
"Paaa... Adek pa" Bang Seno membawa Arnes masuk ke dalam rumah dengan panik. Tak berapa lama Papa Rinto keluar dari kamar masih membenahi sarungnya yang berantakan.
"Adikmu kenapa Sen???" tanya Papa Rinto.
"Sepertinya kambuh lagi pa"
Papa Rinto menatap wajah Bang Zaldi yang juga terlihat sangat mencemaskan Arnes.
...
Mama Anye menenangkan putrinya yang menangis ketakutan. Beberapa waktu yang lalu Arnes juga pulang dalam keadaan seperti ini sesaat setelah kembali pulang dari club malam bersama Seno.
"Ijin Dan.. Boleh saya tau kenapa Arnes seperti itu?" tanya Bang Zaldi pada Pak Rinto.
"Kamu tidak perlu tau apa yang terjadi pada anak saya" jawab Pak Rinto.
"Mohon maaf kalau saya lancang. Arnes pulang dengan saya dalam keadaan seperti ini. Saya merasa bertanggung jawab dengan kejadian ini Dan" kata Pak Rinto.
"Itulah sebabnya saya tidak mengijinkan pria manapun mendekati Arnes. Lima tahun lalu.. Arnes mengenal seorang pria, saya tau itu kali pertama putri saya mengenal pria selain Abangnya tapi pria itu menyalah gunakan kepercayaan saya" kata Pak Rinto dengan wajah menahan marah.
"Aahh sudahlah.. apa untungnya saya ceritakan semua sama kamu" Pak Rinto beranjak dari duduknya. Suara tangis Arnes masih terdengar disana.
"Pa... sampai kapan Papa akan terus membatasi Arnes. Suatu saat nanti Papa juga harus melepaskan Arnes dengan pria pilihannya" kata Bang Seno.
"Tapi tidak dengan pria temperamental Seno..!!!!!" bentak Pak Rinto.
"Papa menutup mata dan telinga, tapi papa tidak sadar sudah menyiksa Arnes. Bang Zaldi kasar hanya terpengaruh lingkungan pria pa. Tapi Abang bukan pria yang suka mempermainkan wanita apalagi kasar pada wanita. Papa bisa penggal kepalaku. Nyawaku jaminannya pa" kata Bang Seno.
Bang Zaldi masih diam menerka segala yang ia dengar dan rasakan tanpa tau apa yang sebenarnya terjadi.
Pak Rinto kembali duduk dan mengatur nafasnya untuk menenangkan diri.
"Kalau Papa harus mengenalkan pria lain untuk Arnes. Papa sendiri yang akan memilihnya"
"Sampai kapan pa? Sedangkan Arnes sudah punya rasa tapi papa menghalanginya??? Itu jahat pa"
"Senooo..!!!!!!!!" malam itu keributan semakin tak terhindarkan sedangkan pikiran Bang Zaldi sama sekali buta dengan keadaan.
Pak Rinto menata perasaannya sebelum melanjutkan untuk bicara.
"Rumah tangga saya dulu sangat berat dan penuh liku. Perjuangan untuk si kecil Arnes juga tidak mudah. Jujur saya sangat mencintai satu-satunya putri dalam keluarga ini. Seperti Opanya mendidik mamanya.. cara saya melindungi Arnes dari kerasnya dunia luar juga sama karena masa muda saya terlalu sering melihat istri saya menangis, saya tidak mau melihat putri saya banyak menangis juga apalagi sampai tidak bahagia.. hingga pria itu datang" Pak Rinto berusaha tegar.
__ADS_1
"Setiap hari Arnes selalu tersenyum menceritakan pria yang ia sukai itu. Arnes juga dekat dengan saya. Awalnya pria itu datang secara baik-baik. Tapi lama kelamaan saya melihat raut wajah Arnes berubah murung, parahnya lagi, badannya sampai kurus" Pak Rinto mengusap wajahnya tak seolah tak sanggup melanjutkan ceritanya.
Bang Seno mengambilkan papanya segelas air minum sampai papanya kembali tenang dan perlahan mulai melanjutkan ceritanya.
"Saat Seno baru dapat IB keduanya dari pendidikan. Saya semakin menyadari ketidak beresan pada diri Arnes. Saya dan Bima mengikutinya dan saya merasa bersalah hingga saat ini." kali ini Pak Rinto menunduk sampai menangis. Tangisan seorang ayah yang sangat mencintai putrinya dari seorang komandan berpangkat besar.
Melihat papanya tak sanggup bicara lagi, Bang Seno menyelesaikan ceritanya.
"Saat kami temukan Arnes, adikku itu sudah terkapar mengerang kesakitan Bang. Pria itu mencambuk Arnes, sekujur badannya penuh luka cambuk sedang mencekoki Arnes dengan sesuatu, pakaian Arnes pun koyak dan.. saat kami datang itu kami melihat dengan mata kepala kami kalau pria itu menghantam kepala Arnes menggunakan helm" Bang Seno terpancing geram mengingat masa lalu yang harus di alami Arnes dulu.
"Astagfirullah hal adzim" Bang Zaldi mengusap wajahnya. Jantungnya ikut berdebar tidak menentu. Disentuhnya dadanya yang terasa begitu sesak dan sakit bagai di sayat sembilu.
"Terus terang.. kami tidak tau keadaan Arnes karena saat kejadian tersebut, pria itu juga 'berantakan' Bang"
"Kenapa nggak di visum??" tanya Bang Zaldi terbawa emosi.
"Arnes terlalu malu dan takut dengan kondisi dirinya Bang dan kami memutuskan untuk meredam semuanya. Papa menjebloskan pria itu ke penjara tanpa ampun. Pria itu.. Guntur Bang" ucap Bang Seno.
"Ya Allah Tuhan. Bang Guntur?????"
"Iya Bang. Orang yang mengatakan identitas nya dengan tidak jelas itu. Dia Kapten Guntur"
"Jahanam.. !!!!!!" Bang Zaldi sampai berdiri dari duduknya. Hatinya sungguh tidak tahan mengetahui apa yang sudah di lakukan Guntur pada Arnes.
"Dia keponakan kesayangan panglima yang sekarang Bang"
"Ya Allah.." Bang Zaldi mengusap dadanya yang kini sakitnya luar biasa merasakan penderitaan Arnes di masa lalu hingga terbawa sampai saat ini.
Pak Rinto menarik tangan Bang Zaldi agar bisa melihat Arnes yang sedang di tenangkan mamanya.
"Sekarang kamu lihat itu. Kamu sudah tau khan keadaan putri saya. Putri saya pernah di cekoki psikotropika, perokok dan peminum berat, belum lagi dia pernah mendapatkan perlakuan buruk hingga mendapatkan perawatan di rumah sakit selama dua minggu karena patah tulang. Mentalnya pernah rapuh. Apa kamu masih menaruh harapan pada anak saya yang sudah rusak??" tanya Pak Rinto.
"Saya akan menerima apa adanya putri bapak" jawab Bang Zaldi.
"Kamu terlalu dini dan terlalu emosional untuk mengatakan hal itu Zal. Menikah bukan hanya sekedar menerima dan hubungan badan saja" ucap Pak Rinto.
Tak menghiraukan ucapan Pak Rinto, Bang Zaldi masuk ke kamar Arnes tanpa permisi. Dilihatnya seluruh ornamen warna pink menunjukan sisi lembut seorang wanita.
"Biar saya coba bicara dengan Arnes Bu" pinta Bang Zaldi.
"Nggak Zal.. keluar kamu dari kamar ini...!!!!" bentak Pak Rinto.
__ADS_1
Bang Zaldi berlutut merendahkan diri dan memegang kedua kaki Pak Rinto.
"Saya bukanlah pria terbaik. Tapi saya.. Erzaldi berjanji.. akan menyerahkan diri saya untuk menyayangi Arnes, biarkan Arnes membuka hatinya untuk belajar mencintai saya. Jika sampai Arnes merasakan terluka karena saya. Komandan boleh menindak saya secara hukum militer dan pribadi Komandan sebagai seorang ayah. Mati pun saya tidak ragu" janji Bang Zaldi di hadapan Pak Rinto.
Pak Rinto pergi meninggalkan Bang Zaldi tanpa memberi jawaban apapun.
Bang Zaldi pun berdiri tak mengambil hati sikap Pak Rinto padanya.
"Bu.. biar saya mencobanya"
"Ampuun Bang.. Maaf.. Arnes mau nurut Abang..!!!!" Awalnya Arnes berteriak histeris.
Bu Anye sedikit menutup pintu kamar Arnes. Pak Rinto, Bu Anye dan Bang Seno melihat perlakuan Zaldi dari luar kamar.
Bang Zaldi mendekap Arnes yang terus meronta sampai Bang Zaldi harus mengapitnya dengan kedua kaki.
"Buka matanya dek. Ini Abang dek.. Bang Zaldi..!! Hanya ada kamu sama Abang disini. Lihat mata Abang dek" Bang Zaldi membelai rambut Arnes dengan lembut. Bang Zaldi perlahan menyentuh tangan Arnes lalu mengarahkan agar bisa menyentuh wajahnya.
"Sudah percaya?? kita bertengkar lagi yuk..!!" ajak Bang Zaldi. Matanya pun berkaca-kaca.
"Bang Zaldiii.. Arnes takuut.. dia pukul Arnes, sakit sekali" ucapnya masih terbawa rasa takutnya.
"Nggak ada dia dek. Ini Abang yang peluk kamu" bujuk Bang Zaldi. Arnes perlahan tenang dan tidak menangis lagi.
"Apa-apaan bocah itu, berani sekali dia menyentuh putriku seperti itu, haram laki dan perempuan seperti itu" Papa Rinto semakin terbawa emosi.
"Lihat anakmu pa, tenang sekali. Apa papa tidak punya ide untuk membuatnya jadi halal?" tanya Mama Anye.
"Papa nggak setuju" ucap Papa Rinto.
"Teruslah Papa jadi egois. Kalau sampai bulan depan ada Zaldi junior baru Papa tau sakitnya gagal nafas" kata Bang Seno.
"Mulutmu Sen...!!!" Papa Rinto semakin kesal saja.
"Lah Papa khan yang cari perkara. Abang sudah punya rasa sama Arnes. Kalau mereka berdua begini terus.. siapa yang bisa jamin Abang Zaldi bisa terus tahan diri. Kucing lihat ikan asin terus lama-lama nyambar juga pa. Kembalikan saja sama perasaan Papa sendiri. Benar atau tidak" tegur Bang Seno.
Mama Anye hanya bisa mengendikan bahu entah membela Papa Rinto atau Bang Seno.
.
.
__ADS_1
.