan Nissa seperti menyambar dan mengingatkan kenangan buruk tentang hilangnya Ezhar.
Rinto memercing memegangi kepalanya yang tidak terkontrol lagi rasa sakitnya, ia ambruk pasrah dan berteriak-teriak mengucapkan semua kondisi Medan ketika terjadi perang saat itu.
"Ezhaar.. pegang tangan Abang..!! Ada keluarga kita dirumah"
"Ezhaaaaar..!!!" teriaknya kuat hingga kemudian Rinto langsung tidak sadar.
...
"Bang.. sadar Bang..!!" Gathan menepuk pipi Bang Rinto hingga sadar. Bang Satriyo pun sampai memanggil dokter karena cemas dengan keadaan Rinto.
Perlahan Rinto membuka matanya. Ia duduk memegang dadanya yang berdetak belum stabil.
"Ijinkan saya berangkat mencari burung emas" kata Rinto dengan suara tercekat.
"Nggak Bang. Itu bahaya, pikir Anye Bang" tegur Gathan.
"Abang paham. Tapi Abang hapal situasi medan. Saat para rekan tidur, saya sendiri yang menjelajah medan mencari lokasi musuh" ucap Rinto tegas.
"Rinto, musuh memang menipis. Tapi bukan berarti tidak ada penyerangan dan baku tembak. Mental memburumu masih lekat di dalam wajahmu. Abang cemas kamu tidak bisa mengontrol emosi" jawab Bang Satriyo.
"Lagipula masa pemulihanmu butuh waktu sekitar empat sampai enam bulan karena kamu punya luka dalam"
Rinto berdiri dari posisinya. Ia mendekat untuk berbicara dengan Bang Satriyo.
"Ada hutang nyawa Bang. Ezhar kakak dari istri saya. Dia membela bangsa kita. Saat ini saya yang tau pasti kemana arah dia akan berjalan. Apa kalian menunggu peti yang kita lihat kemarin berubah jadi empat belas????" nada Rinto mulai meninggi.
"Abang lihat wajah Nissa tadi? mental dia pun sudah mulai hancur walaupun dia tidak mengatakan apapun. Saya juga punya istri yang sedang hamil kemarin dan disitu kelemahan saya sebagai seorang suami. Belum lagi keluarga yang mendengar kabar ini"
Di tengah perdebatan itu. Nissa masuk, ia menangis kencang ingin bertemu dengan Bang Rinto. Thomas pun tak bisa mencegahnya.
Anissa berlari menghambur memeluk Rinto. Rinto mengangkat kedua tangannya saat Anissa memeluknya. Ia merasa tidak nyaman dengan perlakuan itu sebab Annisa bukanlah istrinya, Rinto mencoba melepas perlahan pelukan Anissa.
"Maaf Bang. Aku tau aku salah, tapi aku sungguh merindukan Bang Ezhar. Aku juga nggak tau kenapa aku ingin sekali memeluk Abang" Anissa menangis memeluk Rinto tanpa balasan.
"Nissa, Saya tau perasaanmu. Tapi maaf.. Anye bisa sakit hati kalau kamu memeluk saya seperti ini. Dia juga wanita yang punya rasa sensitif sepertimu. Lepas ya Nissa"
"Abaang???????" Anye begitu kaget saat tau Bang Rinto dan Anissa berpelukan. Kali ini Anye tidak bersikap melawan seperti biasa saat ada 'gangguan' yang datang. Ia tidak bisa berpikir dengan jernih. Anye berlari meninggalkan Bang Rinto yang berusaha melepaskan pelukan Nissa.
"Tunggu dek.. Abang bisa jelaskan..!!" Rinto melepaskan pelukan Nissa dengan sedikit memaksa.
Saat Bang Rinto akan meninggalkan Annisa, istri Ezhar itu malah pingsan.
"Alex... Tolong Nissa. Saya harus kejar istri saya"
...
Langkah Anye semakin pelan saat akan keluar dari area Batalyon menuju perumahan. Nafasnya tersengal.
Kenapa aku tidak bisa mengendalikan hatiku sendiri saat Mbak Nissa memeluk suamiku. Mungkin saja Mbak Nissa sedang mengidam. Tapi rasanya hatiku sakit sekali. Aku tidak bisa menerimanya.
"Dek.. tunggu dulu..!! Dengar penjelasan Abang"
"Anye nggak mau dengar apa-apa dulu Bang. Tolong biarkan Anye berpikir. Apakah perlu Anye cemburu dengan kakak ipar Anye sendiri?? Tapi hati Anye sakit Bang" ucap Anye.
"Abang nggak berduaan dek. Ada banyak orang dek. Tolong pakai perasaan sedikit, mungkin Nissa sedang butuh perhatian"
"Tapi bukan perhatian dari Abang. Anye nggak suka Bang. Abang pulang.. mandi..!! Anye nggak mau ada sisa perempuan lain" Anye begitu kalap dan berteriak marah. Sikapnya juga tidak biasa, tidak seperti Anye yang ia kenal.
"Ya sudah, Abang memang salah. Abang keterlaluan. Jangan marah ya.. Suamimu ini mau di hukum apa?" Bang Rinto berusaha meraih tangan Anye dan membujuk istrinya.
Baru kali ini Abang lihat kamu nggak pakai logikamu saat menghadapi perempuan. Kamu kenapa dek? Tapi Abang maklumi kemarahanmu ini. Sebab kalau Abang yang mengalami juga pasti akan salah paham.
"Anye mau pulang, rasanya............." Anye merosot jatuh di atas tanah.
"Ya Allah Anye...!!!!!" Bang Rinto panik saat melihat Anye pingsan.
"Kamu kenapa sih dek, jangan bikin hati Abang nggak karuan donk" mata Bang Rinto memerah, ia segera mengangkat dan membawa Anye pulang lewat jalan belakang.
.
.
__ADS_1
.