Di Ujung Peluru 2 & 3 (Hati Sang Prajurit)

Di Ujung Peluru 2 & 3 (Hati Sang Prajurit)
131. Sedikit lagi bersanding.


__ADS_3

"Tangkap itu doggynya..!!" Bang Rinto menunjuk doogy yang bersembunyi di balik tumpukan ranting kering.


Bang Rinto sudah lelah mengejar doogy yang berlari membawa celana Jeri.


"Sebenarnya ada masalah apa dengan celanamu?? kenapa doggy saja mau membawa celanamu???" Bang Rinto melepas pakaian batiknya lalu melepas celana panjangnya di sembarang tempat. Ia menukar sepatunya dengan sandal jepit milik anggotanya.


"Ijin.. tidak tau..!!" jawab Jeri.


Bang Rinto sudah sangat kesal. Memakai celana pendek dan t-shirt ketat yang memperlihatkan bentuk tubuhnya yang sixpack, Ia mendekati doggy yang terus menggonggong melindungi celana Jeri di balik semak.


"Letakkan celananya di situ..!!" perintah Bang Rinto memberi perintah pada doggy seperti memerintah anak buahnya.


"Pak Rinto.. biar saya yang ambil celananya Jeri" kata pak Irawan akhirnya turun tangan menangani doggy yang sedang mengajak bercanda Danki Rinto.


"Cepat pak. Saya mau lamaran, bukan main petak umpet" jawab Bang Rinto.


Pak Irawan berjalan cepat ke arah si doggy lalu menepak moncong hewan berbulu hitam legam itu. Pak Irawan segera mengambil celana Jeri dan memberikannya pada Dan Rinto.


"Ya Tuhanku.. dia mengira celana ini adalah celana saya Dan..!! Tadi Jeri meminta parfum saya" kata pak Irawan.


"Jeriiiii..!!!" Bang Rinto semakin gemas karena tidak bisa menyalahkan siapapun pada kecelakaan ini.


...


"Minum dulu Bang..!!" Anye mengambilkan Bang Rinto segelas air minum lalu mengusap punggung Bang Rinto agar suaminya itu tidak marah lagi.


"Abang ingin memberimu lamaran yang indah, yang tidak akan pernah kamu lupakan seumur hidupmu" kata Bang Rinto.


"Ini pengalaman yang indah Bang. Juga tidak akan pernah bisa Anye lupakan" Anye menyunggingkan senyum, tertawa geli mengingat Bang Rinto yang frustasi karena kehilangan cincinnya.


"Sekarang cincinnya sudah ada. Abang nggak mau pakaikan untuk Anye??"


Bang Rinto akhirnya ikut tersipu malu mendengarnya. Namun auranya begitu sedih.


"Ini cincinnya. Tapi sudah tidak seindah tadi. Sudah tidak ada saksi kalau Abang meminangmu kembali" sesal Bang Rinto sambil menyerahkan kotak cincin itu ke tangan Anye lalu menutupnya kembali.


"Masa Abang mau salahkan doggynya pak Irawan?" tanya Anye.


"Ya memang gara-gara doggy Abang nggak jadi lamaran" jawab Bang Rinto.


Tiba-tiba lampu sorot menyala. Kini giliran Bang Rinto memakai celana kolor, kaos singlet dan kipas angin portabel berbentuk panda berada di tangannya.


"Ayo lamar Bang..!! Saya sudah siapkan kejutan untuk Abang" kata Bang Gathan.


"Terima kasih..!! Ini dukungan atau ledekan? Bentuk saya sudah hancur begini" kata Bang Rinto sudah tidak semangat lagi melanjutkan acara lamaran. Ia menutupi wajahnya dari sorot kamera dan lampu.


"Tapi Anye mau Abang lamar lagi" ucap manja Anye.

__ADS_1


"Semuanya sudah hancur dek. Nggak sesuai keinginan Abang lagi. Abang sudah siapkan yang romantis buat kamu tapi semuanya hancur" jawab Bang Rinto tersenyum getir. Bucket bunga uang dan beberapa pot bunga Anyelir yang khusus di beli Bang Rinto masih teronggok di pojok ruangan tanpa perlakuan yang seharusnya.


Anye sengaja menunjukkan wajah sedihnya lalu beranjak dari tempatnya. Bang Rinto panik saat melihat wajah Anye sangat kecewa.


"Tunggu dek..!!" Bang Rinto meraih tangan Anye.


"Oke.. kita lamaran..!!! Tapi dengan kondisi seadanya ya. Karena Abang juga sudah berantakan sekali" kata Bang Rinto.


"Apa saja Bang.. Yang penting Abang serius" jawab Anye.


#


"Boleh Abang pinjam tangan yang sudah merawat anak-anak Abang sepenuh hati??" tanya Bang Rinto.


"Boleh Bang" jawab Anye menahan senyumnya. Anye memberikan tangannya pada Bang Rinto.


"Terima ya dek. Abang sudah nggak bisa nunggu lama lagi. Sudah pengen ijab qobul di depan orang tuamu. Pengen sama-sama kamu lagi" Kamera menyorot Anye dan Danki hanya sebatas pinggang ke atas. Senyum merekah dari bibir Anye saat Bang Rinto membujuk rayu.


"Iya Bang. Anye terima" jawab Anye.


"Katanya nggak bakalan ketawa?" bisik Bang Rinto saat tau Anye sedang menahan tawanya.


"Nggak ketawa Bang. Anye hanya geli aja lihat Abang" jawab Anye.


Anggota dokumentasi di belakang kamera sudah menahan tawanya melihat Danki memakai baju resmi tapi bagian bawah tetap memakai celana kolor karena malas berganti pakaian.


"Siap salah. Kami tidak berani" jawab beberapa anggota.


"Sudah Bang. Jangan marah-marah. Anye suka kok lamarannya" jawab Anye membesarkan hati Bang Rinto.


Bang Rinto meraih tangan Anye kemudian memasang cincin di jari manis Anye.


"Sudah.. statusmu naik satu tingkat" ucap Bang Rinto.


"Kamu nggak boleh nakal melirik pria lain. Kamu hanya boleh pikirkan Om Rinto karena Om Rinto mu ini tidak akan pernah mengecewakanmu lagi"


"Iya Bang. Nggak akan" jawab Anye.


"Bagus.. pertahankan janji manismu itu"


***


Bang Rinto mengangkat sarungnya menaiki motor besarnya setelah selesai sholat di masjid Batalyon. Kurang satu minggu ia akan menghalalkan Anye. Rasanya detik demi detik terasa lama sampai setiap malam ia melarikan diri dan beribadah karena takut nafsunya akan terpancing tiba-tiba saat melihat Anye.


Di jalan Bang Rinto terbayang wajah Anye sampai tidak menyadari Brian yang berjalan di depannya.


"Rintooo.. reemm..!!!!" pekik Brian.

__ADS_1


kreeeeekkk...


Secepatnya Rinto mengerem motornya hingga sarungnya sobek.


"Astagfirullah, sorry Bri.. nggak fokus..!!" kata Rinto sambil melihat sarungnya.


"Yaaaaa.. sobek..!! Bisa di cakar Anye nih" gumam Rinto lagi.


"Mikir apa sih?? Sudah kebayang Anye ya???" tanya Brian.


"Iyalah, mau nikah masa nggak deg-degan" jawab Rinto.


"Lebay lu, lagaknya masih bujangan aja" ledek Brian.


"Heh Bri.. ingat nggak aku nahan berapa lama. Kepala nyut-nyutan sudah nggak terkontrol lagi. Lu sih enak punya cadangan, laah gue????" kata Rinto.


"Ya sudah sana cari yang lain dulu. Anye nggak tau juga khan?" canda Brian tapi begitu mengena di hati Rinto.


"Kita laki pasti bisa serong, tapi itu semua tergantung perasaan. Pikiran dan hati gue saat ini sudah terprogram hanya inginkan Anye dan Anye saja. Nggak mau perempuan lain" jawab Rinto.


Brian mengulum senyum kala mengingat Anye. Bagaimanapun juga, Anye adalah bagian dari masa lalunya yang terindah sekaligus getir ia rasakan.


"Iya Rin.. Jangan jadi b*****n seperti aku" ucap jujur Brian.


"Sudahlah jangan dibahas lagi, buat dadaku sesak saja" Rinto mengalihkan pembicaraan tidak ingin mengingat kenangan pahit di antara mereka.


"Cepat bonceng aku pulang..!! Sarungku sobek"


"Lagian kenapa pakai sarung sih, sudah tau mau pakai motor besar??" tanya Brian tak habis pikir.


"Aku buru-buru kabur dari Anye. Setiap lihat dia jantungku terasa mau lepas saja. Nggak kuat Bri terlalu lama jadi bujang lokal" jawab jujur Rinto sambil turun dari motor.


"Hahaha.. Minggu depan lunasi Rin, biar hatimu tenang" Brian mencoba melunakan hatinya.


"Eehh ngomong-ngomong lu saking buru-burunya apa nggak pakai kolor????" tanya Brian saat tanpa sengaja matanya mengintip.


"Nggak sempat.. Sudah di bilang gue ngamanin si jago biar nggak macam-macam. Sudahlah ayo pulang, jangan banyak bacot. Anak gue pasti sudah teriak cari papanya" gerutu Rinto.


"Halah.. mengkambing hitamkan anaknya. Bilang aja papanya sudah gatal pengen cari mamanya" ucap Brian terus meledek sampai Rinto meliriknya tajam.


"Oke jalan..!!" kata Brian segera mengambil alih motor Rinto agar Bang jabrik tidak semakin murka.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2