Di Ujung Peluru 2 & 3 (Hati Sang Prajurit)

Di Ujung Peluru 2 & 3 (Hati Sang Prajurit)
DUP 3. 80. Drama salah paham.


__ADS_3

Sebelum konflik ini usai. Dilarang spoiler agar tidak terjadi hal yang tidak diinginkan. Percayakan dengan author dan tidak hanya terfokus pada pelakor. Bahagia ada di tangan author 🙏.


🌹🌹🌹


"Jadi begitu Zal. Saya minta kamu perintahkan anak buahmu untuk pengamanan VIP" Papa Brian baru saja memerintahkan suatu tugas pada Bang Zaldi setelah Arnes keluar dari ruangan.


"Siap.. Saya akan siapkan untuk pengamanan para menteri dan tamu negara yang akan datang kesini" jawab Bang Zaldi.


Papa Brian menatap mata Bang Zaldi. Bukan karena kelakuannya tadi, tapi papa Brian cemas kalau sampai Ibu Inggrid mengganggu rumah tangga Zaldi dan Arnes.


"Kamu nggak ada niat macam-macam sama Inggrid khan Zal? Kalau kamu sampai macam-macam.. tau kamu akibatnya" ancam Papa Brian.


"Gangguan seperti ini biasa pa, dan nggak mungkin nggak ada kejadian tak terduga. Pria dengan profesi rata-rata wirausaha dan wiraswasta saja masih bisa dapat gangguan, bagaimana dengan kita yang mohon maaf masih dapat sorotan khusus dari pihak luar. Hanya saja semua kembali dari diri kita sendiri, terutama saya.. untuk menjaga rumah tangga saya dari pihak luar termasuk Inggrid" jawab Bang Zaldi.


"Kita tidak bisa mencegah orang lain berinteraksi dan memiliki perasaan dengan kita, tapi kita sendiri yang harus sadar diri dengan porsi kita. Termasuk lebih setia dan menjaga perasaan pasangan kita"


"Papa percaya kamu. Arnes memang bukan langsung dari darah papa. Tapi Arnes adalah putri Papa"


"Siap Pa"


***


Pagi ini Arnes menyiapkan sarapan untuk Bang Zaldi. Suaminya akan mengamankan daerah yang akan di lewati tamu VIP. Pakaian suaminya serba hitam. Bang Zaldi memang tidak turun tangan secara langsung tapi bukan sifat Bang Zaldi jika tidak berada dalam lingkungan yang sama dengan anak buahnya.


"Hati-hati ya Bang..!!"


"Iyaa pastii.. Abang mengawasi di belakang layar. Tidak ada sesuatu yang berbahaya, hanya prosedur standby pengamanan saja. Yang seharusnya hati-hati dan jaga diri itu kamu" Bang Zaldi mengacak rambut Arnes.


Arnes tersenyum tipis saat suaminya pamit.


-_-_-_-_-


Hingga siang hari suasana pengamanan sangat kondusif dan tanpa hambatan, hanya awan mendung saja yang sepertinya sebentar lagi akan tumpah.


Bang Zaldi melihat jam tangannya, sudah waktunya pulang. Saat akan mengabari Arnes, ia mengingat kalau ponselnya lupa di isi daya. Power bank pun ternyata juga tidak mengisi daya baterai sejak tadi.


Aduuuhh.. pakai acara mati lagi ini ponsel. Arnes pasti cemas.


"Kalian naik truk dulu. Saya mau beli sate kerang sama lemang buat istri saya. Belakangan ini dia sulit sekali makan" kata Bang Zaldi.


:


"Lho pak Zaldi suka sate kerang juga?" tanya Bu Inggrid.


"Saya beli untuk istri saya" jawab Bang Zaldi singkat.


"Hmm.. Baiklah pak. Saya duluan ya. Kebetulan saya sudah pesan tadi"


"Silakan" jawab Bang Zaldi seolah tidak peduli. Bang Zaldi pun menerima pesanannya juga lalu segera kembali ke truknya. Sesaat meletakan oleh-olehnya, Bang Zaldi mendengar suara teriakan kencang.


Aaaaaarrrrhhh....


Bang Zaldi memicingkan mata melihat ke arah sumber suara dan melihat dengan cermat motor yang melintas di hadapannya.


...


"Maaf pak.. saya tidak pernah tanda tangan untuk kontrak foto. Karena kami sudah menyumbang dana untuk pembangunan wisata kota"

__ADS_1


"Tidak tanda tangan apanya?? Ini buktinya. Suamimu sendiri yang menanda tangani. Jangan karena ibu istri seorang komandan lantas kami tidak bisa mengusutnya ya..!! Saya minta ganti rugi sejumlah enam belas juta rupiah" kata seorang pria disana.


Arnes kebingungan tak bisa menjawab. Bukan masalah nominal uangnya yang ia pusingkan, tapi bagaimana bisa Bang Zaldi menanda tangani surat bahwa Bang menyetujui dirinya menjadi model icon kota sedangkan kemarin suaminya itu yang begitu menentang. Ia mencoba menghubungi Bang Zaldi tapi ponselnya sedang tidak aktif.


...


Braaaaakkkkk...


"Mana suamimu?? Apa kamu berusaha membohongi kami??" gertak orang-orang tersebut.


"Nggak Pak, saya nggak bermaksud bohong"


Arnes melihat jam dinding sudah malam tapi Bang Zaldi belum juga pulang.


"Assalamualaikum.." sapa Bang Zaldi saat baru saja tiba di rumah. Wajahnya terlihat begitu lelah.


"Wa'alaikumsalam.." jawab Arnes lirih.


Mata Bang Zaldi melihat tiga orang pria duduk di hadapan Arnes yang sudah berwajah pucat.


"Ada apa ini??" tanya Bang Zaldi.


"Kami mau minta pertanggung jawaban bapak karena ibu Arnes tidak datang dalam pemotretan icon kota.. jadi kami dari perwakilan dinas kota ingin mengambil denda pinalti dari ibu Arnes" kata orang tersebut.


"Kamu tanda tangan perjanjian itu dek??" Bang Zaldi tidak habis pikir dengan ulah Arnes.


"Bukannya Abang yang menanda tangani surat itu??" tanya Arnes ikut emosi.


"Apa saya ini gila buat kamu jadi tontonan orang?? Nggak usah ngarang kamu" bentak Bang Zaldi. Kepalanya sudah sakit, badannya lelah, masih di tambah lagi ada masalah di rumah.


"Ini apa Bang?? Teriaklah sesuka hati Abang" susah payah Arnes bangkit dari duduknya menyangga punggung yang sudah terasa berat. Perutnya pun kadang suka kram ringan. Arnes memberikan surat perjanjian itu di tangan Bang Zaldi. Suami Arnes itu segera membacanya. Arnes melangkah masuk ke dalam kamar dan mengunci pintu.


"Kalian dapat darimana surat ini??" tanya Bang Zaldi pada tiga orang mirip deptcolector itu.


"Kantor walikota" jawab pria bertubuh tambun.


"Bayar sekarang juga atau foto dan video kebersamaan bapak dan ibu walikota akan saya kirim ke istri bapak" seorang pria yang lain menunjukan foto 'kemesraan' Bang Zaldi dan Bu Inggrid saat walikota cantik itu tadi mengalami kecelakaan.


"Jangan macam-macam kamu..!! Saya bisa menuntut kalian karena melakukan tindak pemerasan..!!" Bang Zaldi memberikan peringatannya.


"Silakan saja pak, foto ini akan segera masuk ke ponsel istri bapak" kata pria tersebut.


"Kamu kira saya takut.."


Pria tersebut mengirim foto tersebut. Bang Zaldi pun naik pitam dengan ulah ketiga pria tersebut. Ia ingin menghajarnya tapi seorang di antaranya sudah memasang video untuk mengabadikan momen tersebut dan tidak mungkin Bang Zaldi akan gegabah dengan emosinya saat ia masih menggunakan seragam dinasnya.


Pagar senja.. tolong sisipkan beberapa pasak ke rumah saya sekarang juga. Saya butuh bantuan.


Ucap Bang Zaldi memberikan gertakan secara halus. Ia tidak ingin keadaan ini membuat Arnes down.


"Kalian keluar sekarang dari rumah saya.. Jangan buat keributan di rumah saya dalam bentuk apapun..!!"


Tak lama para anggota piket jaga datang dan meringkus tiga orang pengacau itu. Ibra yang ketakutan begitu histeris. Bibi segera membawa Ibra dan Ryan ke rumah Pak Bima.


:


Berkali-kali Bang Zaldi mengetuk pintu kamar tapi Arnes tak kunjung membukanya. Bima yang sudah tau kejadian tadi tak lantas masuk dan ikut campur dalam urusan rumah tangga adik perempuannya. Ia hanya menunggu dan berjaga jika mungkin ada hal di luar batas yang terjadi pada Arnes dan Bang Zaldi.

__ADS_1


"Sayang.. kita harus bicara"


"Arnes nggak mau bicara sama Abang. Ternyata Abang nggak pulang karena berduaan dengan wanita lain" teriaknya mulai kalap.


"Dek, Abang cukup waras untuk tidak mempertontonkan adegan mesra di hadapan orang banyak"


Arnes semakin marah dan membuka pintu kamarnya. Arnes menampar dan memukuli Bang Zaldi berkali-kali. Tak ada balasan sedikitpun dari Bang Zaldi, ia membiarkan istrinya meluapkan amarahnya hingga puas.


"Arnes berusaha menyenangkan Abang bagaimanapun caranya. Juga adanya Ibra.. semua demi Abang. Kurang puas?? Ini masih ada satu lagi di perut Arnes. Kalau Abang memang mau dengan wanita seperti dia.. silakan Bang. Arnes nggak akan mempertahankan pria yang tidak mencintai Arnes" ucap tegas Arnes dengan tegar dan jelas meskipun masih menangis.


Bang Zaldi menarik tangan Arnes agar memeluknya.


"Kita bicara baik-baik dek..!!"


"Apa kalau Abang sedang cemburu dan emosi dengan Arnes, Abang bisa bicara baik-baik???" Arnes berusaha melepaskan diri dari dekapan Bang Zaldi.


"Abang minta maaf, biar Abang jelaskan dulu masalahnya"


"Eghmm.." Arnes merosot dan mencengkeram kuat lengan Bang Zaldi.


Bang Bima menerobos masuk ke dalam rumah.


"Aduuhh.. mati aku. Anakku.. gimana ini??" Bang Zaldi kelabakan. Jantungnya berdenyut kencang karena terlalu panik melihat Arnes.


"Dek.." Bang Bima ikut panik, tapi di balik rintihannya, Arnes masih sempat berkedip memberi tanda pada Abangnya kalau dia baik-baik saja.


"T*iiii, jangan macam-macam lah kamu dek..!!" ucap keras Bang Bima.


"Diam kamu Bima..!!!! Apa-apaan kamu marahi Arnes seperti itu???? Cepat panggil Immanuel sekarang juga"


...


"Noe, gimana istriku??? Anakku bagaimana???" Bang Zaldi mengguncang kedua bahu Immanuel. Keringat Bang Zaldi bercucuran sebesar biji jagung. Wajah Bang Zaldi benar-benar pucat, ia lemas dan begitu terguncang.


"Sabar ya Bang.....!!!"


"Kamu bilang apa Noe???? Anakku harus selamat atau kamu akan berurusan denganku" bentaknya dalam kepanikan.


Mendengar itu jiwa usil Arnes semakin menjadi. Ia merintih dan belaga mual.


"Arnes mau mati Bang. Nafas Arnes sesak" ucapnya lirih.


Bang Zaldi meremas dadanya yang kini sungguh terasa sakit. Ia berpegangan pada sisi meja.


"Bima, tolong bawakan oksigen untuk Arnes sekarang juga..!! terserah bagaimana caramu mencarinya. Kamu Noe, panggil temanmu lagi. Tolong kamu selamatkan anak istriku. Saya tidak mau gagal jadi suami ataupun gagal sebagai seorang ayah"


"Tapi Bang.. Arnes cumaaa........"


"Cepat Bima.. saya nggak mau Arnes ada apa-apa..!!!!!!!" pintanya sampai akhirnya Bang Zaldi duduk di lantai. Ia mengusap perut Arnes.


"Yang kuat nak.. anak Komando harus kuat" ucapnya menahan diri agar tetap sadar.


"Cckk.. keterlaluan kamu Arnes.. kualat kamu nanti sama suami" gumam Bang Bima yang akhirnya ikut repot.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2