
"Sekali lagi Abang tau kamu hubungi laki-laki lain.. Abang banting ponselmu itu..!!" ancam Bang Ibra.
Bang Ryan sengaja memasang badan untuk Fia.
"Jangan di kasari Bang. Nanti aku yang beritau Fia. Kalau Abang marahi, asmanya bisa kambuh saking takutnya"
Bang Ibra tidak akan berdebat lagi dengan Bang Ryan jika sudah menyangkut tentang Fia karena pada dasarnya mereka berdua sangat menyayangi Fia. Bang Ibra memilih pergi dari pada ribut dengan Bang Ryan.
"Terima kasih ya Bang. Fia sayang Abang"
"Lain kali jangan suka cari perkara dengan Bang Ibra. Abangmu itu pemarah sekali" kata Bang Ryan sambil mengusap rambut Fia.
...
Sore harinya Ryan membuka koper besar di dalam lemari hias. Ia mencari data dirinya untuk persiapan sekolah percepatan. Disana Ryan melihat ada dua nama yang berbeda pada nama orang tuanya pada akta kelahiran. Pertama adalah nama Guntur, yang kedua adalah nama Erzaldi.
Bang Zaldi melihat Ryan membongkar koper tanpa ijinnya menjadi marah dan menyambar akta kelahiran itu dari tangan Ryan.
"Lancang kamu..!!" bentak Bang Zaldi. Arnes yang datang mengikutinya di belakang sampai kaget melihat reaksi Bang Zaldi.
"Siapa Guntur pa? Kenapa nama Guntur ada di akta kelahiran ku??" tanya Ryan.
"Guntur?? Bang Guntur??" mendengar pentanyaan itu, ingatan buruk itu seakan memukul perasaan Arnes. Ia tumbang seketika dalam pelukan Bang Zaldi.
"Arnes..!! Ya Allah dek.. kenapa masih kamu masukan ke dalam hati?????" secepatnya Bang Zaldi membawa Arnes ke dalam kamar. Fia, Ibra dan Ryan mengikutinya.
"Mama kenapa pa?" tanya Ibra.
"Mamaaaa.." Fia takut sekali kalau mamanya sakit seperti ini.
"Mama nggak apa-apa. Kamu jangan panik..!!" kata Ryan yang sebenarnya juga cemas.
:
Ryan duduk berhadapan dengan Papa Zaldi dan Mama Arnes. Tangannya dingin dan gemetar menunggu jawaban Papa Zaldi tentang pertanyaan nya selama ini. Fia dan Ibra pun ikut mendengarkan disana.
"Sebenarnya aku anak Mama dan papa atau bukan?" tanya Ryan dengan tegar saat hatinya mulai berani.
"Kamu.. bukan putra kandung Papa" jawab Bang Zaldi juga menguatkan hatinya.
"Baaaangg..!!!!! Kenapa Abang tega sekali???" Mama Arnes sampai terpekik tidak terima saat Bang Zaldi mengatakan sebuah kebenaran yang sangat ingin ia tutup rapat.
__ADS_1
"Ryan harus tau dan dia berhak tau tentang keluarganya, garis hidupnya dan.. bagaimana bisa Ryan bersama kita"
"Jangan Bang. Arnes nggak mau Ryan tau.. tolong..!!!!" Arnes begitu histeris mendengar niat Bang Zaldi.
"Katakan pa..!! Biarpun menyakitkan, tapi sebuah kebenaran adalah kenyataan yang terbaik meskipun pahit" pinta Ryan dewasa di usianya yang masih lima belas tahun.
"Papa.. menghilangkan nyawa bapak kandunganmu dan membuat tantemu mendekam dalam jeruji besi" ucap jujur Bang Zaldi.
"Abaaang..!!" Fia marah sekali mendengar Bang Zaldi sudah mengucapkan hal yang tidak ingin ia dengar.
"Abang jahaaatt..!! Ryan putraku. Dia bukan anak Bang Guntur. Dia putrakuuu baaaangg" teriaknya sampai Bang Zaldi harus memeluknya erat.
Rasa kecewa mendera hati Ryan. Ia sangat menyayangi keluarga ini. Tapi sayang.. kini harapan itu harus musnah saat tau keluarga ini bukanlah bagian dari dirinya.
Ryan bangkit dan masuk ke dalam kamar, setelah mengambil pakaiannya.. tak lama ia keluar.
"Aku pamit.. terima kasih sudah membesarkan ku dan mendidik ku sampai seperti ini"
"Duduk dulu kamu Ry..!!" tegur Ibra.
"Abaaang.. jangan pergi..!!" Fia juga menangisi Abangnya sampai menangis sesenggukan.
Bang Zaldi menyandarkan Arnes kemudian berdiri berhadapan dengan Ryan.
"Apa masih pantas anda di sebut Papa setelah menghilangkan nyawa orang tuaku???" bentak Ryan.
"Maafkan saya. Sungguh semua di luar kendali saya?"
"Apa alasannya?? Apa begitu buruk kelakuan papaku sampai anda harus menghilangkan nyawanya??" Ryan begitu kalap dan marah. Ryan muda melayangkan tendangan dan pukulan melayang tak tentu arah. Kelakuan kalap Ryan begitu kecil di tangan Bang Zaldi.
"Katakan alasannya agar aku mengerti"
"Semua salah saya..!!" kata Bang Zaldi mengalah.
"Bohong.. apa yang kalian perebutkan??? Kalau tidak ada yang fatal tidak mungkin papaku sampai mati di tanganmu..!!" ucap Ryan tak mau berhenti.
Bang Zaldi mengunci Ryan lalu menjegal dan hendak menamparnya tapi Arnes menahannya. Tak sengaja kakinya menjegal kaki Arnes.
braaakk...
"Aarrgghh.." pekik Arnes jatuh tersungkur di lantai.
__ADS_1
"Ya Allah.. kamu kenapa dek?? Apa sesakit itu??" tanya Bang Zaldi.
Arnes mengangguk dan akhirnya Bang Zaldi membawa Arnes ke rumah sakit.
...
"Kalau di hitung dari tanggal haidnya ya memang istrimu telat. Tapi di USG ini kosong. Bisa di katakan keguguran spontan" kata dokter.
Bang Zaldi mengusap wajahnya.
"Astagfirullah hal adzim.. bertahun tahun aku berhati-hati nyatanya masih bisa jebol juga"
"Ya namanya manusia.. ada saja kecolongan nya khan?" jawab dokter.
"Ini artinya belum rejeki. Belum bisa di sebut anak juga"
"Tetap saja, telat berarti kehamilan.. meskipun masih terlalu dini" ucap sedih Bang Zaldi.
"Tapi ada hikmahnya juga. Beresiko kalau Arnes mengandung di usia seperti ini"
"Sabar ya!!"
Bang Zaldi hanya mengurai senyum pahitnya.
...
Ryan menunduk di hadapan mama Arnes dengan mata masih sembab. Ia begitu menyesali semuanya.
"Impas khan?" tegur Bang Zaldi.
"Jangan pergi le.. selamanya kamu anak mama. Cinta Mama tulus nak..!! Mama menyayangimu" kata Mama Arnes.
"Mamaa.. aku nggak apa-apa ma. Aku sudah baik-baik saja mendengarnya. Mama yang tenang ya..!!"
"Kamu sudah tau??" tanya Mama heran.
Ryan menatap mata Mama Arnes.
.
.
__ADS_1
.
.