Di Ujung Peluru 2 & 3 (Hati Sang Prajurit)

Di Ujung Peluru 2 & 3 (Hati Sang Prajurit)
22. Benih cinta


__ADS_3

"Minum dulu..!!" Pelatih Rinto membantu Anye agar bisa minum obat. Bintang dan Ivana duduk di dalam tenda itu sambil terus melihat bagaimana cara pria itu memperhatikan Anye.


"Kalian bisa tidur..!! Saya dan pelatih Brian berjaga disini...!!" kata Rinto.


"Tutup tirai pembatasnya kalau kalian takut ada saya dan pelatih Brian"


"Tidak pelatih.. Kami percaya" kata Bintang yang langsung tidur dan mempercayakan Anye pada pelatih Rinto. Sedangkan Ivana hanya merebahkan diri dan terus memperhatikan wajah pelatih Rinto dan pelatih Brian secara bergantian.


Beruntung sekali Anye, sakit masih di perhatikan dua pelatih. Apalagi pelatih Rinto.. sedari tadi mengusap Anye disana sini. Wajahnya pun tampak sedih. Jaman sekarang pria beristri pun tidak bisa di percaya.


...


Brian sudah meringkuk tidur di bagian pinggir tenda. Sedangkan Rinto tidak bisa tidur karena menjaga Anye yang demamnya belum begitu mereda. Tangan kekarnya mengusap perut Anye lalu mengecup perut datar Anye. Cukup lama ia melakukannya sampai air matanya hampir menetes.


Jangan lama-lama datangnya ya nak. Papa kangen. Papa minta maaf, memaksamu hadir sampai menyakiti mama mu.


***


Rinto baru saja mandi dan sholat shubuh. Perlahan ia membangunkan Anye untuk sholat subuh juga. Ia tidak akan bisa membantu Anye lagi kalau para mahasiswa sudah semakin ramai bangun dari tidurnya.


"Dek.. bangun..!! Sholat dulu yuk..!!"


Anye pun membuka matanya, saat membuka matanya, ada Abang Rinto di hadapannya.


"Sudah pagi ya Bang?" tanya Anye.


"Iya.. sudah..!!" Rinto pun perlahan membantu Anye untuk duduk.


Setelah beberapa saat Anye merasa kuat, Anye dan Rinto berjalan menuju kamar mandi di bumi perkemahan itu.


Anye mandi dengan cepat, Rinto menunggui istrinya sambil merokok di samping toilet.


"Cepat dek.. kamu mandi apa bertapa? Lama sekali???" tanya Rinto.


"Ini selesai Bang. Kenapa Abang nggak sabaran sekali sih?" jawab Anye, ia menenteng peralatan mandinya.


"Ya sudah ayo..!!"


Baru beberapa langkah Anye berjalan, ia ambruk karena tubuhnya terasa lemas.


"Anyee.. Astagfirullah.." Rinto langsung membuang rokoknya karena kaget Anye tiba-tiba lemas.


***


"Terlalu capek dan mungkin bapak sedikit terlalu kasar. Karena istri bapak mengeluh nyeri di bagian situ" kata dokter di klinik terdekat dari lokasi mereka saat ini.


Tak tau sudah seperti apa wajah malunya Rinto saat ini. Yang jelas beberapa anggota sudah tau bagaimana ganasnya si 'herder' kala merindukan sang istri.


"Baik dok. Terima kasih" jawab Rinto.


Setelah mendengar penjelasan dokter akhirnya Rinto memutuskan untuk membawa Anye ke rumah sakit tentara yang tidak jauh dari rumah.


***

__ADS_1


Gathan menatap wajah Rinto dengan kesal. Meskipun Gathan sadar adiknya sudah menikah, tapi siapapun yang menyakiti adiknya selalu mengundang emosinya.


"Keluar..!! Saya mau bicara sama Abang"


...


"Saya tau Abang suami Anye, memangnya kenapa Abang menganiaya Anye sampai dia harus dirawat seperti ini???" emosi Gathan sungguh tak terbendung lagi, ia melepas kerah seragam Rinto yang digenggamnya dengan kasar.


Beberapa saat yang lalu, Rinto sendiri yang menghubungi Gathan agar menghandle kegiatan kantor selama beberapa hari kedepan dan betapa kagetnya ia saat tak sengaja mendengar dokter berbicara pada Rinto.


"Abang nggak bisa menjelaskan apapun disini" kata Rinto penuh sesal.


"Gathan.. jangan berulah..!!" Rama menarik bahu Gathan agar tidak menyerang Abangnya.


"Jengkel sekali aku yah" ucap Gathan, tangannya masih terkepal kuat.


"Kamu temani Sekar saja..!!" Ayah Rama meminta Gathan untuk meninggalkan tempat.


...


Sampai beberapa saat. Rinto masih terdiam dengan sebatang rokok masih terselip di antara jarinya.


"Kenapa kamu kasar?" tanya ayah Rama membuka percakapan.


"Nggak sengaja yah" jawab Rinto penuh penyesalan.


Melihat wajah Rinto seperti itu membuat Rama mengurungkan niatnya untuk menghajar menantunya itu.


"Yang namanya suami itu harus berlemah lembut pada istrinya. Dia masih terlalu muda. Masih bodoh, untuk itu ayah minta maaf. Jangan kasari Anye lagi" ucap ayah Rama begitu miris.


"Saya salah yah. Maaf"


"Hilangkan sifat kaku mu itu" tegur ayah Rama.


-_-_-_-


Rinto masuk ke dalam kamar rawat Anye, hatinya merasa sangat bersalah, tapi bukan Rinto namanya kalau tidak bisa menyembunyikan wajah sedihnya. Ia tetap cool saja.


"Obatnya sudah diminum?" tanya Rinto.


"Percuma diminum" jawab Anye.


"Kenapa percuma??" Rinto mengerutkan keningnya tak paham maksud Anye.


"Sembuh sedikit, Abang sudah nagih lagi" ucapan Anye membuat Rinto tersenyum geli.


"Terus Abang harus bagaimana? Istri Abang hanya kamu. Otomatis lah Abang mintanya ke kamu" Rinto membelai rambut panjang Anye.


"Maaf kalau Abang keterlaluan, lain kali Abang coba untuk lebih bisa mengontrol perasaan" ucapnya penuh sesal.


"Bang.."


"Apa..?"

__ADS_1


"Anye suka gayanya Om Rinto " ucap Anye tersipu malu. Rinto pun menahan senyumnya.


"Oya?? Kalau suka kenapa jadi begini??"


"Anye belum biasa, buka-bukaan begitu, takut lihat Abang dekat-dekat Anye, terus ada rasa berdesir naik turun di perut Anye. Tapi jadi kepikiran Abang terus" Anye jujur dengan perkataannya.


Rinto ingin sekali menjitak kepala Anye, ingin tertawa tapi kasihan melihat istrinya yang pintar tapi harus ia akui, Anye masih lugu "Oohh... kamu merasa begitu?? Makanya kalau sama Abang jangan tegang, biar nggak begini lagi. Yang tegang begitu biar urusan Abang"


"Iihh.. Abang nakal" Anye memalingkan wajahnya.


"Kalau nggak sama kamu terus Abang nakalnya sama siapa??" tanya Rinto.


Rama dan Dinda mengintip dari balik pintu ruang rawat Anye.


"Sebenarnya ada apa sih mereka?? Sepertinya nggak bertengkar, tapi kenapa Anye sampai di rawat?? Aneh" gumam Rama.


Tiba-tiba mama Dinda terhuyung ke dada Ayah Rama.


"Eehh.. sayang.. kenapa kamu dek????" Ayah Rama kaget sekali dan akhirnya membawa mama Dinda pulang.


"Kamu ini terlalu memikirkan anak-anak sampai lupa sama kesehatanmu sendiri" tegur Rama.


"Nggak juga Bang" jawab Dinda.


"Mampir kesana dulu Bang. Dinda mau beli camilan sama makanan. Tadi nggak sempat masak" ajak Dinda.


"Siap Bu"


***


"Boleh Abang tau kenapa papamu meninggal??" tanya Gathan dengan hati-hati.


"Papa meninggal dalam tugas. Sejak itu depresi mama sering kambuh kalau mengingat papa apalagi Bang Ibra belum bisa pulang lagi sejak pindah ke daerah timur. Dua bulan ini Bang Ibra nggak ada kabar. Sekar bekerja juga untuk menyambung hidup kami, karena pengobatan ibu juga butuh banyak biaya" jawab Sekar menjelaskan.


"Abangmu tentara juga??"


"Iya Bang, Abang seorang Bintara" kata Sekar.


"Siapa namanya?"


"Serda Ibrahim Eka Atmaja" jawab Sekar.


"Abang.. Sekar pamit pergi cari pekerjaan ya? Sekar nggak bisa hidup begini terus"


"Nggak dek. Kamu sabar dulu..!! Nanti Abang yang handle semua kebutuhanmu. Karena Abang, pekerjaan mu hilang. Tapi sungguh Abang nggak suka kamu bekerja dengan orang tidak punya hati seperti atasanmu itu" kata Gathan.


"Sekar bukan pengemis Bang. Sekar ingin bekerja yang halal"


Mendengar kegigihan Sekar, itu cukup menyentuh hati Gathan.


"Baiklah kalau itu maumu. Kamu temani mama di rumah, jadilah teman bicaranya setiap hari. Abang akan membayar pekerjaan mu itu" ucap Gathan dengan sungguh-sungguh.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2