
"Makanya cari baju itu yang bagusan sedikit. Baju model kurungan ayam begini di beli"
"Nggak usah pegang-pegang. Dasar om-om kaku" kata Arnes yang masih merasa malu karena Bang Zaldi sejak tadi memegangi belakang roknya meskipun pria itu tidak menatapnya sama sekali.
"Kalau mau rokmu terbang tertiup angin ya sudah. Nih..!!!" Bang Zaldi melepas rok Arnes yang ia pegang. Angin yang lumayan kencang itu malah menerbangkan rok Arnes kesana kemari sampai Arnes kelabakan memegangi roknya.
"Om.... tolong"
Panggil yang benar..!!" perintah Bang Zaldi.
"Abaang.. tolong..!!" ucap manja Arnes terdengar manis di telinga Bang Zaldi. Bang Zaldi menyimpan senyumnya dalam hati.
"Masih butuh saja mau marah-marah..!!" gerutu Bang Zaldi sambil mendekati Arnes.
Arnes mundur perlahan dengan rasa gugup tak terkira. Wajah Bang Zaldi semakin mendekatinya, tangannya pun sudah mendekati wajahnya.
"Abang pinjam jepit rambutmu" kata Bang Zaldi yang sebenarnya juga gugup setengah mati.
"Ehm.. iya Bang"
Bang Zaldi kemudian membungkuk dan mengaitkan jepit rambut itu di belakang rok Arnes. Angin berhembus semakin kencang. Arnes mengusap kedua lengannya.
Melihat Arnes kedinginan, Bang Zaldi jadi tidak tega. Ia melepas jaketnya lalu menyampirkan di kedua bahu Arnes.
"Kamu boleh saja ingin cantik, tapi tubuhmu bukan konsumsi publik"
Bang Zaldi membukakan pintu mobil untuk Arnes mempersilakan gadis itu masuk.
"Te_ri_ma ka_sih" ucap Arnes setengah hati harus berterima kasih pada Bang Zaldi.
"Ya.. sama-sama" jawab Bang Zaldi. Bukan Bang Zaldi namanya kalau tidak bersikap kaku dan dingin pada Arnes.
//
Bang Zaldi tau Arnes sudah tidur di dalam mobilnya. Tak ada kata jaim dari gadis itu. Seperti yang pernah Bang Zaldi dengar dari para sahabatnya. Apa yang pernah ia dengar sungguh sangat berbeda dengan apa yang dilihatnya.
Dalam mobil Bang Zaldi. Arnes sudah menurunkan sandaran mobilnya lalu tidur dengan posisi sesuka hati. Kaki di lebarkan dengan santai dan tangan naik ke atas.
Bang Zaldi hanya bisa tersenyum melihat tingkah Arnes, sesekali Bang Zaldi menurunkan rok Arnes yang sedikit tersingkap.
"Gaya tidur macam apa ini? Awas saja kalau sampai ada Gharial lain yang melihatnya, karena Abang nggak akan bisa terima itu dek. Abang sendiri nggak tau kenapa bisa merasakan hal semacam ini" gumamnya.
Saat melewati perempatan traffic light Arnes tidur dengan posisi miring menghadap Bang Zaldi. Tangannya tak sengaja memegang paha pria yang kini masih menjabat pangkat Letnan Satu itu.
"Astaga.. bikin masalah aja kamu dek" ucap Bang Zaldi merasakan tubuhnya tiba-tiba menegang dan panas.
"Duuhh..!!" Bang Zaldi mulai kebingungan, ia juga pria yang seratus persen normal. Mendapat perlakuan seperti ini pasti nyalinya pun berdebat.
Saking tegangnya, Bang Zaldi sampai tidak melihat lampu hijau sudah menyala kembali. Banyak klakson yang menyadarkannya.
__ADS_1
"Aseeemm.. atiku kok morat marit" gumamnya lalu menginjak gas mobilnya.
-_-_-_-_-
Mereka berdua sudah sampai di depan rumah Arnes. Lagi-lagi senyum Bang Zaldi mengembang. Mata itu terus menatap paras ayu putri Pak Rinto. Tanpa sadar, badan Bang Zaldi condong ke depan seiring detak jantungnya yang berdebar kencang. Sialnya saat itu mata Arnes langsung terbuka.
"Abang mau apa?" tanya Arnes. Saking kagetnya, Bang Zaldi mundur dan berusaha berdiri sampai kepalanya terbentur atap mobil dengan keras.
"Aawwhh.. apa sih kamu, bikin kaget aja" jawab Bang Zaldi tanpa rasa bersalah.
"Abang itu yang buat apa? Kenapa dekati Arnes, jangan-jangan Abang tergoda lihat badan Arnes yang seksi ya?" pertanyaan Arnes langsung membuat Bang Zaldi mati gaya, tapi sikap kaku Bang Zaldi bisa menutupi rasa gugupnya.
"Ciihh.. apa dunia ini kurang perempuan. Kamu ini devinisi wanita yang nggak ada seksinya, pahit, banyak tingkah. Mana mau saya sama si kutilang dara. Kurus tinggi langsing dada rata" cerocos Bang Zaldi.
"Waahh.. keterlaluan. Kalau Arnes buka disini bagaimana seksinya Arnes.. Abang bisa pingsan. Lagian Arnes juga nggak mau sama Abang. Salah satu produk gagal dunia ini" cibir Arnes.
"Pertama.. Abang mau bangunkan kamu yang tidur seperti kebo. Kedua, Abang takut mobil keren Abang ini kena air liurmu yang menetes kemana-mana, bisa kena rabies Abang nanti"
Mendengar itu, Arnes mencubiti pinggang Bang Zaldi karena kesal. Arnes segera mencari ponselnya yang entah kemana. Secepatnya Arnes mengambil ponsel Bang Zaldi yang sedari tadi masih ia bawa.
"Mau apa?"
"Cari ponsel Arnes" jawab Arnes santai.
"Mana nama kontak Arnes disini? Kenapa nggak ada?" Arnes mencari namanya di aplikasi pesan singkat. Bang Zaldi ingin merebutnya tapi Arnes selalu menepis tangan Bang Zaldi sampai ia melihat nama ❤️ Nyonya Zaldi Kesayangan ❤️ yang mencolok dan satu-satunya disana. Mata Arnes melotot saat membaca itu adalah percakapannya dirinya dengan Bang Zaldi.
"Ini ponselmu" Bang Zaldi menyerahkan ponsel itu di pangkuan Arnes dengan sikap kakunya.
Jempol Arnes sudah bersiap menekan tombol hapus disana tapi Bang Zaldi segera mengambil ponselnya.
"Jangan dihapus..!!" ucapnya dingin.
"Meskipun kamu tulis Owa jantan disana. Bagi Abang.. kamu tetap kesayangan"
"Apa ini artinya Abang mengakui kalau Abang punya perasaan lebih untuk Arnes?" tanya Arnes penasaran.
"Seperti yang kamu lihat itu" jawab Bang Zaldi tanpa menatap mata Arnes.
:
Papa Rinto dan Mama Anye sedari tadi mengintip Zaldi dan Arnes dari balik jendela. Mereka penasaran mengapa putrinya tak juga turun dari dalam mobil.
"Papa mau kesana. Jangan-jangan si cenil mau di apa-apain sama si buras" Papa Rinto sudah berdiri tapi Mama Anye melarangnya.
"Papa diam disini. Nggak akan terjadi apa-apa. Zaldi bukan Guntur pa. Zaldi memang kaku dan kasar tapi hatinya pasti lembut" kata Mama Anye.
"Darimana kamu tau??"
"Karena Anye sudah merasakan jadi istri Om Rinto" jawab Mama Anye.
__ADS_1
Papa Rinto tersenyum manis.
"Ya sudah kalau cantikku bilang begitu"
"Papa.. kita sudah nggak muda lagi" jawab Anye.
"Usia tidak menghalangi perasaan ma. Sampai kapanpun rasa ini hanya untuk kamu seorang" Papa Rinto menggendong Mama Anye masuk ke dalam kamar.
"Kita ulangi masa indah kita ma..!!"
:
"Abang bukan tipe pria yang suka mengumbar kata cinta"
"Kalau begitu sebaiknya Abang lupakan Arnes" kata Arnes.
"Kenapa? Apa Abang tidak pantas mengenal anak Komandan Abang sendiri?" tanya Bang Zaldi.
"Arnes nggak mau kenal pria manapun lagi. Semua laki-laki sama saja" jawab Arnes.
"Kalau kamu sakit hati dengan seorang pria, jangan pukul rata semua sifat pria..!!" Bang Zaldi ingin menyentuh rambut Arnes, tapi gadis itu sudah ketakutan. Badannya gemetar hebat.
"Dek.. kamu kenapa??" Bang Zaldi bingung karena ia belum menyentuh Arnes sama sekali.
Arnes memejamkan matanya.
"Jangan.. ampun Bang..!! Arnes minta maaf..!!" ucapnya sesenggukan.
"Ya Allah Arnes. Kamu kenapa dek" Bang Zaldi perlahan mendekati Arnes dan berusaha membujuknya.
"Buka mata. Ini Bang Zaldi.. bukan laki-laki yang sudah menyakitimu dek"
Dari jauh Bang Seno tau ada mobil Bang Zaldi masih terparkir di depan jalan halaman rumahnya. Ia segera turun dari motornya. Alangkah terkejutnya saat melihat Arnes menangis ketakutan dalam pelukan Bang Zaldi.
Bang Seno mengetuk kaca mobil dengan kencang.
"Buka Bang..!! Apa yang Abang buat sampai Arnes nangis begini????" Wajah Bang Zaldi sudah sangat geram melihatnya.
Bang Zaldi menurunkan kaca mobilnya.
"Selesaikan marahmu sama Abang nanti di mess, sekarang bantu Arnes dulu. Kamu pasti lebih tau kenapa Arnes sampai seperti ini" jawab Bang Zaldi.
Seno segera membawa Arnes masuk ke dalam rumah yang terasa begitu sepi seolah tak berpenghuni padahal ada dua orang ajudan yang menjaga rumah papanya itu.
.
.
.
__ADS_1