
Kenapa pembaca selalu tidak suka dengan pertengkaran, pria lain atau wanita lain di dalam cerita??? Sulit sekali kah untuk menerima konflik?? Tolong skip jika tidak berkenan. Komentar sangat mempengaruhi hasil cerita. Biasakan tenang dalam membaca sebuah cerita.🙏🙏🙏🙏🙏
🌹🌹🌹
Bukankah kuretase harus segera di laksanakan kalau dalam keadaan darurat?.
"Saya mau ke toilet dulu" pamit Bang Zaldi sambil menegakan kepala dokter Inka menggunakan telunjuknya. Ia tidak ingin hal sekecil apapun tanpa kesadaran diri, bisa merusak rumah tangganya.
Bang Zaldi meninggalkan Inka dan bergidik ngeri.
"Wanita jaman sekarang sangat bahaya. Ya Allah, kuatkanlah imanku" batinnya.
"Harus segera kuselesaikan. Gara-gara memikirkan anak, otakku jadi buntu"
//
Setelah kembali dari toilet ia memutuskan untuk menenangkan diri sejenak. Setelah pikiran dan hatinya sudah terasa lebih baik, Bang Zaldi kembali ke kamar Arnes dan melihat keadaan istrinya itu.
Di kamar rawat Arnes, Bang Zaldi melihat kamar sudah sangat ramai tapi yang paling mengena adalah tatapan mata Bang Righan dan Bang Putra.
"Untuk apa Abang kembali???" bentak Bang Righan.
"Tenang dulu Rig. Jangan buat Arnes semakin terserang syok dan cemas lagi" kata dokter Prasetya litting Bang Zaldi yang juga seorang dokter kandungan.
Arnes terus menangis. Tangisnya terdengar sangat pilu menyayat hati.
"Bagaimana Pras??" tanya Bang Zaldi.
"Usia kandungan istrimu masih tujuh minggu kok Zal. Ini baru aku cek ulang. Juga hanya spooting saja. Tidak ada tanda gangguan vital yang lain. Masa iya Inka bilang begitu?" Jawab dokter Pras.
"Sumpah demi Allah Pras. Dia sendiri yang bilang begitu sama saya. Makanya setelah saya tenang, saya berpikir ulang. Terus bagaimana ini?"
"Nanti biar aku yang bicara dengan Inka dan aku akan mengambil alih rekam medis istrimu untuk kutangani sendiri" kata Pras.
"Sekarang yang paling penting adalah istrimu. Jaga baik-baik Zal. Intinya semua aman"
...
Bang Righan masih terus bersikap protektif dan masih terus mengawasi Arnes.
Bang Zaldi masih terhuyung lemas keluar dari toilet, tapi semuanya ia tahan demi menjaga sang istri. Terus terang ia sangat menyesali sikap dan perbuatannya yang gegabah itu. Ia tidak sanggup membayangkan jika dirinya termakan ucapan Inka, maka ia akan langsung kehilangan seorang anak dan istri sekaligus.
"Abang pulang saja atau temui Inka di kostnya" ucap Bang Righan yang sudah tau tentang semua karena Bang Zaldi sudah jujur dan mengakui semuanya.
"Sudahlah Rig.. saya sudah sebegitu menyesalnya. Apa kamu masih mau menambahi beban batin Abang?" wajah Bang Zaldi nampak pias. Ia terus mengusap perut Arnes.
"Tolong jemput Ibra di rumah ibu pengurus ranting"
"Biar sama saya jemputnya Bang" kata Bang Putra.
...
Arnes tersadar karena efek obatnya sudah habis. Saat mata itu terbuka, yang ia lihat pertama kali adalah tatapan mata kosong dan dingin padanya.
__ADS_1
"Pergi Bang..!! jangan ambil anakku, dia anakku. Arnes mau pulang ke rumah papa. Kalau Abang nggak pergi.. biar Arnes yang pergi..!!" Arnes menyembunyikan perutnya di balik selimut dan memeluknya erat.
"Dek.. adek.. Jangan begitu, Abang yang salah.. Abang minta maaf ya" bujuk Bang Zaldi.
Arnes perlahan ingin turun dari ranjang dan itu semakin membuat Bang Zaldi cemas.
"Keluar bang..!!!!!!! Anak ini nggak mau lihat papanya sebelum papanya dapat hukuman yang paling berat. Arnes benci Abaaaaaang..!!!!!" teriak Arnes.
"Okee.. oke sayang. Abang keluar ya. Kamu jangan kemana-mana, kasihan si dedek" Bang Zaldi mundur perlahan dan mengalah tapi ia tidak kemana-mana, hanya duduk di luar ruangan saja sembari menjaga Arnes dari luar.
//
"Nggak di dalam Bang?" sapa Aswin yang melihat Bang Zaldi hanya mengintip Arnes dari luar.
"Hhhh.. kamu tau lah apa yang terjadi tadi. Saya harap kejadian ini tidak menjadi contoh untuk yang lain"
"Sabar Bang. Semakin umur kita berumah tangga, semakin kencang godaannya" kata Om Aswin.
"Kamu benar Win. Saya sangat menyesalinya" ucap Bang Zaldi penuh penyesalan.
Tak lama Bang Righan datang menggendong Ibra. Rasa bersalah itu kembali terasa. Tapi ternyata di belakang Bang Righan ada Papa Rinto yang sudah memasang wajah siap menelan Bang bulat-bulat.
plaaaakk...
"Keburukanmu adalah terlalu emosional menghadapi sesuatu. Ucapanmu itu tidak pantas untuk di dengar. Kalau kamu nggak bisa membimbing istrimu, biar papa membawanya pulang..!!" bentak papa Rinto.
Bang Zaldi langsung berlutut memegangi kedua kaki Papa Rinto.
"Jangan pa. Ampuuuunn.. Jangan bawa Arnes..!!!"
"Iya pa, benar. Saya yang salah tidak mengontrol ucapan dan emosi. Maaf pa"
"Kata maaf tidak bisa menghapus luka hati. Papa akan membawanya pergi" Papa Rinto menepis tangan Bang Zaldi dan beranjak untuk masuk ke kamar Arnes.
Bang Zaldi pun menghadang langkah Papa Rinto.
"Nggak pa. Langkahi dulu mayatku baru papa bisa membawanya pergi..!!"
"Kamu pikir Papa nggak berani melenyapkanmu????" ucap Papa Rinto karena tau keadaan Bang Zaldi sedang tidak fit. Papa Rinto membuka pintu tapi lagi-lagi Bang Zaldi menghadangnya.
"Papa bisa tindak saya asal jangan bawa anak dan istri saya pergi" tatapan mata Bang Zaldi menunjukan sikap perlindungannya terhadap keluarga.
Papa Rinto yang kesal akhirnya menghantam sisi leher Bang Zaldi. Danki BS tumbang sempurna.
"Papaaaa.. kenapa Papa pukul Zaldi???" pekik Mama Anye.
"Papa hanya menyentilnya pelan ma. Zaldi ini sedang mabuk parah, mudah sekali membuatnya tumbang" Jawab Papa Rinto.
"Aahh Papa.. Arnes bisa marah pa"
"Arnes nggak akan marah. Papa hanya sedikit menegur Zaldi agar cemburu dan sifat kakunya bisa lebih di kendalikan"
...
__ADS_1
Bang Zaldi membuka matanya, rasa mual hebat langsung menyerang. Ia turun dari ranjang tapi kakinya sendiri tidak kuat menyangga tubuhnya, langit bagai di bumi.. bumi bagai di langit mirip seperti orang terserang vertigo. Perut berguncang hebat.
"Arnes.. Abang minta maaf dek" ucapnya lirih.
Papa Rinto dan yang lain hanya mengintip dari jendela. Bang Zaldi menggelepar di lantai bagai ayam di sembelih.
"Di tolong saja pa. Kasihan" kata Bang Righan.
"Kamu belum tau rasanya di sumpahin istri hamil. Tapi ini masalahnya lain. Zaldi memang ada tanda mabuk sedangkan adikmu sekarang sakit hati sekali dengan ucapan ngawur Zaldi. Papa rasa nggak akan bisa waras kalau Arnes nggak maafin Zaldi" analisa Papa Rinto ternyata tepat sasaran. Arnes menangis memeluk Mama Anye.
"Biar saja Abang begitu terus. Arnes sakit hati dengan ucapan Abang"
"M****s lu Bang..!! Mabuk.. mabuk dah lu" kata Bang Righan angkat tangan.
***
Pagi menjelang, dokter Inka masuk ke kamar Bang Zaldi. Danki sedang di temani Letda Aswin. Dokter Inka memeriksa keadaan Bang Zaldi kemudian ingin membangunkan pria gagah yang sedang tidur di hadapannya itu.
"Tolong jangan di ganggu dok. Danki baru saja tidur satu jam yang lalu" Om Aswin menegur dokter Inka.
Bang putra membuka pintu dan melihat keributan itu.
"Jadi kamu yang mau merusak rumah tangga adik saya? Ikut saya.. saya akan buat perhitungan sama kamu" Bang Putra menarik tangan dokter Inka dengan kasar keluar dari kamar rawat Bang Zaldi.
"Apa salahnya berteman dengan Bang Zaldi" jawab dokter Inka.
"Tidak salah, tapi kalau kau arahkan untuk mengganggu adikku. Akan kurusak wajah cantikmu itu dokter Inka" ancam Bang Putra.
"Astagfirullah.. suara apa sih berisik sekali" Bang Zaldi memijat pelipisnya.
"Ijin Bang.. Dokter Inka baru saja menemui Abang. Sekarang sedang di tangani Putra" jawab Om Aswin.
"Cckk.. bahaya. Tolong beri keamanan di ruang rawat saya dan istri saya" perintah Bang Zaldi yang langsung di mengerti oleh Aswin.
...
Bang Zaldi gelisah sekali hingga rasanya hidup segan mati pun tak mau.
"Bagaimana Rig.. apa Arnes sudah mau maafkan Abang?"
"Nggak mau Bang, sepertinya Arnes nggak mau dekat sama Abang dulu" jawab Bang Righan.
"Ya Allah, bodohnya aku. Sekarang malah jadi fatal begini. Abang setengah mati rindu kamu dek" ucapnya penuh harap.
Tiba-tiba Bang Zaldi melirik Abang iparnya yang sedang melihat info di group pusat.
Bang Righan kaget bukan main saat seketika Bang Zaldi menjadi sesak nafas.
"Bang.. Abang kenapa nih Bang?" secepatnya Bang Righan lari pontang panting mencari dokter.
"Nah khan. Kamu aja kelabakan, kita tunggu reaksi Arnes sebentar lagi" gumamnya sambil melanjutkan tidurnya yang tertunda.
.
__ADS_1
.
.