Di Ujung Peluru 2 & 3 (Hati Sang Prajurit)

Di Ujung Peluru 2 & 3 (Hati Sang Prajurit)
87. Sedikit Perdebatan.


__ADS_3

Anye melihat suaminya tidur dengan pulas di balik selimutnya. Ia menghela nafas panjang.


"Ini kelakuan laki gue??" gumam Anye sambil menidurkan Sen. Meskipun dalam keadaan seperti ini, tetap saja apa yang mereka lakukan sudah gila. Dulu pernah satu kali ia melakukannya di rumah sakit dan sekarang ia harus menurut lagi. Kenyamanan yang Bang Rinto tawarkan sungguh ikut membuatnya terhanyut dalam perasaan.


Awal memulainya lagi dengan Bang Rinto Anye sempat merasa tidak nyaman dan seperti di awal lagi mereka bersama tapi kelembutan Bang Rinto perlahan mampu membuatnya melupakan rasa sakitnya.


flashback on.


"Bang.. Abang nggak capek? Kalau sudah pulang nanti Anye nggak akan melarang" bujuk Anye saat Bang Rinto sudah menggunakan tenaganya di luar batas.


"Kenapa bibirmu ini cerewet sekali sih dek? Kamu nggak mau Abang manjain?" tanya Bang Rinto.


"Mau Bang, tapi Anye lebih baik sabar dan menunggu sembuhnya Abang. Lagipula Anye masih sakit" ucap Anye sambil menangis padahal sudah enam bulan berlalu sejak kelahiran putra pertamanya.


"Ya sudah.. jangan nangis. Sudah selesai nih. Abang nggak nakal lagi deh" Bang Rinto menghapus air mata Anye. Tidak tega juga melihat istrinya kurang begitu nyaman, apalagi tempat mereka saat ini kurang mendukung.


...


"Maaf ya dek.. bukannya Abang nggak pengertian. tapi......" ucap Bang Rinto sambil segera membenahi diri.


"Anye tau Bang, Abang sangat lelah.. pikiran Abang terpecah. Tidak ada pelampiasan rasa lelah Abang. Anye nggak apa-apa.. hanya cemas dengan keadaan Abang saja"


"Terima kasih dek. Kamu memahami perasaan Abang. Abang bersyukur karena memiliki kamu di hidup Abang" senyum Bang Rinto tapi sesaat kemudian berpegangan pada ranjangnya. Matanya memejam dan mulai memegang dadanya.


"Bang.. Abang kenapa?"


"hhhhhh... Nafas Abang sesak sekali dek" ucap Bang Rinto dengan jujur.


"Abang cepat istirahat dulu. Anye panggil dokter"


...


"Jantung dan paru-paru nya terlalu cepat bekerja keras. Syukurlah masih bisa di bantu oksigen. Jangan lupa diminum obatnya" kata dokter.


Anye sampai lemas mendengar penjelasan dokter.


"Apa faktor penyebab tiba-tiba kondisinya menurun?" tanya Gathan yang hari ini pulang bersama Sekar setelah kelahiran putranya.


"Aktivitas yang berat, tidak bisa mengatur jalan nafas. Semua bisa jadi pemicu." jawab dokter.


"Oke.. kondisi Rinto sudah stabil. Saya tinggal dulu"


"Baik dok.. terima kasih" ucap Anye.


"Abang harus banyak istirahat. Nggak usah bangun dulu kalau hanya mau ke toilet. Ada Anye juga khan Bang. Saya pun bisa jaga Abang" kata Gathan yang mengira menurunnya kondisi Bang Rinto seperti kejadian kemarin saat Bang Rinto pingsan setelah keluar dari toilet.


"Abang nggak apa-apa. Santai saja" jawab Bang Rinto kemudian menelan obat dari dokter.


Anye duduk di kursinya dengan syok. Ia menatap mata Bang Rinto penuh rasa cemas. Setiap berhadapan dengan suaminya sudah bagai pertaruhan nyawa di depan mata.


Ya sudah lah Bang, saya antar Sekar dulu. Nanti saya kembali lagi" kata Gathan.


"Kamu temani istrimu saja. Abang sudah sehat" jawab Bang Rinto.


flashback off.

__ADS_1


"Papamu sungguh keras kepala nak. Mama pusing bagaimana caranya bicara sama papa" gumamnya pada baby Sen.


"Tapi kamu tau?? Kata orang.. papamu adalah pejuang yang hebat. Kamu harus bangga dengan semua perjuangan papa. Papa sangat sayang sama kita sampai berjuang keras seperti ini" ucapnya sudah hampir berlinang air mata.


***


Satu minggu kemudian Bang Rinto sudah berada di rumah, tadi siang dokter sudah mengijinkan pulang dengan syarat tidak beraktifitas dan tunda segala hal yang bisa melemahkan pernafasan dan jantung termasuk berhubungan suami istri kurang lebih satu bulan lamanya.


Sekarang Ia bermain dengan jagoan kecilnya.


"Heii.. gendut cepat habiskan makannya. Nanti papa ajari main jaran kepang. Makan beling kita..!!" ajak Bang Rinto sambil menyuapi putra kecilnya makan.


Terdengar Seno sangat bahagia sekali dekat dengan papanya.


"Bang.. ajari anaknya yang benar lah. Masa main begitu?"


"Abang mandi dulu sana?" kata Anye saat rumah mereka terasa lebih hidup dengan canda tawa Seno dan Bang Rinto.


"Nanti. Abang masih betah main sama Seno" jawab Bang Rinto.


"Kamu siap-siap dek. Kita beli mainan buat Seno" ajak Bang Rinto.


"Abang..!! Nggak boleh. Abang baru keluar dari rumah sakit" tolak Anye. Ia mengingat kata dokter agar suaminya tetap beraktifitas ringan saja kurang lebih selama satu bulan.


"Abang bukan tua bangka penyakitan dek. Lihat nih.. Abang sudah sehat" jawab Bang Rinto.


"Bang..!!" Anye kesal lalu berbalik meninggalkan Bang Rinto.


Bang Rinto meraih tangan Anye lalu berdiri dan memeluknya.


Anye menangis dan menenggelamkan wajahnya di dada Bang Rinto. Rasa hangat ini yang ia rindukan.


"Abang tau kamu cemas. Abang sudah nggak apa-apa. Sekarang Abang ada di hadapanmu. Hilangkan semua rasa takut itu..!!"


"Nggak bisa Bang. Dua kali Anye mengalami hal ini dan semua ini buat Anye takut, Anye hampir gila memikirkan Abang yang tidak pernah ada kabar. Setiap mau tidur Seno selalu menangis meminta dekat dengan foto papanya. Hati Anye sesak sekali Bang melewati masa itu" kata Anye yang baru kali ini mengungkapkan perasaan sedihnya yang mungkin sudah lama ia tahan.


"Seperti itu juga kesedihan Abang. Di medan perang ingin cepat pulang. Ingin tau keadaan anak istri di rumah, tapi situasi tidak memungkinkan. Apa mereka sehat? Apa makanan untuk anak istri Abang cukup? Apakah keadaan rumah baik-baik saja saat Abang tinggalkan? Abang pun hampir gila menahan rindu. Bingung menata hati saat mau tidur hanya memeluk senjata, menatap langit yang kadang penuh bintang, kadang juga suram tanpa hiasan. Abang sama rindunya.." ucap Bang Rinto menenangkan Anye.


Bang Rinto membelai rambut Anye. Air mata Anye adalah air mata yang paling menyakitkan yang pernah ia rasakan. Itu adalah cambuk untuknya agar tidak membuat wanitanya menangis.


"Ya sudah kalau nggak mau pergi. Abang nggak akan paksa" ucap Bang Rinto yang takut merusak kebahagiaan istrinya.


"Oohh iya Bang. Abang belum ada ponsel baru ya?" tanya Anye.


"Nggak apa dek. Kapan-kapan saja belinya" jawab Bang Rinto.


"Weekend besok kalau Abang sudah sudah benar sehat.. kita beli ya Bang..!! Sekarang Abang cek apapun lihat email saja dulu atau main ponsel Anye" kata Anye.


"Siap laksanakan perintah Bu"


***


Para anggota sedang berlari pagi. Rinto rindu sekali dengan kegiatan seperti ini karena memang pada dasarnya dia adalah pria yang tidak bisa diam.


"Kenapa cemberut aja?" tanya Brian.

__ADS_1


"Bosan Bri, cuma duduk aja. Sudah mirip anak gadis aja gue" jawab Rinto, tangannya mengambil rokok di saku celananya.


"Eehh jabrik.. Lu nggak boleh ngerokok dulu. Mau mangkat lu???" Brian menyambar rokok dari tangan Rinto.


"Aahh.. ini nggak boleh.. itu nggak boleh. Lihat perutku sebentar lagi nggak sixpack." kata Rinto.


"Puyeng lu ya?? Apa hubungannya kalau nggak sixpack. Lagian kita sudah sold out." jawab Brian.


"Bri.. ada kemungkinan Anye ngelirik cowok lain nggak kalau gue nggak gagah lagi? Secara.. Anye masih muda. Gue takut nggak bisa ngimbangin" ucap cemas Rinto.


"Yaelah.. patokan bukan di perut kali bro"


"Masa..???"


"Eehh.. soal begitu gue lebih senior. Begini ini gue juga bapak anak dua"


"Terus..!!"


"Yang penting alap-alap mu nggak gampang pilek.. bini lu pasti anteng" jawab Brian.


"Laahh.. itu sih pasti"


Mata Rinto memicing saat melihat Bang Satriyo datang bersama Bang Topan menghampiri mereka.


"Kabur bro.. Musuh dari arah setengah dua"


Brian dan Rinto akan beranjak pergi tapi kedua senior usil sudah menghampirinya.


"Heii.. kalian berdua mau kemana?" tanya Bang Topan.


"Ijin Bang, mau ke ruangan" jawab Brian.


"Abang bosan nih. Kita nggak ada kerjaan. Main yuk..!!" ajak Bang Topan.


"Judi Bang???" tanya Rinto.


"Aiisshhh.. Itu nggak elegan" jawab Bang Satriyo.


"Terus main apa Bang? Jangan macam-macam Bang. Saya nggak mau tengkar sama Anye nih"


"Oohh tenang.. ini permainan sunyi senyap tapi mengasyikkan" ajak Bang Topan.


"Apa sih?" tanya Brian cemas.


"Aahh.. sunyi senyap pasti urusan perempuan. Saya nggak mau di santet Anye Bang" kata Rinto.


"Jangan negatif donk.. Ini dia" kata Bang Satriyo mengeluarkan peralatannya.


"Lahdalaaah.. tinggal ngomong wae ruwet Bang" gerutu Rinto.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2