Di Ujung Peluru 2 & 3 (Hati Sang Prajurit)

Di Ujung Peluru 2 & 3 (Hati Sang Prajurit)
DUP 3. 68. Karena aku mencintaimu ( 2 ).


__ADS_3

"Kau mau juga seperti suamimu??" tanya Bang Zaldi pada istri Guntur.


"Dia menghina dan mempermalukan istriku, ini bayaran yang setimpal untuknya. Matiii" ucap Bang Zaldi dengan sadar.


***


Papa Rinto dan Semua Abang Arnes datang ke kantor POM. Mereka menjenguk keadaan Bang Zaldi disana.


"Ya Allah le, kamu benar-benar menghabisi nyawa Guntur????" tanya Papa Rinto.


"Iya pa" jawab Bang Zaldi singkat. Matanya terpejam lelah bersandar pada dinding kantor POM. Badannya masih bersimbah darah. Semua Abang Arnes ada disana kecuali Bang Seno karena istrinya akan melahirkan.


"Kamu nggak pikirkan Arnes le?? Papa harus bilang apa sama Arnes? Anaknya sudah nggak ada, kamu pun juga nggak ada.. siapa yang akan memberinya kekuatan?" tegur Papa Rinto.


"Selama saya disini. Saya minta tolong papa jaga Arnes dan Ibra. Maaf saya merepotkan Papa dan Mama" ucap Bang Zaldi begitu sendu.


Papa Rinto memeluk Bang Zaldi.


"Terima kasih banyak kamu mau melindungi putri Papa. Terima kasih atas segala rasa sayangmu yang besar untuk Arnes"


"Sudah sewajarnya seorang suami melindungi istrinya pa. Saya tidak pandai berkata-kata, tapi tolong sampaikan padanya. Saya sangat mencintainya.. melebihi nyawa saya sendiri" jawab Bang Zaldi.


Papa Rinto begitu trenyuh mendengarnya. Para anggota POM juga sangat salut dengan apa yang di lakukan oleh Kapten Erzaldi meskipun cara yang di tempuhnya tidak bisa di benarkan.


"Hati saya sudah sakit sekali pa. Buat apa saya hidup kalau tidak bisa membuat istri tenang dan bahagia. Saya kuat bila dunia ini menghina saya. Saya bukanlah orang yang berpunya, rumah pun hanya sekedar gubug tua, orang tua sudah tiada. Yang tersisa hanya Arnes dan Ibra, harta saya yang paling berharga, saya lebih baik mati daripada harus melihat istri dan anak saya menderita"


Papa Rinto sampai menitikkan air mata melihat perjuangan Bang Zaldi yang tiada habisnya.


Tak lama keluarga dari pihak Almarhum Guntur datang dan membuat keributan di kantor POM. Ia tidak terima Mayor Guntur mati begitu saja apalagi istrinya sedang berbadan dua. Istrinya sampai harus di larikan ke rumah sakit yang sama seperti Arnes.


"Kamu pembunuh. Harusnya kamu pun di hukum mati. Anakku itu sangat sopan dan bersahaja. Dia pemimpin yang bijaksana. Apa jadinya sebuah kompi kalau di kepalai pimpinan macam Zaldi ini. Bisa rusak negara ini" teriak ibu Guntur tidak terima.


Bang Bima begitu marah, ia menggebrak meja sampai memasang badan untuk Bang Zaldi yang sudah melindungi adik kandungnya tapi Bang Zaldi mencegahnya.


"Sudah Bim. Saya memang membunuhnya"


"Tapi mata mereka harus tau Bang. Anak yang mereka dewakan itu titisan iblis" Bang Bima ikut terpancing emosi.

__ADS_1


"Kembalikan nyawa anakku..!!!!" Ibu Guntur memukuli dan menampar Bang Zaldi sekuatnya. Wanita itu sungguh tidak bisa menerimanya.


"Apa kamu bisa mengembalikan nyawa calon anakku yang bahkan jantungnya saja baru berdetak? Apa kamu bisa mengembalikan senyum istri saya yang hilang karena ulah putra kebanggaan mu? Silakan anda membela putra yang menurut anda benar, tapi saya juga punya kewajiban untuk membela istri saya" jawab Bang Zaldi.


***


Papa Rinto berusaha keras untuk membebaskan dan melindungi menantunya. Bahkan semua Abang Arnes ikut membantu kasus Bang Zaldi. Hukum sementara sudah memutuskan untuk melepas jabatan Bang Zaldi sebagai Danki BS dan menggantinya dengan Kapten Maulana.. junior Bang Zaldi.


Para anggota tidak ada yang terima dengan kasus Danki karena sejatinya Kapten Erzaldi hanya melindungi belahan jiwanya dari ulah tidak berperi kemanusiaan dari Mayor Guntur.


Tragedi ini telah terdengar di kalangan keprajuritan karena keluarga dari Mayor Guntur melapor dan meminta keadilan, bahkan untuk pemakaman pun pihak keluarga meminta di lakukan secara kehormatan militer tapi akhirnya tidak bisa di kabulkan karena berbagai macam pertimbangan.


...


Arnes masih terguncang dengan kejadian ini. Tadinya ia sangat takut bertemu dengan Bang Zaldi, tapi Bang Bima dengan lembut membujuknya dan memberi tahu keadaan yang sebenarnya.


"Nes.. kamu jangan larut dalam kesedihanmu terus. Ada hal yang harus kamu tau. Saat ini suamimu........."


...


Para anggota kompi mendatangi Markas POM mereka memberikan dukungan kepada Kapten Erzaldi. Sebagian dari mereka sudah tau apa yang sudah terjadi hingga tragedi berdarah ini terjadi.


"Terima kasih banyak. Jika hukum ini adil, pasti keadilan ini akan datang pada saya.. tapi saya memang bersalah sudah menghilangkan nyawa orang lain, jadi saya harus terima segala konsekuensi dari segala perbuatan saya termasuk sementara waktu harus berpisah dengan anak dan istri. Bagi para rekan semua.. Jangan pernah di contoh perbuatan buruk saya" jawab Bang Zaldi.


"Kami pun akan melakukan hal yang sama jika berada pada posisi Danki" jawab rekan anggotanya.


Suara langkah kaki terdengar pelan. Langkah yang sangat Bang Zaldi kenali. Terlihat di bibir pintu Arnes mengurai senyum di balik tangisnya. Ia sudah bisa bangun dan sadar.


"Kamu nggak malu punya suami seorang tahanan?" tanya Bang Zaldi menahan perasaannya yang sebenarnya sudah ingin berontak juga dalam tangis.


Arnes melangkah dan langsung memeluk Bang Zaldi.


"Tidak malu kah Abang punya istri seperti Arnes?"


"Nggak, Abang bangga punya kamu di hidup Abang. Mamanya Ibra yang paling hebat dan terhebat" ucapnya menghapus air mata Arnes.


"Mungkin sebentar lagi Abang bukanlah seorang prajurit kebanggaanmu. Kalau kamu sudah tidak inginkan Abang lagi.. kamu boleh mencari pengganti Abang. Abang sadari.. Abang bukan suami yang terbaik buatmu. Tidak bisa menjadi contoh untuk Ibra anak kita. Selama menikahimu, Abang hanya bisa membuatmu menangis dan belum bisa membawamu dalam rumah tangga bagai surga yang kamu inginkan. Apapun keputusanmu.. Abang ikhlas demi bahagiamu dan Ibra"

__ADS_1


"Jangan katakan itu Bang. Arnes lah yang tidak sempurna untuk Abang. Apapun keadaannya, Arnes akan selalu mencintai Abang. Jangan pernah tinggalkan Arnes. Kita hadapi semua sama-sama ya Bang" Arnes begitu lemah bersandar dalam pelukan Bang Zaldi.


"Yang kuat dek, Jalan hidup ini masih panjang. Maaf beberapa waktu ini Abang tidak akan bisa membantumu mengasuh Ibra. Apa mama bisa tunggu Papa jalani 'pendidikan' sebentar saja??" ucap Bang Zaldi berusaha tegar dalam kesakitan batinnya. Sungguh saat ini dirinya begitu lemah tanpa daya melihat istrinya harus kembali menghadapi dunia ini sendirian tanpa hadirnya untuk menemani.


"Mama pasti bisa dan pasti menunggu papa kembali pulang" jawab Arnes.


"Terima kasih banyak ma. Papa sayang sekali sama Mama" kecupan itu membuat para anggota lain ikut 'tertampar' melihat Kapten Erzaldi begitu mencintai istrinya.


***


Berita acara perkara sudah turun. Kini Bang Zaldi harus bersiap menerima segala kemungkinan yang mungkin saja terjadi termasuk di berhentikan secara tidak terhormat dari kesatuan militer.


"Kamu tenang saja Zal. Ini nanti akan jadi hadiahmu. Hukuman memang tidak bisa di hindari tapi saya akan pastikan kalau kamu tidak akan lepas dari kesatuan militer. Banyak alasan yang membuat kamu tidak bisa begitu saja di lepaskan dari kesatuan ini meskipun kesalahanmu juga fatal" ucap Dan Arben yang tiba-tiba sudah muncul saat Papa Rinto dan dan yang lainnya sedang berunding di ruang tamu gedung sel tahanan Bang Zaldi.


"Siap Komandan. Terima kasih" jawab Bang Zaldi.


"Ada satu tuntutan lagi dari keluarga Guntur. Kamu sudah tau Zal??" tanya Dan Arben.


"Siap sudah" jawab Bang Zaldi dengan wajah pilu.


***


"Papa kerja sayang. Ibra jadi anak yang baik ya" bujuk Arnes. Saat ini dirinya sedang berada di rumah Papa Rinto sesuai permintaan Bang Zaldi agar istrinya itu mendapatkan perlindungan penuh.


"Pa_paaa" rengek Ibra mencari papanya.


Arnes memeluk putranya, ia pun sangat merindukan Bang Zaldi. Semua ini terasa sangat berat untuknya. Tapi dirinya sungguh sangat bersyukur di pertemukan dengan pria seperti Bang Zaldi, yang rela menyayangi dan melindunginya hingga titik darah penghabisan.


"Nanti kita tanya Opa ya Bang, sudah bisa ketemu Papa apa belum" jawab Arnes.


"Iya Mama.."


"Anak pintar, anak kesayangan Papa Mama. Ibra memang anak hebat" demi sang anak. Arnes berusaha tegar menjalani hidupnya yang sementara waktu kini terpisah dengan Bang Zaldi.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2