
Ayah Rama sedang menyuapi Mey makan di area kantor karena Mama Dinda sedang sibuk dengan kegiatan. Tidak ada kata malu bagi ayah Rama mengasuh putri bungsunya meskipun ia seorang komandan besar. Papa Ardi pun juga sedang mengasuh Alen... cucu pertamanya yang mulai pintar segala hal.
Tak lama Candra muncul di tengah mereka. Wajah Rama langsung berubah tidak bersahabat. Ia menyadari dirinya sudah semakin berumur untuk beradu otot, tapi kelakuan Candra hampir meremukkan rumah tangga Anye dan Bang Rinto.
"Ada apa?" tanya Rama. Ardi menarik bahu Rama agar tidak terpancing dengan keributan.
"Saya minta maaf Bang. Karena saya nggak berpikir panjang.. Hal fatal hampir saja terjadi"
"Benar-benar tak terduga, sikapmu ini keterlaluan" tegur Ardi.
"Saya paham..! Bisakah saya di tugaskan ke daerah?" pinta Candra karena merasa sangat bersalah.
"Baiklah.. saya akan buatkan SP mu" kata Rama.
...
Dari jauh.. Della melihat Pak Rinto dan Anye duduk berdua di sofa ruang kerja Danki. Pak Rinto terlihat sangat menyayangi istrinya itu, tak hentinya tangan yang nampak selalu mengusap perut Anye dengan sayang. Ia ingin menangis entah karena apa tapi ada rasa sedih karena ternyata sapaan Pak Rinto tidak berarti apapun.
"Kamu lihat apa?" tanya Joe.
"Pak Rinto sangat sayang sama istrinya itu"
"Kemarin Pak Rinto seperti perhatian dengan saya. Apa pria selalu begitu..memberi harapan pada wanita" jawab Della.
"Berbuat baik tidak salah.. Yang salah adalah hatimu yang tidak bisa mengartikan sikap seseorang" kata Joe.
"Berusahalah menerima kehadiran pria lain dalam hidupmu. Mengharapkan pria beristri juga salah"
Joe dan Della saling menatap. Joe mengulurkan tangannya.
"Mau ikut Mas Jovan beberes rumah dinas?" tanya Joe membujuk Della.
"Mau Mas" Della menunduk malu.
***
Siang hari sudah semakin terik. Danyon yang baru ingin sekali Para Danki beratraksi di depan anak buahnya dan tidak hanya anggotanya yang tampil menghibur.
"Seluruh Danki berkumpul di lapangan.. jangan hanya sembunyi dan bermanis manja di pelukan istri" teriak Bang Satriyo membuat ulah.
"Ada apa lagi Bang Sat?" Bang Rinto sudah merasa tidak nyaman dengan ulah Danyon barunya.
"Aduuhh.. kenapa jadi Bang Sat sih Danyon kita" gerutu Brian juga tidak nyaman.
"Ayo jalan..!!"
Berpanas-panasan para Danki berada di tengah lapangan disaksikan satu Batalyon beserta keluarga.
"Para Danki silakan tunjukan atraksi beladiri bebas" perintah Bang Satriyo.
"Eghm.. Jambu alas..!! Benar khan ini Komandan pasti berulah" Bang Rinto jengkel sekali.
"Lebih baik Abang di cakar Anye saja lah" ucap kesal Bang Rinto pada Bang Satriyo.
"Nah.. ini termasuk balasan dari cakaran istrimu" kata Bang Satriyo.
Mau tidak mau akhirnya para Danki beratraksi beladiri bebas, tanpa latihan dan persiapan.
Bang Rinto berhadapan dengan Brian.
__ADS_1
...
"Sudah Bang..?" tanya Anye sambil menyerahkan minuman dingin untuk Bang Rinto.
"Iya sudah.. sebentar lagi kita pulang ya..!!" ajak Bang Rinto kemudian ia menyodorkan minumannya agar Anye menghabiskannya.
Ponsel Bang Rinto bergetar. Ada panggilan telepon masuk dari Mama.
"Siapa Bang?" tanya Anye.
"Mama.." jawab Bang Rinto kemudian mengangkat panggilan teleponnya.
...
"Mama mau datang besok.." kata Bang Rinto.
"Waahh... Anye masak apa ya Bang untuk mama?" tanya Anye.
"Nggak usah repot. Pikirkan kandunganmu saja" Bang Rinto memeluk dan mengecup kening Anye, wajahnya nampak pias. Pelukan itu seperti sedang mencemaskan sesuatu. Ada yang ingin ia utarakan tapi sungguh hatinya tak sanggup menjelaskan. Apakah ini saat yang tepat untuk menjelaskan pada sang istri.
***
Sore hari Anye baru saja keluar dari klinik dokter kandungan. Bayinya sudah lebih sehat begitupun dengan bayinya. Sungguh tak ada yang lebih membahagiakan selain sehatnya anak dan istri.
Bang Rinto dan Anye melanjutkan berbelanja kebutuhan dapur dan pastinya perlengkapan bayi.
"Yang ini dek..!!" kata Bang Rinto mengambil baju berwarna pink.
"Iihh.. pilih warna yang netral Bang. Kita belum tau anak kita ini laki atau perempuan"
Bang Rinto meletakan lagi pakaian berwarna pink itu. Bibir memang bisa berkata kalau suaminya itu bisa menerima semua, tapi tetap hati kecil tak bisa di bohongi. Terlihat sekali Bang Rinto sangat berharap memiliki seorang putri cantik.
Memang selama ini Bang Rinto sangat menyayangi adik ipar bungsunya. Kalau ada kesempatan.. Bang Rinto mengajaknya bermain dan membelikannya banyak makanan, kalau sudah seperti itu.. orang akan sulit membedakan itu putri Pak Rama atau putri Pak Rinto.
-_-_-_-
Ayah Rama melotot dengan hasil pilihan Rinto.
"Ayah senang sih kalau Abangnya mau belikan baju untuk Mey.. tapi bentuknya kok begini Rin??" tanya ayah Rama mengangkat sebuah baju tidur bayi tapi bentuknya sangat seksi, Yang satu lagi adalah bikini untuk baby gembul itu berenang.
"Hanya satu yang ayah suka.. baju baby dengan kerudung itu" tunjuk Ayah Rama pada gamis yang lucu untuk batita satu setengah tahun.
"Sebenarnya mikir apa kamu?" tanya ayah Rama sambil membolak balik sepasang bikini lucu bermotif kerang.
Rinto mengusap jambulnya tak tau harus berkata apa. Rinto pun tak paham kenapa ia bisa memilih motif seperti itu.
Gelak tawa menjadi riuh saat Ezhar menertawai Abangnya itu.
"Hahahaha.. kangen nih yeeeee" ejek Gathan membuat wajah Bang Rinto merah padam.
bruugghh...
"Sekar???" seketika Gathan berhenti tertawa dan langsung berlari ke arah belakang. Disana ia melihat Sekar sudah terkapar dan tertelungkup di samping meja makan.
"Gathan.. Ya Allah.. cepat angkat..!! Bawa ke kamar..!!" pekik Mama Dinda.
...
"Jangan banyak pikiran..!! Semua surat sudah selesai. Lusa kita nikah" kata Gathan menenangkan Sekar.
__ADS_1
Mama Dinda mengusap rambut Sekar, ia pun merasa bersalah dengan ulah putranya itu.
"Mama minta maaf ya, ulah Gathan pasti membuatmu susah"
"Nggak ma, Sekar juga salah karena nggak bisa nolak Abang" sesal Sekar.
Gathan mengusap tangan Sekar. Tak ada kata terucap. Lidahnya terasa kelu.
"Berani berbuat, harus berani bertanggung jawab. Niatkan dalam hati.. Akan sungguh menjaga dan mencintai wanita pilihanmu" kata Bang Rinto menasihati.
"Biarpun wanita menggoda, tetap pria juga yang salah karena kita pria yang harus bisa mengendalikan hawa nafsu" begitu prinsip Bang Rinto.
***
"Sayang.. kamu cantik sekali. Maaf mama baru bisa melihat menantu mama sekarang" kata Mama Hanum.. Mama Bang Rinto. Pak Broto pun ikut mengecup kening menantunya.
"Pantas Rinto betah.. menantu kita cantik ma" kata Pak Broto.
Tak lama muncul sosok wanita di belakang punggung Mama Hanum dan Papa Broto.
Wajah Bang Rinto bersikap datar. Ia seolah enggan menyapa wanita itu. Dia adalah Mama Wiza. Mama kandung Bang Rinto yang baru Bang Rinto ketahui saat ia berada di Libanon.
"Sayang.. perkenalkan..!! Ini Mama Wiza.. mama kandungnya Bang Rinto suamimu" kata Mama Hanum.
Anye ingin bersalaman dengan ibu mertuanya, tapi Mama Wiza menganggap Anye seolah tak ada. Pertama kali itu juga hati Bang Rinto sangat kesal saat istrinya tak di anggap.
"Rinto.. maafkan Mama, saat itu mama masih terlalu muda" Mama Wiza memeluk Bang Rinto, tapi pria itu tidak membalasnya.
"Silakan masuk..!!" ucap Bang Rinto dengan formal pada Mama Wiza.
"Mama papa masuk dulu..!! Nggak enak sama tetangga" ajak Bang Rinto.
"Anye buatkan teh dulu ya Bang" kata Anye.
"Iya sayang.. Abang kopi ya..!!" pinta Bang Rinto.
"Rinto sayang.. Istrimu muda sekali.. Bahkan terlalu muda. Apa becus kerjakan ini itu" kata Mama Wiza.
"Istriku bisa segalanya" jawab Rinto tegas.
"Mbak Wiza.. menantu kita itu cantik sekali lho. Dia juga pandai" kata Mama Hanum.
"Itu menantumu, bukan menantuku" jawab Mama Wiza.
"Apa maksud Mama? Kalau tidak suka dengan Anye silakan angkat kaki dari rumah ini..!!!!" ucap Rinto tegas.
Anye mendengar semuanya. Tapi ia pura-pura tidak tau, bagaimanapun Mama Wiza tetap ibu yang melahirkan Bang Rinto.
Dengan langkah tak pasti, tangannya sedikit gemetar. Tak sengaja tangan Anye menumpahkan minuman itu di pangkuan Mama Wiza.
"Aaww.. Ya ampun.. Belum-belum sudah dapat sial. Pasti kamu banyak menyusahkan putraku" Mama Wiza mengibaskan dressnya.
"Cukup ma..!!!! Bisakah mama berkata lembut sedikit dengan istriku??? Anye sedang mengandung cucu mama" Bang Rinto langsung merangkul menenangkan Anye di dada bidangnya. Kalau mengingat perlakuan kasarnya pada Anye, hati Bang Rinto rasanya terluka sekali.
.
.
.
__ADS_1