
"Kenapa tanya begitu? Nggak ada faedahnya?"
"Arnes sudah rusak Bang. Pernah di lihat orang"
"Suatu saat nanti Abang yang akan menutupnya, Abang tidak akan biarkan ada orang lain yang melihatnya selain Abang" Jawab Bang Zaldi.
"Abang yang akan jadi tamengmu apapun yang terjadi. Nggak ada suami yang ikhlas lihat istrinya menjadi bahan omongan orang. Telinga Abang bisa tahan. Tapi hati Abang tidak" Bang Zaldi memeluk Arnes hingga akhirnya mereka berdua tidur di sofa.
...
Tak terasa hari beranjak sore. Langit yang tadinya berarak membawa panas di pukul setengah satu siang kini bergeser membawa warna langit yang akan padam. Bang Zaldi terbelalak kaget saat mendapati rok Arnes sudah tergulung tinggi, tangannya terselip di balik bajunya.
"Haduuhh.. celaka" Bang Zaldi gelisah dalam posisinya. Ingin bergeser tapi takut Arnes bangun tapi kalau tidak bergeser dirinya akan tersiksa setengah mati.
Diamati wajah lelah Arnes. Rasanya begitu iba melihat Arnes masih terus menyimpan trauma dalam dirinya. Bang Zaldi melihat jam tangannya, sudah menuju pukul lima tapi ia dan Arnes belum sholat ashar.
"Dek.. bangun..!! Kita belum sholat ashar"
...
Arnes makan malam sendirian tanpa Bang Zaldi. Ia terkadang masih lepas kontrol jika mengingat masa lalunya yang buruk.
Karena hari sudah terlanjur sore, Bang Zaldi mengantar sendiri surat untuk pemeriksaan besok ke rumah sakit.
tok.. tok.. tok..
//
"Dek.. Abang titip minuman ini disini ya. Abang mau keluar ketemu teman dulu sebelum apel malam"
"Ini minuman apa Bang??" tanya Arnes.
"Minuman biasa, biar badan anget" jawab Bang Righan agar Arnes tidak terlalu banyak bertanya.
"Simpan di kamarmu saja biar nggak ketahuan Abang"
Mendengar rasa cemas Bang Righan malah membuat Arnes semakin penasaran.
...
Aning yang di tugaskan sebagai perawat di RST sangat senang saat melihat Bang Zaldi ada di rumah sakit. Ia pun berlari menghampiri Bang Zaldi yang sedang sibuk menyerahkan berkas administrasi di ruang khusus dokter untuk besok.
"Abang sama siapa kesini?" tanyanya celingukan mencari Arnes yang biasanya selalu menempel dengan Bang Zaldi.
"Sendiri..!!" Bang Zaldi pun meninggalkan Aning dengan cepat, Bang Zaldi merasa risih karena Aning selalu mengikutinya.
"Bang.. kenapa Abang menghindari aku?" tanya Aning masih percaya diri.
"Apa berteman saja tidak bisa??" Aning menuntut jawaban dari Bang Zaldi yang sepertinya terburu-buru membuka pintu mobilnya.
"Saya tidak butuh teman wanita selain istri saya" jawab Bang Zaldi.
"Calon.. belum tentu jadi istri"
Geraham Bang Zaldi sampai bergemeretak saking geramnya. Calon suami Arnes itu membanting pintu dengan kasar.
"Calon ini akan tetap jadi nyonya Zaldi" nada keras Bang Zaldi cukup membuat Aning ngeri.
"Saya harap kamu bisa menjaga sikapmu.. Kamu wanita, bertingkahlah seperti wanita terhormat. Sebenarnya apa kamu merasa puas kalau sudah merendahkan dirimu sendiri? Asal kamu tau.. saya sangat mencintai istri saya" Bang Zaldi membuka pintu mobilnya kembali lalu segera tancap gas untuk kembali ke rumah karena pasti Arnes sedang menunggu.
__ADS_1
...
Bang Zaldi sudah sampai di rumah dan menutup pintu mobilnya dengan kasar. Bang Zaldi heran melihat rumahnya yang gelap tanpa cahaya lampu sama sekali. Apalagi lampu jalan juga cukup jauh dari rumah karena Bang Zaldi belum sempat memasang lampu tambahan di jalan.
"Sepi sekali. Arnes kemana?" gumamnya.
"Assalamu'alaikum..!!" ucap salam Bang Zaldi tidak di dengar.
Bang Zaldi menyalakan satu persatu lampu yang ada di rumah. Sampai di kamar, Bang Zaldi melihat Arnes terkapar di lantai, memegang sebuah botol plastik yang sudah berkurang tiga perempat bagian.
"Arnes..!!! Minum apa kamu dek???????"
//
"Ya gustiiiiii.. dapat darimana kamu minuman setan seperti ini????" Bang Zaldi membantu Arnes yang terus muntah di belakang rumah.
"Dada Arnes panas Bang. Perut sakit sekali"
"Kamu ini nggak biasa minum tapi sok-sokan minum. Buat hati Abang susah aja kamu dek..!!!" Bang Zaldi sampai meneteskan air mata merasakan perasaannya yang campur aduk tak karuan melihat Arnes belum sadar juga. Bang Zaldi segera membasuh wajah Arnes.
"Nes..!!" terdengar suara sapaan Bang Righan masuk ke dalam rumah.
"Arnes disini" jawab Bang Zaldi.
Bang Righan segera menuju belakang rumah. Alangkah terkejutnya Bang Righan saat melihat Arnes mual hebat.
"Laahh Bang.. Arnes kenapa? Sudah isi ya??"
"Isi pala lu Rig. tanam saham aja belum pernah" gerutu Bang Zaldi.
"Oohh.. berarti minum ****" kata Bang Righan.
"Maaf Bang.. Saya yang bawa" ucap sesal Bang Righan.
"Ya Allah.. Righaaaaaann..!!!!"
...
"Bang.. nggak ada air kelapanya..!!" kata Righan yang mendapat hukuman dari Bang Zaldi. Bang Zaldi sampai menampar keras pipi Bang Righan karena kecerobohan calon kakak iparnya itu.
"Saya nggak mau tau. Jangan kembali kalau kamu nggak dapat..!!!!!" bentak Bang Zaldi sambil mematikan panggilan teleponnya karena kewalahan mengatasi ulah Arnes.
"Cepat sadar dek. Bahaya kamu ini. Abang nyesel banget ninggalin kamu di rumah sendirian" sesal Bang Zaldi.
"Bang..!!" tangan Arnes mulai menjelajah nakal.
Bang Zaldi mengusap wajahnya karena disadari atau tidak, dirinya saat ini sudah tergoda.
"Minum susunya dulu dek. Cepat sadar kamu..!!"
"Arnes suka lihat wajah Abang yang ganteng itu. Awas aja kalau Abang lirik dia. Abang colok mata Abang" Arnes meracau sendiri sambil membuka baju seragam Bang Zaldi.
"Dek.. jangan bikin ulah..!!" ucap Bang Zaldi tapi tangannya seolah lemah dan tak kuasa untuk menolak semua perlakuan Arnes.
"Kenapa?? Arnes nggak cantik??" tanya Arnes memasang wajah kecewa.
"Cantik sayang. Masa istri Abang nggak cantik" suara Bang Zaldi terdengar begitu lembut di balik suara beratnya.
Arnes tersenyum lalu mendorong Bang Zaldi hingga ke ranjang. Deru nafas Bang Zaldi mulai putus sambung.
__ADS_1
"Dek.. jangan sayang...!!" tolak Bang Zaldi seakan hanya ucapan belaka.
"Arnes cinta sama Abang"
"Mati aku..!! Dek.. adeeeeeekk..!!!!!!!!"
...
Bang Zaldi memijat pelipisnya yang terasa berat. Arnes yang nakal sudah tidur tertelungkup di ranjang tanpa tau apa yang terjadi.
"Ini Bang kelapa mudanya"
"Setan kamu Rig. Bikin celaka saya kamu ini..!!"
"Siap salah Bang. Saya kembali ke mess ya Bang. Sudah jam apel malam" kata Bang Righan
"Hmm"
//
Bang Zaldi kembali duduk setelah menyimpan air kelapa muda yang sudah di beli Righan. Bang Zaldi terbayang segala hal tentang Arnes. Kejadian malam ini membuat Bang Zaldi resah memikirkan Arnes yang tidak bisa hilang dari angannya.
Bang Zaldi mengusap dadanya yang rasanya sulit bertukar nafas.
"Ya Allah dek.. Kamu ini benar-benar ujian Abang. Abang nggak bisa tunda lagi nikahin kamu"
***
Arnes menggeliat di kamarnya dan hanya menatap dirinya memakai pakaian milik Bang Zaldi yang terkancing salah lubang dan itu pun membuat Arnes kaget bukan main.
"Abaaang..!!!!!!" pekik Arnes mengagetkan Bang Zaldi yang tidur di atas tikar seperti biasanya.
"Apa dek??" jawab Bang Zaldi masih ngantuk berat.
"Semalam Abang apain Arnes??" tanya Arnes takut.
Melihat Arnes sangat takut, Bang Zaldi pun mengerjainya karena karena ulah Arnes juga Bang Zaldi kelepasan membuat dosa.
"Kita khan tinggal pemeriksaan kesehatan, minta tanda tangan Bang Acep, selesai dek. Paling bulan depan kamu sudah positif" jawab Bang Zaldi santai.
"Abaaaaaang.. Iihh.. Abang jahat. Kenapa Abang lakuin itu????" pekik Arnes sampai menangis.
"Nggak usah di pikir. Abang tanggung jawab"
"Arnes nggak suka ya Bang. Abang keterlaluan. Arnes percaya Abang pasti akan jaga Arnes. Tapi sekarang apa? Nyatanya Abang pun sama seperti pria lain yang tidak bisa menahan hawa nafsu" Arnes meremas menutupi tubuhnya yang berbalut baju tipis. Saat akan berdiri, Bang Zaldi menarik tangan Arnes hingga jatuh ke atas tubuhnya.
"Kamu ini benar-benar keterlaluan. Harusnya Abang rekam kelakuanmu yang minus itu. Setelah buat Abang seperti tiang jemuran yang kamu aliri listrik, kaku, mati rasa. Kamu sudah buat pikiran Abang sesat, sekarang kamu malah salahkan Abang? Sadar dek. Kamu buat Abang jadi apa semalam??" nada suara Bang Zaldi meninggi.
"Kalau Abang tega, sudah habis kamu semalam Abang makan"
"Jadi Bang..??"
"Kamu tetap gadisnya Abang. Bersih tanpa noda dari Abang. Tapi........"
"Tapi apa Baaang???" Arnes mulai resah membayangkan apa yang sudah di lakukan Bang Zaldi padanya.
.
.
__ADS_1
.