Di Ujung Peluru 2 & 3 (Hati Sang Prajurit)

Di Ujung Peluru 2 & 3 (Hati Sang Prajurit)
DUP 3. 78. Hati yang tidak goyah.


__ADS_3

"Jadi.. Nanti saya kirim dana untuk buat semua tempat tinggal hewan. Kita semua piket bergantian termasuk saya. Anak-anak kecil disini jauh dari taman bermain, jadi hewan ini media agar mereka belajar menyayangi makhluk hidup"


***


Bahu membahu sementara kompi beralih jadi petugas kebun binatang. Bang Zaldi pun meminta para anggota mencangkul kebun dan menanami ladang dengan berbagai sayuran. Ia pun tak diam saja bahkan ikut mencangkul seperti rekannya yang lain.


"Ijin Dan.. kalau boleh tau ladang ini untuk apa?"


"Seperti yang saya bilang. Ladang ini akan di tanami berbagai macam sayuran. Mengurangi pengeluaran belanja ibu-ibu. Nanti ayam-ayam dan bebek yang kita pelihara, bisa di ambil sesuai kebutuhan" jawab Danki.


"Siap Danki"


Meskipun mengawalinya berat dan bersusah payah tapi program ini di sambut baik para anggota termasuk ibu-ibu. Seketika mereka mengidolakan Pak DanSat beserta istrinya yang lembut dan unik.


Papa Brian bangga sekali. Di sela kegiatan yang tidak begitu banyak, Zaldi memanfaatkan masa senggang dengan membuat sesuatu yang bermanfaat untuk seluruh warga kompi.


Tak lama berselang, makanan dari ibu DanSat datang padahal tadi sudah ada gorengan yang turun ke lapangan.


"Waahh.. istri Abang bawa apa ini?" tanya Bang Zaldi.


"Nasi pecel Bang"


"Suapin Abang donk. Malas jalan cuci tangan nih. Badan Abang capek semua" ucap jujur Bang Zaldi.


Arnes pun segera membuka nasi bungkus yang ia bawa. Lalu menyuapi suaminya. Para anggota juga senang sekali. Bukan nilai harga nasi bungkus itu, tapi kebersamaan mereka begitu indah untuk di ungkapkan.


"Enak nggak Bang?"


"Enak lah, di suapin istri. Kamu sudah makan apa belum?" tanya Bang Zaldi.


Melihat gelagat istrinya.. Bang Zaldi tau istri cantiknya itu belum makan dan memang susah makan.


"Tolong saya pinjam sendok..!!"


:


Usai makan pandangan Bang Zaldi tampak berkunang-kunang. Ia menyadari dirinya kurang istirahat dan makan yang cukup. Bang Zaldi memilih tidur di bawah sebuah pohon di temani Arnes. Papa Brian yang baru kembali dari mengasuh Ibra dan Ryan segera menghampiri.


"Suamimu kurang istirahat. Biarkan dia tidur dulu. Dia sudah cukup bekerja keras Nes" kata papa Brian.


"Iya pa. Arnes ngerti"


-_-_-_-_-


Menjelang sore hari Bang Zaldi sudah terbangun dari tidurnya. Rasa lelahnya sudah berkurang. Tak ada lagi Arnes di sampingnya. DanSat baru itu berjalan tak tentu arah mencari keberadaan istrinya.


"Ada yang lihat istri saya?" tanya Bang Zaldi pada seorang anggotanya.


"Ijin Dan, ada di mini zoo bersama pak Adi"


Wajah Bang Zaldi langsung berubah muram. Sedih sekali rasanya harus mendengar itu. Ia pun berjalan ke mini zoo.


:

__ADS_1


"Saya mau panggil Abang dulu om. Pengen kasih makan monyet ini sama Abang"


Mendengar itu senyum Bang Zaldi baru merekah, ternyata sang istri masih mencarinya meskipun hanya sekedar memberi makan monyet kecil.


"Sini Abang ajari. Kalau kamu pakai alat, dia marah.. kasih pakai tanganmu, yang lembut biar dia nurut" Bang Zaldi membimbing tangan Arnes dan mengulurkan buah pepaya di tangan Arnes untuk memberi makan monyet kecil itu. Benar saja.. monyet itu langsung menurut.


"Sekarang kita punya banyak anak Bang" kata Arnes.


"Astagfirullah hal adzim.. amit-amit jabang bayi lanang wedhok. Anak Abang cuma Ibra sama Ryan. Eehh satu lagi ini sama si kecil" jawab Bang Zaldi.


"Ijin Bang.. besok ada undangan makan siang dan pertemuan dengan walikota" kata Om Adi menengahi suasana setelah melihat DanSat mulai mencair.


"Berapa perwakilan dari kompi?"


"Lima orang Bang" jawab Om Adi.


"Siapa ya nama walikotanya. Saya belum update" tanya Bang Zaldi.


"Ibu Inggrid. Usia 26 tahun, single Bang. Ini fotonya Bang. Walikota termuda di negara ini" Om Adi menunjukkan foto Ibu Inggrid bermaksud agar Bang Zaldi sebagai DanSat tidak buta informasi.


Seketika Bang Zaldi melirik Arnes dan ternyata ia sudah mendapat tatapan datar dari sang istri.


"Eheemm.. Nggak usah detail begitu" Bang Zaldi mengingatkan Om Adi.


"Siap.." suara Om Adi melemah karena tau istri DanSat sepertinya tidak merespon baik akan pertemuan suaminya dengan ibu walikota.


***


Sejak tau Bang Zaldi akan berangkat ke kantor walikota, Arnes diam dan mengunci rapat mulutnya. Ibu DanSat melakukan aksi gerakan tutup mulut.


Arnes masih diam saja belum menjawab pertanyaan suaminya. Setelah cukup lama akhirnya ia menjawab.


"Ikhlas" jawabnya singkat meskipun dengan hati yang tidak ikhlas.


Bang Zaldi mengusap rambut Arnes.


"Ganti bajunya.. ayo ikut Abang kerja..!!" ajak Bang Zaldi.


***


Arnes menunggu di ruang gedung selama kurang lebih tiga jam lamanya. Belum ada tanda Bang Zaldi keluar padahal setengah jam yang lalu, anggota dari kompi sudah keluar termasuk Pak Samsudin dan Om Adi malah Bang Righan perwakilan dari Batalyon juga sudah keluar tapi Bang Zaldi belum terlihat batang hidungnya sedikitpun.


"Ini dek, minum dulu es blewahnya. Abang kembali dulu ke Batalyon ya" pamit Bang Righan.


Bang Righan baru berbalik badan sampai di mobil dinasnya. Terlihat oleh Arnes, sang suami sedang berbicara dengan wanita muda dan cantik. Tak ada yang menonjol karena Bang Zaldi juga berusaha menjaga jarak. Tapi tidak saat Ibu Inggrid jatuh terjerembab dan Bang Zaldi menolongnya. Sekilas suami Arnes bertatapan wajah dengan Ibu Inggrid. Sadar telah menyentuh wanita lain, Bang Zaldi segera mengangkat tangannya dan menangkupkan kedua tangan memohon maaf karena sudah lancang memegang wanita nomer satu di kota.


"Pak Zaldi, bisa nanti malam kita bertemu??" tanya Ibu Inggrid.


"Ada apa lagi ya Bu, bukankah di rapat terbuka sudah ada penjelasan tugas masing-masing"


"Begini pak, saya butuh bantuan bapak untuk mengamankan saya secara pribadi. Karena perjalanan ke luar daerah ini akan berhadapan dengan banyak unsur yang mungkin tidak suka dengan kinerja saya" kata Bu Inggrid.


"Bu Inggrid.. sebelumnya saya mohon maaf. Kesatuan kami bukan protokoler, Kesatuan kami memang pengamanan tapi bukan pengamanan perseorangan, tapi lebih pada wilayah. Saya pun tidak bisa meninggalkan tempat karena kebetulan saya yang tuakan di kompi" jawab Bang Zaldi.

__ADS_1


"Oohh begitu ya, padahal saya berharap kita bisa sedikit lebih dekat dan menjalin pertemanan lho pak" ucap Bu Inggrid.


Bang Zaldi melihat jam tangannya, sudah terlalu lama dia meninggalkan Arnes yang menunggunya di sekitar kantin kantor walikota.


"Saya permisi dulu Bu. Istri saya sudah menunggu di sana" kata Bang Zaldi sambil menunjuk tempat Arnes menunggunya.


"Istri bapak ikut mendampingi tugas di wilayah ini? Biasanya khan istri anggota senang dekat dengan orang tuanya di kampung halaman" tanya Bu Inggrid.


"Istri saya beda Bu, maunya ikut mendampingi" jawab Bang Zaldi yang sebenarnya berusaha menghindar dan berjaga jarak dari Bu Inggrid.


Tak disangka Bu Inggrid mengikuti Bang Zaldi sampai ke tempat Arnes. Bu Inggrid memperhatikan penampilan Arnes mulai dari ujung rambut hingga ujung kaki. Istri DanSat memang cantik.


"Ini Bu Zaldi ya. Kenalkan saya Inggrid" ucapnya sambil mengulurkan tangan dan berdiri sangat dekat dengan Bang Zaldi hingga bahunya menyentuh Bang Zaldi.


"Iya Bu, saya Arnesia. Istri dari Kapten Erzaldi" jawab Arnes masih dengan batas kesopanan yang wajar. Ia pun menjabat tangan Ibu walikota.


Bang Zaldi beralih ke belakang Arnes. Ia sadar betul istrinya akan marah kalau dirinya terlalu dekat dengan wanita lain.


"Sudah siang, ayo kita pulang" ajak Bang Zaldi sambil menyempatkan mengusap perut Arnes. Lalu membantu Arnes berjalan seperti kesigapan yang biasanya ia lakukan.


Bu Inggrid sedikit menarik lengan Bang Zaldi.


"Tunggu pak, kalau bisa kita bicara. Saya butuh bantuan bapak"


"Abang bicara saja dulu, Arnes tunggu di mobil" kata Arnes berusaha waras padahal hatinya mulai panas.


Bang Zaldi mengecup kening Arnes.


"Percaya sama Abang.. Nanti kita bicarakan hal ini" pintanya membiarkan Arnes sedikit menjauh.


"Hati-hati jalannya" kata Bang Zaldi.


Bu Inggrid melihat Arnes sampai istri Kapten Zaldi benar-benar masuk ke dalam mobil.


"Kelihatannya istri bapak tidak menyukai saya"


"Itu hal yang wajar Bu. Tidak ada wanita yang tahan melihat suaminya dekat atau di dekati wanita lain meskipun hanya sebatas berteman" jawab Bang Zaldi.


"Istri bapak picik sekali ya. Wawasannya tidak luas. Di dunia pekerjaan itu sangat wajar kita berteman dengan sesama. Tukar pendapat dan berbagi cerita"


Bang Zaldi menatap mata Bu Inggrid dengan tajam. Senyum sinis mulai tersungging. Senyum yang tidak pernah Inggrid lihat sejak pertemuannya tadi.


:


"Permisi ibu, apa tadi ibu ikut rapat di dalam?" tanya seorang pria pada Arnes saat baru akan membuka pintu mobil.


"Maaf pak, Saya hanya menunggu suami saya kerja" jawab Arnes.


"Ooohh........."


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2