
Dua hari kemudian.
Mendadak panglima akan datang bersama beberapa orang untuk mengunjungi Bang Zaldi. Dan Rinto sudah cemas setengah mati karena ia sudah bisa menebak apa yang akan terjadi selanjutnya.
"Pa.. apa benar akan ada panglima hari ini??" tanya Mama Anye.
"Iya ma. Jangan sampai Arnes tau. Hari ini pasti akan ada penindakan untuk Zaldi" kata Papa Rinto sembari berbisik, tapi sayang putri kesayangan Papa Rinto itu selalu saja menguping pembicaraan kedua orang tuanya.
"Papa mau temui Zaldi di mess. Kamu cegah jangan sampai Arnes datang lagi ke Batalyon..!!"
"Iya pa"
"Abang di tindak??? Apa yang akan Abang terima nanti??" gumam Arnes.
-_-_-_-_-
"Bodoh kamu Zal. Kamu ini mau di tindak.. bukannya mau di data sensus penduduk" tegur Dan Rinto.
"Saya akan lebih terlihat bodoh lagi kalau tidak bisa berbuat apapun untuk Arnes"
"Sebenarnya apa maumu???? Arnes bukan kekasihmu, bukan istrimu, dia juga bukan apa-apa mu"
"Apa perlu kita mengumbar perasaan di depan semua pihak Dan?? Saya rasa usia saya bukan ABG lagi yang harus mengatakan status di depan orang banyak"
"Kamu tidak ada ikatan apapun dengan Arnes"
"Tujuan saya ingin mengarah ke sana Dan"
"Maaf Zal. Arnes masih terlalu muda. Usianya baru dua puluh tahun. Kuliah juga belum tuntas. Kamu tau masa lalu dia begitu buruk. Saya tidak suka ada yang mempermainkan putri saya lagi" Dan Rinto meninggalkan tempat dengan membawa amarah dalam dada.
Bang Zaldi menghempaskan tubuhnya bersandar di sofa dengan kasar.
"Apa sesulit ini menuju halal??" gumamnya seraya memijat pangkal hidungnya.
Abang nggak peduli masa lalumu dek. Bukan masa lalu yang Abang inginkan, tapi masa depan yang akan kita rajut bersama.
-_-_-_-
plaaaakk.. buugghhhh.. duugghh...
Tak terhitung banyaknya tangan dan kaki yang melayang untuk menghajar Lettu Erzaldi tapi tetap perwira itu berdiri kokoh seolah tak merasakan apapun. Hanya Dan Rinto yang sesekali memercing seakan ia ikut merasakan apa yang di terima Zaldi.
"Lettu Erzaldi Gharial Alba.. ini tampang perwira yang terkenal sudah menebas kepala pemberontak itu??" ledek panglima.
"Menghajar senior di muka umum dan anggota lain, itu tindakan tidak bermartabat.. sama saja itu menjatuhkan harga diri perwira lain..!!!!!" bentak panglima di hadapan Bang Zaldi
"Siap salah panglima..!!!"
"Dan kau.. Rinto Dirgantara.. tidak mengawasi anak buahmu sampai dia harus memukul seniornya yang tidak bersalah" tegur panglima pada juniornya.
"Siap salah"
"Jangan melibatkan orang lain dalam masalah ini kalau memang tujuan hukuman ini untuk saya..!!" bentak Bang Zaldi.
"Lancang kamu..!!!!"
__ADS_1
Satu kali lagi Bang Zaldi harus menerima tindakan dari panglima yang satu bulan lagi akan Sertijab. Merasa dirinya di permalukan, panglima menghajar Bang Zaldi tepat di titik lemah.
bruugghh...
Bang Zaldi terbanting dan ambruk total di lantai, darah mengucur dari hidung dan mulutnya.
Melihat Bang Zaldi terkapar, Dan Rinto tidak mungkin diam saja.
"Kamu menghajar anak buahku Gito????"
buugghh..
Kini giliran Dan Rinto yang memukul panglima hingga terjungkal, keributan tak terhindarkan lagi. Satu ruangan berantakan karena saling dorong. Ajudan panglima menyelesaikan tugasnya menyelamatkan atasannya meskipun salah dan anak buah Dan Rinto menghalangi kemarahan Dan Rinto.
"Bawa keluar manusia itu atau saya yang akan menanganinya sendiri..!! Tak masalah apa yang akan saya terima. Saya sudah lelah berhadapan dengan atasan yang tidak tau diri" bentak Dan Rinto. Pihak panglima segera membawa keluar atasannya.
"Bawa Komandanmu itu ke rumah sakit sekarang..!! Nafasnya bisa berhenti seketika"
Bima dan Seno yang baru tau ada keributan melihat Bang Zaldi tak sadar dan di angkat beberapa orang anggota.
"Ada apa ini pa?" tanya Bima.
"Nanti saja ceritanya. Selamatkan Abangmu dulu..!!!!!" Dan Rinto langsung terduduk lemas di sofa. Usia di atas empat puluh lima tahun sudah membuatnya tidak seperti dulu.
-_-_-_-_-
"Bang.. Arnes mau lihat Bang Zaldi di dalam" Arnes sangat kaget saat Bang Seno memberi tahu yang sebenarnya kalau Bang Zaldi masuk rumah sakit karena terkena tindakan panglima.
"Kamu nggak boleh buat keributan ya Nes. Bang Zaldi masih lemas"
Arnes langsung menerobos masuk dan melihat Bang Zaldi sedang membersihkan hidungnya yang sesekali masih menetes darah.
"Jangan dek.. Banyak orang" Bang Zaldi menolaknya tapi Arnes tak peduli dan tetap menyandarkan kepala Bang Zaldi di dadanya.
Mungkin Bang Zaldi masih merasa kesakitan hingga pria itu tak banyak berdebat dan menurut saja saat Arnes memberinya perhatian. Bang Zaldi terlihat pasrah saja. Ia memejamkan matanya. Arnes mengusap hidung Bang Zaldi dengan lembut.
"Ini hasilnya kalau sok jagoan. Power Ranger abu-abu monyet" ucap Arnes dengan gemas tapi juga kasihan.
"Jangan suka ganti Hero sembarangan. Abang sukanya Dragon ball" jawab Bang Zaldi
"Enak di peluk Bang??" tanya Arnes.
"Enak banget" jawab jujur Bang Zaldi.
Bang Seno menahan tawanya melihat adiknya yang terlalu los, ingin mencegahnya tapi ini bukan saat yang tepat, yang penting ia masih bisa mengawasi tingkah polah sang adik.
"Makanya jangan suka menghina kutilang dara lah, nasi M*d lah. Dosa Abang tuh sudah nggak terhitung banyaknya" sindir Arnes.
"Ya Allah, cerewetnya tiga wanita gabung jadi satu. Abang sembuh di hidung jadi tuli di telinga nih dek" protes Bang Zaldi.
Arnes mencibir Bang Zaldi, tapi ia tidak mengajak pria itu berdebat lagi. Arnes naik ke atas ranjang dan duduk disana karena tidak mungkin kalau ia harus berdiri terus sambil memeluk Bang Zaldi yang kini diam dalam dekapannya bagai anak kucing.
Dan Rinto masuk ke dalam kamar dan melihat pemandangan yang membuatnya kesal hingga ke ubun-ubun. Tapi daripada itu, Dan Rinto lebih mencemaskan hal yang lain.
"Ada pancaran pa??" tanya Bang Seno.
__ADS_1
"Ya.. panglima hanya memberi waktu Zaldi untuk istirahat karena nanti sore Zaldi harus menginap di sel"
"Papa membiarkan panglima bawa Abang???. Apa nggak ada yang bisa di lakukan pa??" tanya Arnes.
"Jangan teriak dek. Abang mau tidur" ucap Bang Zaldi pelan.
Dan Rinto terbelalak saat menyadari ternyata Zaldi tidak sedang tidur.
"Berani sekali kamu peluk putri saya di depan mata saya"
"Paa... bisa nggak sih sekali saja papa nggak marah sama Bang Zaldi. Abang benar-benar tidur" kata Arnes.
Mendengar ucapan putrinya, Papa Rinto menjadi sangat lemah. Ia membiarkan putrinya meskipun semua itu tidak sesuai dengan kata hatinya. Yang Papa Rinto rasakan saat ini hanya bimbang.
-_-_-_-
Tangan Bang Zaldi rasanya kebas. Sekujur tubuhnya sudah sangat kesakitan. Makan pun sangat lambat tapi ia menolak bantuan dari siapapun dan itu sangat menyentuh perasaan Arnes.
Dua orang POM datang untuk menjemput Lettu Erzaldi.
"Ijin.. kami diperintahkan untuk menjemput Komandan"
"Iya.. saya mengerti" ucapnya sambil melanjutkan acara makannya. Tak ada rasa takut sedikitpun.
"Ijin.. Bisa sekarang Dan??" ucap seorang POM sudah mendekati Bang Zaldi.
Arnes berdiri di hadapan kedua POM itu.
"Kalian tidak lihat Lettu Erzaldi sedang makan. Tidak sampai lima menit sudah selesai. Mau pangkat Abang tidak perwira sekalipun.. kalian harus menghormati privasi orang lain. Tunggulah di luar..!!"
"Baik Bu. Kami akan tunggu di luar saja"
Dan Rinto masuk ke ruangan bersama Bang Bima sedangkan Bang Seno sedang membicarakan masalah hukum Bang Zaldi. Arnes mengusap bibir Bang Zaldi usai makan dan minum.
"Bang, kelihatannya Abang belum kuat jalan" kata Arnes.
"Kalau kuat nanti bisa duduk"
"Arnes bilang sama mereka ya Bang, biar Abang nggak usah berangkat sekarang" Arnes sungguh tidak tega melihat kondisi Bang Zaldi.
"Setiap perbuatan pasti ada konsekuensinya dan semua itu harus ada tanggung jawabnya. Kamu nggak boleh mencegah Abang membayar semua perbuatan Abang. Ini resiko Abang karena berkelahi" jawab Bang Zaldi.
"Tapi ini semua karena Arnes"
"Kamu merasa bersalah??" tanya Bang Zaldi.
Arnes mengangguk menyimpan air matanya.
"Kalau kamu merasa bersalah, tolong bantu Abang bujuk papamu yang galak itu. Boleh nggak kalau Bang Zaldi dekati putrinya ini. Katakan putrinya akan baik-baik saja sama Abang" ucap Bang Zaldi langsung di hadapan Dan Rinto yang berdiri tidak jauh dari Arnes.
"Astaga.. si buras ini benar-benar keras kepala" gumam Dan Rinto.
"Mau dekat seperti apalagi Zal?? Terus selama ini apa?? Kamu terang-terangan dekati putri saya khan"
.
__ADS_1
.
.